Kode Alam Semesta

Do you believe in signs?

Saya ini jenis orang yang percaya dengan kode-kode dari alam semesta. Misalnya, suatu kali saya sedang risau berat (kalau orang dewasa kan risau bukan galau) karena seseorang. Mau marah enggak bisa, enggak marah kok bisa jadi kanker. Berhari-hari saya pikirin soal ini. Eh pada suatu pagi yang aneh, tangan saya iseng nyari frekuensi radio di mobil saat sedang nyupir ke kantor. Dapat lah suara lagu favorit jaman muda dulu. Baru juga dengerin lagunya semenit, suara penyiar memutus lagu. Penyiar itu tiba-tiba ngomong: Forgive, Forget, Move On. Aaah siyal. Ngomongin saya ya?

Semingguan yang lalu saya harus membelah tiga provinsi untuk bisa sampai di rumah. Dengan menumpang taksi burung dan mata yang pelupuknya digondeli bantal, saya menyusuri Jakarta dari ujung barat ke ujung timur untuk kemudian berbelok melipir ke Depok dan akhirnya sampai ke Bekasi pinggiran Bogor. Begitu duduk di taksi, saya memastikan satu hal: supir tahu lokasi rumah saya kah? Pertanyaan ini penting karena saya berniat untuk tidur pulas di taksi. Setelah bangun jam 3:30, berangkat jam 5 sehabis Shubuh, mengajar 8 jam, dan baru selesai jam 5 sore, bisa tidur 1.5 jam di taksi tanpa terganggu adalah kemewahan. Apalagi di tengah kepenatan kepala saya karena satu hal maha penting soal pekerjaan. Jadi begitu duduk dan memastikan supir taksi adalah bapak-bapak berumur yang tidak punya tampang kriminal, saya pun bertanya…
Continue reading

Mungkin. Mungkin juga tidak.

Kemarin malam tanpa direncanakan saya menonton film Grey’s Anatomy. Di episode Valentine itu dr. Meredith Gray dan the great dr. Bailey harus mengoperasi seorang perempuan muda berusia 32 tahun yang baik hati dan baru menikah dengan lelaki super baik. Karena penyakitnya, pasien tersebut harus diangkat ovariumnya. Itu artinya membuat seorang perempuan menjadi mandul. Jadi lah para dokter ini menghadapi dilema. Perempuan baik ini akan menjadi mandul atau mati. Dr. Meredith Grey tidak sampai hati melakukan operasi yang akan menghapus impian indah sepasang pengantin baru akan keluarga bahagia bersama anak mereka. Komentar dr. Bailey lah yang nancep di saya.

It’s always the 32, the kind-hearted, the good one, somebody’s better half, who has to suffer. Brave yourself.

Pernah dengar ekspresi sejenis di masyarakat kita? Orang baik selalu berumur pendek. The good ones die young.

Continue reading

Saat Makan Siang

Sejak pertama kali saya ngantor dari jaman dulu banget, saya punya satu kebiasaan yang terpelihara sampai sekarang. Kebiasaan itu adalah makan siang di luar gedung kantor. Setiap kali jam makan siang tiba saya selalu memilih untuk keluar kantor walau cuma ke warteg yang lokasinya persis di depan pagar kantor. Alasan saya sederhana: bosan dikungkung tembok masif plus ac dingin seharian. Saya juga bergeming *nguap* dengan argumen teman-teman soal betapa panasnya, capeknya, malasnya, berkeringatnya, pergi makan siang di luar kantor. Eik kan cewek jagowan. Masa’ cemen sama panas?
Continue reading

Bacalah Imelmu Tiga Kali Sehari

Semua orang punya email. Kecuali kalau anda usianya sudah di atas 60 dan/atau tinggal di daerah yang ngirim pesan bisa pakai merpati pos, mungkin anda tidak perlu email hari gini. Tapi kalau anda -let’s say- karyawan di Jakarta yang tiap hari nongol di fesbuk, eksis dengan statusnya, dan memegang telpon pintar, anda pasti punya email. Apalagi kalau pekerjaan anda membutuhkan putaran informasi yang cepat yang tidak bisa dibereskan dengan tukang pos atau malah merpati pos. Jadi, seperti yang saya bilang tadi, semua orang dengan kategori karyawan, usia 30-40an, punya akun fesbuk, pegang telpon pintar, pasti punya email.

