Sebelum Kita ber-Wild Wild West

Sudah pernah ke atraksi Cowboy Wild Wild West di Taman Safari Indonesia Cisarua?

Saya baru sekali. Kemarin. Hari Minggu itu sudah beranjak agak sore saat Papap membujuk kami -saya, Hikari, baby Aiko, adik saya, dan si mbak- untuk bertahan sebentar lagi di Taman Safari demi menonton pertunjukan Wild Wild West. Kami semua sudah begitu capek dan ide untuk menonton atraksi semacam sirkus dengan tema koboi yang diperankan oleh orang Indonesia agak kurang menarik buat saya dan rombongan. Tapi kegigihan Papap dalam membujuk dan memelas memang akhirnya menang. “Kata temanku bagus banget loh, Mam.” adalah kalimat iklan si Papap. Baiklaaaaah. Kami pun berhasil digiring menuju arena besar dengan bangku-bangku panjang berwarna hijau oleh si Papap mengikuti arus ratusan orang lainnya yang berjalan kesana. Continue reading

Minta Baik-Baik

Sudah hampir 3 minggu saya kehilangan kertas warna-warni post-it jagoan. Saya punya beragam ukuran dan bentuk post-it. Saya biasa memakainya dari menggambar beragam ekspresi muka saat sedang di meeting yang membosankan, menulis beragam catatan di buku pelajaran modal mengajar saya, sampai menyuruh trainee/siswa saya untuk menuliskan kesan dan pesan mereka. Tapi kata teman saya, fungsi sebenarnya dari post-it itu ya cuma untuk mewarnai dunia. Biar rame aja.

Tiga minggu lalu kertas warna-warni seukuran label nama itu saya pakai untuk mengajar kelas khusus di Bogor. Selesai kelas, semua barang bawaan -termasuk para post it jagoan- saya karungin baik-baik. Or I thought I did. Beberapa hari setelahnya saat saya membongkar karung dan barang bawaan mengajar, kertas warna-warni itu lenyap, nyap, nyap!

Continue reading

Ketika telpon pintar itu tak ada…

Hari ini saya melakukan dua hal yang jarang sekali saya lakukan. Hal pertama adalah naik angkot ke kantor dan hal yang kedua adalah meninggalkan hape di rumah.

Yaaaa… kalian-kalian bisa bilang apa istimewanya kedua hal itu? Buat saya, pergi ke kantor naik angkot itu istimewa karena pertama rumah saya jauuuuuuuuuuuuuuuuuh banget dari kantor melalui 3 provinsi (agak lebay tapi fakta) dan harus berganti-ganti moda transportasi dari ojek, minibis, busway, jalan kaki, atau bajaj. Kalau mau naik taksi, harus dihitung-hitung dengan cermat di kilometer ke berapa saya boleh naik taksi supaya tidak membuat kantong si Papap jebol. Eh.

Dengan jarak yang jauh itu, naik angkot pun akan terasa seperti pesiar minus rasa bahagia. Persoalan yang paling krusial (*batuk*) di angkot adalah bagaimana bisa selamat sampai di tujuan tanpa mati gaya karena kelamaan duduk atau mati kebanyakan basa-basi karena diajak ngobrol orang sebelah. Iyak, saya ini bukan jenis orang yang gampang ngobrol di angkot makanya saya kagum dengan orang-orang yang pada saat perjalanan berakhir bisa bertukar cerita hidup dengan teman angkotnya. Biasanya, untuk menghindari mati gaya di angkot ini saya mengeluarkan hape dan main twitter, fesbuk, atau baca berita online. Selamat sampai di tujuan.
Continue reading

Somebody That I Used To Know

I am that kind of person who doesn’t have so many friends. I have never been somebody who is the center of attention. I don’t hang out that much. I don’t go out just for fun. I am not that kind of person who goes somewhere or does something because everybody does that. Not me.

When you meet me somewhere, you’ll see me as a reserved person. Don’t expect me to be chatty when we meet. Not me. I’m always too shy to start a conversation.

And probably that’s why I don’t have so many friends.

But when I do have friends, I cherish them.

Continue reading

Anak Magang

Saya kira 8 dari 10 anak magang sebenarnya menderita menjadi anak magang. Kalau bukan karena syarat kelulusan, mereka pasti mikir 100x untuk menyerahkan diri menjadi anak magang di perusahaan yang isinya orang-orang dewasa dengan hobi ngatur. Deskjob-nya anak magang biasanya nggak beda jauh dengan office boy dan tukang fotokopi. Saya pernah jadi anak magang, tapi saya beruntung. Soalnya saya magang di kantor si Mami dan nggak ada orang di dunia ini yang berani sama Mami saya hehehe….

