Why They Want to Be Elsa

IMG_5132.JPG
If you have young girls at home, or a niece, or a neighbor with young daughters, or even an office colleague who has a little girl, you will definitely know who Elsa is. If you don’t, you are one of few lucky people in the world. Seriously.

Sejak film Frozen yang melejitkan Queen Elsa of Arendelle diluncurkan, hampir seluruh anak-anak perempuan di dunia sontak demam Elsa: lagunya, bajunya, mahkotanya, sepatunya, sampai cara dia mengikat rambut. Dan lagunya itu loh…ya ampuuuuun tobat bisa merajai music player di rumah, di mobil, di hape, bahkan di kamar mandi. Diulang ulang ulang ulang ulang… Elsa the Queen of Arendelle has conquered the very heart of young girls in the world. Padahal, di film Frozen itu, pahlawannya justru bukan Elsa.
Continue reading

To Make Passport, or Not to Make Passport

Sebagai warga Jakarta pinggiran tulen, ada 3 hal yang sebisa mungkin saya hindari: makan di lapak Amigos (agak minggir got sedikit), macet akibat banjir, dan bikin passport. Hal pertama dan kedua masih bisa dibikinkan strategi supaya tidak terlalu membawa bencana. Hal ketiga…well

Passport kedua saya sebenarnya sudah expired sejak setahun lalu. Dan mengenang perjuangan membuat passport pertama dan kedua tersebut cukup untuk bikin saya terkapok-kapok untuk balik ke kantor imigrasi lagi. Bukan hanya soal antrinya yang dari kantor belum buka sampai kantor tutup -pun masih harus bolak balik!- juga karena dua kali datang menyerahkan dokumen ke petugas resmi selalu dikembalikan dokumennya dan ditambahkan kalimat ‘Lebih baik pakai calo supaya bisa selesai.’ Yup.
Toh, seperti juga laporan pajak tahunan itu, suka nggak suka, trauma nggak trauma, akan ketemu saatnya kita harus membuat/memperpanjang passport.

Seperti hari ini.
Continue reading

Gender dalam Secangkir Minuman

Pulang kantor tadi, si Papap mengajak melipir ke salah satu resto steak di daerah Cibubur. Di dalam, sang pelayan laki-laki sigap mencatat pesanan saya, yang salah satu pesanannya berbunyi:
“Cappuccino, hot, satu. Teh panas, satu, gula dipisah ya.”

coffee teaPesanan minuman saya dan Papap datang lebih dulu dibawa oleh pelayan yang sama yang sebelumnya mencatat semua pesanan kami.
Cangkir teh dan gula cair turun duluan dari nampan. Tanpa ragu, si pelayan menaruh cangkir teh dan gula persis di depan saya. Selanjutnya giliran cangkir Cappucino yang turun langsung diletakkan -tanpa ada keraguan barang sebiji pun- di depan Papap yang duduk di hadapan saya.

Seperti yang sudah-sudah, si Papap yang selalu kalem menunggu semua cangkir turun, kemudian meraih cangkir kopi dan menaruhnya di depan saya. Selanjutnya cangkir teh diraihnya ditarik ke depan hidungnya.

Selalu. Setiap kali. Entah saya atau Papap harus menukar posisi minuman kami di restoran apabila pilihannya adalah kopi dan teh, kopi dan soda, kopi dan air putih, kopi dan jeruk hangat… Selalu. Setiap kali, pelayan kami akan bersuara aneh, “eemmmeennnggghhhmmm” yang akan diikuti dengan, “oh. Maaf.”

Entah kapan mulainya secangkir minuman jenis tertentu bisa identik dengan gender tertentu.

Kemudian saya jadi mikir sendiri, kenapa saya gak bisa mikir isu gender dalam konteks yang lebih penting, seperti Kartini…..

Selamat datang April!

Gambar diambil dari sini.

