Di bawah Pohon Tanjung

Setiap kali musim panas berganti musim hujan, saya selalu terkenang hari-hari di masa muda dulu saat saya masih cakep dan sering naik angkot ke sekolah. Yang mengingatkan saya akan hari-hari indah itu adalah wanginya bunga-bunga Tanjung yang mekar persis di penghujung musim panas.

Daerah Halim, tempat rumah saya dulu berada, ditanami oleh pohon-pohon Tanjung. Pohon-pohon Tanjung itu ditanam berjejer rapat di pinggir jalan-jalan. Setiap kali pohon-pohon itu mulai berbunga, wanginya akan menyebar kemana-mana. Parfum keluaran Paris Hilton aja sih lewat. Bunga Tanjung pun mudah gugur saat tertiup angin. Saya selalu menyempatkan diri berlama-lama berdiri di bawahnya sekadar ingin menikmati harumnya. Syukur-syukur bisa ikut wangi. Continue reading

Pilosopi Klepon

kleponKlepon, si makanan kampung ini tidak mudah dicari di kota. Setidaknya, tidak mudah dicari di tempat saya tinggal. Klepon yang bulat hijau berbalut taburan kelapa dengan isi gula merah cair mengandung filosofi yang dalem. Memakan klepon itu harus sekaligus satu butir. Tidak boleh digigit di tengahnya karena niscaya gula merah cair di dalamnya akan menyemprot kemana-mana membuat anda dan pembantu anda menyumpah-nyumpah karena noda gula merah susah hilangnya bila mengenai baju. Saat memakan klepon pun mulut anda harus mingkem sempurna dengan alasan yang sama seperti di atas. Lalu apa filosofinya?

Cara makan klepon itu mengajarkan kita saya untuk menahan mulut dan sensasi apapun yang saya rasakan saat ingin mengucap. Saya harus memikirkan dulu apa yang mau saya ucapkan beberapa saat karena kalau saya tidak sabaran dan main njeplak, gula merah itu akan muncrat kemana-mana yang nantinya saya sesali. Ngerti kan?

Tes Kepribadian

Pernah dengar teori yang mengatakan kalau kita ingin mengetahui kepribadian seseorang, kita harusnya melihatnya saat menyetir? Bukannya saya tak percaya teori ini, tapi agak susah juga menerapkan teori ini pada orang-orang yang tak bisa menyetir. Sebaliknya saya mempunyai teori yang agak berbeda. Saya malah percaya bahwa kepribadian seseorang bisa terlihat dari caranya duduk di kursi penumpang di sebelah pengemudi. Teori ini saya dapatkan setelah bertahun-tahun menjadi supir orang tua saya.

Continue reading

A Closure

After almost 13 years of working at the same place, dealing with the same people, living the same culture, I was finally assigned to a different unit. It’s not really entirely a new unit for me since long long time ago I once also worked there part-timely for 2 years. And honestly, the place where I’ll be working is still at the same building only different floor. Still, the new assignment came as a shock for me. Not to mention it came to me in a short notice. Not to mention at the same time I was also preparing for my 3-month maternity leave, starting right then.

Later I found out I was not the only one who got new assignment. From the same office, there were 2 others in higher position than me who got to leave to a new place. From the whole organization, there were dozen of others, in the name of restructuring. Apparently, I was not the only one who was shocked by the new assignment. Don’t get me wrong. This assignment doesn’t bring harm to my career at all in any way. But when you were given a short-notice assignment after 13 years of service in one place, you couldn’t help being shocked. Plus, from the 3 people leaving, I am the only one with longer history in that place. And when I say history, I mean real history. So, there I was, on my last day, standing in front of my office room, closing the door while trying to inhale the last smell of the room, and thinking… I hadn’t said goodbye to my 13 years of history.

Continue reading

Atur aja deh!

Barangkali sudah bawaan oroknya masyarakat kita untuk selalu ingin terlibat di hidup orang lain. Sebut saja itu adalah wujud dari perhatian luar biasa kepada kita, atau wujud kasih sayang kepada kita, atau sekadar menunjukkan tingkat selebritas kita. Kalau anda mengikuti cerita-cerita di blog saya sebelumnya, anda pasti ingat bahwa selama hampir 9 tahun ini perhatian yang tertuju kepada saya adalah dalam bentuk pertanyaan, “Kapan punya anak lagi?”

