Status Fesbuk

Malam ini saya menyadari kalau status fesbuk ternyata bisa berdampak buruk pada kesehatan jiwa dan raga. Awalnya saya nyetir mobil sepanjang 25an kilometer dari rumah sampai kantor sambil pasang radio yang menyiarkan lagu-lagu cinta gitu. Ada satu lagu entah apa judulnya yang di salah satu liriknya menyebut begini…

Let’s fall in love again…

Entah karena lagunya yang enak atau saya memang lagi kurang eksposur, sesampainya di kantor dan buka kompie, saya langsung nulis itu lirik di status fesbuk saya. Dan anda tahu apa yang terjadi?

Tidak sampai 1 jam kemudian, salah seorang tante saya (saya punya buanyaaaakkk tante) langsung merespon di kolom komentar: MAKSUDNYA?!
Saya jawab: Maksudnya? Ya seperti statusnya.
Tante: Iya, maksudnya apa?!
Saya (mulai mendidih): Gak ada maksud apa-apa.
Tante: Sama siapa? Saya: (bete)
Singkat cerita seminggu dua setelah itu, saya ketemu si tante di acara keluarga. Ternyata, tante saya mengira saya punya gebetan baru yang membuat saya menulis status ‘Let’s fall in love again’. WHAT?!
Sebelum saya sempat ketawa ngakak atau malah ngomel sama si tante gara-gara tuduhannya dia itu, dia sudah lebih dulu menceramahi saya panjaaaaang lebaaaaar mengenai kesopanan menulis status sehingga tidak membawa fitnah dan keharusan menjaga perasaan suami sendiri. Lah, suami saya aja santai-santai begitu…?! Tapi, let me tell you something. Berdebat dengan tante (atau tante-tante) saya itu adalah suatu hal yang sia-sia. It’s a losing battle. Jadi akhirnya hari itu saya akhiri dengan manyun dan kepala cenut-cenut.  Sejak kejadian itu saya blok wall saya dari pandangan seluruh anggota keluarga. Si Mami, si Papi, si Tante A, B, C sampai Tante Z, si Om A-Z, keponakan, sepupu, semua yang ada hubungan keluarga saya blooooooooooook dari fesbuk saya! *kejam mode on*

Kali lain, saya dengan iseng lewat hape menulis status begini…

Markitlon

Lalu mulailah orang-orang mencoba memecahkan kode status saya. Ada yang bilang Mari Kita Bunglon sampai yang paling dodol Mari Kita pake minyak Telon. Waktu saya tulis artinya adalah Mari Kita Ngelonin, eeeeh ada yang komentar rada-rada berbau ranjang! Padahal, saat itu saya lagi ngelonin si Hikari yang belum bisa ditinggal tidur sendiri. Cape deeeh!

Sejak itu saya mulai menyadari setiap kali saya menulis status yang rada-rada menjurus romantis atau pakai lirik lagu romantis, saya selalu dianggap sedang ngomongin cowok (lain?). Padahal cowok yang lagi saya omongin, noleh juga enggak… *sambit si Papap*

Contoh status yang harusnya buat si Papap adalah seperti yang ini: Hujan. Gak jadi pacaran di pinggir jalan pas buka puasa deh.
Yang langsung menuai komen: Nah yaaa punya pacar lagi ya?
Padahal saya lagi ngomongin urusan dijemput si Papap naik motor dan buka puasa di pinggir jalan…

Selain status-status romantis itu, status saya yang juga sering disalah artikan oleh orang-orang (yang biasanya sekantor) adalah saat status saya isinya ngomel sadis. Selalu disangka saya sedang membicarakan satu orang (dan hanya satu orang!) tertentu di kantor. Padahaaaal…. bo, ada milyaran orang di dunia masa’ gue kesel sama dia-dia melulu?! Status saya yang bunyinya begini: Either you hate me or you love me. But you cannot ignore me. sampai membuat saya harus bikin penjelasan khusus 🙁 Masa’ tiap kali bikin status saya harus konferensi pers?!

Belakangan, saya jarang beredar di fesbuk karena lagi asyik di twitter. Ada kedamaian tersendiri buat saya untuk nulis status di twitter karena status saya di twitter jarang dikomentari orang :). Tapi toh sesekali saya masih apdet status fesbuk saya. Nah, akhir-akhir ini saya mengamati ada banyak rasa sensitif di luar sana. Sering kali status fesbuk yang saya tulis seenak jidat itu menjadi bahan pertanyaan teman-teman yang dimulai dengan, “What’s up? Anything wrong? Are you okay?