The Hero has Returned Home

Ingatan saya akan Eyang Kakung terbagi dalam tiga seragam: seragam tentara PETA yang foto buramnya terpajang di dinding rumahnya, seragam safari yang selalu dipakainya setiap kali bepergian, dan seragam Jawa lengkap dengan kain, beskap, dan blankon yang dipakainya setiap kali ada acara adat. Dengan 10 anak, puluhan cucu, dan beberapa beberapa cicit, Eyang Kakung cukup sering memakai pakaian Jawi Jangkep lengkap.
Continue reading

Bahagia Tidak Sederhana

Allergic to LifeMungkin saya sedang tidak mood. Atau sedang nyinyir tingkat dewa. Atau sedang merasa penuh dengan hidup. Atau mungkin sedang manja aja. Atau mungkin juga karena tengah malam ini saya tidak bisa tidur karena leher kiri saya salah urat padahal saya sudah kangen bantal dan kasur. Tapi sekarang ini kalau ada orang yang bilang di depan muka saya ‘Bahagia itu sederhana, man!’ rasanya saya pengin sepak. Tendang jauh-jauh ke kotamadya yang katanya gak ada di peta Indonesia itu.

Bahagia tidak pernah sederhana. Being happy is a conscious decision. Elo, elo, dan elo, harus punya kesadaran, komitmen, usaha untuk merasa bahagia. Elo, elo, dan elo, harus berusaha menyingkirkan semua pikiran dan emosi negatif, sedih, marah, kekecewaan, untuk bisa merasa bahagia. Sederhana? Cuma warung makan padang yang sederhana!

“Tapi gue kemarin pas lagi bokek terus nemu duit di kantong yang udah lamaaaaaaaaaaaaa banget keselip, gue bahagia banget! Sederhana kan?”
Itu namanya seneng. Bukan bahagia.
“Tapiiiii kemarin itu pas gue lagi sakit, terus anak gue yang baru tiga tahun bilang ‘Mah, cepat sembuh ya. Aku sayang Mamah’ terus gue rasanya bahagiaaaaaaa banget.”
Ya, bahagia lo kan hasil dari mendidik anak lo jadi penuh empati dan kasih sayang. Emang sederhana gitu mendidik anak?
“Tapi, tapi…”

Bahagia tidak pernah sederhana. You’ve got to work on it. Elo perlu usaha.
Can you reach it? Pursue it? Seperti kata Obama, “Yes, we can.”
Still. To be happy is never a simple process.

#edisinyinyirtingkatdewa

Saya. Kangen. Menulis

Blog ini sudah berdebu.
Dan mungkin mengecewakan banyak pengunjung yang hanya disuguhi cerita-cerita lama.
Salam-salam pun tak terbalaskan.
Semua karena alasan…tidak ada waktu menulis.

Ah. Waktu.
Alasan yang klasik. Dan biasanya basi.

Sejak dulu, sejak SD, saya menulis karena menulis membebaskan (perasaan) saya.
Dari rasa terlalu penuh. Penuh bahagia atau penuh sedih. Penuh kesal. Penuh.
Menulis membuat saya menemukan perspektif. Yang paling mendasar, menulis membuat saya jujur pada perasaan saya yang tidak sanggup saya hadapi sendiri.
Ibu saya, si Mami, pernah sampai menangis membaca tulisan saya di diary sewaktu saya SD. Menangis karena saya jujur menuliskan perasaan kecewa saya saat itu. Si Mami bilang saya harusnya bicara kalau merasa kecewa. Yang si Mami tidak tahu di luar sana saya tidak sanggup memperlihatkan rasa kecewa. Seakan-akan saya membiarkan diri saya kalah. Itu waktu saya SD. Bayangin tuanya saya.

Sampai beberapa waktu lalu menulis masih tetap membebaskan.
Sampai suatu saat perasaan-perasaan saya terlalu sakit, terlalu gelap, terlalu menyedihkan untuk dituliskan.
Dan kebebasan itu menjadi suatu yang mengerikan.
Saya takut saya tidak bisa mengendalikannya.

Saat ini saya tahu. Bukan (ketidak adaan) waktu yang membuat saya tidak menulis.
Tapi kekuatan sekaligus kepedihan kegelapan keresahan sebuah tulisan yang membuat saya menahan diri.
Saya membiarkan diri saya tidak bebas. And it is so painful.

Sekarang saya kangen menulis.