Continue reading

Ethiopia

Kalau ada satu negara yang saya hapal betul luar kepala sejak saya balita, negara itu pastilah Ethiopia. Bahkan saat saya belum bisa membaca peta, saya sudah tahu Ethiopia ini berada di suatu benua bernama Afrika. Saya juga hapal betul sejak balita bahwa Ethiopia itu negara miskin dimana penduduknya kurus kering karena jarang bisa makan saking miskinnya.

Continue reading

Status Fesbuk

Malam ini saya menyadari kalau status fesbuk ternyata bisa berdampak buruk pada kesehatan jiwa dan raga. Awalnya saya nyetir mobil sepanjang 25an kilometer dari rumah sampai kantor sambil pasang radio yang menyiarkan lagu-lagu cinta gitu. Ada satu lagu entah apa judulnya yang di salah satu liriknya menyebut begini…

Let’s fall in love again…

Entah karena lagunya yang enak atau saya memang lagi kurang eksposur, sesampainya di kantor dan buka kompie, saya langsung nulis itu lirik di status fesbuk saya. Dan anda tahu apa yang terjadi?

Tidak sampai 1 jam kemudian, salah seorang tante saya (saya punya buanyaaaakkk tante) langsung merespon di kolom komentar: MAKSUDNYA?!
Saya jawab: Maksudnya? Ya seperti statusnya.
Tante: Iya, maksudnya apa?!
Saya (mulai mendidih): Gak ada maksud apa-apa.
Tante: Sama siapa? Saya: (bete)
Singkat cerita seminggu dua setelah itu, saya ketemu si tante di acara keluarga. Ternyata, tante saya mengira saya punya gebetan baru yang membuat saya menulis status ‘Let’s fall in love again’. WHAT?!
Sebelum saya sempat ketawa ngakak atau malah ngomel sama si tante gara-gara tuduhannya dia itu, dia sudah lebih dulu menceramahi saya panjaaaaang lebaaaaar mengenai kesopanan menulis status sehingga tidak membawa fitnah dan keharusan menjaga perasaan suami sendiri. Lah, suami saya aja santai-santai begitu…?! Tapi, let me tell you something. Berdebat dengan tante (atau tante-tante) saya itu adalah suatu hal yang sia-sia. It’s a losing battle. Jadi akhirnya hari itu saya akhiri dengan manyun dan kepala cenut-cenut.  Sejak kejadian itu saya blok wall saya dari pandangan seluruh anggota keluarga. Si Mami, si Papi, si Tante A, B, C sampai Tante Z, si Om A-Z, keponakan, sepupu, semua yang ada hubungan keluarga saya blooooooooooook dari fesbuk saya! *kejam mode on*

Kali lain, saya dengan iseng lewat hape menulis status begini…

Markitlon

Lalu mulailah orang-orang mencoba memecahkan kode status saya. Ada yang bilang Mari Kita Bunglon sampai yang paling dodol Mari Kita pake minyak Telon. Waktu saya tulis artinya adalah Mari Kita Ngelonin, eeeeh ada yang komentar rada-rada berbau ranjang! Padahal, saat itu saya lagi ngelonin si Hikari yang belum bisa ditinggal tidur sendiri. Cape deeeh!

Sejak itu saya mulai menyadari setiap kali saya menulis status yang rada-rada menjurus romantis atau pakai lirik lagu romantis, saya selalu dianggap sedang ngomongin cowok (lain?). Padahal cowok yang lagi saya omongin, noleh juga enggak… *sambit si Papap*

Continue reading

Faktor U?

Beberapa minggu lalu saya bertemu dengan teman kantor beda lokasi kantor. Walau punya hubungan baik dengan dia, saya jarang ngobrol hal-hal yang ‘dalem’ seperti soal si Kunyil yang cerewet, soal si Papap yang cerewet, soal si Mami yang cerewet, atau soal-soal lain yang tidak berhubungan dengan kecerewetan seseorang di rumah saya. Pembicaraan kami sebatas obrolan kantor. Saya cuma tau dia yang di kantor, dia juga -asumsi saya- cuma tahu soal saya yang di kantor.

Continue reading