The Office and the Devils (in it)

Somebody I know at the office once said this, “It’s not important for my subordinates to like me. What’s important is they do their work well.”

His words may sound witty for some people, while for some others they sound extraordinary arrogant. For me, though, his words are just plain stupid. Period. And let me tell you why…

Although it’s not the most important thing, liking you boss is very much important. The word like in this sense means be comfortable with. You don’t have to adore your boss and put him or her in your most-favorite-people list. You don’t have to like his/her sense of humor. You don’t even have to laugh at his/her jokes. But when you like your boss, you can work comfortably. As a result, you work better because motivation is running high. It’s that simple!

But, well, life isn’t fair for most common people. People not-so-smart as somebody I know at the office are not scarce. They require you to work well but forget to provide the ingredients necessary to work well. They require you to concentrate on your work but forget to stop being a pain in your body part. They are literally the devils in the office. Now the question is how do you avoid these devils?

1. Quit is perhaps the best idea. Don’t forget to take the whole office with you when you quit. A devil cannot work his charm when there is no one around him.

2. Stay, and make their life miserable. If the devils make you miserable at the office, it only means one thing: they deserve to be miserable too.

I personally would rather choose number 3 which reads:

3. Quit, but make their life miserable in the process.

Are you with me?

picture source: istockphoto.com

Tanggung Jawab itu…

Sudah beberapa hari ini Hikari sakit batuk dan pilek. Agak berat sehingga dia harus istirahat di rumah karena dokter takut dia lama sembuh sekaligus takut dia menulari teman-temannya. Ketika saran dokter itu sampai di telinga Hikari, dia sontak protes. Tidak boleh ke sekolah? Tidak boleh main? Wajah Hikari langsung ditekuk seratus. Tapi saya dan Papa tetap acuh.

Setelah beberapa hari Hikari di rumah, teman-temannya sudah mulai gelisah. Seorang temannya yang biasa main dengan Hikari memaksa ingin main di rumah kami.

Pada ibunya, saya berkata jelas. “Hikari lagi batuk pilek parah. Mainnya nanti dulu ya. Nanti dia ikut ketularan. Kasihan kalau ketularan.”
Hikari buang muka yang tadinya sudah ditekuk, tapi dia tidak protes lagi.
Anak si ibu yang malah protes dengan ngedumel.
Si ibu tertawa enteng. “Aaaah, enggak pa-pa. Pilek batuk doang. Emang lagi musim kok. Gak apa-apa kok main aja.”

Waaaaat?!

Ngaku saja saya sebenarnya heran kenapa saya masih heran mendengar komentar si ibu. Sebenarnya ibu itu bukan pertama kali itu berkata begitu dan bukan pula orang pertama yang punya pandangan serupa.

Sewaktu beberapa bulan lalu Hikari terkena cacar, saya sempat konsultasi dengan gurunya di sekolah. Saya yakin benar Hikari tertular cacar dari sekolah. Waktu itu guru Hikari bilang di kelasnya -setidaknya- tidak ada anak yang cacar. Curiga? Tidak percaya? Ya, saya setengah tidak percaya, but, hey, positive thinking saya tahu ada 101 cara dan tempat Hikari bisa kena cacar selain di sekolah.

Karena cacar itu, Hikari hampir sebulan tidak sekolah. Dokternya mewanti-wanti supaya Hikari masuk sekolah ketika lukanya sudah mengering! Dokternya tidak ingin Hikari jadi penular cacar di sekolah, dan saya setuju.

Sewaktu saya mengantar Hikari ke sekolah setelah lama absen itu saya bertemu dengan ortu siswa lain. Si ibu menanyakan kenapa Hikari tidak sekolah.
“Oh cacar? Anak saya kena juga tuh. Si ini si itu si dia juga kena,” katanya enteng.
“Kapan?” Saya kaget setengah mati. Bukankah si guru bilang murid kelasnya tidak ada yang kena cacar.
“Ya kira-kira sebelum Hikari lah. Lagi musim.”
Kepala saya berputar-putar. Abis ini ada yang bakalan kena semprot saya nih!
“Anak saya itu gak betah banget kan. Jadi pas panasnya turun dan dia sudah bisa lari-lari, dia minta sekolah lagi.”
“Terus?” “Ya udah, saya masukin sekolah lagi. Daripada di rumah nyebelin banget.”
“Emang udah hilang bekasnya?”
“Ya belum. Yang penting demamnya sudah hilang.”
Jantung saya berhenti. “Gurunya tau?”
“Saya sih cuma bilang dia demam.”
“Tapi kan kalau lukanya baru kering itu masih nularin.” Saya protes.
“Enggak ah kayaknya. Mamanya si itu juga gitu. Si itu gak mau lama-lama di rumah jadi begitu demamnya turun ya masuk sekolah.”

Adegan di rumah saat saya nyumpah-nyumpah sebaiknya tidak saya ceritakan demi perdamaian dunia.
Damn! When will they realize that being responsible is not only for you and your family but most importantly for the people around you?!

Orang-orang yang punya pendapat di atas itu adalah orang-orang yang sama yang tahu kalau membuang ludah sembarangan itu jorok, batuk itu harus ditutupi mulutnya, flu Singapur itu menular, imunisasi itu harus dilakukan di umur sekian dan sekian, dan sebagainya.
Mereka juga orang yang sama yang mengendarai mobil bagus, berhape BB, langganan koneksi internet, liburan ke Bali atau malah Singapur tiap tahun.
Pendidikan dan strata sosial ternyata tidak menjamin tingkat tanggung jawab seseorang. Dan kenapa gitu saya sewot banget soal ini? Coba bayangkan kalau yang tertular penyakit itu adalah anak anda yang sudah setengah mati anda jaga kebersihan dan keamanannya. Coba bayangkan kalau penyakit itu bukan cuma sekadar batuk pilek…

Fly Him to The Moon

Inspired by my friends, I wrote this 3rd novel of mine.