Di kantor saya ini sering sekali menjadi tempat mahasiswa magang. Entah karena business nature kami yang lagi ngetren yaitu media, atau karena kami mudah memberikan akses untuk magang, atau karena para karyawan di tempat saya keren dan pintar. Mungkin yang terakhir. Selama dua bulan ini, kami punya anak magang laki-laki yang berasal dari salah satu universitas ngetop di Bogor.  Sejak awal, kami sudah diberi tahu oleh bagian SDM tentang kedatangan anak magang ini. Manajer SDM di tempat saya secara khusus memberi tahu saya bahwa si anak magang akan ditempatkan di tempat saya, bagian redaksi. Pertanyaan saya waktu itu hanya satu dan spesifik: laki atau perempuan?

Continue reading

Majalah bz! Blogfam edisi April

Sudah 3 edisi majalah bz! keluar di tahun 2012 ini. Di majalah ini saya bertugas bantuin Mbak Rini sebagai editor bahasa. Sok banget deh. Padahal tulisan sendiri masih acak-acakan 😀

Di edisi April ini banyak yang lucu dan menarik. Menariknya karena di edisi ini ada liputan tentang Blook, blog-blog yang dijadikan buku. Blog saya belum beruntung untuk dijadikan buku (sapa yang maoooo! teriak orang di luar sana kekeks). Tapi mungkin para hadirin sekalian bisa membaca bz! dan mencoba membukukan blog-blog kaliyan?

Soal yang lucu, saya kan dapat keberuntungan mengedit wawancara antara Blogfam dengan Cik Kerani, blogger dan penulis buku My Stupid Boss. Okay, checked out the tittle and you thought you’d figured it out, right! Ish, belum! Ternyata Cik Kerani bukan cuma lucu, tapi juga inspiratif. Kalau para hadirin sekalian sedang galau karena bos yang menyebalkan (gak usang ngacung jari ya!), silahkan baca wawancara dengan Cik Kerani. Dijamin terinspirasi untuk lebih bersyukur 🙂

Di edisi ini, saya kebagian nulis Rubrik Bahasa dengan judul Bagaimana Mencampur Bahasa di Blog. Kaliyan bisa bertemu dengan kata ‘unmood’ bila baca rubrik ini hehe… Saya beruntung karena Om Jaf membuatkan ilustrasi rubrik ini dengan sangat lucu. Ya sana. Baca aja sendiri di sini.

 

Guru Kehidupan

Seorang teman tiba-tiba menyampaikan rasa terima kasihnya untuk postingan blog yang saya tulis tahun 2009.

2009? Wow!

Saya heran. Karena dilihat dari komentar yang masuk, hanya ada 4 orang yang ‘terlihat’ membaca. I really thought it was a selfish post.

Tapi terus terang, postingan itu sedianya memang untuk saya sendiri yang saat itu sedang babak belur setelah mendapat pelajaran dari Guru Kehidupan saya. Apabila sampai sekarang masih ada teman-teman di luar sana yang bisa mengambil manfaatnya juga, saya bersyukur. Then, we are not alone after all.

Silahkan baca Guru Kehidupan di tempat aslinya disana.

Serius lo?

Jadi gini, gue dibilangin oleh beberapa orang kalau ngeblog itu jangan terlalu serius. Kata mereka, kalau terlalu serius dipikirin namanya bukan ngeblog, tapi bikin tesis. Katanya kan ngeblog itu mirip-mirip komentar sambil lewat. Sering nggak pentingnya daripada pentingnya. Terus gue mikir, iya juga sih.

Dulu waktu awal-awal gue ngeblog gue nulisnya nggak pake mikir serius-serius. Demi perdamaian dunia, misalnya. Atau demi kesejahteraan umat. Atau demi tercapainya apbn 2013. Atau demi…kian… Dengan nulis nggak pake mikir itu gue malah produktif. Bisa ngapdet blog sehari sampai dua kali. Padahal isinya… ya nggak penting gitu: gue tadi ngapain, makan apa, ketemu siapa, ngomel sama siapa, nyuruh-nyuruh siapa… gitu lah. Tapi banyak yang bisa gue tulis soal yang nggak penting itu.

Sekarang ini gue pikir gue sudah harusnya dewasa. Katanya kan kalau sudah dewasa isi pikirannya pun lebih bertanggung jawab. Demi kecerdasan makhluk sekitar, gitu. Begitu gue mau serius, nulis yang agak pake mikir sedikit, blank! Atau yang paling parah, begitu gue berhasil nulis yang serius dan penting dari sekadar ngasih tau seharian gue ngapain aja, gak ada yang mau baca.

Jadi sebenarnya, yang bermasalah itu gue atau…?