Tepuk Pramuka

Kalau ada hal yang tidak berubah di negeri ini selama 50 tahun salah satunya adalah seragam Pramuka yang coklat muda coklat tua itu. Mau dipakein dasi merah putih, dikasih topi anyaman, digantungin tali dan pisau di pinggang, teteeeep gak bisa bikin saya dan kulit hitam saya jadi lebih cakep. Dari dulu saya heran kenapa seragam pramuka kita gak berwarna biru seperti laut karena toh nenek moyang kita orang pelaut. Atau hijau seperti pohon karena Indonesia negara agraris. Tapi terlepas dari warna seragam Pramuka yang gak iFriendly (baca: friendly dengan I), saya harus mengakui bahwa tahun-tahun saya ikut kegiatan Pramuka adalah periode yang menyenangkan buat saya.

Jaman saya sekolah dulu -yang tentunya dimulai dari TK- kegiatan Pramuka di sekolah hukumnya wajib kudu. Bukan cuma wajib tapi juga kudu ada karena Pramuka adalah sejatinya propagandanya orde baru untuk membuat para pemuda-pemudi bangsa ini loyal kepada negara (baca: rejim). Jadi, tidak ada freewill. Yang ada setiap hari Sabtu, semua anak -mau anggota atau bukan- harus jadi anggota dan harus pakai seragam Pramuka ke sekolah. Baru saat saya SMA dan mulai melek warna, keanggotaan Pramuka menjadi sukarela.

Continue reading

Cobaan

Bulan puasa identik dengan bulan cobaan.
Kalau dipikir-pikir, setiap Ramadhan mendatangkan cobaan yang berbeda-beda buat saya.
Ada saat di satu bulan Ramadhan cobaan buat saya adalah pengen nyekek orang. Ada juga 29 hari puasa, cobaannya itu bener-bener cuma lapar dan haus. Padahal, saya jenis orang yang jarang merasa lapar dengan konsekuensi badan saya saingan dengan tiang bendera. Tapi, mungkin juga cobaan lapar dan haus itu terjadi karena saya disumpahin temen-temen yang dongkol dengan berat badan kelakuan saya yang sering makan banyak di depan mereka tapi berat gak naik-naik.

Continue reading

Tes Kepribadian

Pernah dengar teori yang mengatakan kalau kita ingin mengetahui kepribadian seseorang, kita harusnya melihatnya saat menyetir? Bukannya saya tak percaya teori ini, tapi agak susah juga menerapkan teori ini pada orang-orang yang tak bisa menyetir. Sebaliknya saya mempunyai teori yang agak berbeda. Saya malah percaya bahwa kepribadian seseorang bisa terlihat dari caranya duduk di kursi penumpang di sebelah pengemudi. Teori ini saya dapatkan setelah bertahun-tahun menjadi supir orang tua saya.

Continue reading

You are what you think. Really?

Walau belum pernah mencoba, saya punya insting saya gak cocok ikutan yoga. Alasannya sederhana: salah satu instruksi di yoga adalah kosongkan pikiranmu.

Sumpah deh saya bisa mengosongkan apapun kecuali pikiran. Kalau kepala saya dipasangi kabel yang tersambung ke toa, anda pasti pusing dengar seliweran isi kepala saya karena bunyinya akan mirip dengan radio mobil yang frekuensinya diacak alien. Seperti di film-film.

Continue reading

Blak-blakan

Saya selalu ketawa ngakak lihat iklan Joni Blak ini. Ngakaknya karena dua alasan: satu, iklan ini selain konyol punya pesan yang nyentil banget, dan dua, iklan ini bikin saya berkaca.

Jadi ceritanya ada pemuda kampung bernama Joni. Sejak kecil dia sudah di ‘ramal’ kan akan menjadi orang yang blak-blakan. Yang paling lucu adalah adegan sewaktu Joni kecil diberitahu kakek-kakek soal blak-blakan dia:
Kakek: Joni, kamu nanti akan menjadi orang yang blak-blakan.
Joni: Pak, ada upil!

Bener aja, gedenya, jadilah si Joni itu orang yang blak-blakan ke semua orang kampung.
Ada adegan di musholla dimana ada satu bapak yang badannya ditutupi sarang laba-laba saking lamanya berdoa minta kaya. Si Joni dengan blak-blakannya bilang, “Jangan cuma berdoa doang, Pak. Usaha juga.”

Singkat cerita, akhirnya dia dimusuhi satu kampung sampai harus kabur untuk menghilang. Loh kok, orang yang benar malah harus kabur dan menghilang? Endonesah banget gak seeeh?

Iklan lucu ini kena banget pesannya. Nyentil. Jadi orang blak-blakan itu seringkali nganter nyawa. Jarang ada yang suka walau pesannya benar 100%. Kenapa saya teringat diri sendiri? Soalnya, seringkali mulut saya blak-blakan lebih cepat dari otak saya. Mirip si Joni. Mudah-mudahan saya gak perlu sampai harus kabur dari orang sekampung karena saya sudah sering harus kabur dari orang tua sendiri….

“Emaaak, ampuuuun!”

Joni Blak Blak

#indonesiajujur: Ketika Orang Tua Bermuka Dua

Seorang teman saya di twitter menulis begini:  “Ini orang2 pada ngutuk yg nyuap hakim, jaksa n polisi… coba ntar itu orang pada kena kasus… sama aja bakal nyuap aparat jg.”

The road to the light is lonely.Sedih dengarnya? Iya. Tapi ada fakta disitu.
Berapa kali kita -orang dewasa- teriak-teriak anti korupsi, ganyang koruptor, tolak pejabat koruptor, tapi begitu kita harus berhadapan dengan situasi dimana keberanian kita diuji, kita menjadi terbata-bata?

Tunggu. Apa ini artinya saya memaklumi korupsi?

Continue reading

A Closure

After almost 13 years of working at the same place, dealing with the same people, living the same culture, I was finally assigned to a different unit. It’s not really entirely a new unit for me since long long time ago I once also worked there part-timely for 2 years. And honestly, the place where I’ll be working is still at the same building only different floor. Still, the new assignment came as a shock for me. Not to mention it came to me in a short notice. Not to mention at the same time I was also preparing for my 3-month maternity leave, starting right then.

Later I found out I was not the only one who got new assignment. From the same office, there were 2 others in higher position than me who got to leave to a new place. From the whole organization, there were dozen of others, in the name of restructuring. Apparently, I was not the only one who was shocked by the new assignment. Don’t get me wrong. This assignment doesn’t bring harm to my career at all in any way. But when you were given a short-notice assignment after 13 years of service in one place, you couldn’t help being shocked. Plus, from the 3 people leaving, I am the only one with longer history in that place. And when I say history, I mean real history. So, there I was, on my last day, standing in front of my office room, closing the door while trying to inhale the last smell of the room, and thinking… I hadn’t said goodbye to my 13 years of history.

Continue reading

Atur aja deh!

Barangkali sudah bawaan oroknya masyarakat kita untuk selalu ingin terlibat di hidup orang lain. Sebut saja itu adalah wujud dari perhatian luar biasa kepada kita, atau wujud kasih sayang kepada kita, atau sekadar menunjukkan tingkat selebritas kita. Kalau anda mengikuti cerita-cerita di blog saya sebelumnya, anda pasti ingat bahwa selama hampir 9 tahun ini perhatian yang tertuju kepada saya adalah dalam bentuk pertanyaan, “Kapan punya anak lagi?”

Continue reading