Hari ulang tahun memberikan beragam perasaan untuk setiap orang. Buat keluarga besar si Mami, hari ulang tahun harus berasa meriah walau hanya kumpul keluarga besar di rumah Eyang sambil makan mie goreng panjang umur. Syukur-syukur kalo ada yang bawa kado. Buat si Papap, hari ulang tahun ya berasa hari biasa aja. It’s just another day. Kalau mamanya lagi ingat, syukur-syukur dimasakkin nasi uduk komplit. Karena kebiasaan di keluarga besar si Mami lah, keluarga saya -Kumendan, Mami, dan kedua adik laki-laki- selalu merayakan hari ulang tahun, walau hanya sekadar memasak makanan lebih istimewa dari biasanya. Sepertinya ada kewajiban moral untuk memberi tahu seisi dunia bahwa salah satu dari kami ada yang berulang tahun di hari itu. Untungnya ulang tahun saya dan kedua adik saya itu cuma berselang beberapa hari. Jadi, pestanya bisa digabung supaya lebih irit :).
Author: mariskova
The Job that isn’t the IT anymore…
Call me melancholic, or emotional, drama queen, or just tired because I am writing this at 01:30 in the morning. I don’t care. I have been thinking about my job for weeks and just when my body was ready to shut down my laptop, my mind wouldn’t let me rest until this job-thing settles comfortably in my conscience.
I remember when my job used to make me feel challenged and make me look sparkling. I remember the days when I got home tired but feeling satisfied with what I had done in the office. I remember the ignorance feelings when I looked at the numbers on my paycheck wasn’t quite equal with the hard work I had done to finish the job. I remember the feeling I had those days and it was called CONTENTMENT.
Now, I have (almost) everything in my job that it feels (almost) wrong to complain. For weeks -a lot of weeks- I am struggling to convince myself that this job I have is still the IT job I had years ago. Somehow I know I’m struggling to lose. This is not IT anymore. And how do I know that?
It’s when I get home from work and doesn’t feel contented anymore.
It’s time to move on…
illustration from www.gettyimages.com
What She Makes Me Think Of…
You can find her name in every novel I wrote.
For she is my conscience in every sentence I wrote.
A quote by Cyrill Connolly is how she is…
“Better to write for yourself and have no public than to write for the public and have no self.”
Happy Birthday, Fitri Mohan!
Happy happy happyyyyyyyyyyyy life for you!
Status Fesbuk
Malam ini saya menyadari kalau status fesbuk ternyata bisa berdampak buruk pada kesehatan jiwa dan raga. Awalnya saya nyetir mobil sepanjang 25an kilometer dari rumah sampai kantor sambil pasang radio yang menyiarkan lagu-lagu cinta gitu. Ada satu lagu entah apa judulnya yang di salah satu liriknya menyebut begini…
Let’s fall in love again…
Entah karena lagunya yang enak atau saya memang lagi kurang eksposur, sesampainya di kantor dan buka kompie, saya langsung nulis itu lirik di status fesbuk saya. Dan anda tahu apa yang terjadi?
Tidak sampai 1 jam kemudian, salah seorang tante saya (saya punya buanyaaaakkk tante) langsung merespon di kolom komentar: MAKSUDNYA?!
Saya jawab: Maksudnya? Ya seperti statusnya.
Tante: Iya, maksudnya apa?!
Saya (mulai mendidih): Gak ada maksud apa-apa.
Tante: Sama siapa?
Saya: (bete)
Singkat cerita seminggu dua setelah itu, saya ketemu si tante di acara keluarga. Ternyata, tante saya mengira saya punya gebetan baru yang membuat saya menulis status ‘Let’s fall in love again’. WHAT?!
