Anak Magang

Saya kira 8 dari 10 anak magang sebenarnya menderita menjadi anak magang. Kalau bukan karena syarat kelulusan, mereka pasti mikir 100x untuk menyerahkan diri menjadi anak magang di perusahaan yang isinya orang-orang dewasa dengan hobi ngatur. Deskjob-nya anak magang biasanya nggak beda jauh dengan office boy dan tukang fotokopi. Saya pernah jadi anak magang, tapi saya beruntung. Soalnya saya magang di kantor si Mami dan nggak ada orang di dunia ini yang berani sama Mami saya hehehe….

Di kantor saya ini sering sekali menjadi tempat mahasiswa magang. Entah karena business nature kami yang lagi ngetren yaitu media, atau karena kami mudah memberikan akses untuk magang, atau karena para karyawan di tempat saya keren dan pintar. Mungkin yang terakhir. Selama dua bulan ini, kami punya anak magang laki-laki yang berasal dari salah satu universitas ngetop di Bogor.  Sejak awal, kami sudah diberi tahu oleh bagian SDM tentang kedatangan anak magang ini. Manajer SDM di tempat saya secara khusus memberi tahu saya bahwa si anak magang akan ditempatkan di tempat saya, bagian redaksi. Pertanyaan saya waktu itu hanya satu dan spesifik: laki atau perempuan?

Continue reading

Guru Kehidupan

Seorang teman tiba-tiba menyampaikan rasa terima kasihnya untuk postingan blog yang saya tulis tahun 2009.

2009? Wow!

Saya heran. Karena dilihat dari komentar yang masuk, hanya ada 4 orang yang ‘terlihat’ membaca. I really thought it was a selfish post.

Tapi terus terang, postingan itu sedianya memang untuk saya sendiri yang saat itu sedang babak belur setelah mendapat pelajaran dari Guru Kehidupan saya. Apabila sampai sekarang masih ada teman-teman di luar sana yang bisa mengambil manfaatnya juga, saya bersyukur. Then, we are not alone after all.

Silahkan baca Guru Kehidupan di tempat aslinya disana.

Serius lo?

Jadi gini, gue dibilangin oleh beberapa orang kalau ngeblog itu jangan terlalu serius. Kata mereka, kalau terlalu serius dipikirin namanya bukan ngeblog, tapi bikin tesis. Katanya kan ngeblog itu mirip-mirip komentar sambil lewat. Sering nggak pentingnya daripada pentingnya. Terus gue mikir, iya juga sih.

Dulu waktu awal-awal gue ngeblog gue nulisnya nggak pake mikir serius-serius. Demi perdamaian dunia, misalnya. Atau demi kesejahteraan umat. Atau demi tercapainya apbn 2013. Atau demi…kian… Dengan nulis nggak pake mikir itu gue malah produktif. Bisa ngapdet blog sehari sampai dua kali. Padahal isinya… ya nggak penting gitu: gue tadi ngapain, makan apa, ketemu siapa, ngomel sama siapa, nyuruh-nyuruh siapa… gitu lah. Tapi banyak yang bisa gue tulis soal yang nggak penting itu.

Sekarang ini gue pikir gue sudah harusnya dewasa. Katanya kan kalau sudah dewasa isi pikirannya pun lebih bertanggung jawab. Demi kecerdasan makhluk sekitar, gitu. Begitu gue mau serius, nulis yang agak pake mikir sedikit, blank! Atau yang paling parah, begitu gue berhasil nulis yang serius dan penting dari sekadar ngasih tau seharian gue ngapain aja, gak ada yang mau baca.

Jadi sebenarnya, yang bermasalah itu gue atau…?

The Rubber Band Theory of Friendship

rubber_bandThese couple of weeks, I have been doing some analysis about friendship. Having observed some people, I think this job of friendship-analysis might find its market. Who knows I could sell my theory of friendship to a motivational speaker?

What I’ve found is friendship is like a rubber band. New, it is still tight and can hold multiple items together in just one tie.

Used frequently, it becomes loose and you have to tie some items several times. Like humors in a circle of friends; you no longer know the differences between a joke and a sarcastic comment.

Left without being taken care of, the rubber band becomes dry and easily broken off.

