Saya sering membayangkan pada satu hari saat saya sedang duduk di kursi penumpang, pengemudi di sebelah saya, laki-laki muda yang ganteng dan baru mendapatkan SIM-nya berbicara ke saya dengan nada malu-malu.
“Ma, besok malam aku pinjam mobilnya, ya. Boleh kan?”
Dan sebelum menjawab, saya mengingat-ingat bahwa besok malam adalah malam minggu.
“Mau ke mana?”
“Ke rumah teman,” katanya masih malu-malu dengan pandangan mata menghindari mata saya.
“Teman? Siapa?” tanya saya kekeuh.
“Ayu.”
“Teman atau pacar?”
Saya membayangkan wajah pengemudi di sebelah saya memerah malu.
“Masih teman.”
“Ooooh. Sebentar lagi jadi pacar?”
“Nnnngggak tauuu…”
“Kamu suka dia, Nak?”
“Hmmm iya sih.”
“What do you like about her?”
“Hhmmm… Dia cantik…”
“Jangan cuma cantiknya aja yang dilihat, Nak. Kalau cari perempuan cantik, ada banyak, Nak. Tapi perempuan yang cantik, pintar, sholehah, keren, baik hati, seperti Mamamu ini, yaaaa cuma sedikit……”
Dan saya membayangkan sepanjang jalan itu saya akan menceramahi anak saya yang sudah menjadi perjaka tampan nan baik budi itu dengan panjang dan lebar mengenai kriteria pacar idaman.
Continue reading →