Bagaimana Seorang Guru Ingin Diingat?

Dua tahun lalu, di akhir bulan September, saya mendapatkan kabar sedih. Wali kelas Hikari di Kelas 1 meninggal dunia. Ibu Siti, nama wali kelas Hikari itu, masih sangat muda. Kesehatannya memang tidak terlalu baik tetapi tetap saja kabar itu mengejutkan kami, orang tua dari murid-murid yang pernah diajarnya.

Ibu Siti mengajar Hikari dan 8 murid lainnya di kelas 1 itu. Kelas itu kelas 1 yang cukup menantang bila dibandingkan dengan kelas 1 lain yang menjadi paralelnya. Memang hanya ada 9 anak di kelas itu tapi semuanya mempunyai keunikan masing-masing. Saat 9 pasang orang tua dari 9 muridnya bertemu di rapat PTA pertama kali, kami memberi Ibu Siti daftar panjang tentang betapa uniknya anak-anak kami. Ibu Siti tersenyum menenangkan dan berjanji pada kami bila diijinkan Tuhan dia akan melakukan yang terbaik untuk anak-anak kami.

Continue reading

Drama Mom

Saya sering membayangkan pada satu hari saat saya sedang duduk di kursi penumpang, pengemudi di sebelah saya, laki-laki muda yang ganteng dan baru mendapatkan SIM-nya berbicara ke saya dengan nada malu-malu.
“Ma, besok malam aku pinjam mobilnya, ya. Boleh kan?”
Dan sebelum menjawab, saya mengingat-ingat bahwa besok malam adalah malam minggu.
“Mau ke mana?”
“Ke rumah teman,” katanya masih malu-malu dengan pandangan mata menghindari mata saya.
“Teman? Siapa?” tanya saya kekeuh.
“Ayu.”
“Teman atau pacar?”
Saya membayangkan wajah pengemudi di sebelah saya memerah malu.
“Masih teman.”
“Ooooh. Sebentar lagi jadi pacar?”
“Nnnngggak tauuu…”
“Kamu suka dia, Nak?”
“Hmmm iya sih.”
“What do you like about her?”
“Hhmmm… Dia cantik…”
“Jangan cuma cantiknya aja yang dilihat, Nak. Kalau cari perempuan cantik, ada banyak, Nak. Tapi perempuan yang cantik, pintar, sholehah, keren, baik hati, seperti Mamamu ini, yaaaa cuma sedikit……”
Dan saya membayangkan sepanjang jalan itu saya akan menceramahi anak saya yang sudah menjadi perjaka tampan nan baik budi itu dengan panjang dan lebar mengenai kriteria pacar idaman.
Continue reading

Better half

Papap punya kebiasaan menyebalkan setiap kali dia akan bepergian keluar kota yang membutuhkan packing. Dia selalu menunda packing sampai malam terakhir sebelum keberangkatan. Yang saya maksud dengan malam ya malam buta. Bukan sekali dua kali saya ngingetin dia untuk mulai packing terutama kalau si Papap akan pergi lebih jauh atau lebih lama. Of course 11 years of being married to him teaches me that he won’t listen. Couple do that to each other, you know.
Continue reading

Cincin Ke-Sebelas

Tahun itu tahun keempat saya dan Papap berpacaran. Di jari saya, ada empat buah cincin perak melingkar. Saya dan sobat saya sedang berada di perkebunan teh mengikuti acara outing klub kami. Si sobat menunjuk cincin-cincin di jari saya.
“What’s the story?”
“These?” Saya tersenyum lebar dengan bangga.
“I can tell you are an army-kinda girl. But those?! Rock star wannabe?”
“Sialan!” Saya tendang kakinya. Ini dari cowok gue! Satu cincin untuk satu tahun!”
Si sobat mesem-mesem. “Serius lo?”
Untungnya jaman itu belum ada bahasa alay yang membuat saya menjawab, “ciyuuus.”
“Gue enggak kebayang kalau elo pacaran sampai lebih dari tujuh tahun. Mau ditaro di mana cincin-cincin lo?”
Continue reading

Ikhlas

Beberapa hari yang lalu teman makan siang saya nyamperin saya dengan bersungut-sungut.
“Kantor kosong,” katanya.
“Kok bisa?” tanya saya.
“Mereka pergi ke Dieng.”

