Seandainya Romantisme Ada Ujian Nasionalnya…

Hari ini si Papap ulang tahun. Not his 25 yo, of course. Sudah sejak sebulan lalu saya ngubek-ngubek ide untuk hadiah ulang tahunnya. Tentu enggak pake nanya orangnya. Ngasih hadiah pake nanya orang yang bersangkutan namanya bukan hadiah. Itu namanya oleh-oleh. Jadilah saya memata-matai si Papap. Dia lagi butuh apa gituh. Baru beberapa hari memata-matai, jawabannya sudah terpampang di depan mata.

Papap butuh motor baru.
Overruled.

Saya pun mencari lagi ide hadiah untuk si Papap. Kemeja kantor? Itu sih bukan kado ultah. Lebih pantes oleh-oleh belanja. Gadget baru? Hapenya toh sudah berkali-kali hampir dilempar oleh pemiliknya. Aaaah, tapi kalau dia ganti hape, saya ganti juga dong. Ditraktir makan? Lah harusnya si Papap dong yang nraktir. Masa’ saya?
Akhirnya seminggu kurang dari hari H saya menyontek ide teman sekantor yang baru ulang tahun: kirim kue ulang tahun ke kantornya!

Ide ini kelihatannya cukup brilian. Awalnya. Efek kejutan cukup, hadiahnya juga enak dimakan. Sukur-sukur bisa dibawa pulang sisa kuenya hehehe… So, deal. Saya pesan kue ulang tahun untuk dikirim ke kantor si Papap hari ini. Gampang toh?
Continue reading

Ter-Kaftan Kaftan

Sudah dua kali Lebaran si Mami tiba-tiba punya ide untuk menghadiahi saya baju Lebaran. Harusnya kan saya senang dong? Di situ masalahnya! Saya dan si Mami agak enggak kompak soal beberapa hal, misalnya model rambut, film favorit, warna kesukaan, hobi, buku bacaan, makanan favorit, tanaman kesukaan, ini, itu, ini, itu… sampai standar ganteng seorang laki-laki. Model baju adalah salah satu hal mendasar mengapa saya bersyukur satu-satunya foto keluarga resmi yang kami miliki adalah saat saya menikah. Jadi si Mami enggak bisa maksa pilihin baju buat saya hehehe…

Continue reading

A Cup of Caffeineism

It’s been twenty-something days that I have been caffeine-free, coffee speaking. And as a coffee addict, this means something. An achievement-of-the-year-award something. You see for years I have been able to free myself from many things -jealousy, ambition, grudges, hatred, my mom- but not caffeinated coffee. When a doctor told me my life would be a lot longer without caffeine, I told the good doctor he had to say the same thing to motorcyclists in Jakarta with their motorbike as an exchange for caffeine. Caffeine has been in my blood ever since I was an infant. My mom who believes black coffee is a traditional treatment for fever-cause seizures gave me my first two-spoonfuls of black coffee when I was no older than 6 months old! I had never had any seizure. I did get my first gastroenterities when I was 9 years old. It isn’t relevant, though. My dad, who was a coffee addict himself, allowed me to drink from his big glasses of black coffee since I was little. He only shared his precious black coffee with me. So, telling a young me to stop drinking coffee is hillarious. Yet, today I realized I was successfully free from caffeine for twenty something days without trying!

Continue reading

Kode Alam Semesta

Do you believe in signs?

Saya ini jenis orang yang percaya dengan kode-kode dari alam semesta. Misalnya, suatu kali saya sedang risau berat (kalau orang dewasa kan risau bukan galau) karena seseorang. Mau marah enggak bisa, enggak marah kok bisa jadi kanker. Berhari-hari saya pikirin soal ini. Eh pada suatu pagi yang aneh, tangan saya iseng nyari frekuensi radio di mobil saat sedang nyupir ke kantor. Dapat lah suara lagu favorit jaman muda dulu. Baru juga dengerin lagunya semenit, suara penyiar memutus lagu. Penyiar itu tiba-tiba ngomong: Forgive, Forget, Move On. Aaah siyal. Ngomongin saya ya?

