Kamu Gak Perlu Bilang Wow Dan Koprol Segala!

Sejak mengeluarkan diri dari pekerjaan 8-to-5 kemarin ituh hidup saya terasa nikmat sekali. Bangun siang, becanda dengan baby Aiko, mandi telat, makan siang di rumah, berangkat santai ke tempat mengajar di siang menjelang sore, sampai di rumah lagi sebelum Azan Isya, makan malam di rumah, dikerjain Hikari yang jahil, nemenin anak-anak tidur, lalu menulis dan begadang sampai jam 3 pagi untuk kemudian bangun siang lagi di keesokan harinya. Nikmat.
Continue reading

Hari Terakhir

Con Te Partiro -Andrea Bocelli

I’ll go with you,
to countries I never
saw and shared with you
now, yes, I shall experience them.
I’ll go with you
on ships across seas
which, I know
no, no, exist no longer;
with you I shall experience them.

Di Tokyo, 25 September, enam tahun lalu saya menuliskan lirik lagu Con Te Partiro. Beberapa hari setelahnya, saya harus pulang ke tanah air mengikuti si Papap yang selesai tugas sekolahnya. Con Te Partiro. I’ll go with you. To countries I never saw. Continue reading

Bagaimana Seorang Guru Ingin Diingat?

Dua tahun lalu, di akhir bulan September, saya mendapatkan kabar sedih. Wali kelas Hikari di Kelas 1 meninggal dunia. Ibu Siti, nama wali kelas Hikari itu, masih sangat muda. Kesehatannya memang tidak terlalu baik tetapi tetap saja kabar itu mengejutkan kami, orang tua dari murid-murid yang pernah diajarnya.

Ibu Siti mengajar Hikari dan 8 murid lainnya di kelas 1 itu. Kelas itu kelas 1 yang cukup menantang bila dibandingkan dengan kelas 1 lain yang menjadi paralelnya. Memang hanya ada 9 anak di kelas itu tapi semuanya mempunyai keunikan masing-masing. Saat 9 pasang orang tua dari 9 muridnya bertemu di rapat PTA pertama kali, kami memberi Ibu Siti daftar panjang tentang betapa uniknya anak-anak kami. Ibu Siti tersenyum menenangkan dan berjanji pada kami bila diijinkan Tuhan dia akan melakukan yang terbaik untuk anak-anak kami.

Continue reading

Drama Mom

Saya sering membayangkan pada satu hari saat saya sedang duduk di kursi penumpang, pengemudi di sebelah saya, laki-laki muda yang ganteng dan baru mendapatkan SIM-nya berbicara ke saya dengan nada malu-malu.
“Ma, besok malam aku pinjam mobilnya, ya. Boleh kan?”
Dan sebelum menjawab, saya mengingat-ingat bahwa besok malam adalah malam minggu.
“Mau ke mana?”
“Ke rumah teman,” katanya masih malu-malu dengan pandangan mata menghindari mata saya.
“Teman? Siapa?” tanya saya kekeuh.
“Ayu.”
“Teman atau pacar?”
Saya membayangkan wajah pengemudi di sebelah saya memerah malu.
“Masih teman.”
“Ooooh. Sebentar lagi jadi pacar?”
“Nnnngggak tauuu…”
“Kamu suka dia, Nak?”
“Hmmm iya sih.”
“What do you like about her?”
“Hhmmm… Dia cantik…”
“Jangan cuma cantiknya aja yang dilihat, Nak. Kalau cari perempuan cantik, ada banyak, Nak. Tapi perempuan yang cantik, pintar, sholehah, keren, baik hati, seperti Mamamu ini, yaaaa cuma sedikit……”
Dan saya membayangkan sepanjang jalan itu saya akan menceramahi anak saya yang sudah menjadi perjaka tampan nan baik budi itu dengan panjang dan lebar mengenai kriteria pacar idaman.
Continue reading

Better half

Papap punya kebiasaan menyebalkan setiap kali dia akan bepergian keluar kota yang membutuhkan packing. Dia selalu menunda packing sampai malam terakhir sebelum keberangkatan. Yang saya maksud dengan malam ya malam buta. Bukan sekali dua kali saya ngingetin dia untuk mulai packing terutama kalau si Papap akan pergi lebih jauh atau lebih lama. Of course 11 years of being married to him teaches me that he won’t listen. Couple do that to each other, you know.
Continue reading

Cincin Ke-Sebelas

Tahun itu tahun keempat saya dan Papap berpacaran. Di jari saya, ada empat buah cincin perak melingkar. Saya dan sobat saya sedang berada di perkebunan teh mengikuti acara outing klub kami. Si sobat menunjuk cincin-cincin di jari saya.
“What’s the story?”
“These?” Saya tersenyum lebar dengan bangga.
“I can tell you are an army-kinda girl. But those?! Rock star wannabe?”
“Sialan!” Saya tendang kakinya. Ini dari cowok gue! Satu cincin untuk satu tahun!”
Si sobat mesem-mesem. “Serius lo?”
Untungnya jaman itu belum ada bahasa alay yang membuat saya menjawab, “ciyuuus.”
“Gue enggak kebayang kalau elo pacaran sampai lebih dari tujuh tahun. Mau ditaro di mana cincin-cincin lo?”
Continue reading

Ikhlas

Beberapa hari yang lalu teman makan siang saya nyamperin saya dengan bersungut-sungut.
“Kantor kosong,” katanya.
“Kok bisa?” tanya saya.
“Mereka pergi ke Dieng.”

Rupa-rupanya, pagi itu teman saya mendapati departemennya kosong karena teman-teman perempuannya tidak ada yang masuk, kecuali satu orang. Ketika ditanya kemana yang lain, orang ini menjawab tidak tahu.
“Dia bohong,” kata teman saya bertambah manyunnya.
“Anak-anak ke Dieng dan gue enggak diajak.”
Kasian.
“Kok elu tau mereka ke Dieng?”
“Ada anak departemen lain yang keceplosan ngomong.” Muka teman saya ini semakin tinggi derajat kemanyunannya.
“Kok bisa elu enggak diajak? Bukannya elu satu grup whatsapp sama mereka?”
“Mereka…punya…grup…whatsapp…sendiriiiii…..”

Continue reading