Bila sahabatmu adalah matahari dan kamu adalah bulan, apa yang akan terjadi kepadamu ketika pagi menjelang dan matahari terbit? Apakah orang-orang di bumi akan bisa melihatmu di atas langit sana?

Seluruh laki-laki di satu bumi ini pasti akan bahagia luar biasa seandainya mereka bisa menjadi sahabat Jelita. Sebaliknya, bila semua perempuan di beberapa galaksi dikumpulkan, mereka pasti akan lebih memilih mati daripada harus menjadi sahabat Jelita. Kecuali Anjani.

Jelita Gani dan Anjani Anjasmara adalah dua sahabat sejak kecil. Jelita merupakan seorang perempuan yang cantik tak terkira dan pintar luar biasa. Kecantikannya membuatnya dikitari oleh laki-laki dari berbagai jenis karakter. Kepintarannya membuatnya dilimpahi kepopuleran. Jelita selalu menjadi matahari dimanapun dia berada.

Anjani, sahabat Jelita, adalah seorang perempuan tomboy yang selalu memerankan tokoh sahabat setia. Sepanjang hidupnya Anjani menyaksikan para laki-laki berlomba mengejar Jelita. Sepanjang hidupnya Anjani mengurusi para laki-laki yang menggunakan dirinya untuk mendekati Jelita. Sepanjang hidupnya, Anjani merasakan sosoknya perlahan menghilang di balik awan setiap kali Jelita muncul. Seperti bulan ketika matahari muncul. Atas nama persahabatan, Anjani tak pernah beranjak dari sisi Jelita. Bagi Anjani, persahabatannya dengan Jelita lebih berharga dari laki-laki manapun…

… sampai Jelita, sahabatnya, berbalik memusuhinya ketika seorang pangeran impian datang menawarkan cinta. Lalu, masih tersisa luas kah hati Anjani bagi sahabatnya? Apakah Anjani rela menukar cintanya pada sang pangeran impian dengan persahabatan dengan Jelita?

This novel is finally finished and released on August 10, 2010.

Continue reading

It’s more than his birthday

It’s his birthday today. My only son’s birthday. He is 8 now. How time flies…

When we asked him what he wanted for his birthday, he mentioned hundred requests. Being young and innocent. He asked for a toy he had been asking for a half year. He asked for us going somewhere together just the three of us. He asked for a sushi dinner at his favorite restaurant. He asked for a play time at Timezone. He asked for a birthday celebration at school. We told him he couldn’t have it all and he had to choose one. We told him we couldn’t afford all of those things he asked for. What we didn’t tell him was we would have given him all if we could afford it. You can call us a spoiling parents but we just don’t care. On this particular day of the year, everything doesn’t seem enough for our only child.

Continue reading

It’s none of your business

Sebagai pengunjung setia rumah sakit, saya selalu gerah setiap kali duduk di depan para suster penerima kartu antrian pasien. Para suster ini biasanya duduk di sebuah meja di dekat ruangan masing-masing dokter. Sebelum pasien diperbolehkan masuk, pasien harus menyerahkan kertas antrian sekaligus dicatat statusnya: berat, tensi, dan penyakitnya. Semua itu dilakukan di depan puluhan pasang mata pasien lainnya.

Continue reading

What’s in it for me?

Sepertinya saya salah memilih hari ini untuk berangkat ke kantor dengan naik angkutan umum. Pagi sudah agak siang -jam setengah sebelas- saat saya berada di pinggir jalan dan melambaikan tangan ke arah bis jurusan Cileungsi-Senen. Saya baru saja dicuekin oleh minibus ke arah UKI yang herannya jam segitu masih penuh. Kebetulan di belakang minibus itu, bis Cileungsi-Senen berjalan lambat mencari penumpang. Saya senang dengan bis arah Senen ini. Sudah berpendingin, jarang ada penumpang, dan tertib administratib tidak pernah ngetem di pinggir jalan. Jadi, begitu bis berhenti di depan saya, dengan semangat saya langsung mencangklong tas gede berat dan tas tangan berisi lunch box dan buku-buku saya lalu naik ke atas bis.

Continue reading

Chatting di Pro Resensi Pro2 FM

Kira-kira 3 minggu lalu saya dihubungi oleh bagian Promosi GPU. Si Mbak nanya apa saya bisa datang di sesi bedah buku di radio Pro2 FM. Hari Minggu, katanya. Kan hari libur. Saya jelas bilang bisa. Kan hari libur. Padahal gak hari libur pun dibisa-bisain sih *grinning*

Akhirnya, kemarin, hari Minggu, 27 Juni 2010 saya datang ke gedung RRI. Telat 10an menit dari jam 3 sore karena kejebak macet di tol. Ternyata hari itu adalah hari memacetkan Jakarta sedunia. Pasalnya hari itu ada karnaval di Jalan Thamrin… *bete bete bete*

Sepanjang jalan yang tidak saya lewati dengan tidur, saya lewati dengan memasang kuping ke channel 105.00FM. Stasiun radio Pro2 FM masih menyiarkan bedah buku yang lain. Untung juga karena itu artinya saya enggak kedengeran telat hehehe…

Begitu sampai di lobby RRI, saya langsung melesat lari ke lantai 6. Papap lalu memarkirkan mobil. Ternyata sampai di studio, saya masih belum dianggap telat… Saya sms Papap supaya naik ke atas, tapi gak dibales. Belakangan saya baru tau kalau Papap molor di mobil dengan alasan dengerin saya siaran di mobil…

Continue reading