A Cup of Caffeineism

It’s been twenty-something days that I have been caffeine-free, coffee speaking. And as a coffee addict, this means something. An achievement-of-the-year-award something. You see for years I have been able to free myself from many things -jealousy, ambition, grudges, hatred, my mom- but not caffeinated coffee. When a doctor told me my life would be a lot longer without caffeine, I told the good doctor he had to say the same thing to motorcyclists in Jakarta with their motorbike as an exchange for caffeine. Caffeine has been in my blood ever since I was an infant. My mom who believes black coffee is a traditional treatment for fever-cause seizures gave me my first two-spoonfuls of black coffee when I was no older than 6 months old! I had never had any seizure. I did get my first gastroenterities when I was 9 years old. It isn’t relevant, though. My dad, who was a coffee addict himself, allowed me to drink from his big glasses of black coffee since I was little. He only shared his precious black coffee with me. So, telling a young me to stop drinking coffee is hillarious. Yet, today I realized I was successfully free from caffeine for twenty something days without trying!

Continue reading

Saat Makan Siang

Sejak pertama kali saya ngantor dari jaman dulu banget, saya punya satu kebiasaan yang terpelihara sampai sekarang. Kebiasaan itu adalah makan siang di luar gedung kantor. Setiap kali jam makan siang tiba saya selalu memilih untuk keluar kantor walau cuma ke warteg yang lokasinya persis di depan pagar kantor. Alasan saya sederhana: bosan dikungkung tembok masif plus ac dingin seharian. Saya juga bergeming *nguap* dengan argumen teman-teman soal betapa panasnya, capeknya, malasnya, berkeringatnya, pergi makan siang di luar kantor. Eik kan cewek jagowan. Masa’ cemen sama panas?
Continue reading

Bacalah Imelmu Tiga Kali Sehari

Semua orang punya email. Kecuali kalau anda usianya sudah di atas 60 dan/atau tinggal di daerah yang ngirim pesan bisa pakai merpati pos, mungkin anda tidak perlu email hari gini. Tapi kalau anda -let’s say- karyawan di Jakarta yang tiap hari nongol di fesbuk, eksis dengan statusnya, dan memegang telpon pintar, anda pasti punya email. Apalagi kalau pekerjaan anda membutuhkan putaran informasi yang cepat yang tidak bisa dibereskan dengan tukang pos atau malah merpati pos. Jadi, seperti yang saya bilang tadi, semua orang dengan kategori karyawan, usia 30-40an, punya akun fesbuk, pegang telpon pintar, pasti punya email.

Pertanyaannya kemudian adalah dipakai buat apa email itu? Pajangan?
Continue reading

Antara Senayan dan Sudirman

Hari Jumat tanggal 22 lalu saya muncul di pusat kota, sebutlah daerah sekitar Sudirman, Thamrin, Gatot Subroto, dan Kuningan. Momen yang harus dirayakan sebenarnya karena belum tentu sebulan sekali saya mau atau harus pergi ke pusat kota. Tiap kali saya harus ke daerah situ, yang terbayang pertama kali pasti macetnya, naik apanya, sama siapanya, sampai ke apa-segitu-pentingnya. Dengan lokasi rumah saya yang nun jauh di ujung sana, pergi ke pusat kota itu perlu persiapan dan perbekalan setara bepergian pakai passport.

Jumat kemarin saya pergi ke daerah Senayan untuk menghadiri launching novel Perempuan Pelukis Wajah, antologinya Mbak Ainun, Ndorokakung, Karmin Winata, dan teman-temannya. Acara yang wajib saya datangi karena saya kepengin baca isi novel mereka sekaligus minta cap bibir di novelnya 🙂

Continue reading

Minta Baik-Baik

Sudah hampir 3 minggu saya kehilangan kertas warna-warni post-it jagoan. Saya punya beragam ukuran dan bentuk post-it. Saya biasa memakainya dari menggambar beragam ekspresi muka saat sedang di meeting yang membosankan, menulis beragam catatan di buku pelajaran modal mengajar saya, sampai menyuruh trainee/siswa saya untuk menuliskan kesan dan pesan mereka. Tapi kata teman saya, fungsi sebenarnya dari post-it itu ya cuma untuk mewarnai dunia. Biar rame aja.

