Happy Place

Malam buta begini, saya ingin merindukan suatu masa. Masa ketika yang ada hanya kebahagiaan, bahkan bila saat itu saya berurai air mata. Kenapa saya harus merindukan masa lalu itu? Karena orang bilang saat kita butuh merasa bahagia, kita bisa pergi ke Happy Place kita. Dan memang rasanya seperti ada energi baru. Cinta baru. Untuk hidup saya. Saya. Bukan kita.

Saya tak begitu peduli apakah kamu memercayai Happy Place atau tidak. Toh Happy Place saya bukan untuk kamu datangi juga. Apa yang ada di Happy Place saya pun mungkin tidak akan bisa membuat kamu bahagia. Saya hanya ingin bilang saat ini saya ingin pergi ke Happy Place saya. Jadi, biarkan saya pergi.

Tiga, Empat, Lima Bulan Ini

Tiga, empat, lima bulan ini adalah suatu perjuangan buat saya pribadi. Dimulai dari sakit kepala yang tidak kunjung berhenti, demam yang tidak berpenyebab, rasa ringkih yang tidak berkesudahan. Satu, dua, tiga dokter saya datangi. Semua tanpa hasil.

Lalu ada kecurigaan lain yang sudah berumur dua tahunan. Ketika Rezah pergi, saya tidak mendapatkan jawaban apa yang terjadi. Penyakit apa yang membuatnya hilang. Setelah dokter-dokter yang lain, saya berkunjung ke dokter kebidanan. Seminggu kemudian, rasa penasaran saya terjawab. Saya menderita toksoplasma, Rubella, CMV. Tambahkan tiga hal itu dengan tipus dan DBD.

Continue reading

How do you end a year?

How do you end a year? I mean really end it and feel like you have put it behind you?
Do you go out and party?

Do you stay home and pray?

Or you just don’t care because it always feels the same? The sun still shines tomorrow. Or the past still haunts you tomorrow.

I cannot, or haven’t been able to really say goodbye last year and welcome new year. What is it to good-bye and to welcome? Life will be like it is. On some months it will be improving, on some days it will be devastating. What’s new?

Resolutions? Being better? Sure. But do you need a new year to really say ‘I’ll be a better person next year, but since next year is still a week away I’ll take my time being whatever!’

Resolutions are thought because you just experience something terrible. It’s like an enlightenment. You did or experienced something bad, you had enough, and then you promised yourself you’d be a better person. New year is just not it. Not with all the trumpets and fireworks, of course.

So, friends, bitter as my post might feel, let me console you. If you cannot find one, two, a hundred New Year’s resolutions, don’t feel bad. It only shows you are human, you are normal, you are not fake, you are you. But, if you cannot find even one thing, ONE THING(!), to improve in your life every time you get up from your bed every morning… then you need to consider how to revolutionize your life!

Happy New You!

Salsa Sauce for First-Timers

Setiap kali saya ketemuan dengan Nda, dia selalu membuat signature dish-nya: Salsa Sauce sebagai saos untuk dimakan dengan Nachos atau Corn Chips. Saos Salsa buatan Nda sedaaaaap banget. Masalahnya saya ketemu Nda paling sering 3 bulan sekali 🙁

Cilantro atau Daun Ketumbar

Sebulan lalu, saat saya ketemu Nda, dia kehabisan Cilantro jadi batal lah dia membuatkan saya Saos Salsa *nangis kejer*. Setelah beberapa lama kepengen, saya akhirnya nekat minta resep Saos Salsa dari Nda. Kenapa nekat? Karena saya gak bisa masak. Minta dibikinin masakan itu tidak nekat. Minta resep untuk bikin sendiri itu baru namanya nekat.

Nda pun mengirimkan resepnya untuk saya: tomat klng iris2 + tomat seger + bw bombay + paprika ijo + cilantro + saus tomat + gula, mrica. aduk2, jd deh.