Pertanyaannya kemudian adalah dipakai buat apa email itu? Pajangan?
Continue reading

Antara Senayan dan Sudirman

Hari Jumat tanggal 22 lalu saya muncul di pusat kota, sebutlah daerah sekitar Sudirman, Thamrin, Gatot Subroto, dan Kuningan. Momen yang harus dirayakan sebenarnya karena belum tentu sebulan sekali saya mau atau harus pergi ke pusat kota. Tiap kali saya harus ke daerah situ, yang terbayang pertama kali pasti macetnya, naik apanya, sama siapanya, sampai ke apa-segitu-pentingnya. Dengan lokasi rumah saya yang nun jauh di ujung sana, pergi ke pusat kota itu perlu persiapan dan perbekalan setara bepergian pakai passport.

Jumat kemarin saya pergi ke daerah Senayan untuk menghadiri launching novel Perempuan Pelukis Wajah, antologinya Mbak Ainun, Ndorokakung, Karmin Winata, dan teman-temannya. Acara yang wajib saya datangi karena saya kepengin baca isi novel mereka sekaligus minta cap bibir di novelnya 🙂

Continue reading

Minta Baik-Baik

Sudah hampir 3 minggu saya kehilangan kertas warna-warni post-it jagoan. Saya punya beragam ukuran dan bentuk post-it. Saya biasa memakainya dari menggambar beragam ekspresi muka saat sedang di meeting yang membosankan, menulis beragam catatan di buku pelajaran modal mengajar saya, sampai menyuruh trainee/siswa saya untuk menuliskan kesan dan pesan mereka. Tapi kata teman saya, fungsi sebenarnya dari post-it itu ya cuma untuk mewarnai dunia. Biar rame aja.

Tiga minggu lalu kertas warna-warni seukuran label nama itu saya pakai untuk mengajar kelas khusus di Bogor. Selesai kelas, semua barang bawaan -termasuk para post it jagoan- saya karungin baik-baik. Or I thought I did. Beberapa hari setelahnya saat saya membongkar karung dan barang bawaan mengajar, kertas warna-warni itu lenyap, nyap, nyap!

Continue reading

Ketika telpon pintar itu tak ada…

Hari ini saya melakukan dua hal yang jarang sekali saya lakukan. Hal pertama adalah naik angkot ke kantor dan hal yang kedua adalah meninggalkan hape di rumah.

Yaaaa… kalian-kalian bisa bilang apa istimewanya kedua hal itu? Buat saya, pergi ke kantor naik angkot itu istimewa karena pertama rumah saya jauuuuuuuuuuuuuuuuuh banget dari kantor melalui 3 provinsi (agak lebay tapi fakta) dan harus berganti-ganti moda transportasi dari ojek, minibis, busway, jalan kaki, atau bajaj. Kalau mau naik taksi, harus dihitung-hitung dengan cermat di kilometer ke berapa saya boleh naik taksi supaya tidak membuat kantong si Papap jebol. Eh.

Dengan jarak yang jauh itu, naik angkot pun akan terasa seperti pesiar minus rasa bahagia. Persoalan yang paling krusial (*batuk*) di angkot adalah bagaimana bisa selamat sampai di tujuan tanpa mati gaya karena kelamaan duduk atau mati kebanyakan basa-basi karena diajak ngobrol orang sebelah. Iyak, saya ini bukan jenis orang yang gampang ngobrol di angkot makanya saya kagum dengan orang-orang yang pada saat perjalanan berakhir bisa bertukar cerita hidup dengan teman angkotnya. Biasanya, untuk menghindari mati gaya di angkot ini saya mengeluarkan hape dan main twitter, fesbuk, atau baca berita online. Selamat sampai di tujuan.
Continue reading

Somebody That I Used To Know

I am that kind of person who doesn’t have so many friends. I have never been somebody who is the center of attention. I don’t hang out that much. I don’t go out just for fun. I am not that kind of person who goes somewhere or does something because everybody does that. Not me.

When you meet me somewhere, you’ll see me as a reserved person. Don’t expect me to be chatty when we meet. Not me. I’m always too shy to start a conversation.

And probably that’s why I don’t have so many friends.

But when I do have friends, I cherish them.

Continue reading