Majalah bz! Blogfam

Majalah bz! Blogfam hadir lagi setelah sempat vakum beberapa tahun.

Di tahun 2012 ini, Blogfam ingin menggiatkan kembali kegiatan ngeblog teman-teman, baik anggota Blogfam atau bukan dengan cara salah satunya menghidupkan kembali majalah bz! Blogfam. Majalah bz! Blogfam mulai terbit kembali bulan Februari 2012 ini dengan susunan redaksi yang baru.

Silahkan berkunjung ke rumah Blogfam untuk mengunduhnya 🙂

The Rubber Band Theory of Friendship

rubber_bandThese couple of weeks, I have been doing some analysis about friendship. Having observed some people, I think this job of friendship-analysis might find its market. Who knows I could sell my theory of friendship to a motivational speaker?

What I’ve found is friendship is like a rubber band. New, it is still tight and can hold multiple items together in just one tie.

Used frequently, it becomes loose and you have to tie some items several times. Like humors in a circle of friends; you no longer know the differences between a joke and a sarcastic comment.

Left without being taken care of, the rubber band becomes dry and easily broken off.

When it is no longer good, you throw it away and find a substitute. Rubber bands are easy to find and come with many colors. Get a new one and you hardly remember you have an old one.

Continue reading

Posisi Menentukan Prestasi

lantai 4Ada orang baru  di unit saya yang lama. Yang saya maksud lama itu kira-kira 4 tahun lalu, saat ruangan saya masih di lantai 4 sebuah gedung berlantai 6. Iya, sudah dua minggu ini ada orang baru di unit saya yang lama. Ada 4 cubicle dari 8 cubicle di tempat itu yang dia bisa pilih untuk dia tempati.  Salah satu cubicle yang seharusnya kosong adalah bekas cubicle saya.

Seharusnya? Loh kok seharusnya?

Setahun setelah saya diberi cubicle itu, saya diberi tugas baru yang membuat saya mendapatkan ruangan baru di lantai 2. Ruangan baru saya lebih besar. Kalau cubicle saya di lantai 4 itu mau saya turunkan ke ruangan di lantai 2 pun masih sisa setengah ruang kosong. Tapi toh saya tidak juga mengosongkan cubicle di lantai 4 itu. Alasannya? Selain malas ngangkutin barang printilan yang ternyata banyak, cubicle di lantai 4 itu punya pemandangan yang luar biasa: ke arah jalan raya di depan kantor. Sungguh oase di tengah tumpukan kertas yang menggunung.

Sewaktu 4 tahun lalu saya disuruh memilih cubicle, ada beberapa cubicle yang kosong yang bisa saya pilih. Saya pilih justru yang di paling ujuuuuuuuuung koridor, di pojokan, dan di sebelah jendela besar berhiaskan pemandangan lalu lintas. Continue reading

Trust Only Yourself

Saya dan Hikari sedang menunggu pesanan makan siang kami datang ketika saya dan puluhan orang lain yang sedang bersantai di kolam renang sebuah Family Park dekat rumah mendengar jeritan histeris seorang ibu. Ibu yang baju renangnya masih basah kuyup itu menjerit-jerit di pinggir kolam meminta tolong dengan kepanikan luar biasa. Jarak saya dan ibu itu sekitar 10 meter dibatasi oleh pembatas kaca antara restoran dan pelataran kolam renang. Si ibu menunjuk-nunjuk ke dalam kolam renang dengan histeris.

Dari dalam kolam renang, seorang bapak muncul menggendong sosok anak perempuan kecil yang sudah terkulai layu. Layu tidak bergerak dengan posisi wajah menghadap ke bawah. Sontak orang-orang bergegas mendekati si ibu yang semakin histeris berteriak minta tolong dan anaknya yang tidak bergerak. Di restoran terbuka tempat saya duduk hanya ada satu keluarga lain yang sama syoknya dengan saya. Spontan saya berteriak, “Satpam! Mana satpam? Petugasnya mana? Mana?” Yang saya temukan hanya wajah-wajah bengong beberapa petugas restoran perempuan. Saya hardik seorang petugas perempuan yang memegang HT. “PETUGASNYA MANA?! PANGGIL PETUGASNYA KESINI!”

