Di Pekarangan Gunung Slamet

20130525-233247.jpg Hari ini hari terakhir saya di Purwokerto. Kota yang baru kali ini saya kunjungi. And I loved the city from the first time I got off the train. Bersih, teratur, adem, sepi, sepi, sepi. Saya langsung betah.

Setelah menghabiskan waktu sesorean dengan kriyep-kriyep sendirian di kasur hotel, malam pertama itu saya putuskan untuk jalan kaki kelayapan sendirian. Jam 7 malam setelah mandi cantik saya keluar. Niat cari makan dan cari minimarket. Minimarket saya temukan kira-kira setelah 1 km berjalan. Udara malam itu enak jadi jalan pun nyaman. Trotoarnya nyaman dan bersih. Jalanannya yang lebar sepi. Dengan happy saya menyusuri jalanan raya sembari tebar senyum ramah pada beberapa bapak, bapak-bapak, bapak lagi, bapak-bapak lagi yang sedang nongkrong di pinggir jalan. Pulang dari minimarket, saya mampir restoran bebek. Keanehan baru saya rasakan. Ke mana saya pergi saya merasakan pandangan ingin tahu orang-orang yang saya temui.

Continue reading

To Work. Or Not To Work.

Saat memutuskan untuk berhenti bekerja kantoran, kebanyakan orang dewasa saya berpikir hanya perlu melakukan diskusi panjang dengan diri sendiri dan partner rumah tangga. Berbulan-bulan saya dan Papap mempertimbangkan ini itu mengenai kelangsungan operasional rumah tangga tanpa sedikit pun terpikir bahwa anak-anak kami, Hikari misalnya, perlu diajak ngobrol.
Continue reading

Ketika Kutu Bertahta

Bagaimana perasaan anda ketika di jaman smartphone dan perang nuklir anda menemukan ada kutu (atau kutu-kutu) bersarang di kepala anak kesayangan anda yang ganteng nan rupawan?

Perasaan saya terhina. Reaksi saya? Mau ambil gunting dan silet untuk mencukur rambut Hikari. Suara jeritan yang diikuti tangis meledak Hikari yang membuat saya membatalkan niat menggundulinya. Eh bukan. Setelah diingat lagi, si Papap lah yang berhasil menghalangi saya berbekal pengetahuannya bahwa di luar sana masih ada apotik yang jual obat kutu walau di jaman maju seperti sekarang.
Continue reading

Sebelum Kau Tidur, Nak

Minggu-minggu yang menguras tenaga dan emosi. Dimulai dari pengasuh baby Aiko yang pulang kampung lalu tidak balik hingga urusan proyek-proyek yang terbengkalai karena tenaga yang terkuras, hari ini adalah puncaknya: Si Papap sakit.

Saking capek dan kurang tidur, pagi tadi justru Hikari yang membangunkan saya. “Ma! Mama,” panggil Hikari menggoyang-goyangkan badan saya sementara ia masih dengan piyama dan gulingnya. “Ma! Sekolah!”
Jam di dinding sudah jam 7. Dia masuk jam 07:30. Saya terduduk kaget. Tambah kaget lagi ketika melihat si Papap masih tidur di sebelah. Biasanya jam segini Papap sudah setengah jalan ke kantor. Saya pegang badan Papap dan segera menghela napas panjang. Papap demam! Sekarang siapa yang harus mengantar Hikari sekolah sementara harus ada yang menunggui baby Aiko yang masih tidur? Lalu Papap yang demam bagaimana?

Saya percaya saat Tuhan menciptakan keajaiban, salah satunya adalah dengan menciptakan otak Ibu. Entah bagaimana saya bisa mengurus Hikari sekolah, memegang baby Aiko, dan mengurus si Papap yang sakit.
Bala bantuan datang di sore hari saat si Mami datang untuk menunggui anak-anak. Segera saya bawa si Papap ke UGD. Maagnya sudah akut, kata dokter. Bapak terlalu keras bekerja, kata dokter lagi. Tanpa sadar saya mengelus perut saya sendiri…

Sambil menunggui Papap di UGD, saya cari waktu telpon ke rumah. Memberi instruksi ini itu termasuk mengingatkan Hikari untuk mematikan TV dan mengerjakan latihan Matematikanya. Tiga setengah jam kemudian saya kembali ke rumah dengan rasa capek luar biasa. Tapi tempat tidur harus menunggu karena 2 anak kelebihan energi ini… masih kelebihan energi.

Lima menit sebelum Hikari tidur saya menanyakan latihan Matematikanya. Hikari memperlihatkan hasil yang hanya menjawab 15 dari 50 soal. Saya marah besar karena dia ternyata menonton TV saat harus mengerjakan tugasnya. Hikari pergi tidur dengan sisa ceramah dari saya. Dia tidak minta cium saya sebelum tidur tadi.

Setengah jam setelah saya bisa membaringkan badan lelah ini, saya menatap wajah Hikari yang tertidur pulas. Saya menyesal luar biasa. Menyesal karena suara terakhir yang dia dengar sebelum dia tertidur adalah suara marah ibunya. Wish I could wake him up and say sorry and I love him. Penyesalan selalu datang terlambat. I wish morning would come fast so I could tell him I love him no matter what.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Kelas Inspirasi II: Membayar Kembali

Tahun lalu seorang teman di kantor bertanya pada saya.
“Elo gak ikutan Kelas Inspirasi? Kok?”
Saya menggeleng lalu hanya memperhatikan teman ini bersibuk-sibuk mempersiapkan dirinya untuk kelas yang akan ia ajar di sebuah SD di daerah Jakarta Timur.
Saya lupa kenapa tahun lalu saya tidak mendaftar tapi saya ingat perasaan sedih karena hanya bisa mendengarkan teman saya ini bercerita ramai tentang briefingnya, observasinya, mengajarnya.

20130222-032130.jpg
Akhir tahun lalu, teman yang sama mengingatkan saya. Dia bahkan mengirimkan link Kelas Inspirasi II untuk saya. Dan saya ingat di malam-malam buta, di tengah tenggat tulisan, dan kehebohan dunia yang tidak penting, saya menulis esai pendek kenapa saya ingin menjadi bagian dari Kelas Inspirasi II. Email saya diterima di KI II di akhir bulan Januari dari panitia KI II membuat saya lupa akan migren yang sudah beberapa hari memporak-porandakan dunia saya.

Continue reading