Yang penting niatnya atau hasilnya?

Lampu merah di perempatan Kranggan-Cibubur di dekat Plaza Cibubur belum lagi setahun dipasang. Hari ini saya diundang teman untuk ikut gerakan Dukung penon-aktifan Traffic Light Plaza Cibubur di FB. Ya jelas, langsung saya approve. Saya ngaku sebagai salah satu pengguna jalan Alternatif Cibubur yang menderita lahir batin akibat macet panjang yang disebabkan oleh lampu merah itu. Saya juga ngaku sebagai salah satu yang sering ngomel panjang terhadap orang pintar yang punya ide memasang lampu merah itu disitu dengan pengaturan seperti itu!

Continue reading

Kebaikan hari ini

Setiap malam -kalau tidak lupa atau keburu tidur- saya sering bertanya kepada Hikari: What good things have you done today?
Jawaban Hikari bisa bermacam-macam. Dari mulai membereskan pensilnya di kelas sampai membujuk adik TK untuk tidak menangis.

Tapi jujur aja, kalau Hikari balik bertanya kepada saya, belum tentu saya bisa menjawab…

Hari ini saya melihat kebaikan yang dilakukan seorang kakek di pinggir jalan di depan kantor Telkom Prumpung. Seorang kakek yang hendak berjalan ke arah halte mendapati seorang tuna netra yang akan menyeberang. Pada kondisi pagi itu, menyeberang jalan bagi orang dengan penglihatan normal pun akan jadi misi antara hidup mati. Apalagi bagi seorang tuna netra.

Si kakek tadi berjalan melewati laki-laki tuna netra. Baru beberapa langkah, kakek itu berbalik. Dia mendekati laki-laki itu. Sedetik kemudian, tangan si kakek menggenggam erat lengan laki-laki tuna netra dan menggandengnya sampai selamat ke ujung jalan yang satu lagi.

Kakek-kakek membantu seorang laki-laki tuna netra.
Kemana kah manusia lain yang lebih pantas membantu?
Kemana kah saya? Saya berada di dalam mobil. Yang saya bisa lakukan hanya memperhatikan mereka.

Kebaikan apa yang sudah saya lakukan hari ini?
*sigh*
Mungkin hanya dengan ikhlas memberi jalan kepada seorang pengemudi Avanza silver yang tiba-tiba menyalip tanpa lampu sen ke depan saya sehingga membuat saya harus berhenti mendadak. Saya tidak menyumpah-nyumpah hari ini.

The Science of Unhappiness

We -my friends and I- were sitting there, at the back of the room, behind hundred of conference participants, listening to an ELT figure talking about being a teacher while being happy. We -my friends and I- are teachers with additional work, and so we were supposed to be happy too.

The presentation was the last session of the day, and the day was the last day of the event. That means we -my friends and I- were at the end of a couple of months, and weeks, and hours of mental deprivation. Please reread and underline if necessary the words: a couple of months, and weeks, and hours.

Then, it was only normal that when we finally finished the day, we decided to go out in the middle of the night to take a walk. We thought taking a walk could release us from stress and as a result we were cured from our mental deprivation. Of course, we thought wrong. And by the end of the walk, we realized that we had been unhappy too long to be cured by a one-hour motivational speech.

So, instead of feeling sorry for our unhappy state, we came up with the Science of Unhappiness. We might not be happy people but at least we have a brain like a rocket scientist’s.

The Science of Unhappiness

by the six of us

  1. Unhappy people are pessimistic. And it is good to be pessimistic because it means we don’t exaggerate things. It keeps people in perspectives.
  2. Unhappy people are sharp. They never overlook small mistakes.
  3. Unhappy people are motivated people because they are driven by anger, hatred, revenge, and bad experiences.
  4. Unhappy people always find ways for improvement because they are not easily forgiving.
  5. Unhappy people are sensitive to comments, opinions, inputs, suggestions, etc. Being sensitive makes unhappy people perfectionists. And the best people at work are the perfectionists.
  6. ……………. (fill in the blank with your sentences)

Define Me

How do you define your friends?

By how good they look? How nice they are to you? How patient they are toward you? How hard they work? How sharp they are when they think? How brave they are when they speak? How loyal they are to you?

Tell me how you want to define your friends. And I’ll tell you if I want to be your friend.

Untung Kasih Ibu Sepanjang Badan

Every child is a unique individual.

Waktu-waktu belakangan, setiap kali menatap wajah Hikari, saya merasa kalimat itu sepertinya diciptakan untuk saya seorang. Hikari yang usianya sudah 7 tahun 9 bulan semakin hari semakin jadi ‘unik’ nya. Kalau dulu-dulu kelakuan uniknya masih bisa bikin saya ketawa-tawa meringis, sekarang kelakuannya bikin saya lebih banyak meringis daripada ketawanya.

Sejak dia duduk di kelas dua ini, Hikari tiba-tiba menjadi super aktif dan super keras kepala. Kalau dulu saat dia ketahuan melakukan sesuatu yang dilarang wajahnya hanya bisa pasang tampang polos dan langsung ngabur dari crime scene, sekarang lain lagi. Dia sekarang akan menghadapi siapapun orang yang melarangnya lalu mengeluarkan kalimat saktinya, “memangnya kenapa?”

“Hikariiiiiiiiiiiii, kenapa nyebur lagi ke kolam ikan?! Kamu sudah tiga kali ganti baju dalam setengah jam ini!”
“Memangnya kenapa?”