Anda tahu apa jawabnya, “Gak ada petugasnya, Bu.” Continue reading

Tentang Galau…

Seringkali saya merasa terlalu tua untuk merasa galau. Bukan kah galau itu milik anak belasan tahun berkostum Cherrybelle dan Sm*sh? Tapi ternyata galau itu memang gak pandang bulu, eh, umur. Saya yang sudah dewasa ini pun bisa terserang galau.

Galaunya orang dewasa dengan galaunya ABG tentu berbeda. Saya iri dengan galaunya ABG. Mereka galau karena hal-hal yang romantis: pacar gak jadi datang, pacar telat datang melulu, pacar diambil orang, atau yang paling dahsyat yaitu malam minggu gak punya pacar. See! Walau galau, mereka tetap romantis. Macam sinetron-sinetron Korea gitu lah. Ditinggal pacar pun terasa romantis.

Continue reading

If I Knew…

If I knew I would die tomorrow, what would I do today?

1. I’d get down on my praying mat for hours asking God to forgive my mistakes, my children’s mistakes, my husband’s mistakes, my parents’ mistakes, my brothers’ mistakes and all my loved ones’.

2. I’d write a long letter for each of my children telling them how much I loved them. The letter would be long enough for them to read it on their birthday every year.

3. I’d circle the last date on the calender and write “I love You and Forgive Me”.

…………….

After all is said and done, life is all about forgiveness and love.

Kantor Pos

Hari masih pagi sewaktu saya lewat di depan kantor pos di sebuah komplek tentara. Kantor pos di pojokan jalan itu kecil dihiasi cat kusam dan taman kering kerontang. Bendera yang terpasang di tiang di depan kantor pos pun sepertinya sudah lama tidak mencium air bersih dan sabun. Sejak saya kecil -dan sering datang kesitu- sampai sekarang, pelayanan kantor pos itu standar saja. Pegawainya baik hati tapi jangan tanya apa kantor itu punya jasa EMS dan sejenisnya. Jadi maklum lah kalau kantor itu lebih banyak kosongnya daripada ramainya.

Kecuali di awal bulan.

Hari ini masih hari kelima di awal bulan. Hari Senin. Saya harus melambatkan mobil karena keramaian di depan kantor pos. Satu demi satu orang-orang sepuh berjalan tertatih-tatih menuju kantor pos. Banyak juga yang sudah berkerumun di depan pintu. Beberapa turun dari angkot kawasan berwarna biru, beberapa turun dari boncengan motor. Jarang ada yang turun dari mobil. Mereka semua punya tujuan satu: mengantri uang pensiun.

Continue reading

21 February

Hari ini saya turun gunung. After weeks of lazying around, postponing writing my blog, today I made it my mission to write a piece. And that’s all because of one girl, Fitri Mohan.

Today is her birthday. I have started to write her a special birthday blog post for her since 4-5 years ago. Why? Tons of reasons.
– She is far. I cannot send her a birthday gift. (and yes, the postal fee is expensive)
– She is special. I cannot find any appropriate gift that can show how special she is. (and yes, the postal fee is expensive)
– She is… Well, I have a thousand reasons why I always write a blog post for her birthday gift every year. And one of the reasons is because I love her.

Until this part, people usually think…
– We are related. We belong to the same family tree. We kinda look similar, eh?
– We are old friends. Elementary, Junior high, Senior high, university friend, perhaps?
– We are twins. Who knows?
– We have somehow met somewhere, probably in a hospital when we got sick at the same time?

The answers to those questions are no, no, nope.

We are not related, although we both are pretty by nature.
We are not friends from school. What school?
We are not twins… ehem…
We haven’t -let me repeat- have not ever met before in our life!

TRUST.
It was trust that brought me closer to her.
When we stayed till late at nights.
When we discussed things only friends shared.
When we wrote a story together in a blog we called ‘We can do more than drafts”.

But how can we have trust while we haven’t even met?
Yeah, right. Like you haven’t heard of virtual shop, virtual dating, virtual network before…

So, today, I’m going to say again what I’ve been saying for the past 5 years.
HAPPY BIRTHDAY, Nek!
Thank you for your friendship.
My best wishes always for you.

ps: I’m so sorry this year I couldn’t keep my promise to take you to every Pesta Blogger I attend.