Rupa-rupanya, pagi itu teman saya mendapati departemennya kosong karena teman-teman perempuannya tidak ada yang masuk, kecuali satu orang. Ketika ditanya kemana yang lain, orang ini menjawab tidak tahu.
“Dia bohong,” kata teman saya bertambah manyunnya.
“Anak-anak ke Dieng dan gue enggak diajak.”
Kasian.
“Kok elu tau mereka ke Dieng?”
“Ada anak departemen lain yang keceplosan ngomong.” Muka teman saya ini semakin tinggi derajat kemanyunannya.
“Kok bisa elu enggak diajak? Bukannya elu satu grup whatsapp sama mereka?”
“Mereka…punya…grup…whatsapp…sendiriiiii…..”

Continue reading

Seandainya Romantisme Ada Ujian Nasionalnya…

Hari ini si Papap ulang tahun. Not his 25 yo, of course. Sudah sejak sebulan lalu saya ngubek-ngubek ide untuk hadiah ulang tahunnya. Tentu enggak pake nanya orangnya. Ngasih hadiah pake nanya orang yang bersangkutan namanya bukan hadiah. Itu namanya oleh-oleh. Jadilah saya memata-matai si Papap. Dia lagi butuh apa gituh. Baru beberapa hari memata-matai, jawabannya sudah terpampang di depan mata.

Papap butuh motor baru.
Overruled.

Saya pun mencari lagi ide hadiah untuk si Papap. Kemeja kantor? Itu sih bukan kado ultah. Lebih pantes oleh-oleh belanja. Gadget baru? Hapenya toh sudah berkali-kali hampir dilempar oleh pemiliknya. Aaaah, tapi kalau dia ganti hape, saya ganti juga dong. Ditraktir makan? Lah harusnya si Papap dong yang nraktir. Masa’ saya?
Akhirnya seminggu kurang dari hari H saya menyontek ide teman sekantor yang baru ulang tahun: kirim kue ulang tahun ke kantornya!

Ide ini kelihatannya cukup brilian. Awalnya. Efek kejutan cukup, hadiahnya juga enak dimakan. Sukur-sukur bisa dibawa pulang sisa kuenya hehehe… So, deal. Saya pesan kue ulang tahun untuk dikirim ke kantor si Papap hari ini. Gampang toh?
Continue reading

Ter-Kaftan Kaftan

Sudah dua kali Lebaran si Mami tiba-tiba punya ide untuk menghadiahi saya baju Lebaran. Harusnya kan saya senang dong? Di situ masalahnya! Saya dan si Mami agak enggak kompak soal beberapa hal, misalnya model rambut, film favorit, warna kesukaan, hobi, buku bacaan, makanan favorit, tanaman kesukaan, ini, itu, ini, itu… sampai standar ganteng seorang laki-laki. Model baju adalah salah satu hal mendasar mengapa saya bersyukur satu-satunya foto keluarga resmi yang kami miliki adalah saat saya menikah. Jadi si Mami enggak bisa maksa pilihin baju buat saya hehehe…

Continue reading

A Cup of Caffeineism

It’s been twenty-something days that I have been caffeine-free, coffee speaking. And as a coffee addict, this means something. An achievement-of-the-year-award something. You see for years I have been able to free myself from many things -jealousy, ambition, grudges, hatred, my mom- but not caffeinated coffee. When a doctor told me my life would be a lot longer without caffeine, I told the good doctor he had to say the same thing to motorcyclists in Jakarta with their motorbike as an exchange for caffeine. Caffeine has been in my blood ever since I was an infant. My mom who believes black coffee is a traditional treatment for fever-cause seizures gave me my first two-spoonfuls of black coffee when I was no older than 6 months old! I had never had any seizure. I did get my first gastroenterities when I was 9 years old. It isn’t relevant, though. My dad, who was a coffee addict himself, allowed me to drink from his big glasses of black coffee since I was little. He only shared his precious black coffee with me. So, telling a young me to stop drinking coffee is hillarious. Yet, today I realized I was successfully free from caffeine for twenty something days without trying!

Continue reading