Jumat sore, saya pergi ke toko khusus buah dan sayur khusus untuk nyari bahan-bahan Saos Salsa ini. Pertanyaan pertama ke pegawai toko adalah, “Mbak, ada Cilantro gak?”
Dan jawaban dia adalah, “Hah? Apaan tuh?”
Akhirnya saya telpon Nda. Sambil setengah bisik-bisik.

“Nda, gue lagi di toko buah mau nyari bahan Saos Salsa. Tomatnya yang mana sih?”
“Ya ampuuun. Elo kepengen banget ya?”
Gak nolong 🙂
“Tomatnya yang buah yang agak merah warnanya.”
“Semua tomat merah, Nda.” Untuuuuung, ternyata di bagian tomat ada label tomat buah dan tomat sayur. Ih, bentuknya sama gitu!
“Nda, Cilantronya gak ada.”
“Elu lagi di toko yang depan rumah lo itu ya? Kan gue pernah tanya kesitu emang gak ada…”
Gak nolong lagi 🙂
“Coba tanya Daun Ketumbar. Biasanya mereka taunya Daun Ketumbar.”
Ternyata seorang pegawai disitu bilang Daun Ketumbar itu adanya Once in a Blue Moon. Cakeeep.
“Gak ada, Nda.”
“Yaaah, kalo gak pake itu gak enak. Nanti deh gw bikinin aja.”
“Terus Nda, paprikanya adanya yang kuning sama merah. Bisa kan? Apa harus ijo?”
“Kan tomatnya udah merah. Jadi paprikanya ijo supaya warnanya gak sama.”
“Yaooolooo jadi cuma gara-gara warna doang?”
“Terus, gue gak suka bawang bombay. Kalo gak pake gak apa kan?”
“Lah kalo gue bikin, elu makan juga gak bawang bombaynya?”
“Yaaaah, kan gue gak tau isi buatan elu itu hihihi…”
“Nda, tomat kalengnya buat apa?”
“Buat dicampurin.”
“Dibejek-bejek gitu? Atau kudu gue potong-potong lagi?”
“Enggak. Dicampur aja. Cari yang udah potongan aja.”
“Oooh, ada ya?”
Bener kan! Minta resep masakan itu perbuatan nekat!
Akhirnya gue pulang dengan membawa bahan-bahan di resep tapi tanpa Cilantro. Nekats, man! Gengsi dong gue udah datang dengan niat belanja tapi gak jadi belanja!

Di rumah, saat saya mulai mempersiapkan segala bahan, muka si Embak mulai mengernyit.
“Mau bikin apa, Bu?”
“Saos salsa. Mau?”
“Enggak ah, Bu.”

Begini ini cara saya bikinnya:

  • Setengah kaleng tomat kaleng saya masukkan ke mangkok besar.
  • Satu buah tomat diiris seperti dadu. Masuk ke mangkok.
  • Setengah paprika, diiris dadu. Masuk juga ke mangkok.
  • Sedikiiiiiiit banget bawang bombay saya iris tipiiiiiis banget. Terpaksa masuk ke mangkok.
  • Lada bubuk saya tuang satu sendok teh. Masuk lah ke mangkok.
  • Gula dua sendok makan juga masuk ke mangkok.
  • Garam sedikit ditambahin juga di campuran di mangkok.
  • Saos tomat kira-kira tiga sendok makan masuk ke mangkok. Setelah dicobain, ternyata saya pengen rasa saos tomat lebih banyak jadi saya masukkin satu sendok makan lagi ke mangkok.
  • Cicipin.
  • Kalau enak, boleh langsung dicampur dengan kripik atau nachos. Tapi kalau mau lebih enak, didinginkan dulu di kulkas.

Dan begitu lah hasil kerja keras saya selama 15 menit!

