Waktu teman saya curhat soal kewajiban membawa oleh-oleh dan kemudian minta diantar ke Paddy‘s untuk beli oleh-oleh, saya spontan menyinyiri karena nyinyir itu lebih mudah daripada membantu mencari solusi. Sebagai orang yang jarang membawakan oleh-oleh, saya lantas menyebutkan pasal 335 ayat 1 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan dengan membawa meme berikut sebagai landasan pengetahuan saya π .

Tapi teman saya ini lebih takut dikutuk jadi batu bila pulang kampung tanpa oleh-oleh daripada uang sakunya habis.
“Makan masih bisa minta teman. Hitung-hitung diet. Kalau oleh-oleh masa’ minta teman?”
Lalu dia nambahin. “Sebaiknya strategi alokasi uang saku itu kita belanjakan oleh-oleh dulu sampai puas baru sisanya kita pakai hidup selama di sini. Bukan sebaliknya, bujet oleh-oleh malah sisa uang saku. Dapat apa kita?!”
Dapat lapar dan jadi gelandangan di mari sih. Yakali bisa begitu mikirnya π .
Continue reading


Walaupun saya baru berlatih yoga selama 2 bulan, sebenarnya saya sudah sering dirujuk beberapa teman untuk belajar yoga. Dirujuk, sampai dibujuk.
Obrolan ngalur ngidul dengan teman yang mantan jurnalis lapangan internesyonel berujung di pertanyaan, “kapan tulisan lo terbit lagi, De?”
Setelah sempat 2 bulan teratur latihan yoga, akhir Oktober kemarin menjadi penanda melorotnya performa yoga saya *halah*