Dr House, I feel you…

I don’t know if you know Dr Gregory House from the TV series House MD. But if you know him, you might have mixed feelings toward him. Love him, admire him, totally hate him, and then you wonder what makes him be such a misanthrope.

House hates people. He doesn’t believe in happiness. And we are wondering what had happened in his life that made him how he is today. In one of the series, House tried to help a trapped young woman whose leg was severely hurt. The woman asked him if her leg needed to be amputated. House said no. He said his leg was hurt too but he refused to be amputated and now he still had his both legs intact. Cuddy, his boss, was angry at House’s advice to the woman. Refusing to cut her leg would risk her life. House, as usual, ignored Cuddy. Then Cuddy said this thing that made me want to write this post…

Continue reading

Aksi dan Reaksi

Dulu sekali saat muncul berita Dewi Persik menampar seorang laki-laki karena melecehkan dirinya di muka umum, satu forum yang saya ikuti ramai. Maksud saya ramai adalah sebagian besar peserta forum ramai-ramai menghujat Dewi Persik. Bukan karena tamparannya tapi karena pakaian yang dikenakan. Para pemberi komentar sepakat, Dewi Persik patut mendapatkan pelecehan tersebut karena dia selalu berpakaian berani.

Setelah beberapa saat membaca komentar orang-orang, saya mulai gerah. Lalu saya menulis, kira-kira:

Pelecehan -apapun alasannya- tidak boleh dimaklumi! Perihal Dewi Persik mau pakai baju minim atau malah tidak pakai baju sama sekali bukan alasan seseorang untuk merasa berhak melecehkannya. Itu sama saja dengan berkata seorang perempuan patut diperkosa bila dia berpakaian minim atau berperilaku mengundang.

Anda tahu apa yang saya dapatkan setelah menulis itu? Saya dihujat!

Menurut sebagian besar peserta forum, tindakan Dewi Persik mengundang. Jadi ada aksi ada reaksi. Pakaian minim, ya pantas kalau laki-laki jadi tergoda untuk menggoda. Saya tidak sependapat. Saya lihat perempuan memakai rok-rok pendek sepaha di Jepang, tapi tingkat pemerkosaan disana jauh lebih rendah dibanding disini. Bagi saya aksi boleh ada, reaksi belum tentu perlu diperlihatkan. Orang lain boleh ngajak berantem, kan kita tidak perlu harus melayani dia berantem? Setiap individu punya pilihan untuk bereaksi atau tidak.

Pendek cerita, saya kalah suara di forum itu. Tidak masalah. Disitu saya belajar bahwa banyak orang kita yang masih melemparkan tanggung jawab karena telah bereaksi kepada orang lain.  Saat satu jari menunjuk ke orang lain, kita lupa ada empat jari yang menunjuk ke diri kita. Eh, tapi kenapa sih saya tiba-tiba ngomongin Dewi Persik?

Mekarsari 2010

Beberapa hari yang lalu saya dapat sms dari salah satu ibu dari temannya Hikari di sekolah. Anak ini termasuk salah satu teman baik Hikari. Si Boy -sebut saja- anak yang paling sering dijauhi teman-temannya. Dia termasuk anak yang lumayan pintar, tapi dia anak yang paling cengeng di kelas. Teman-teman Hikari memanggilnya Boy Bayi.

Saya pikir ibu si Boy dalam hati menyadari kemanjaan anaknya. Di usianya yang 8 tahun, si Boy masih sering merengek-ngamuk bila kemauannya tidak dituruti, masih sering menguntit teman-temannya kemana saja, masih sering mengabaikan tanggung jawab personal dan komunitas, atau masih sering menangis iri bila dia tidak diikutkan dalam satu kegiatan dimana teman-temannya ikut. Tapi, alih-alih memperbaiki cara dia mendidik Boy atau memperbaiki tingkah laku Boy, si ibu memilih untuk meminta lingkungan Boy memaklumi anaknya. Pada saya, dia minta Hikari untuk selalu main dan menjaga Boy (Bo, anak lu lebih gede dari anak gue!). Dia juga minta saya untuk mengajari Boy tanggung jawab (“Bereskan mainan setelah selesai main atau tidak boleh main disini lagi!” Lah, emaknya siapa?!). Dari kelas 1 sampai kelas 3, dia minta guru-guru si Boy untuk menegur anak-anak yang menolak main dengan Boy atau yang mengatai Boy dengan Boy Bayi, si Cengeng, atau lainnya.