Tiga minggu lalu kertas warna-warni seukuran label nama itu saya pakai untuk mengajar kelas khusus di Bogor. Selesai kelas, semua barang bawaan -termasuk para post it jagoan- saya karungin baik-baik. Or I thought I did. Beberapa hari setelahnya saat saya membongkar karung dan barang bawaan mengajar, kertas warna-warni itu lenyap, nyap, nyap!

Continue reading

Ketika telpon pintar itu tak ada…

Hari ini saya melakukan dua hal yang jarang sekali saya lakukan. Hal pertama adalah naik angkot ke kantor dan hal yang kedua adalah meninggalkan hape di rumah.

Yaaaa… kalian-kalian bisa bilang apa istimewanya kedua hal itu? Buat saya, pergi ke kantor naik angkot itu istimewa karena pertama rumah saya jauuuuuuuuuuuuuuuuuh banget dari kantor melalui 3 provinsi (agak lebay tapi fakta) dan harus berganti-ganti moda transportasi dari ojek, minibis, busway, jalan kaki, atau bajaj. Kalau mau naik taksi, harus dihitung-hitung dengan cermat di kilometer ke berapa saya boleh naik taksi supaya tidak membuat kantong si Papap jebol. Eh.

Dengan jarak yang jauh itu, naik angkot pun akan terasa seperti pesiar minus rasa bahagia. Persoalan yang paling krusial (*batuk*) di angkot adalah bagaimana bisa selamat sampai di tujuan tanpa mati gaya karena kelamaan duduk atau mati kebanyakan basa-basi karena diajak ngobrol orang sebelah. Iyak, saya ini bukan jenis orang yang gampang ngobrol di angkot makanya saya kagum dengan orang-orang yang pada saat perjalanan berakhir bisa bertukar cerita hidup dengan teman angkotnya. Biasanya, untuk menghindari mati gaya di angkot ini saya mengeluarkan hape dan main twitter, fesbuk, atau baca berita online. Selamat sampai di tujuan.
Continue reading

Serius lo?

Jadi gini, gue dibilangin oleh beberapa orang kalau ngeblog itu jangan terlalu serius. Kata mereka, kalau terlalu serius dipikirin namanya bukan ngeblog, tapi bikin tesis. Katanya kan ngeblog itu mirip-mirip komentar sambil lewat. Sering nggak pentingnya daripada pentingnya. Terus gue mikir, iya juga sih.

Dulu waktu awal-awal gue ngeblog gue nulisnya nggak pake mikir serius-serius. Demi perdamaian dunia, misalnya. Atau demi kesejahteraan umat. Atau demi tercapainya apbn 2013. Atau demi…kian… Dengan nulis nggak pake mikir itu gue malah produktif. Bisa ngapdet blog sehari sampai dua kali. Padahal isinya… ya nggak penting gitu: gue tadi ngapain, makan apa, ketemu siapa, ngomel sama siapa, nyuruh-nyuruh siapa… gitu lah. Tapi banyak yang bisa gue tulis soal yang nggak penting itu.

Sekarang ini gue pikir gue sudah harusnya dewasa. Katanya kan kalau sudah dewasa isi pikirannya pun lebih bertanggung jawab. Demi kecerdasan makhluk sekitar, gitu. Begitu gue mau serius, nulis yang agak pake mikir sedikit, blank! Atau yang paling parah, begitu gue berhasil nulis yang serius dan penting dari sekadar ngasih tau seharian gue ngapain aja, gak ada yang mau baca.

Jadi sebenarnya, yang bermasalah itu gue atau…?

The Rubber Band Theory of Friendship

rubber_bandThese couple of weeks, I have been doing some analysis about friendship. Having observed some people, I think this job of friendship-analysis might find its market. Who knows I could sell my theory of friendship to a motivational speaker?

What I’ve found is friendship is like a rubber band. New, it is still tight and can hold multiple items together in just one tie.

Used frequently, it becomes loose and you have to tie some items several times. Like humors in a circle of friends; you no longer know the differences between a joke and a sarcastic comment.

Left without being taken care of, the rubber band becomes dry and easily broken off.

When it is no longer good, you throw it away and find a substitute. Rubber bands are easy to find and come with many colors. Get a new one and you hardly remember you have an old one.

Continue reading