Novel Baru. Segera.

Teman-teman saya beberapa waktu lalu sering ngeledek.
‘Elu tiap kali ngasih kesan lagi nulis, lagi nulis, tapi manaaa novel barunya. Ini PHP ya?’

Ya, sudah hampir 2 tahun ini saya berusaha menyelesaikan draft berusia 10 tahun. Butuh waktu untuk melakukan riset dengan benar, butuh waktu untuk menyempurnakan cerita, butuh waktu untuk menarik diri dari rasa frustasi yang kadang datang saking ya-ampun-ngeyel-banget-sih-ini-karakter-dikasih-tauuuuu! Jelas, ini novel dengan riset terintensif sepanjang karir saya menulis. And this novel is my tribute…

Bukan itu aja. Novel ini punya sekuel. Yes, I know, I once said I never would or could write a sequel, but here it is 🙂 .
Jadi, bisa dimaafkan ya hiatus panjang saya? Hehe. Kan kalian langsung dapat dua 😀 .

Mohon doanya untuk kelancaran proses produksi, gaes. Masih bekerja sama dengan GPU, novel ini berjudul:

Jangan Rame-Rame ke Pangandaran

Sebenarnya sudah lama saya pengin nulis pengalaman ke Pangandaran di awal tahun 2022 kemarin. Tapi malas hehehe… Januari berubah jadi Februari lama-lama jadi Mei dan tiba-tiba sudah akhir tahun 😀 .

Tujuan traveling ke Pangandaran sebenarnya bukan karena lokasi. Waktu itu saya tidak punya banyak info tentang Pangandaran dan sekitarnya. Saya cuma kepingin nyobain terbang dengan pesawat baling-baling tunggal sebagai salah satu hal di dalam bucket list, dan tidak terlalu ambil pusing itu pesawat terbangnya ke mana hahaha! Satu-satunya pesawat baling-baling tunggal yang berangkat dari Jakarta rutenya cuma ke Pangandaran. Yowes, berangkat! Ngapain di Pangandaran, lihat nanti aja deh.

Terbang dengan pesawat Cessna Grand Caravan itu sudah saya rencanakan sejak mid 2021, tapi terkendala lockdown bolak-balik, teman jalan yang jadwalnya nggak pernah pas sama jadwal saya, sampai semua akomodasi di Pangandaran yang penuh sejak September 2021. Akhirnya di Desember 2021 kami sepakat harus jalan di tanggal sekian di bulan Januari apa pun yang terjadi!

And we were glad we did it!
Continue reading

First Time for Everything

Saya tuh nggak pernah bisa nulis sekuel novel sendiri. Sepertinya saya pengin cepat-cepat move on dari siksaan cerita novel pertamanya. Maksudnya, kalau nulis sekuel itu, kita kan harus baca ulang lagi dan meresapi lagi novel pertamanya. Hm, guys, who the hell want to experience all the heartbreak and the struggle and the tears all over again?! Bukan saya, yang pasti. Jadi, setiap kali saya tulis ‘Selesai’ ya artinya saya berkomitmen untuk putus hubungan sampai di sini saja dengan Takung, Nina, Kirana, Rio, Yoshi, dan lain-lain.

Sampai saya menulis novel ini…

Setelah saya selesai menulis draft novel yang judulnya kita sebut aja XXX ini di bulan Agustus, si karakter di otak saya nggak mau istirahat. Saya juga nggak mau berpisah dengan dia. Dan beberapa hari kemudian, saya mulai nulis lagi. Rasanya pengin teriak-teriak kegirangan.

Sekuel XXX pun selesai kemarin lewat tengah malam kira-kira jam 2 pagi. Ya ampun! Bisa juga gue bikin sekuel! Iya, norak 😀 .

Tentunya, menulis kata ‘Selesai’ itu bukan berarti selesai-titik-kelar-finished-the end. Setelah kata ‘Selesai’ ada revisi tak berujung. Jadi, kapan sekuel ini benar-benar selesai, yaaa mari kita lihat hehehe…

Pertanyaan untuk Penulis

Semua penulis yang pernah mempublikasikan ceritanya, baik yang sudah ngetop maupun yang baru akan ngetop, pasti pernah menerima satu pertanyaan ini: “Kamu nulis tentang aku ya?” atau yang lebih njelimet lagi, “Kamu kok nulis tentang aku nggak minta izin dulu?”

