Pertanyaan untuk Penulis

Semua penulis yang pernah mempublikasikan ceritanya, baik yang sudah ngetop maupun yang baru akan ngetop, pasti pernah menerima satu pertanyaan ini: “Kamu nulis tentang aku ya?” atau yang lebih njelimet lagi, “Kamu kok nulis tentang aku nggak minta izin dulu?”

Seorang David Nicholls menulis acknowledgements untuk novelnya ‘One Day‘ seperti ini:
It is in the nature of this novel that certain smart remarks and observations may have been pilfered from friends and acquaintances over the years, and I hope that a collective thank you -or apology- will be enough.


Continue reading

Blogger-Blogger Veteran

Ada banyak sebutan untuk blogger-blogger tua senior yang mulai ngeblog sebelum blog itu populer: veteran blogger, blogger lupa password, sampai yang lebih enak didengar dan berkonotasi keren yaitu Blogger Senior, menunjukkan umur dan/atau ilmu. Sayangnya, blog para blogger golongan ini banyak yang sudah berdebu, sudah dimatikan, sudah tidak relevan, dan yang paling umum: sudah susah diingat password-nya. Blog saya ini masih ada walaupun jarang diperbarui karena satu hal saja: sayang udah bayar domainnya tiap tahun 😛 .
Continue reading

Selesai Tugas Menerima Vaksin

Alhamdulillah, sudah selesai tugas saya untuk muncul di tempat vaksin untuk ambil vaksin kedua. Saya dan Hikari sudah menyelesaikan tahapan vaksin untuk Covid-19.

Kok tugas sih?

Iya, saya menganggap mencari-menerima vaksin Covid-19 ini sebagai tugas dan kewajiban saya untuk melindungi orang-orang di sekitar saya dari efek pandemi yang mematikan, terutama untuk keluarga saya yang belum bisa divaksin (melirik Aiko).
Continue reading

Vaksin Covid-19 yang Paling Ampuh adalah…

Setelah menunggu beberapa bulan dan dijadwal ulang berkali-kali, akhirnya saya dan Hikari benar-benar jadi divaksin kemarin siang. Rasanya lega luar biasa. Bukan cuma lega, saya bersyukur luar biasa. Mengingat pandemi yang gak kelar-kelar dan kesempatan mendapat vaksin sangat langka untuk golongan usia, pekerjaan, latar belakang, dsb, dst, dll, saya dan anak bisa divaksin itu bisa masuk kategori yang bisa di-sujud-syukur-i.
Continue reading

A Cup of Heart

He held out his hands and put the glass bowl in front of me. It was half full with small folded papers. Back in my apartment, Black, my goldfish, lived in the same kind of bowl. His hands were now on his hips. Sleeves rolled up and apron the color of coffee bean was crisp. His widened eyes were watching me. Expecting me to take one the folded papers.
“Come on, man. I just want a cappuccino. Sweet, creamy, but strong.” I gave him my best smile.
“It doesn’t work that way here.” From the other side of the table, he pointed out at a sign on top of it.
My smile disappeared. “Fine.”
I picked one paper, glared at him, and opened the paper. It was written ‘heart’. I let out a frustration but his satisfying laughter was louder. He would be handsome if the glass bowl didn’t hit his face first, I thought, entertaining the idea.

It had been a month I had my coffee here and heart was the only latte art I got for my cappuccino. I didn’t even care about the bloody drawing but this man who otherwise was quite handsome if I hadn’t been regularly cross at him said it was a rule here to choose a surprise latte art for our coffee! A fresh cup of coffee with lily drawing was delivered to a man at a nearby table.
“Why can’t I have that just once? Or a smiley for a change!” I hissed.
He shrugged indifferently. “Luck, I guess.” He took the bowl and put it back under the table. “One cappuccino coming right up. Sweet, creamy but strong. Enjoy the heart.”
He gave me his widest brightest smile. I rolled my eyes, picked up my yoga mat, and walked to my usual table next to the front window.

At the barista’s table, he returned the bowl next to an identical bowl half full with small folded papers. He sensed his friend passed behind and muttered under the breath. Only loud enough for his ears to hear.

“It’d be a lot easier if you just tell her directly.”

First posted the story as very mini short story in my instagram.

#writing #shortstorywriting #oneofthoseinsomnianights #coffee #coffeeaddict #latteart #cupofcoffee #veryshortfiction #fictionwriting #coffeestory #latteartgram #caffeinated

Antologi Cerpen – Sebuah Niat untuk Terus Menulis

Cerpen Majalah Femina
Niat. Yang penting niatnya.
Sebenarnya saya sudah lama berniat melanjutkan draft-draft cerpen yang terbengkalai. Ya niat doang. Belum pernah saya laksanakan dengan berbagai alasan. Salah satunya karena saya takut berkomitmen waktu untuk menulis (saja). Menulis itu butuh banyak faktor pendukung selain mood. Ada faktor ketenangan lingkungan yang sangat penting, faktor kenyamanan tempat menulis, faktor bebas gangguan, dsb dkk dll. Kalau saya sudah berkomitmen untuk menulis, artinya saya akan menjadi sangat selfish. Tidak mau diganggu selama jam-jam saya menulis. Tanpa adanya ruangan sendiri yang bebas gangguan, kondisi ini sulit kecuali saya menulis dari tengah malam sampai dini hari. Coba setiap hari gini, minggu kedua tipes langsung kan?
Continue reading

Ide Mentok itu Real, Kawan

Sudah seminggu ini waktu saya terbuang sia-sia di depan laptop tanpa berhasil produktif sama sekali. Draft cerpen yang harusnya tayang minggu lalu (kemudian molor tengah minggu, terus molor lagi sampai akhir minggu) hanya bisa saya pelototin bolak balik. Saya cuma sanggup ngotak-ngatik teknisnya: pilihan kata, tanda baca, tanpa bisa maju ke hal yang lebih substansial: isi cerita dan endingnya, sisssss! Frustasi rasanya.
Continue reading

Setahun Pandemi

Yup, setahun sudah umur pandemi Covid-19 ini dengan segala dampaknya. Maret ini setahun sudah saya kerja di rumah dengan hanya satu kali (1x!) saja pernah balik menginjakkan kaki di kantor pada suatu hari Minggu untuk mengambil peralatan kerja. Setahun pula anak-anak sekolah dari rumah. Setahun! Will this ever end?

Setahun pandemi ini juga berarti saya kehilangan satu tahun umur saya di pandemi. Benar-benar satu tahun! Setahun lalu karantina pandemi dimulai sesaat setelah saya merayakan ulang tahun bersama keluarga di daerah pegunungan. Pulang dari situ, dunia berubah. Hari ini umur saya berubah satu angka, dan ini pertama kali saya bisa pergi ke luar bersama keluarga, merayakan bertambahnya lilin di kue ulang tahun, di pantai. Isn’t this something, though small, that we should be grateful for? Walaupun jalan-jalan ke pantai harus cari spot terjauh dari pengunjung lain. Walaupun barang yang dibawa ke penginapan menjadi lebih banyak karena ditambah dengan sanitiser, disinfektan, dsb. Walaupun tiap foto lupa kalau mukanya tertutup masker. Walaupun kalau mau makan, hanya bisa take away dan menghindari restoran penuh dan/atau tertutup. Semua walaupun ini dilakukan demi bisa mengecap sedikit kenormalan masa lalu.

Setahun ini setidaknya mengajarkan untuk menyukuri apa yang masih kita punya atau masih kita bisa dan bukan menyesali apa yang tidak kita punya atau tidak bisa kita lakukan.

Hang in there, people.