Rumus Matematika Sebuah Bangku Bis

Bus APTBBis APTB (bis penunjang daerah pinggiran dengan halte bis Transjakarta) jurusan Blok M-Cileungsi sore itu lumayan padat. Seperti biasa saya naik dari halte TJ Kuningan. Seperti biasa pula saya langsung bergeser ke ujung belakang sekadar mencari ruang sedikit lega sekalian memberi tempat bagi penumpang lain. Saya mendapatkan tempat berdiri di sebelah seorang perempuan yang kelihatannya lebih tua dari saya. Dia sudah lebih dulu naik entah dari mana. Paham bahwa penumpang bis berjarak jauh ini jarang ada yang turun cepat, saya girang juga begitu penumpang yang duduk di depan saya persis bersiap-siap turun beberapa kilometer setelah saya naik. Si Mbak pemilik bangku itu pun tersenyum pada saya seperti minta ruang untuk berdiri sekaligus mempersilahkan duduk. Saya balas tersenyum.
Begitu si Mbak meninggalkan bangkunya, sisi kanan saya tiba-tiba terasa disikut. Saya menoleh ke perempuan yang tadi berdiri di sebelah saya. Daaaaan dia melototin saya, sodara-sodara! Dia mendongak (karena dia pendek) dan melotot segede-gedenya matanya ke saya!
Continue reading

Pegawe Meja

com·posed
/kompozd/
adjective
1.having one’s feelings and expression under control; calm.
synonyms:calm, collected, cool, cool as a cucumber, ‘cool, calm, and collected’, self-controlled, self-possessed;

composed t-shirtHari ini hari keempat saya jadi pegawe baru. Iya, saya ngantor lagi. 8-4 dan 5 hari seminggu. Berangkat sesaat setelah subuh dan sampai rumah pas perang Diponegoro: 18:30.
Kenapa saya mau ngantor lagi? Selain tentu saja untuk mencari sesuap nasi dan sebakul berlian, saya sedang dalam fase bereksperimen dengan hidup karir. Dan kantor saya kali ini berbeda dengan 3 kantor saya sebelumnya. Di tempat yang sekarang saya benar-benar jadi pegawe meja. Semua yang saya harus kerjakan dan saya perlukan ada di meja dan komputer berlayar guede di atas meja saya. Kalau saya gak perlu minum atau pipis, saya gak akan perlu untuk berdiri dari kursi. Nyaman kan?
Continue reading

Bantal Baru

Baru kemarin saya baca iklan di website sebuah guest house yang promosinya berbunyi: menyediakan guling. Hanya kami yang menyediakan guling untuk tamu kami. Saya baru tahu kalau guling bisa dijadikan alat promosi 🙂 Memang sih tidur rasanya belum mantap tanpa ada bantal dan guling. Dada bidang, perut six-packs, dan lengan bisep aja belum bisa menggantikan kenyamanan tidur dengan bantal guling 🙂
Continue reading

Ketika Kita Bilang I Love You

Saya pikir Papap sudah tidur malam itu. Matanya sudah tertutup sementara tangannya memeluk baby Aiko yang tidur nyenyak di sebelahnya. Saya merebahkan diri di sebelah Aiko. Tangan Papap tiba-tiba bergerak-gerak menepuk-nepuk Aiko. Dia lalu menciumnya.
“Mam,” panggil Papap.
“Aku jadi mikir.”
“Kita kan sayang sama anak kayak gini ya. Dicium-cium. Dipeluk-peluk.”
“Terus kalau anak kita pas besar jadi kurang ajar, rasanya gimana ya. Padahal kecilnya kita sayang banget begini. Apa mereka tahu kita sayang mereka?”
Continue reading

Bukan Tempat Reparasi

Beberapa hari ini saya terpikir untuk mulai memberlakukan tarif.
Bukan. Bukan tarif untuk manggung, joget, nyanyi, apalagi jadi jurkam partai. Tarif ini tarif konsultan anti galau profesional. Dengan banyaknya orang-orang yang curhat pada saya beberapa bulan ini sepertinya saya sudah bisa punya sertifikat konsultan anti galau profesional.
Continue reading

Diiyain Aja

Beberapa hari lalu saya misuh-misuh dengan si Papap. Bukan karena si Papap, tapi dengan si Papap. Gara-garanya ada tetangga baru yang saat kenalan bertanya soal pekerjaan saya.
“Kerja di mana.”
“Saya guru.” (iya, jawaban dan pertanyaan gak nyambung, sengaja kok)
“Oh, di mana?”
“Di beberapa tempat.”
“Oh, guru les?”
“Kira-kira begitu.”
“Ngajar apa?”
“Bahasa Inggris.”
“Waaah bahasa Inggrisnya berarti bagus ya!”

Itu pernyataan yang paliiiiiiiiiiiiiiiiiing saya benci seumur hidup!
Maksud saya, orang mengharapkan kemampuan saya seperti apa kalau saya jawab saya guru bahasa Inggris?!

Dan kekesalan saya tentang model pernyataan seperti ini ternyata bukan milik saya seorang.
Continue reading

Mana Pipi Kanan Lo?

Pintu ruang kelas musik Hikari sore tadi masih tertutup rapat. Kami datang lebih cepat dan siswa sebelumnya masih sibuk di dalam kelas. Hikari duduk termangu di sebelah saya. Seperti biasa kalau saya lihat Hikari bengong-bengong menggemaskan gitu rasanya saya pegin uyel-uyel dan cium-cium. Tidak peduli apakah dia sekarang lebih hitam, mulai bau asam, dan sering nolak kalau dipeluk dan dicium saya. Tadi saya pun kembali ke kebiasaan lama. Saya rangkul dia dari samping dan saya cium pipinya.
Hikari mendelik.
“Abis tampangmu menyedihkan gitu sih, Kak. Mamam jadi kepengin cium.”
“Mamam nih! Aku kan lagi bingung!”
Lalu keluar lah curahan hati Hikari.
Continue reading