Youth is Wasted on the Young

Malam minggu ini kami habiskan dengan makan malam sampah-tapi-enak di salah satu gerai siap saji dekat rumah. Si Papap yang baru pulang dari Surabaya tidak berdaya dirayu Hikari dan -terutama- Aiko untuk jajan di resto ayam Pak Kolonel. Padahal aslinya si Papap paling males makan menu selain nasi putih ngepul, ikan goreng, lalapan, sambal terasi. Tapi semua rasa malas itu luluh dengan manjanya rayuan Aiko dan naggingnya Hikari yang mirip kaset rusak.
Continue reading

Yang Tersisa dari Edisi Ramadhan

Lebaran sudah lewat. Apalagi bulan puasanya. Saya sedang merapikan photo album di hape sewaktu menemukan foto-foto ini: Papap sedang buka puasa di pinggir jalan. Iya. Di pinggir jalan. Kalau jamaah bukberiyah punya tradisi bukber di resto berbeda dalam 30 hari puasa, maka tradisi Papap selalu setiap bulan puasa adalah buka puasa di atas motor di pinggir jalan, entah sendirian atau berdua saya.

Duluuuu sewaktu jadwal pulang kantor kami berdua saat bulan puasa hampir sama, Papap akan jemput saya ke kantor. Lalu kami berboncengan, naik motor, menyusuri jalan pulang sambil mengukur kira-kira saat adzan Maghrib kami akan berada di daerah mana. Ketika sudah memasuki detik-detik favorit umat yang berpuasa itu, Papap akan menghentikan motornya di tukang gorengan dan tukang minuman. Kalau pas dapat warung minum atau gorengan yang nyaman ya rejeki. Kalau sedang kurang beruntung, ya kudu ikhlas berbuka dengan teh botol dan kuaci hehehe…. Kami tidak pernah masuk ke resto menengah-besar untuk buka puasa karena itu artinya membuang waktu di jalan. Tapi Alhamdulillah rasanya seneng aja sih bisa buka puasa seperti itu. Gak perlu antri parkir dan rebutan bangku resto.
Continue reading

All is well. At least they will be eventually.

Been trying to keep my head above the water of mood swing. Out of the blue, I received a picture of a friend who is under chemotherapy regime for breast cancer. She is all with wide grin on her face. She is the road lamp novotelone who made the time to buy me a book about OCD (which I haven’t finished reading) when traveling abroad. She suffers from OCD and bipolar for years. Her picture as if tells me everything will be ok. I will be ok, eventually. I will just have to keep remembering that.

When a Mom has to Choose. 

IMG-20110822-00180Aiko refused to go to bed. She insisted in playing her thing on iPad though her eyes looked tired and it loooong passed her bed time. When I firmly took away the gadget and told her to go to bed, she cried. Sobbing, she said, “I want to be with you.”

I didn’t get it at first. She kept saying -while crying- she wanted to be with me. So, I said, “I am WITH you. Why are you saying that?”

And Aiko answered, “Mamam was busy cleaning the house. I am waiting for you to go to bed. I want to be with you.”

And she cried again. 

I thought her being accompanied by her dad and brother was enough while I did all those unavoidable house chores. It isn’t. 

She wouldn’t stop sobbing. So, i hugged her and seconds after that she fell asleep in my chest. 

Who says only working moms have to choose between work and time for the kids. I am on my annual leave, am staying home, and still have to choose between making the house looks decent or ‘being’ with the kids. 

Saatnya Menangis Di Bawah Hujan

Sudah lama sebenarnya saya ingin menulis tentang ini. Kira-kira sejak 3 tahun lalu. Tulisan ini menjadi semacam hutang saya terhadap beberapa teman dan juga kepada diri saya sendiri. Hutang untuk mungkin bisa membantu orang lain yang berada di perjalanan yang sama seperti saya. Ohya. Tulisan ini akan jadi panjang dan mungkin bersambung. You have been warned 🙂

