Minta Baik-Baik

Sudah hampir 3 minggu saya kehilangan kertas warna-warni post-it jagoan. Saya punya beragam ukuran dan bentuk post-it. Saya biasa memakainya dari menggambar beragam ekspresi muka saat sedang di meeting yang membosankan, menulis beragam catatan di buku pelajaran modal mengajar saya, sampai menyuruh trainee/siswa saya untuk menuliskan kesan dan pesan mereka. Tapi kata teman saya, fungsi sebenarnya dari post-it itu ya cuma untuk mewarnai dunia. Biar rame aja.

Tiga minggu lalu kertas warna-warni seukuran label nama itu saya pakai untuk mengajar kelas khusus di Bogor. Selesai kelas, semua barang bawaan -termasuk para post it jagoan- saya karungin baik-baik. Or I thought I did. Beberapa hari setelahnya saat saya membongkar karung dan barang bawaan mengajar, kertas warna-warni itu lenyap, nyap, nyap!

Awalnya saya masih kalem sambil berusaha mencari di rumah, di kantor, di meja tetangga, di ruangan orang, sampai di lemari baju. Nihil. Setelah agak panik karena gak ketemu juga, saya interogasi tersangka pertama: Hikari. Sambil ngomel, dia bilang dia tidak tahu menahu. Setelah Hikari, semua orang saya interogasi termasuk pengasuh Baby Aiko yang punya hobi beres-beres rumah. Nihil. Mau beli baru kok mahal 🙂

Akhirnya saya mencoba pasrah. Barang tersebut seperti lenyap dari bumi! Sambil pasrah itu saya mencoba meningat pesan Bude saya yang penganut Kejawen taat.
“Kalau kehilangan sesuatu dan tidak ketemu-ketemu walau sudah setengah matinmencari kemana-mana, minta baik-baik supaya barangnya dikembalikan.”
“Minta sama siapa, De?” tanya saya kurang jelas.
“Minta sama yang pinjam,” kata Bude semakin gak jelas.
Dulu itu si Bude ngomong begitu konteksnya adalah saya kehilangan cincin yang saya taruh di meja rias. Setelah dengar saran si Bude, saya berdiri di depan meja rias sambil berseru kepada entah siapa dengan perasaan campur aduk antara penasaran dan kurang waras.
“Ehem. Gini ya. Balikin cincin kawin gue. Ya? Eh, iya, tolong.”

Dua hari kemudian, cincin itu balik di tempat semula saya meninggalkannya. Beberapa barang pun saya dapatkan kembali dengan cara seperti itu.

Nah, beberapa hari lalu setelah capek mencari kertas-kertas post it itu, saya berdiri sendirian di depan meja kerja. Setelah melongok sana-sini, saya bergumam-gumam. Kenapa harus bergumam? Yaaaah, daripada disangka kurang waras oleh pembantu.
“Bo, gini ye. Elu kira-kira dong kalau pinjem barang. Lama bener pinjemnya. Balikin ya. Sekarang! Gue butuh, taoooo!”

Beberapa hari lewat tanpa hasil. Sampai tadi sore. Hikari meminjam tas yang saya pakai ke Bogor dan setiap hari tergeletak di meja kerja. Dasar Hikari, dia membawa tas sambil diseret dan terbalik-balik. Tiba-tiba dari dalam tas jatuh plastik kecil berisi kertas warna-warni.

Ternyata beberapa hari yang lalu saya lupa bilang ‘tolong’. Pantesan lama bener ngembaliinnya.

4 thoughts on “Minta Baik-Baik

  1. seumur umur saya belum pernah mengenal yang namanya post it atau kertas warna warni itu… baru tau ya dari baca ini… 🙂

  2. errr, saya juga sering melakukan ini, minta barang yang lenyap misterius padahal saya inget banget naronya di mana-kapan-dengan cara gimana tapi tau2 barangnya ga ada. yup, dengan suara dipelanin, hihi…daripada dikira musyrik atau apalah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.