The Office and the Devils (in it)

Somebody I know at the office once said this, “It’s not important for my subordinates to like me. What’s important is they do their work well.”

His words may sound witty for some people, while for some others they sound extraordinary arrogant. For me, though, his words are just plain stupid. Period. And let me tell you why…

Although it’s not the most important thing, liking you boss is very much important. The word like in this sense means be comfortable with. You don’t have to adore your boss and put him or her in your most-favorite-people list. You don’t have to like his/her sense of humor. You don’t even have to laugh at his/her jokes. But when you like your boss, you can work comfortably. As a result, you work better because motivation is running high. It’s that simple!

But, well, life isn’t fair for most common people. People not-so-smart as somebody I know at the office are not scarce. They require you to work well but forget to provide the ingredients necessary to work well. They require you to concentrate on your work but forget to stop being a pain in your body part. They are literally the devils in the office. Now the question is how do you avoid these devils?

1. Quit is perhaps the best idea. Don’t forget to take the whole office with you when you quit. A devil cannot work his charm when there is no one around him.

2. Stay, and make their life miserable. If the devils make you miserable at the office, it only means one thing: they deserve to be miserable too.

I personally would rather choose number 3 which reads:

3. Quit, but make their life miserable in the process.

Are you with me?

picture source: istockphoto.com

It’s none of your business

Sebagai pengunjung setia rumah sakit, saya selalu gerah setiap kali duduk di depan para suster penerima kartu antrian pasien. Para suster ini biasanya duduk di sebuah meja di dekat ruangan masing-masing dokter. Sebelum pasien diperbolehkan masuk, pasien harus menyerahkan kertas antrian sekaligus dicatat statusnya: berat, tensi, dan penyakitnya. Semua itu dilakukan di depan puluhan pasang mata pasien lainnya.

Continue reading

What’s in it for me?

Sepertinya saya salah memilih hari ini untuk berangkat ke kantor dengan naik angkutan umum. Pagi sudah agak siang -jam setengah sebelas- saat saya berada di pinggir jalan dan melambaikan tangan ke arah bis jurusan Cileungsi-Senen. Saya baru saja dicuekin oleh minibus ke arah UKI yang herannya jam segitu masih penuh. Kebetulan di belakang minibus itu, bis Cileungsi-Senen berjalan lambat mencari penumpang. Saya senang dengan bis arah Senen ini. Sudah berpendingin, jarang ada penumpang, dan tertib administratib tidak pernah ngetem di pinggir jalan. Jadi, begitu bis berhenti di depan saya, dengan semangat saya langsung mencangklong tas gede berat dan tas tangan berisi lunch box dan buku-buku saya lalu naik ke atas bis.

Continue reading

Just sit there and watch

The one moment when I feel that I am me is when I just sit silently among the crowds and observe. It can be in a waiting room waiting for a customer service staff, in a hospital lounge when I have to wait for my turn, in a meeting which lacks importance, in class where I don’t feel like being there, in a family gathering where discussion I don’t feel like joining… it can be anywhere.

My junior high school friend -whom I not-so secretly admired- told me once how he liked to observe me when I was in my own world. We were in the Osis together and we spent many meetings together.

Continue reading

Kimora, saya, dan hal lain yang lebih penting dalam hidup

Apa kesamaan antara saya dan Kimora? Selain karena kami berkulit coklat susu dan fabulous :-p , tidak ada hal lain yang sama. Saya lumayan sering menonton acara Life in the Fab Linesnya Kimora karena di channel yang lain sudah tidak ada lagi tontonan yang menarik. Buat saya, Kimora adalah figur yang menarik. Dia itu perpaduan antara pejuang bertekad baja, manusia nyinyir dan galak, ibu yang penuh kasih sayang, dan orang kreatif. Dia adalah jenis orang yang tahu apa yang dia mau.

Baru-baru ini, Kimora membuat saya terinpirasi bukan karena kualitasnya sebagai manusia tapi karena keberhasilannya menjadi langsing setelah bertahun-tahun mempunyai tubuh yang overweight. What?! Apa itu artinya saya terinspirasi untuk menjadi langsing?

Continue reading

Veteran

Beberapa waktu lalu, saya dan seorang teman bertemu dengan klien kantor kami. Dua orang bapak-bapak yang usianya jauh di atas kami. Di awal pertemuan, si bapak yang kemungkinan berumur 2x lipat saya, bertanya berapa lama saya dan teman saya itu bekerja di perusahaan ini.
Saya jawab setengah nyesel. 12 tahun. Nyesel kok saya masih mauuuu aja disitu.
Tapi diluar dugaan si bapak malah memuji.
“Wah, mbaknya veteran ya?”

Continue reading

Atas Nama Eksistensi?

Cerita saya kelupaan password atas berbagai akun jaringan sosial di internet seperti Friendster, hi5, WYAN, jaringan-apa-itu-yang-saya-lupa-namanya, Multiply, dan seterusnya, itu sudah biasa. Lebih biasa lagi kalau saya tidak pernah membalas salam kawan-kawan yang menyapa saya di berbagai akun itu. Si Nenek itu sudah hapal kebiasaan saya yang cuma sempat buka akun lalu menghilang. Dan setelah itu tentu saja saya lupa passwordnya.

Toh saya tidak pernah kapok. Walau tahu saya akan tidak sempat memperbaharui Friendster milik saya, saya ho-oh saja sewaktu teman-teman Papap di Jepang mengajak saya buka FB. FB pun sempat saya lupakan -apalagi setelah balik ke Indonesia- sampai FB ngetren lagi disini. Beberapa waktu lalu, saya yang sebelumnya bergeming dengan maraknya penggunaan twitter, ikut buka akun twitter demi melihat status twitternya John Legend yang akan manggung di Indonesia. How silly is that?

Continue reading