Posisi Menentukan Prestasi

lantai 4Ada orang baru  di unit saya yang lama. Yang saya maksud lama itu kira-kira 4 tahun lalu, saat ruangan saya masih di lantai 4 sebuah gedung berlantai 6. Iya, sudah dua minggu ini ada orang baru di unit saya yang lama. Ada 4 cubicle dari 8 cubicle di tempat itu yang dia bisa pilih untuk dia tempati.  Salah satu cubicle yang seharusnya kosong adalah bekas cubicle saya.

Seharusnya? Loh kok seharusnya?

Setahun setelah saya diberi cubicle itu, saya diberi tugas baru yang membuat saya mendapatkan ruangan baru di lantai 2. Ruangan baru saya lebih besar. Kalau cubicle saya di lantai 4 itu mau saya turunkan ke ruangan di lantai 2 pun masih sisa setengah ruang kosong. Tapi toh saya tidak juga mengosongkan cubicle di lantai 4 itu. Alasannya? Selain malas ngangkutin barang printilan yang ternyata banyak, cubicle di lantai 4 itu punya pemandangan yang luar biasa: ke arah jalan raya di depan kantor. Sungguh oase di tengah tumpukan kertas yang menggunung.

Sewaktu 4 tahun lalu saya disuruh memilih cubicle, ada beberapa cubicle yang kosong yang bisa saya pilih. Saya pilih justru yang di paling ujuuuuuuuuung koridor, di pojokan, dan di sebelah jendela besar berhiaskan pemandangan lalu lintas.Kenapa? Supaya saya bisa memuaskan hobi melamun saya. Selain itu orang yang mau mencari salah satu dari kami (kolega saya itu) biasanya malas berjalan sampai ke ujung. Sudah jauh, agak gelap, sepi… Eh, ini ruangan kantor atau warung ya? Saking malasnya, mereka cuma memanggil-manggil di ujung koridor pendek itu, “Halo? Halo?”
Kalau saya sedang kumat malasnya berhubungan dengan manusia, saya biarkan orang-orang itu berhalo-halo sendirian:)

Sekali waktu, saat saya sedang malas menjawab, bos saya berhalo-halo di ujung koridor. Saya diam saja. Wong nama saya bukan halo. Lagipula, saya sedang sibuk-sibuknya… melamun. Karena tidak kunjung mendapat jawaban (dan dia malas berjalan sampai ke ujung ruangan), dia rupanya menggunakan kecanggihan handphone. Dia pencet hapenya. Maka nada dering pun menggema di seluruh ruangan dari… hape saya! Kejadian selanjutnya gak perlu diceritain ya.

Nah, balik lagi ke orang baru di lantai 4 itu, dia suatu hari sowan ke saya yang sekarang sudah ada di ruangan baru lagi di lantai 1 (bayangin saya pindahan melulu euy!). Sesudah cengar-cengir kesana sini dia akhirnya mengutarakan maksudnya.
“Mbak… ennnggg…. ituuu…”
“Kenapa? Kebelet pipis? Tuh toilet tinggal keluar ada disitu.”
“Bukaaaaan…”
“Terus?”
“Nnggg… itu loooh…”
“Apa? Laper? Waduh sori. Makanannya udah gue abisin begitu gue tau elu mau kesini.”
“Eh bukaaaan…”
“Lah terus apa?”
“Aku beresin cubicle-nya mbak yang di lantai 4 ya? Aku… pengen pake…”
“APPAAA?!”
Bak buk bak buk!

Hehehe… gak deh. Waktu itu saya cuma menjerit. Perlahan. Menjerit sih tapi perlahan.
“Taelaaaaaaaaa… dari segitu banyak cubicle yang elu pilih, kenapa elu milih cubicle gueeeeeeeeeeh? Hah? Kenapa? Kenapaaaaa?”
Terus dia cengengesan… “Yaah, sama lah kira-kira alasannya dengan mbak waktu milih cubicle itu…”

Kamfretto!

2 thoughts on “Posisi Menentukan Prestasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.