Belakangan ini, keengganan teman-teman Boy untuk main bersamanya semakin jelas terlihat. Dan julukan-julukan pun makin sering dilemparkan. Sebagai latar belakang saja, anak-anak di sekolah Hikari tidak punya banyak kosakata hinaan. Mereka tidak tahu kalau nama binatang bisa dijadikan nama panggilan kesayangan. Walau begitu, dengan keterbatasan kosakata hinaan, mereka mampu membuat si Boy menangis tiap pulang sekolah dan si ibu mengancam untuk pindah sekolah.

Si ibu lalu sms saya. Intinya dia minta saya bilang ke Hikari untuk menegur teman-temannya bila mereka mulai mengejek si Boy. Dia minta Hikari untuk menjaga Boy dari ulah bullying teman-temannya.

What?!

Sore itu begitu saya sampai di rumah saya langsung mengajak Hikari bicara. Apa yang terjadi di sekolah? Siapa yang mengganggu si Boy? Kenapa dia diganggu? Apa yang dilakukan kepada si Boy? Dan seterusnya dan seterusnya…

Kata Hikari: “Si A panggil Boy si Bayi soalnya waktu si Boy disuruh tunggu giliran main, dia nangis. Si B bilang si Boy begini. Si C bilang si Boy begitu…”
“Kamu ikut mengejek?”
“Enggak sih.” Hikari menunduk. “Tapi aku ikut tertawa.”
“Menurut Hikari ikut menertawakan Boy itu baik?”
Hikari menggeleng. “Tidak.”
Sedetik kemudian Hikari menatapkan matanya bulat-bulat pada saya. “Tapi Boy memang tidak menyenangkan sih. Dia nangis waktu disuruh tunggu giliran main, jadi si A marah. Terus dia malah mendorong C sewaktu C bilang itu giliran C. Jadi teman-teman bilang si Boy Bayi.”

Saya paham sekali logika Hikari. “Nak,” kata saya, “lain kali, kalau si Boy membuat kesal kalian lagi, bilang ke Boy: Kalau kamu tidak mau giliran, aku tidak mau main dengan kamu.”
“Kalau si Boy tetap tidak mau giliran?”
“Tinggal pergi.”
“Kenapa?”
“Si Boy sudah berlaku tidak baik. Kalau Hikari membalas dengan mengejek dia itu artinya Hikari menjadi tidak baik juga.”

Hikari terdiam. Dia mungkin tidak mengerti sepenuhnya apa maksud saya tapi saya sudah bertekad untuk membuat Hikari melihat bahwa setiap diri punya pilihan. Melihat aksi mungkin tidak bisa terhindarkan. Tapi bereaksi adalah satu pilihan untuk dilakukan atau justru tidak dilakukan.

Kepada si Ibu, saya menjawab, “Hikari sudah diberi tahu supaya tidak ikut mengejek Boy. Si Boy sudah diberi tahu supaya mengubah tingkah lakunya supaya kooperatif waktu bermain dengan yang lain?”

Sms saya tidak dibalas.

Nasib Selebriti

Kemarin itu saya baru pulang dari Bandung setelah menghadiri pesta nikahnya si Kang Meddy. Terus terang, ini pertama kalinya saya menginap di Bandung, demi Kang Meddy dan pembuktian kepada si Nenek bahwa saya benar sudah dateng ke kawinan anak didiknya.

Teman-teman saya biasanya suka menghina-hina saya soal Bandung karena kebutaan saya tentang kota ini. Kalau teman-teman saya melencer liburan kesana, saya tak pernah tertarik. Kalau teman-teman saya riuh belanja di lusinan FO sana, saya juga masih tak tertarik. Perjalanan saya ke kota itu hanya sekedar numpang lewat kalau mau ke Lembang.