Blunder yang terjadi di akhir usaha bikin Salsa Sauce ini adalah:

  • Tanpa Cilantro, rasanya memang kurang… panassss.
  • Paprika warna ijo ternyata memang lebih enak dilihat dibanding paprika oranye yang dengan nekat saya pakai.
  • Ukuran potongan tomat dan paprika yang saya potong ternyata masih kebesaran. 1 mili kali 1 mili kayaknya lebih pantes. Atau 2 mili deeeh. Soalnya kalo ukuran paprikanya besar-besar, mau dimakan rasanya agak… intimidating.
  • Kripik atau chips yang enak untuk dicampur saos ini adalah yang ukurannya besar. Yang ukurannya kecil bikin cape nyendoknya. Pengganti kripik bisa garlic bread katanya. Katanya.
  • Tadinya mau nekat pakai keju. Untung gak jadi karena saya cuma punya keju Cheddar.
  • Sebelum makan Salsa Sauce ini, lebih baik perut diisi karbohidrat yang lain dulu misalnya nasi. Untuk orang yang perutnya sensitif -seperti saya- nekat makan saus ini pagi-pagi berarti bunuh diri.

Nah, itu dia resep dari saya yang merupakan eksperimen resep dari Nda. Kalau mau bikin yang lebih susah, bisa kesini. Tapi saya bakal butuh keberanian lebih besar untuk bikin yang itu 🙂

Dr House, I feel you…

I don’t know if you know Dr Gregory House from the TV series House MD. But if you know him, you might have mixed feelings toward him. Love him, admire him, totally hate him, and then you wonder what makes him be such a misanthrope.

House hates people. He doesn’t believe in happiness. And we are wondering what had happened in his life that made him how he is today. In one of the series, House tried to help a trapped young woman whose leg was severely hurt. The woman asked him if her leg needed to be amputated. House said no. He said his leg was hurt too but he refused to be amputated and now he still had his both legs intact. Cuddy, his boss, was angry at House’s advice to the woman. Refusing to cut her leg would risk her life. House, as usual, ignored Cuddy. Then Cuddy said this thing that made me want to write this post…

Continue reading

Pesta Blogger 2010

Tahun ini tahun keempat saya datang ke Pesta Blogger. Kebetulan, eh, sengaja saya selalu menyempatkan datang ke acara ini. Walaupun Jengjeng yang satu ini bilang bahwa kami sudah terlalu tua untuk ikutan acara beginian, saya teguh kukuh berlapis baja. Ada banyak alasan yang membuat saya memaksakan (ya, maksa karena biasanya saya jenis manusia malas keluar rumah) diri untuk datang. Salah banyak dari alasan itu adalah…

1. Mau bikin si Nenek nangis dengan ambil name tag dan mencoret-coret nama dia disitu.

2. Mau pose-pose bareng si Mbah satu ini.

3. Mau lihat si ini yang nama blognya itu tuh tampangnya seperti apa?

4. Mau ikut-ikutan berasa muda lagi… *hush!*

Yah. Itu tuh alasan saya. Gak ada yang penting ya? hehehe…

Alasan utama saya ingin selalu datang adalah untuk menjaga kewarasan mental saya. Loh kok? Iya. Lah tag line blog saya saja I blog for my sanity.

Setelah 5 hari 8 jam sehari saya dibombardir dengan -seringkali- ketidak warasan di kantor, saya merasa butuh untuk me-recharge baterai positif di diri saya. Bila blog adalah medianya, maka Pesta Blogger adalah klimaksnya. Kalau anda pikir saya butuh PB itu untuk bergaul, anda salah besar. Setiap kali saya datang ke acara Pesta Blogger itu (di pesta pertama saya datang sendiri), kerjaan saya cuma duduk di bangku paling belakang. Boro-boro bergaul. Kan saya ini pemalu… Tapi herannya, acara berdurasi 8 jam-an ini bisa membuat keseimbangan mental saya tetap seimbang.