Seorang David Nicholls menulis acknowledgements untuk novelnya ‘One Day‘ seperti ini:
It is in the nature of this novel that certain smart remarks and observations may have been pilfered from friends and acquaintances over the years, and I hope that a collective thank you -or apology- will be enough.


Continue reading

Blogger-Blogger Veteran

Ada banyak sebutan untuk blogger-blogger tua senior yang mulai ngeblog sebelum blog itu populer: veteran blogger, blogger lupa password, sampai yang lebih enak didengar dan berkonotasi keren yaitu Blogger Senior, menunjukkan umur dan/atau ilmu. Sayangnya, blog para blogger golongan ini banyak yang sudah berdebu, sudah dimatikan, sudah tidak relevan, dan yang paling umum: sudah susah diingat password-nya. Blog saya ini masih ada walaupun jarang diperbarui karena satu hal saja: sayang udah bayar domainnya tiap tahun 😛 .
Continue reading

Selesai Tugas Menerima Vaksin

Alhamdulillah, sudah selesai tugas saya untuk muncul di tempat vaksin untuk ambil vaksin kedua. Saya dan Hikari sudah menyelesaikan tahapan vaksin untuk Covid-19.

Kok tugas sih?

Iya, saya menganggap mencari-menerima vaksin Covid-19 ini sebagai tugas dan kewajiban saya untuk melindungi orang-orang di sekitar saya dari efek pandemi yang mematikan, terutama untuk keluarga saya yang belum bisa divaksin (melirik Aiko).
Continue reading

Vaksin Covid-19 yang Paling Ampuh adalah…

Setelah menunggu beberapa bulan dan dijadwal ulang berkali-kali, akhirnya saya dan Hikari benar-benar jadi divaksin kemarin siang. Rasanya lega luar biasa. Bukan cuma lega, saya bersyukur luar biasa. Mengingat pandemi yang gak kelar-kelar dan kesempatan mendapat vaksin sangat langka untuk golongan usia, pekerjaan, latar belakang, dsb, dst, dll, saya dan anak bisa divaksin itu bisa masuk kategori yang bisa di-sujud-syukur-i.
Continue reading

A Cup of Heart

He held out his hands and put the glass bowl in front of me. It was half full with small folded papers. Back in my apartment, Black, my goldfish, lived in the same kind of bowl. His hands were now on his hips. Sleeves rolled up and apron the color of coffee bean was crisp. His widened eyes were watching me. Expecting me to take one the folded papers.
“Come on, man. I just want a cappuccino. Sweet, creamy, but strong.” I gave him my best smile.
“It doesn’t work that way here.” From the other side of the table, he pointed out at a sign on top of it.
My smile disappeared. “Fine.”
I picked one paper, glared at him, and opened the paper. It was written ‘heart’. I let out a frustration but his satisfying laughter was louder. He would be handsome if the glass bowl didn’t hit his face first, I thought, entertaining the idea.

It had been a month I had my coffee here and heart was the only latte art I got for my cappuccino. I didn’t even care about the bloody drawing but this man who otherwise was quite handsome if I hadn’t been regularly cross at him said it was a rule here to choose a surprise latte art for our coffee! A fresh cup of coffee with lily drawing was delivered to a man at a nearby table.
“Why can’t I have that just once? Or a smiley for a change!” I hissed.
He shrugged indifferently. “Luck, I guess.” He took the bowl and put it back under the table. “One cappuccino coming right up. Sweet, creamy but strong. Enjoy the heart.”
He gave me his widest brightest smile. I rolled my eyes, picked up my yoga mat, and walked to my usual table next to the front window.

At the barista’s table, he returned the bowl next to an identical bowl half full with small folded papers. He sensed his friend passed behind and muttered under the breath. Only loud enough for his ears to hear.

“It’d be a lot easier if you just tell her directly.”

First posted the story as very mini short story in my instagram.

#writing #shortstorywriting #oneofthoseinsomnianights #coffee #coffeeaddict #latteart #cupofcoffee #veryshortfiction #fictionwriting #coffeestory #latteartgram #caffeinated