Posisi Menentukan Prestasi

lantai 4Ada orang baru  di unit saya yang lama. Yang saya maksud lama itu kira-kira 4 tahun lalu, saat ruangan saya masih di lantai 4 sebuah gedung berlantai 6. Iya, sudah dua minggu ini ada orang baru di unit saya yang lama. Ada 4 cubicle dari 8 cubicle di tempat itu yang dia bisa pilih untuk dia tempati.  Salah satu cubicle yang seharusnya kosong adalah bekas cubicle saya.

Seharusnya? Loh kok seharusnya?

Setahun setelah saya diberi cubicle itu, saya diberi tugas baru yang membuat saya mendapatkan ruangan baru di lantai 2. Ruangan baru saya lebih besar. Kalau cubicle saya di lantai 4 itu mau saya turunkan ke ruangan di lantai 2 pun masih sisa setengah ruang kosong. Tapi toh saya tidak juga mengosongkan cubicle di lantai 4 itu. Alasannya? Selain malas ngangkutin barang printilan yang ternyata banyak, cubicle di lantai 4 itu punya pemandangan yang luar biasa: ke arah jalan raya di depan kantor. Sungguh oase di tengah tumpukan kertas yang menggunung.

Sewaktu 4 tahun lalu saya disuruh memilih cubicle, ada beberapa cubicle yang kosong yang bisa saya pilih. Saya pilih justru yang di paling ujuuuuuuuuung koridor, di pojokan, dan di sebelah jendela besar berhiaskan pemandangan lalu lintas. Continue reading

Trust Only Yourself

Saya dan Hikari sedang menunggu pesanan makan siang kami datang ketika saya dan puluhan orang lain yang sedang bersantai di kolam renang sebuah Family Park dekat rumah mendengar jeritan histeris seorang ibu. Ibu yang baju renangnya masih basah kuyup itu menjerit-jerit di pinggir kolam meminta tolong dengan kepanikan luar biasa. Jarak saya dan ibu itu sekitar 10 meter dibatasi oleh pembatas kaca antara restoran dan pelataran kolam renang. Si ibu menunjuk-nunjuk ke dalam kolam renang dengan histeris.

Dari dalam kolam renang, seorang bapak muncul menggendong sosok anak perempuan kecil yang sudah terkulai layu. Layu tidak bergerak dengan posisi wajah menghadap ke bawah. Sontak orang-orang bergegas mendekati si ibu yang semakin histeris berteriak minta tolong dan anaknya yang tidak bergerak. Di restoran terbuka tempat saya duduk hanya ada satu keluarga lain yang sama syoknya dengan saya. Spontan saya berteriak, “Satpam! Mana satpam? Petugasnya mana? Mana?” Yang saya temukan hanya wajah-wajah bengong beberapa petugas restoran perempuan. Saya hardik seorang petugas perempuan yang memegang HT. “PETUGASNYA MANA?! PANGGIL PETUGASNYA KESINI!”

Anda tahu apa jawabnya, “Gak ada petugasnya, Bu.” Continue reading

Tentang Galau…

Seringkali saya merasa terlalu tua untuk merasa galau. Bukan kah galau itu milik anak belasan tahun berkostum Cherrybelle dan Sm*sh? Tapi ternyata galau itu memang gak pandang bulu, eh, umur. Saya yang sudah dewasa ini pun bisa terserang galau.

Galaunya orang dewasa dengan galaunya ABG tentu berbeda. Saya iri dengan galaunya ABG. Mereka galau karena hal-hal yang romantis: pacar gak jadi datang, pacar telat datang melulu, pacar diambil orang, atau yang paling dahsyat yaitu malam minggu gak punya pacar. See! Walau galau, mereka tetap romantis. Macam sinetron-sinetron Korea gitu lah. Ditinggal pacar pun terasa romantis.

Continue reading

Kantor Pos

Hari masih pagi sewaktu saya lewat di depan kantor pos di sebuah komplek tentara. Kantor pos di pojokan jalan itu kecil dihiasi cat kusam dan taman kering kerontang. Bendera yang terpasang di tiang di depan kantor pos pun sepertinya sudah lama tidak mencium air bersih dan sabun. Sejak saya kecil -dan sering datang kesitu- sampai sekarang, pelayanan kantor pos itu standar saja. Pegawainya baik hati tapi jangan tanya apa kantor itu punya jasa EMS dan sejenisnya. Jadi maklum lah kalau kantor itu lebih banyak kosongnya daripada ramainya.

Kecuali di awal bulan.

Hari ini masih hari kelima di awal bulan. Hari Senin. Saya harus melambatkan mobil karena keramaian di depan kantor pos. Satu demi satu orang-orang sepuh berjalan tertatih-tatih menuju kantor pos. Banyak juga yang sudah berkerumun di depan pintu. Beberapa turun dari angkot kawasan berwarna biru, beberapa turun dari boncengan motor. Jarang ada yang turun dari mobil. Mereka semua punya tujuan satu: mengantri uang pensiun.

Continue reading

Cat Rambut

Dulu-dulunya saya gak pernah kepikiran untuk mengecat rambut. Alasannya simple: kulit item saya agak kurang compatible dengan warna pirang. Kasian nanti anak-anak yang doyan maen layangan disamain sama saya. Tapi pada suatu hari saya terpesona melihat rambut marunnya temen saya. Ketika diterpa sinar matahari, dia jadi kelihatan cakep. Padahal biasanya tanpa cat rambut itu kalau diterpa matahari dia kelihatan keringetan. Alhasil pada suatu sore yang galau *ehem* alih-alih pulang ke rumah, saya malah membelokkan mobil ke mall. Kok mall? Ya kan salonnya ada di dalam mall.