Lalu apa bedanya pb2010 ini dengan pesta-pesta berikutnya? Hmmm… apa ya? Saya gak bisa banyak komentar soalnya saya datang detik-detik menjelang makan siang hehehe…

Tapi kalau boleh saya nulis catatan sedikit, saya mau bilang…

1. Saya paling suka tempat Pesta Blogger kedua, terutama untuk acara awalnya, karena bisa membuat semua hadirin fokus pada acara.

2. Saya paling suka logo Batik PB ketiga dan tas hadiah segede gajahnya.

3. Saya paling terharu di pb2009 alias PB ketiga. Ya iya lah, wong saya dapet hadiah! hehehe…

4. Saya nyatet kok sudah 2 pesta  diselenggarakan di gedung belum jadi ya? Ini di pesta ketiga dan keempat sekarang. Acara mini session-nya jadi gak nikmat karena berada di ruangan belum jadi.

5. Saya lihat pb2010 paling banyak meja bazaarnya ;p

6. Saya juga mbantin pb2010 paling banyak keterlibatan komunitas blogger lain. Komunitas blogfam tempat saya lahir juga nongol. Malah saya sempat ketemu Maknyak segala. Sayangnya komunitas saya sendiri gagal, eh, belum bisa narsis di pesta ini.

7. Saya paling norak di pesta pertama 🙂

Aksi dan Reaksi

Dulu sekali saat muncul berita Dewi Persik menampar seorang laki-laki karena melecehkan dirinya di muka umum, satu forum yang saya ikuti ramai. Maksud saya ramai adalah sebagian besar peserta forum ramai-ramai menghujat Dewi Persik. Bukan karena tamparannya tapi karena pakaian yang dikenakan. Para pemberi komentar sepakat, Dewi Persik patut mendapatkan pelecehan tersebut karena dia selalu berpakaian berani.

Setelah beberapa saat membaca komentar orang-orang, saya mulai gerah. Lalu saya menulis, kira-kira:

Pelecehan -apapun alasannya- tidak boleh dimaklumi! Perihal Dewi Persik mau pakai baju minim atau malah tidak pakai baju sama sekali bukan alasan seseorang untuk merasa berhak melecehkannya. Itu sama saja dengan berkata seorang perempuan patut diperkosa bila dia berpakaian minim atau berperilaku mengundang.

Anda tahu apa yang saya dapatkan setelah menulis itu? Saya dihujat!

Menurut sebagian besar peserta forum, tindakan Dewi Persik mengundang. Jadi ada aksi ada reaksi. Pakaian minim, ya pantas kalau laki-laki jadi tergoda untuk menggoda. Saya tidak sependapat. Saya lihat perempuan memakai rok-rok pendek sepaha di Jepang, tapi tingkat pemerkosaan disana jauh lebih rendah dibanding disini. Bagi saya aksi boleh ada, reaksi belum tentu perlu diperlihatkan. Orang lain boleh ngajak berantem, kan kita tidak perlu harus melayani dia berantem? Setiap individu punya pilihan untuk bereaksi atau tidak.

Pendek cerita, saya kalah suara di forum itu. Tidak masalah. Disitu saya belajar bahwa banyak orang kita yang masih melemparkan tanggung jawab karena telah bereaksi kepada orang lain.  Saat satu jari menunjuk ke orang lain, kita lupa ada empat jari yang menunjuk ke diri kita. Eh, tapi kenapa sih saya tiba-tiba ngomongin Dewi Persik?

Mekarsari 2010

Beberapa hari yang lalu saya dapat sms dari salah satu ibu dari temannya Hikari di sekolah. Anak ini termasuk salah satu teman baik Hikari. Si Boy -sebut saja- anak yang paling sering dijauhi teman-temannya. Dia termasuk anak yang lumayan pintar, tapi dia anak yang paling cengeng di kelas. Teman-teman Hikari memanggilnya Boy Bayi.