*suara jangkrik*

Suatu kali saya nulis: Big girls don’t cry. Saya nulis ini juga gara-gara dengar si Fergie nyanyi di tivi. Gak lama, muncul komen-komen di bawah status saya yang menanyakan apakah saya baik-baik saja… Kalau mereka tahu saya benar-benar habis nyanyi, apa gak makin kasihan mereka sama orang-orang yang dengar saya bernyanyi…

Habis itu, saya apdet status lagi. Saya tulis: Senin Hitam.
Seorang teman saya langsung (langsung!) sms dan menanyakan what’s wrong with my Monday. Padahaaaaal, saya itu lagi ngomongin soal buntut kericuhan di Cikeusik! Dan hari Senin itu, para social media activitists menyerukan untuk memakai baju hitam untuk menunjukkan rasa duka…

Mau tahu apa dampak status saya yang berbunyi closed door policy for today?
Seorang kolega sampai menyempatkan diri datang ke ruangan saya dan menginterogasi saya. Padahal (lagi), status itu saya tulis karena saya mau semedi di ruangan saya aja karena saya punya setumpuk proposal dan rencana kerja yang belum selesai! Disangka si kolega saya itu, saya lagi ngambek sama orang seisi kantor. *tuing tuing*

Yang nyebelin tapi lucu adalah pada suatu hari di kantor sedang ada keriuhan akibat ketidak sepahaman kolega-kolega saya pada suatu hal. Suara riuhnya lumayan rame hari itu. Waktu saya sampai di rumah, si Papap menelpon dari kantor karena harus pulang telat. “Abis diceramahin bos,” katanya. Saya pun menuliskan status untuk menyemangati Papap. Status saya berbunyi: Niat baik aja belum cukup. Di belakangnya kudu ada mental berani berantem, coy! Tidak lama setelah status saya muncul, salah satu kolega saya yang tadi siang ikut keriuhan berkomentar. Dia pikir saya lagi ngomongin soal rame-rame tadi siang. Duh!

Terakhir, status saya yang berbunyi begini: People say a coward dies many times. So let’s find the most effective weapon that can kill that coward in 1 strike so that it can save everybody’s time & energy. #edisi kata mutiara, membuat teman baik saya mengangkat telpon dan bertanya langsung ke saya.
“Ada apaaaaaa?” dengan suaranya yang selembut malaikat itu.
Jawaban saya bahwa tidak ada apa-apa sepertinya tidak mampu meyakinkan dia. Kata teman baik saya itu tulisan-tulisan saya kan selalu karena terinspirasi suatu hal. Jadi, kata dia, kali ini apa inspirasinya?
Saya ngakak.

Moral of the story postingan saya kali ini adalah nulis status ya hati-hati gitu loh, De’! Karena…
1. Di luar sana ada banyak orang yang sangat peduli dengan kita dan kebahagiaan kita. Status fesbuk yang saya tulis tanpa mikir ini ternyata bisa bikin orang-orang jantungan dan kuatir. Padahal mereka kenal saya yang sering nyembur seenak jidat & tanpa berpikir.
2. Di luar sana juga ada banyak orang yang sangat sensitif dan haus gosip. Status yang aslinya tidak berbahaya, bisa jadi berbahaya bagi kemaslahatan diri sendiri dan orang banyak.
3. Postingan ini banyak kata ‘padahal’ nya hehehehe….

illustration: istockphoto.com

4 thoughts on “Status Fesbuk

  1. iya nih, susah mengakomodir karakter khalayak di luar sana.
    kita kan kadang suka “muncrat” aja idenya trs dituang ke fesbuk or twitter
    ya iseng gitu loh
    tapi kenapa sih seseorang begitu “perhatiannya” sama kita???????????

    kadang aku hanya ingin “perhatian” dan bukan “begitu perhatian”

  2. Whoaa, segitu berdampaknya ya status. Walo aku ga pernah pasang status yang sepertinya mengundang komentar, teteup aja jadi kudu extra hati-hati untuk posting status sekarang. Soalnya ortu juga udah kenal facebook, plus tante, om, kakak ipar, etc etc. Apa demi kemaslahatan umat, bikin account baru aja ya? 😀

  3. Eh, gue nanyanya bukan yg ‘ada apa’ kan?
    Nanyanya yg ‘si coward itu si -diayangtakbolehdisebut- ya?’
    LOL.

    Padahal?
    *nambah nambahin ‘padahal’. ‘budahal’ yg ngga pernah disebut. kasiaan. 🙂 *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.