Dasar pengecut, begitu duduk di kursi pesakitan salon, saya mulai meriang ketakutan. Mau mundur gak jadi ngecat, kok malu. Mau jalan terus, perut mules. Akhirnya saya memutuskan untuk di-highlight saja rambut hitam saya. Bukan dicat semua.
Dasar sial, si hairstylist dengan manisnya bilang, “Gak bisa, cyin. Kalau rambut virgin gini kudu diwarnai semua dulu. Baru bisa di-highlight. Percuma, cyiiiin.”
Entah dia bohong atau enggak, saya yang sudah kepalang duduk akhirnya hanya bisa pasrah.

Dua jam kemudian, rambut saya berubah menjadi berwarna mahogani. Mirip-mirip lah sedikit seperti warna furniture. Tapi secara keseluruhan, I felt good. Saya pun senang senang senaaaaang. Saking senangnya, komentar orang-orang bahwa kulit item saya jauh lebih compatible dengan warna rambut hitam tidak saya hiraukan. Biasa. Kalau ada orang cakep dikit, banyak yang sirik. Apalagi kalo cakep banyak.

Nah, itu kejadian 2 tahunan lalu. Rambut saya sekarang sudah balik lagi menjadi hitam. Saya pun kepengen ngecat rambut lagi. Maka, saya membuat polling di kantor: warna apa yang bagus buat cat rambut saya?
Dengan heboh saya gerakkan masyarakat kantor untuk berpartisipasi menentukan warna rambut cewek kesayangan mereka ini *kesambit sendal*. Dan setelah polling dilakukan, atas pertanyaan ‘warna rambut apa yang paling cocok dengan saya’ jawabannya adalah… HITAM.

Lost in Expressions

It was the last session before the lunch-break time. Senior High school time. My history teacher told us -30 something students- to make a 2-page summary about the life of a national hero. She told us we could find the references in our school library. She gave us 2 hours to finish the summary. My friends -all of them- saw it as a moment worth comparing to an independence day. They ran out of the class the moment they were allowed to. The class suddenly became empty. Except for my being.

Continue reading

Dibalas Tunai

Saya itu memang ditakdirkan gak boleh jahat sama orang (emang ada gitu orang yang takdirnya jahat sama orang lain?) 😀 Definisi jahat disini antara lain kesal, dongkol, ngomongin sampai tahap sedikit lagi nampolin. Walaupun orang itu yang rese, ngajak berantem duluan, bikin naik pitam, teteup reaksi saya gak boleh balas. Karena kalau saya balas bahkan ‘cuma’ dengan pisuh-pisuh saja, balasan saya dari yang di atas sangat tunai! Langsung!

Continue reading

New Year’s Resolution. Or not.

Wijaya Kusuma

Jamannya saya dan teman-teman masih rajin ngeblog, saya juga rajin bikin resolusi tahun baru. Dari resolusi ecek-ecek macam ‘pengen bisa masak’ sampai resolusi kelas langit ‘pengen sehat terus’. Sayangnya resolusi saya seringkali cuma kejadian di blog, gak di kehidupan nyata =)

Sekarang ini bikin resolusi tahun baru masih nge-tren. Tapi bukan lagi di blog melainkan di social media lain seperti twitter, facebook, facebook, facebook, dan google+. Saya gak bikin resolusi tahun baru di twitter karena kalau saya benar-benar niat mau beresolusi tahun baru-an 140 sih gak cukup. Saya juga gak bikin resolusi di facebook. Alasannya sangat masuk akal: bisa dihina abis oleh orang satu kantor apabila saya gagal memenuhi resolusi saya. Padahal, resolusi saya kan banyak gagalnya. Di google+? Apalagi! Wong saya buka google+ kalau inget doang.

Jadi, saya balik lagi ngeblog tentang resolusi tahun baru sebagai seorang #bloggerteladan 🙂

Oke, sekarang saya harus tulis resolusi saya. Sebelumnya saya wanti-wanti dulu ya. Resolusi saya gak akan bombastis ataupun life-inspiring ataupun monumentally-englightening seperti para #bloggerteladan lain. Resolusi saya santai kok:

  • Pengen bisa berangkat ke kantor lebih pagi supaya bisa masuk lebih pagi. Belum tentu on time sih, tapi yaaaa sekitar 30 menit lebih pagi dari jam 10-11 lah.
  • Pengen bisa rutin pergi ke gym. Yang tadinya cuma kalau gak malas, ya sekarang seminggu sekali.
  • Pengen bisa mengurangi minum teh botol. Dari  4-5 botol sehari menjadi 4 botol.
  • Pengen bisa menyelesaikan draft novel di bulan Januari. Eh, ya Februari deh. Yaaaa sial-sial Maret deh.
  • Pengen bisa berhitung dengan lebih cepat. Yang tadinya butuh 15 menit untuk penambahan, jadi sepuluh menit saja.
  • Pengen bisa ngeblog sehari sekali.

Dan seterusnya dan seterusnya…. sampai saya menyadari sesuatu… Ini resolusi kok sama dengan resolusi tahun lalu?!