Sebagai warga Jakarta pinggiran tulen, ada 3 hal yang sebisa mungkin saya hindari: makan di lapak Amigos (agak minggir got sedikit), macet akibat banjir, dan bikin passport. Hal pertama dan kedua masih bisa dibikinkan strategi supaya tidak terlalu membawa bencana. Hal ketiga…well…
Passport kedua saya sebenarnya sudah expired sejak setahun lalu. Dan mengenang perjuangan membuat passport pertama dan kedua tersebut cukup untuk bikin saya terkapok-kapok untuk balik ke kantor imigrasi lagi. Bukan hanya soal antrinya yang dari kantor belum buka sampai kantor tutup -pun masih harus bolak balik!- juga karena dua kali datang menyerahkan dokumen ke petugas resmi selalu dikembalikan dokumennya dan ditambahkan kalimat ‘Lebih baik pakai calo supaya bisa selesai.’ Yup.
Toh, seperti juga laporan pajak tahunan itu, suka nggak suka, trauma nggak trauma, akan ketemu saatnya kita harus membuat/memperpanjang passport.
Seperti hari ini.
Continue reading