Nah, wiken lalu saya menginap di salah satu hotel di tengah kota Bandung. Sampai sana sudah jam 2 siang lewat dengan membawa rasa capek dan perut keroncongan akibat kelamaan di mobil. Selesai check-in dan menaruh barang di kamar, Papap langsung mengajak makan. “Disebelah aja,” kata Papap. “Makan apa juga kalau capek dan laper begini pasti enak.”

Berbekal teori si Papap, kami jalan kaki ke resto Sunda yang berada tepat di sebelah hotel. Begitu masuk resto yang bergaya bambu-bambu, mata saya langsung kepentok dengan dua buah bingkai besar hampir 1 meter x 1 meter yang penuh berisi foto selebriti Indonesia. Enggak tau juga apa ada selebriti internasional kesitu. Antara gak sempat dan gak napsu untuk ngeliatin puluhan foto-foto selebriti itu, saya langsung masuk resto tanpa ngelirik dua kali ke foto-foto itu. Papap langsung pesan makanan standar di resto Sunda: ikan, sambel, sayur asem, mangga…

Enak?

Teori Papap tentang kalau laper makanan apapun jadi enak ternyata tidak terbukti. Atau kami memang belum segitu lapernya. Saya dan Papap setuju ada resto lain di pinggir pantai Anyer yang rasanya jauuuuuuuuuh lebih nikmat dibanding resto ini.
“Padahal resto ngetop. Harusnya enak banget, kan?” kata Papap.
“Tau darimana ini resto ngetop?”
“Lah itu foto-foto selebriti sampai dua lusin dipajang disitu!”
O-oh. Saya baru ngeh ternyata foto-foto para selebriti itu berfungsi sebagai testimoni tidak langsung atas kelezatan makanan di resto ini.

Malam hari dan besoknya, saya baru melihat bahwa banyak resto lainnya yang pasang strategi pemasaran dengan memasang foto para selebriti yang datang ke resto mereka. Tiap pindah resto, saya lihat muka dia lagi dia lagi dia lagi di resto yang berbeda-beda. Selebriti Indonesia ternyata doyan wisata kuliner.

Di resto terakhir di daerah Burangrang, saya kembali melihat foto-foto selebriti yang dipajang dengan latar belakang resto tersebut. Kali ini, saya punya waktu untuk melototin satu-satu siapa saja orang ngetop yang pernah datang kesitu… dan setelah foto yang terakhir saya pelototin, saya merasa kasihan…

Coba bayangin. Kalau saja saya seorang selebriti yang baru sampai Bandung setelah mengalami hari yang melelahkan mental dan fisik. Lalu saya lapar. Belum makan, hari sudah siang banget.
Eh, bo, di sebelah ada resto. Makan yuk! Saya pun cuma sempat dan cuma punya energi untuk menaruh barang di kamar. Setelah itu saya ingin memuaskan rasa lapaaaaaaar. Saya beranjak ke resto di sebelah hotel. Muka lecek? Ya iya, kaleee. 4 jam di jalan gitu loh! Muka laper? Perlu nanya? Apa perlu elu gue makan sekalian? Udah, gak usah rese! Kita jalan aja ke sebelah buruan!

Pergi lah saya yang selebriti bermuka lecek dan lapar ke resto sebelah. Baru sampai di pintu resto…
“Eeeeeeeeeeeh, mbak seleb! Apa kabar?”
Hah? Apa kabar? Kapan gue pernah kesini?
“Silahkan mau pesan apa?”
“Ennnggg… saya duduk dulu boleh?”
“Boleeeeeeh! Eh, tapi foto dulu ya? Ya? Ya?”
JEPRET!
“ADOH!”
“Makasih mbak seleb! Sekarang baru boleh duduk.”

Beberapa hari kemudian foto saya dengan muka lecek dan laper terpampang di resto itu. Dem!

Nah! Selebriti asli gak bakal ngelewatin hari sial model begitu. Selebriti asli pastinya bakal sadar -terpaksa atau tidak- untuk memoles dirinya sekinclong mungkin dengan senyum palsu seindah mungkin memakai baju sekeren mungkin saat pergi keluar dari kamar segimanapun capeknya, lapernya, betenya, dongkolnya, jeleknya diri mereka saat itu. Dan itu yang membuat saya merasa kasihan.