Hampir tiga belas tahun yang lalu setelah saya melahirkan Hikari melalui proses panjang, menyakitkan, melelahkan, dan traumatis, saya sempat mengalami kondisi di mana saya menangis sama seringnya dengan Hikari menangis dan saya tidur sama jarangnya dengan Hikari tidur. Badan saya lemah karena proses kelahiran yang berat (and don’t dare get back to me saying all delivery is hard). And Hikari was not an easy baby. Ditambah sifat saya yang maunya serba perfect, serba rapi, serba sesuai aturan membuat kondisi tidak menjadi mudah. Di bulan-bulan pertama kelahirannya, Hikari terus terbangun di jam-jam luar biasa, jam 2, jam 3. Menangis tidak berhenti sampai dua jam kemudian. Kalau pun dia bisa tertidur karena dia ada di gendongan saya. Maka bermalam-malam, saya tidur duduk sambil menggendong dia dengan jarik. Saat-saat tengah malam itu, saat-saat saya melihat orang lain bisa tidur sementara saya harus menggendong Hikari, saya akan menangis tidak berhenti. I thought I was in my lowest point. Nine years later I found out it could be lower than lowest. Dengan Hikari, saya menjadi over protective sekaligus menjadi over sensitive. Dan saat itu saya tidak punya support system yang baik. Hanya ada saya dan Papap sebagai ortu baru, dan orang tua yang tidak berhenti bingung. Yang bisa membuat saya bangkit lagi karena dukungan si Papap yang tidak pernah berhenti. Orang-orang yang mendengar cerita saya bilang saya terkena baby blues. Tapi pada suatu kali di sebuah forum, seorang dokter kandungan laki-laki berkata baby blues hanyalah mitos. That is very comforting coming from someone who never gives birth 😀
Continue reading

Hidup itu Seperti Rute ke Kantor

Hidup itu seperti rute jalan yang saya ambil dari rumah untuk bisa sampai di tempat kerja, di Jakarta.

Tadi pagi saya bangun tidur dengan kaget gara-gara hape yang selalu saya taruh di bawah bantal -berfungsi sebagai alarm- bunyi kencang sekali. Suara nyaring Ken Hirai menyelepet saya sampai bangun. Rupanya si Papap menelpon dari Bandung.
“Mam, lagi di bis ya?”
Bis? Bis apa? Bi…s?
O MAI GAAAD SAYA KESIANGAN BANGUN!

Bukannya menjawab pertanyaan si Papap saya malah jejeritan di hape. Sudah pukul 6:30 pagi dan saya masih di tempat tidur.
Setelah telpon mati, saya tidak segera bangun. Mandi atau balik tidur lagi ya? 

Bukan. Ini bukan persoalan malas. Ini adalah logika berpikir logis. Jalur perjalanan dari rumah saya di perbatasan Bekasi-Bogor-Jakarta ke pusat Jakarta pada jam 5:30 sampai jam 9:00 adalah jalur neraka jahanam. Jam 6:30 saya baru bangun sementara jam 8 pagi sudah harus absen jari adalah suatu wishful thinking, kecuali saya punya Pintu Ajaibnya Doraemon. Bila saya paksakan berangkat jam 7 pun, baru 2.5-3 jam kemudian sampai di kantor. Lalu buat apa datang bila hanya untuk pulang 6 jam kemudian? Iya kan?
Continue reading

Because We are Not the Duchess of Cambridge

IMG_5160.JPG

Every woman who has the experience of giving birth KNOW that no matter how brave, how difficult, how noble, how near-dying the process of giving birth is, looking pretty and gorgeous is not included in the whole process. You’d look anything, anything, but pretty! And everybody knows that. The doctor, the nurses, the relatives, THE father, they know it. In the birth delivery process, a woman’s mission is to deliver a baby in healthy shape. Some women manage to look pretty after a week or two, after a visit to the salon, but most women would have to endure looking like a wreck longer. But! But, the Duchess of Cambridge who just delivered her second child has set the standard so high for somebody who just delivered a baby less than 12 hours earlier. It was as if she was admitted to the hospital for a baby shopping!
Continue reading

10 Tahun yang Lalu

mariskova 10 years ago
Di pagi yang santai di kantor saya iseng berselancar ke masa lalu. Ke blog pertama saya yang infamous itu. Saya klik tahun pertama saya ngeblog dan langsung ketawa geli membaca postingan-postingan awal saya yang cetek-cetek itu. Dengan ‘cetek’ maksud saya semua ditulis segala yang gak penting ditulis. Kemudian saya sampai pada postingan di tanggal 30 April. Persis hari ini, tapi sepuluh tahun yang lalu. Apa sih yang saya tulis?

Some things in this life don’t change.

Sepuluh tahun lalu saya bercerita tentang kemampuan memasak saya yang pas-pasan sampai terjadi insiden terkena minyak panas. Sepuluh tahun setelah itu? Kemampuan masak saya masih pas-pasan sekarang pun 🙂

Di kantor saya yang duluuuu, ada pepatah yang selalu dipakai trainer untuk menyentil orang-orang setiap kali ada professional development training.

A teacher with one year of service but ten years of experience and a teacher with ten years of service but one year of experience.

Nah, saya masuk ke kategori kedua: sudah sepuluh tahun usaha memasak tapi tetap dengan kemampuan amatir satu tahun 😀

Oh iya, sudah lihat postingan kamu sepuluh tahun lalu?