When it is no longer good, you throw it away and find a substitute. Rubber bands are easy to find and come with many colors. Get a new one and you hardly remember you have an old one.

Continue reading

Posisi Menentukan Prestasi

lantai 4Ada orang baru  di unit saya yang lama. Yang saya maksud lama itu kira-kira 4 tahun lalu, saat ruangan saya masih di lantai 4 sebuah gedung berlantai 6. Iya, sudah dua minggu ini ada orang baru di unit saya yang lama. Ada 4 cubicle dari 8 cubicle di tempat itu yang dia bisa pilih untuk dia tempati.  Salah satu cubicle yang seharusnya kosong adalah bekas cubicle saya.

Seharusnya? Loh kok seharusnya?

Setahun setelah saya diberi cubicle itu, saya diberi tugas baru yang membuat saya mendapatkan ruangan baru di lantai 2. Ruangan baru saya lebih besar. Kalau cubicle saya di lantai 4 itu mau saya turunkan ke ruangan di lantai 2 pun masih sisa setengah ruang kosong. Tapi toh saya tidak juga mengosongkan cubicle di lantai 4 itu. Alasannya? Selain malas ngangkutin barang printilan yang ternyata banyak, cubicle di lantai 4 itu punya pemandangan yang luar biasa: ke arah jalan raya di depan kantor. Sungguh oase di tengah tumpukan kertas yang menggunung.

Sewaktu 4 tahun lalu saya disuruh memilih cubicle, ada beberapa cubicle yang kosong yang bisa saya pilih. Saya pilih justru yang di paling ujuuuuuuuuung koridor, di pojokan, dan di sebelah jendela besar berhiaskan pemandangan lalu lintas. Continue reading

Tentang Galau…

Seringkali saya merasa terlalu tua untuk merasa galau. Bukan kah galau itu milik anak belasan tahun berkostum Cherrybelle dan Sm*sh? Tapi ternyata galau itu memang gak pandang bulu, eh, umur. Saya yang sudah dewasa ini pun bisa terserang galau.

Galaunya orang dewasa dengan galaunya ABG tentu berbeda. Saya iri dengan galaunya ABG. Mereka galau karena hal-hal yang romantis: pacar gak jadi datang, pacar telat datang melulu, pacar diambil orang, atau yang paling dahsyat yaitu malam minggu gak punya pacar. See! Walau galau, mereka tetap romantis. Macam sinetron-sinetron Korea gitu lah. Ditinggal pacar pun terasa romantis.

Continue reading

If I Knew…

If I knew I would die tomorrow, what would I do today?

1. I’d get down on my praying mat for hours asking God to forgive my mistakes, my children’s mistakes, my husband’s mistakes, my parents’ mistakes, my brothers’ mistakes and all my loved ones’.

2. I’d write a long letter for each of my children telling them how much I loved them. The letter would be long enough for them to read it on their birthday every year.

3. I’d circle the last date on the calender and write “I love You and Forgive Me”.

…………….

After all is said and done, life is all about forgiveness and love.

Kantor Pos

Hari masih pagi sewaktu saya lewat di depan kantor pos di sebuah komplek tentara. Kantor pos di pojokan jalan itu kecil dihiasi cat kusam dan taman kering kerontang. Bendera yang terpasang di tiang di depan kantor pos pun sepertinya sudah lama tidak mencium air bersih dan sabun. Sejak saya kecil -dan sering datang kesitu- sampai sekarang, pelayanan kantor pos itu standar saja. Pegawainya baik hati tapi jangan tanya apa kantor itu punya jasa EMS dan sejenisnya. Jadi maklum lah kalau kantor itu lebih banyak kosongnya daripada ramainya.

Kecuali di awal bulan.

Hari ini masih hari kelima di awal bulan. Hari Senin. Saya harus melambatkan mobil karena keramaian di depan kantor pos. Satu demi satu orang-orang sepuh berjalan tertatih-tatih menuju kantor pos. Banyak juga yang sudah berkerumun di depan pintu. Beberapa turun dari angkot kawasan berwarna biru, beberapa turun dari boncengan motor. Jarang ada yang turun dari mobil. Mereka semua punya tujuan satu: mengantri uang pensiun.

Continue reading