Yang lebih bikin kasihan lagi adalah semua orang yang ikut rombongan selebriti itu harus sama kinclong dan palsunya dengan si seleb. Kan konyol kalo emak selebritinya kinclong tapi anaknya dekil. Sudah begitu, dia harus rela jadi iklan tak berbayar resto tempat dia makan. Lah iya kalau makanannya enak. Kalau enggak?! Duh, rasa kasihan saya makin menjadi-jadi nih. Untung saya nolak jadi seleb….

What are you complaining about?

Just arrived at the office at 11 this afternoon. I drove my car all the way from the very Eeeeeeeeast of Jakarta coret to the central of Jakarta. Almost 30 kilometers and 50 minutes by the toll road. The sun was scorching hot, even when I turned on my AC to the maximum.

Not far from Kilometer 0 (zero) Cawang intersection heading to Wiyoto Wiyono toll road, cars were slowing down. On the right side, right in the median of the road, several road signs were laid because there were 2 workers wearing orange uniform and head mask were working on the plants. They were trimming the plants. In the middle of the scorching sun. In the middle of a busy and dangerous toll road.

Continue reading

When traffic kills

Papap, saya dan Hikari keluar rumah tadi sore sehabis Maghrib. Tujuan kami ada dua: mencetak foto Papap dan makan malam. Dua tempat yang akan kami tuju bersebelahan dengan cluster rumah kami, masih di satu komplek perumahan. Dua hal tadi kelihatannya sangat sederhana.

Mobil kami berbelok masuk ke tempat parkir mall kecil di sebelah cluster. Pemandangan macet total panjang di luar pagar mall terlihat jelas. Dua arah jalan Alternatif Cibubur parkir gratis. Dampaknya, banyak mobil yang masuk ke area mall hanya untuk mencari jalan pintas lewat perumahan kami. But, hey, we couldn’t care less.

Jalan 500 meter menuju tempat cuci cetak foto di ruko sebelah mall ternyata memakan waktu lebih lama dari seharusnya gara-gara banyaknya mobil yang mengambil jalan pintas. Tapi toh kami tetap sabar dan senang hati. Setelah selesai urusan cuci cetak foto, Papap memutar mobil kembali ke arah lobby mall untuk makan malam. Di luar pagar mall, mobil-mobil yang tidak bisa berjalan maju mengular panjang tak kelihatan ujungnya. Kami bersyukur karena kami berada di dalam komplek perumahan dan tidak harus mengalami penderitaan seperti mobil-mobil itu.

Continue reading

How does a teacher want to be remembered?

Today, I received bad news from a fellow parent at Hikari’s school. Hikari’s first grade teacher passed away on Thursday.  Ibu Siti, Hikari’s first grade teacher, was still young. She hadn’t been enjoying a good health lately but still the news was shocking, especially for us, the parents of students she was once taught.

Ibu Siti taught Hikari and his other 8 friends when they were in the first grade. It was tough first graders she taught. There were only 9 of them but each carried their unique challenges. When the parents of these 9 students met her for the first time in our first PTA meeting, we gave her a long list of how unique our child was. She gave us assuring smiles and a promise that if God permitted, she would do the best she could.

Continue reading

Life is full of choices, by Hikari

Eyang Kakung ngomel-ngomel. Lalu mengadu pada saya dan Papap. Seminggu lalu saat Hikari menginap di rumah Eyang, dia mencoba alat pancing baru hadiah ulang tahunnya dari Eyang Kung di kolam ikan hias di rumah Eyang Kung. Alat pancing beneran! Alat pancing yang dipakai para pemancing profesional itu!

Sewaktu Hikari mencoba alat pancing itu di kolam ikan hias (berisi ikan mas koki besar-besar, ikan sapu-sapu, seekor ikan bawal, dan beberapa ikan hias dewasa lain) seminggu lalu, Eyang Kung sedang tidak di rumah sementara Eyang Uti dan si mbak tidak sanggup menahan semangat Hikari untuk mencoba alat pancingnya. Saya dan Papap jelas tidak tahu menahu.

Continue reading