Sebelum saya sempat ketawa ngakak atau malah ngomel sama si tante gara-gara tuduhannya dia itu, dia sudah lebih dulu menceramahi saya panjaaaaang lebaaaaar mengenai kesopanan menulis status sehingga tidak membawa fitnah dan keharusan menjaga perasaan suami sendiri. Lah, suami saya aja santai-santai begitu…?! Tapi, let me tell you something. Berdebat dengan tante (atau tante-tante) saya itu adalah suatu hal yang sia-sia. It’s a losing battle. Jadi akhirnya hari itu saya akhiri dengan manyun dan kepala cenut-cenut. Sejak kejadian itu saya blok wall saya dari pandangan seluruh anggota keluarga. Si Mami, si Papi, si Tante A, B, C sampai Tante Z, si Om A-Z, keponakan, sepupu, semua yang ada hubungan keluarga saya blooooooooooook dari fesbuk saya! *kejam mode on*
Kali lain, saya dengan iseng lewat hape menulis status begini…
Markitlon
Lalu mulailah orang-orang mencoba memecahkan kode status saya. Ada yang bilang Mari Kita Bunglon sampai yang paling dodol Mari Kita pake minyak Telon. Waktu saya tulis artinya adalah Mari Kita Ngelonin, eeeeh ada yang komentar rada-rada berbau ranjang! Padahal, saat itu saya lagi ngelonin si Hikari yang belum bisa ditinggal tidur sendiri. Cape deeeh!
Sejak itu saya mulai menyadari setiap kali saya menulis status yang rada-rada menjurus romantis atau pakai lirik lagu romantis, saya selalu dianggap sedang ngomongin cowok (lain?). Padahal cowok yang lagi saya omongin, noleh juga enggak… *sambit si Papap*
This must be Chrysanthemum
I was just flipping through my old album when I found pictures of Chrysanthemum. I wrote about the flowers before but then my friend said the flowers were Gerbera, and not Chrysanthemum.
I took pictures of these flowers when I was biking along the main road in Honjo, Saitama, Japan, some 4 years ago. Yes, these flowers were wild, but at that time they made a really beautiful view. I stopped my bike at that time and got off just to be able to take the pictures. I was in the pavement next to a big main road, mind you, and the wind was blowing hard. Papap and Hikari patiently waited for me a few meters away. Come to think of it, perhaps they didn’t want anyone to relate them with me 🙂 .
What makes me sad now is my stupidity when I stored these pictures. Accidentally I reduced the size of the pictures! Now, they are… small 🙁 The original posting is here.
I’ll try to find the original files and hopefully I can add more pictures to these beautiful yellows below.




It’s all about the color!

“Beli lipstik lagi?” tanya Papap heran dengan kening berkerut-kerut.
Saya ngelirik ke toko sebelah. Toko tas. “Daripada beli tas?”
Papap lalu geleng-geleng doang. Saya yakin dia juga malas ngomong panjang karena dia dan Hikari toh baru beli dvd LAGI.
Sebenarnya gak salah juga sih si Papap heran-heran begitu. Dia tahu banget saya paling malas dandan tapi ternyata rekor saya beli lipstik tak tertandingi. Saya punya 8 (delapan!) lipstik yang selalu saya bawa di tas! Padahal satu aja gak abis-abis…
Faktor U?
Beberapa minggu lalu saya bertemu dengan teman kantor beda lokasi kantor. Walau punya hubungan baik dengan dia, saya jarang ngobrol hal-hal yang ‘dalem’ seperti soal si Kunyil yang cerewet, soal si Papap yang cerewet, soal si Mami yang cerewet, atau soal-soal lain yang tidak berhubungan dengan kecerewetan seseorang di rumah saya. Pembicaraan kami sebatas obrolan kantor. Saya cuma tau dia yang di kantor, dia juga -asumsi saya- cuma tahu soal saya yang di kantor.
There is no such thing as ‘originality’
Film the Social Network rupanya sangat menginspirasi Papap. Seharian, yang diomongin Papap hanya film itu saja. Saya sendiri nontonnya gak sambil konsentrasi. Sambil nge-twit, sambil ngunyah pisang goreng, sambil buka fesbuk, sambil pipis, sambil…. I’m sure you got it already. Sebaliknya Papap berperan seperti reporter TV. Walau saya di dapur (ngunyah pisang goreng, bukan masak) atau di kamar (maen fb dan twitter), Papap bolak-balik nyeritain jalan cerita si film 🙂
Singkat cerita, jauuuuh setelah film selesai, kira-kira 4 jam kemudian, Papap menggumam-gumam. Katanya, “Si Mark akhirnya mau disuruh bayar orang-orang yang nuntut dia. Kok mau ya? Kan dia yang nemuin, dia juga yang membangun si Facebook itu… bla bla…”
Atas protes si Papap saya cuma komentar, “there’s no such thing as original idea nowadays.”