Saat memutuskan untuk berhenti bekerja kantoran, kebanyakan orang dewasa saya berpikir hanya perlu melakukan diskusi panjang dengan diri sendiri dan partner rumah tangga. Berbulan-bulan saya dan Papap mempertimbangkan ini itu mengenai kelangsungan operasional rumah tangga tanpa sedikit pun terpikir bahwa anak-anak kami, Hikari misalnya, perlu diajak ngobrol.
Continue reading
One of Those Days
Ketika Kutu Bertahta
Bagaimana perasaan anda ketika di jaman smartphone dan perang nuklir anda menemukan ada kutu (atau kutu-kutu) bersarang di kepala anak kesayangan anda yang ganteng nan rupawan?
Perasaan saya terhina. Reaksi saya? Mau ambil gunting dan silet untuk mencukur rambut Hikari. Suara jeritan yang diikuti tangis meledak Hikari yang membuat saya membatalkan niat menggundulinya. Eh bukan. Setelah diingat lagi, si Papap lah yang berhasil menghalangi saya berbekal pengetahuannya bahwa di luar sana masih ada apotik yang jual obat kutu walau di jaman maju seperti sekarang.
Continue reading
A Good Day To Die
Is today a good day to die?
Or is there such thing as a good day to die?
Around 40 days ago on Friday a very early message blinked in my phone. A request to cancel an appointment. The sender, a friend, also wrote: My sister in law passed away a few hours ago. Continue reading
Kamu Gak Perlu Bilang Wow Dan Koprol Segala!
Sejak mengeluarkan diri dari pekerjaan 8-to-5 kemarin ituh hidup saya terasa nikmat sekali. Bangun siang, becanda dengan baby Aiko, mandi telat, makan siang di rumah, berangkat santai ke tempat mengajar di siang menjelang sore, sampai di rumah lagi sebelum Azan Isya, makan malam di rumah, dikerjain Hikari yang jahil, nemenin anak-anak tidur, lalu menulis dan begadang sampai jam 3 pagi untuk kemudian bangun siang lagi di keesokan harinya. Nikmat.
Continue reading
Hari Terakhir
Con Te Partiro -Andrea Bocelli
I’ll go with you,
to countries I never
saw and shared with you
now, yes, I shall experience them.
I’ll go with you
on ships across seas
which, I know
no, no, exist no longer;
with you I shall experience them.
Di Tokyo, 25 September, enam tahun lalu saya menuliskan lirik lagu Con Te Partiro. Beberapa hari setelahnya, saya harus pulang ke tanah air mengikuti si Papap yang selesai tugas sekolahnya. Con Te Partiro. I’ll go with you. To countries I never saw. Continue reading
Drama Mom
Saya sering membayangkan pada satu hari saat saya sedang duduk di kursi penumpang, pengemudi di sebelah saya, laki-laki muda yang ganteng dan baru mendapatkan SIM-nya berbicara ke saya dengan nada malu-malu.
“Ma, besok malam aku pinjam mobilnya, ya. Boleh kan?”
Dan sebelum menjawab, saya mengingat-ingat bahwa besok malam adalah malam minggu.
“Mau ke mana?”
“Ke rumah teman,” katanya masih malu-malu dengan pandangan mata menghindari mata saya.
“Teman? Siapa?” tanya saya kekeuh.
“Ayu.”
“Teman atau pacar?”
Saya membayangkan wajah pengemudi di sebelah saya memerah malu.
“Masih teman.”
“Ooooh. Sebentar lagi jadi pacar?”
“Nnnngggak tauuu…”
“Kamu suka dia, Nak?”
“Hmmm iya sih.”
“What do you like about her?”
“Hhmmm… Dia cantik…”
“Jangan cuma cantiknya aja yang dilihat, Nak. Kalau cari perempuan cantik, ada banyak, Nak. Tapi perempuan yang cantik, pintar, sholehah, keren, baik hati, seperti Mamamu ini, yaaaa cuma sedikit……”
Dan saya membayangkan sepanjang jalan itu saya akan menceramahi anak saya yang sudah menjadi perjaka tampan nan baik budi itu dengan panjang dan lebar mengenai kriteria pacar idaman.
Continue reading
Ikhlas
Beberapa hari yang lalu teman makan siang saya nyamperin saya dengan bersungut-sungut.
“Kantor kosong,” katanya.
“Kok bisa?” tanya saya.
“Mereka pergi ke Dieng.”
Rupa-rupanya, pagi itu teman saya mendapati departemennya kosong karena teman-teman perempuannya tidak ada yang masuk, kecuali satu orang. Ketika ditanya kemana yang lain, orang ini menjawab tidak tahu.
“Dia bohong,” kata teman saya bertambah manyunnya.
“Anak-anak ke Dieng dan gue enggak diajak.”
Kasian.
“Kok elu tau mereka ke Dieng?”
“Ada anak departemen lain yang keceplosan ngomong.” Muka teman saya ini semakin tinggi derajat kemanyunannya.
“Kok bisa elu enggak diajak? Bukannya elu satu grup whatsapp sama mereka?”
“Mereka…punya…grup…whatsapp…sendiriiiii…..”
Ter-Kaftan Kaftan
Sudah dua kali Lebaran si Mami tiba-tiba punya ide untuk menghadiahi saya baju Lebaran. Harusnya kan saya senang dong? Di situ masalahnya! Saya dan si Mami agak enggak kompak soal beberapa hal, misalnya model rambut, film favorit, warna kesukaan, hobi, buku bacaan, makanan favorit, tanaman kesukaan, ini, itu, ini, itu… sampai standar ganteng seorang laki-laki. Model baju adalah salah satu hal mendasar mengapa saya bersyukur satu-satunya foto keluarga resmi yang kami miliki adalah saat saya menikah. Jadi si Mami enggak bisa maksa pilihin baju buat saya hehehe…