“Hikari, ayo tidur siang dulu. Kamu baru sembuh jadi perlu istirahat dulu.”
“Memangnya kenapa?”

“Hikari, kenapa kadalnya dipasangin tali di lehernyaaaa????!!!”
“Memangnya kenapa?”

“Hikari! Colokan listrik bukan mainaannn! Aaarrggghhh!”
“Memangnya kenapa?”

“Hikari, kenapa hari ini Ibu Guru menulis kalau kamu dihukum lagi sewaktu sholat jamaah? Kamu melakukan apa?”
“Main.”
“Main?! Waktu sholat jamaah?”
“Memangnya kenapa?”
“Sholat bukan waktunya untuk main. Kamu tau kan?!”
“Iya. Tau.”
“Jadi, kenapa kamu mainan waktu sholat, Naaaaaak?”
“Memangnya kenapa?”

OH MY GOD! 

Jawaban-jawaban ‘memang kenapa’ dari mulut Hikari kadang disertai dengan isak tangis rasa bersalah atau takut karena saya melotot kejam padanya. Tetap saja keras kepalanya sukses bikin saya antara darah tinggi atau pingsan di tempat.

The seven year old has defiant moments. She wants to know why she has to do something. She may call her mother mean and run to her room to sulk but is less likely to physically strike her parent now.  If things don’t go her way when playing with friends she will quit and go play by herself. When she is disciplined she accepts it but is deeply disturbed by being in trouble.

Cuplikan itu saya dapat disini. Sudah sebulanan ini saya sibuk mencari informasi kenapa anak saya tersayang itu jadi doyan bikin saya dan Papap darah tinggi. Bahkan Papap sekarang punya kebiasaan baru yaitu membaca buku-buku parenting milik saya saking dia sudah kehabisan akal. Kalau ada satu hal yang merupakan hikmah dari peristiwa ini, mungkin hanya soal Papap yang sampai mau baca buku itu demi membuat Hikari tobat…

Sudah seminggu ini alergi Hikari kumat dalam bentuk rash di kulit tangan, telapak tangan, kulit kaki, dan telapak kaki. Awalnya dia didiagnosa dengan Flu Singapur. Tapi kemudian diagnosa itu berganti menjadi alergi. Maka dimulailah serentetan pelarangan untuk Hikari, yang dimulai dengan karantina dirinya di rumah selama seminggu. Hari ini adalah hari pertama dia masuk sekolah lagi sambil membawa daftar tidak-bolehs untuk gurunya. Tidak lupa saya dan Papap mengulang-ulang daftar tidak-bolehs itu untuk dihapal Hikari.

Tidak boleh makan ini, itu, ini, itu.
Tidak boleh main dengan binatang, terutama kucing.
Tidak boleh nyemplung ke kolam ikan.
Tidak boleh ngubek-ngubek akuarium.
Tidak boleh masuk ke sawah.

Pulang sekolah, saya minta dia bercerita apa yang dia lakukan hari ini. Kalimat pertama adalah…
“Ikan di akuriumnya mati, jadi aku ambil. Tadinya aku mau kubur di tanah di dekat green garden, tapi aku lihat ada kucing kecil kelaparan. Aku panggil-panggil kucingnya, eh, dia tidak mau datang. Kayaknya dia lapar sekali deh, jadi tidak bisa jalan. Jadi, aku angkat kucingnya ke tempat ikan. Terus ikannya aku kasih makan buat kucing…”

Saya menatapnya lama sekali dengan mulut dikatup erat-erat. Saya melihat dada Hikari turun naik. Matanya ditundukkan ke bawah sambil sesekali melirik saya.

Lalu, “memangnya kenapa, Ma?”

Dicari: model Ibu Kartini

Saya tidak tahu kapan persisnya peringatan ulang tahun Ibu Kartini berubah menjadi ajang peragaan busana. Saat saya SD, setiap tanggal 21 April, sejak kelas satu saya selalu berangkat sekolah dengan dipakaikan baju adat Jawa kebaya beludru hitam lengkap dengan sanggul model Solo. Sewaktu duduk di kelas 4, saya mendapat juara 2 lomba busana terbaik mengalahkan kakak-kakak kelas yang lain hanya dengan berdiri di lapangan upacara. Hadiahnya sapu tangan. Kelas 4 adalah kelas terakhir saya mau pakai kebaya ke sekolah pada hari Kartini. I had won anyway.

Tapi, banyak anak-anak SD dan para pegawai kantor lain tidak seberuntung saya. Sampai tua mereka tetap diharuskan pakai baju adat setiap tanggal 21 April. Saya sampai tidak tega naik transjakarta pada tanggal 21 April…

Kemarin itu saya lewat di depan sebuah mall di Cibubur. Ada poster besar bergambar Ibu Kartini lengkap dengan konde dan kebayanya di poster itu. Isi poster itu adalah ajakan untuk mendaftar acara fashion show dalam rangka Hari Kartini.

Saya bisa saja nyinyir bertanya apa hubungannya. Tapi bagi banyak orang lain, pertanyaan saya akan aneh. Bukankah selama lebih dari setengah abad negara ini menyamakan Hari Kartini dengan parade busana? Kalau sudah begitu saya beri acungan jempol untuk orang penting di jaman dulu yang sudah mengubah nilai Hari Kartini menjadi sekadar lomba busana tradisional.

Siapa sih dia?