Kode Alam Semesta

Do you believe in signs?

Saya ini jenis orang yang percaya dengan kode-kode dari alam semesta. Misalnya, suatu kali saya sedang risau berat (kalau orang dewasa kan risau bukan galau) karena seseorang. Mau marah enggak bisa, enggak marah kok bisa jadi kanker. Berhari-hari saya pikirin soal ini. Eh pada suatu pagi yang aneh, tangan saya iseng nyari frekuensi radio di mobil saat sedang nyupir ke kantor. Dapat lah suara lagu favorit jaman muda dulu. Baru juga dengerin lagunya semenit, suara penyiar memutus lagu. Penyiar itu tiba-tiba ngomong: Forgive, Forget, Move On. Aaah siyal. Ngomongin saya ya?

Semingguan yang lalu saya harus membelah tiga provinsi untuk bisa sampai di rumah. Dengan menumpang taksi burung dan mata yang pelupuknya digondeli bantal, saya menyusuri Jakarta dari ujung barat ke ujung timur untuk kemudian berbelok melipir ke Depok dan akhirnya sampai ke Bekasi pinggiran Bogor. Begitu duduk di taksi, saya memastikan satu hal: supir tahu lokasi rumah saya kah? Pertanyaan ini penting karena saya berniat untuk tidur pulas di taksi. Setelah bangun jam 3:30, berangkat jam 5 sehabis Shubuh, mengajar 8 jam, dan baru selesai jam 5 sore, bisa tidur 1.5 jam di taksi tanpa terganggu adalah kemewahan. Apalagi di tengah kepenatan kepala saya karena satu hal maha penting soal pekerjaan. Jadi begitu duduk dan memastikan supir taksi adalah bapak-bapak berumur yang tidak punya tampang kriminal, saya pun bertanya…

“Ke Cibubur ya, Pak. Tau Cibubur?”
“Tau, Bu.”
“Ke komplek entu ya.”
“Ya, Bu.”
Saya mulai merem.
“Eeemmm tapi… Cibuburnya dimananya ya.”
Saya melek lagi.
“Di komplek itu. Deket situ dan situ.”
“Oh, baik Bu.”
Merem lagi.
“Yang dekat Cibubur Junction kan ya, Bu.”
Melek lagi sambil istigfar.
“Bukan, Pak. Arahnya kan beda.”
“Oooh…”
Saya enggak berani merem lagi.
“Arah Kota Wisata kan? Sebelah kanan ya, Bu?”
Tuh! Bener kan! “Iya, Pak. Arah situ sebelah kanan yang ada ininya itunya.”
“Oooh iya iya tau tau…”
Good. Saya pun ambil ancang-ancang mau merem lagi.
Semenit. Dua menit. Lima menit. Rasanya saya sudah di surga berisi kasur-kasur empuk minus iler. Kepala sudah berat. Sudah pantas menuju cahaya ke arah bantal.
“Bu, Bu!”
Howalaaaah kuaaaampprrr…. Saya terbangun dengan kepala berdenyut tapi masih inget istigfar. Gak lucu puasa sejam mau buka puasa batal.
“Kenapa, Paaaak?”
“Nanti saya tolong dipandu ya kalau sudah dekat?”
Oh Tuhan, itu kan artinya gue kagak boleh molor di mobil ente, bapakeeee.
Singkat cerita saya tidak jadi tidur di taksi. Melihat mata saya akhirnya terbuka, si supir malah ngajak ngobrol. Dari soal rute sampai soal umur.
“Saya kan sudah tua, Bu. Jadi saya nyupir gak ngoyo. Ada tuh teman saya masih muda, sehat, eh tau-tau meninggal….”
Kalimatnya menggantung. Sepertinya si Bapak supir butuh komentator. Ya sudahlah. Amal puasa.
“Meninggal kenapa, Pak?”
“Sakit jantung, Buuuu! Makanya saya enggak mau kerja ngotot. Tau-tau mati kan repot.”
“Iya. Repot,” kata saya tanpa selera ngobrol.
“Eh, tapi enggak apa-apa juga sih, Bu.”
“Heeeh? Gimana maksudnya enggak apa-apa kalau mati?” Yang ini saya beneran nanya,
“Kan dari perusahaan ada fasilitasnya, Bu.”
“Hah? Fasilitas meninggal?”
“Iya.”
Loh loh kok malah iya?
“Kalau supir meninggal, keluarganya dikasih santunan sekian juta. Jadi, saya bilang ke istri saya. Bu, pokoknya kamu tenang aja. Kalau saya mati mendadak, kamu bakalan dapat duit sekian juta kok dari perusahaan…”
Saya speechless.
“Eeeh kata istri saya…”
“Pasti Bapak diomelin.”
Si supir ketawa terbahak-bahak.
“Kata istri saya, orang gila kamu ya? Terus saya dilempar sendok hahahahaha….”
Kalau di dekat saya ada sendok, saya pun mungkin akan melempar Bapak, batin saya.
“Begonyaaa… Masa’ dia enggak mau dikasih duit sekian juta, Bu… Hhahahahaha…”
“Padahal lumayan bisa buat kawin lagi ya, Pak?” kata saya sebal. Kalimat saya mengena. Si supir langsung diam. Rasain lu!
“Hihi… Enggak semua istri mau dapat duit santunan kematian ya, Bu,” kata si supir.
“Ya kalau gitu saya enggak usah ngotot kerja deh…” kata Pak Supir. “Kalau saya mati mendadak gara-gara ngotot kerja, anak-anak gimana. Siapa yang ngurus mereka….”
Ada keheningan panjang diantara kami. Pak Supir dengan kesadaran barunya. Saya dengan kode baru dari alam semesta.

Jangan ngotot bekerja. Kalau saya mati mendadak, anak-anak siapa yang ngurus?

Eh, kok jadi ngomongin mati?
#kode

One thought on “Kode Alam Semesta

  1. Ternyata namanya kode alam semesta ya? Saya dulu sering bepergian dengan angkutan umum dan menghabiskan lumayan banyak waktu di terminal/stasiun/bandara. Orang-orang yang berpapasan dan sempat ngobrol dengan saya sering sekali secara tidak terduga membahas mengenai hal-hal yang pas banget dengan yang saya alami saat itu. Apapun yang kami bicarakan saat itu seakan membantu saya memahami permasalahan yang saya hadapi dari sudut pandang yang lain. Sungguh satu cara yang unik. Sayang saya sudah jarang ngobrol dengan orang-orang di tempat umum, selalu sibuk dengan buku/gadget 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.