Saya pikir ibu si Boy dalam hati menyadari kemanjaan anaknya. Di usianya yang 8 tahun, si Boy masih sering merengek-ngamuk bila kemauannya tidak dituruti, masih sering menguntit teman-temannya kemana saja, masih sering mengabaikan tanggung jawab personal dan komunitas, atau masih sering menangis iri bila dia tidak diikutkan dalam satu kegiatan dimana teman-temannya ikut. Tapi, alih-alih memperbaiki cara dia mendidik Boy atau memperbaiki tingkah laku Boy, si ibu memilih untuk meminta lingkungan Boy memaklumi anaknya. Pada saya, dia minta Hikari untuk selalu main dan menjaga Boy (Bo, anak lu lebih gede dari anak gue!). Dia juga minta saya untuk mengajari Boy tanggung jawab (“Bereskan mainan setelah selesai main atau tidak boleh main disini lagi!” Lah, emaknya siapa?!). Dari kelas 1 sampai kelas 3, dia minta guru-guru si Boy untuk menegur anak-anak yang menolak main dengan Boy atau yang mengatai Boy dengan Boy Bayi, si Cengeng, atau lainnya.

Belakangan ini, keengganan teman-teman Boy untuk main bersamanya semakin jelas terlihat. Dan julukan-julukan pun makin sering dilemparkan. Sebagai latar belakang saja, anak-anak di sekolah Hikari tidak punya banyak kosakata hinaan. Mereka tidak tahu kalau nama binatang bisa dijadikan nama panggilan kesayangan. Walau begitu, dengan keterbatasan kosakata hinaan, mereka mampu membuat si Boy menangis tiap pulang sekolah dan si ibu mengancam untuk pindah sekolah.

Si ibu lalu sms saya. Intinya dia minta saya bilang ke Hikari untuk menegur teman-temannya bila mereka mulai mengejek si Boy. Dia minta Hikari untuk menjaga Boy dari ulah bullying teman-temannya.

What?!

Sore itu begitu saya sampai di rumah saya langsung mengajak Hikari bicara. Apa yang terjadi di sekolah? Siapa yang mengganggu si Boy? Kenapa dia diganggu? Apa yang dilakukan kepada si Boy? Dan seterusnya dan seterusnya…

Kata Hikari: “Si A panggil Boy si Bayi soalnya waktu si Boy disuruh tunggu giliran main, dia nangis. Si B bilang si Boy begini. Si C bilang si Boy begitu…”
“Kamu ikut mengejek?”
“Enggak sih.” Hikari menunduk. “Tapi aku ikut tertawa.”
“Menurut Hikari ikut menertawakan Boy itu baik?”
Hikari menggeleng. “Tidak.”
Sedetik kemudian Hikari menatapkan matanya bulat-bulat pada saya. “Tapi Boy memang tidak menyenangkan sih. Dia nangis waktu disuruh tunggu giliran main, jadi si A marah. Terus dia malah mendorong C sewaktu C bilang itu giliran C. Jadi teman-teman bilang si Boy Bayi.”

Saya paham sekali logika Hikari. “Nak,” kata saya, “lain kali, kalau si Boy membuat kesal kalian lagi, bilang ke Boy: Kalau kamu tidak mau giliran, aku tidak mau main dengan kamu.”
“Kalau si Boy tetap tidak mau giliran?”
“Tinggal pergi.”
“Kenapa?”
“Si Boy sudah berlaku tidak baik. Kalau Hikari membalas dengan mengejek dia itu artinya Hikari menjadi tidak baik juga.”

Hikari terdiam. Dia mungkin tidak mengerti sepenuhnya apa maksud saya tapi saya sudah bertekad untuk membuat Hikari melihat bahwa setiap diri punya pilihan. Melihat aksi mungkin tidak bisa terhindarkan. Tapi bereaksi adalah satu pilihan untuk dilakukan atau justru tidak dilakukan.

Kepada si Ibu, saya menjawab, “Hikari sudah diberi tahu supaya tidak ikut mengejek Boy. Si Boy sudah diberi tahu supaya mengubah tingkah lakunya supaya kooperatif waktu bermain dengan yang lain?”

Sms saya tidak dibalas.