Semingguan yang lalu saya harus membelah tiga provinsi untuk bisa sampai di rumah. Dengan menumpang taksi burung dan mata yang pelupuknya digondeli bantal, saya menyusuri Jakarta dari ujung barat ke ujung timur untuk kemudian berbelok melipir ke Depok dan akhirnya sampai ke Bekasi pinggiran Bogor. Begitu duduk di taksi, saya memastikan satu hal: supir tahu lokasi rumah saya kah? Pertanyaan ini penting karena saya berniat untuk tidur pulas di taksi. Setelah bangun jam 3:30, berangkat jam 5 sehabis Shubuh, mengajar 8 jam, dan baru selesai jam 5 sore, bisa tidur 1.5 jam di taksi tanpa terganggu adalah kemewahan. Apalagi di tengah kepenatan kepala saya karena satu hal maha penting soal pekerjaan. Jadi begitu duduk dan memastikan supir taksi adalah bapak-bapak berumur yang tidak punya tampang kriminal, saya pun bertanya…
Continue reading

Mungkin. Mungkin juga tidak.

Kemarin malam tanpa direncanakan saya menonton film Grey’s Anatomy. Di episode Valentine itu dr. Meredith Gray dan the great dr. Bailey harus mengoperasi seorang perempuan muda berusia 32 tahun yang baik hati dan baru menikah dengan lelaki super baik. Karena penyakitnya, pasien tersebut harus diangkat ovariumnya. Itu artinya membuat seorang perempuan menjadi mandul. Jadi lah para dokter ini menghadapi dilema. Perempuan baik ini akan menjadi mandul atau mati. Dr. Meredith Grey tidak sampai hati melakukan operasi yang akan menghapus impian indah sepasang pengantin baru akan keluarga bahagia bersama anak mereka. Komentar dr. Bailey lah yang nancep di saya.

It’s always the 32, the kind-hearted, the good one, somebody’s better half, who has to suffer. Brave yourself.

Pernah dengar ekspresi sejenis di masyarakat kita? Orang baik selalu berumur pendek. The good ones die young.

Continue reading

Saat Makan Siang

Sejak pertama kali saya ngantor dari jaman dulu banget, saya punya satu kebiasaan yang terpelihara sampai sekarang. Kebiasaan itu adalah makan siang di luar gedung kantor. Setiap kali jam makan siang tiba saya selalu memilih untuk keluar kantor walau cuma ke warteg yang lokasinya persis di depan pagar kantor. Alasan saya sederhana: bosan dikungkung tembok masif plus ac dingin seharian. Saya juga bergeming *nguap* dengan argumen teman-teman soal betapa panasnya, capeknya, malasnya, berkeringatnya, pergi makan siang di luar kantor. Eik kan cewek jagowan. Masa’ cemen sama panas?
Continue reading

Bacalah Imelmu Tiga Kali Sehari

Semua orang punya email. Kecuali kalau anda usianya sudah di atas 60 dan/atau tinggal di daerah yang ngirim pesan bisa pakai merpati pos, mungkin anda tidak perlu email hari gini. Tapi kalau anda -let’s say- karyawan di Jakarta yang tiap hari nongol di fesbuk, eksis dengan statusnya, dan memegang telpon pintar, anda pasti punya email. Apalagi kalau pekerjaan anda membutuhkan putaran informasi yang cepat yang tidak bisa dibereskan dengan tukang pos atau malah merpati pos. Jadi, seperti yang saya bilang tadi, semua orang dengan kategori karyawan, usia 30-40an, punya akun fesbuk, pegang telpon pintar, pasti punya email.

Pertanyaannya kemudian adalah dipakai buat apa email itu? Pajangan?
Continue reading

Antara Senayan dan Sudirman

Hari Jumat tanggal 22 lalu saya muncul di pusat kota, sebutlah daerah sekitar Sudirman, Thamrin, Gatot Subroto, dan Kuningan. Momen yang harus dirayakan sebenarnya karena belum tentu sebulan sekali saya mau atau harus pergi ke pusat kota. Tiap kali saya harus ke daerah situ, yang terbayang pertama kali pasti macetnya, naik apanya, sama siapanya, sampai ke apa-segitu-pentingnya. Dengan lokasi rumah saya yang nun jauh di ujung sana, pergi ke pusat kota itu perlu persiapan dan perbekalan setara bepergian pakai passport.

Jumat kemarin saya pergi ke daerah Senayan untuk menghadiri launching novel Perempuan Pelukis Wajah, antologinya Mbak Ainun, Ndorokakung, Karmin Winata, dan teman-temannya. Acara yang wajib saya datangi karena saya kepengin baca isi novel mereka sekaligus minta cap bibir di novelnya 🙂

Continue reading