Kelas Inspirasi II: Membebaskan Mimpi

20130222-031815.jpg
Jam 5 pagi di hari Rabu tanggal 20 Februari yang dingin sebuah taksi berwarna putih sudah parkir manis di depan rumah saya. Satu setengah jam sebelumnya di luar kebiasaan saya sudah bangun dan mandi, walapun baru tidur empat jam sebelumnya. Baru saja saya pasang sepatu di teras, hujan deras tiba-tiba turun seakan ingin menyapa.

Jalanan Cibubur di tengah hujan jam 5 pagi ternyata sudah ramai. Hujan tiba-tiba berhenti dan membuat langit sedikit terang. 30 menit kemudian saya sudah sampai di daerah Fatmawati. Jam 05:30 saya sudah sampai di Fatmawati! Hari-hari biasa saya sih masih kemulan di kasur sampai kira-kira 3 jam kemudian 🙂

Belum juga jam 6 pagi saya sudah berdiri dengan cengiran lebar di depan plang sekolah dan pagar besi yang masih tertutup rapat. Langit masih gelap dan lampu neon yang menerangi plang sekolah SDN Gandaria Utara 07 Pagi masih menyala terang. Seorang Bapak datang tergopoh-gopoh membuka pintu gerbang sekolah untuk saya. Belum ada yang datang, katanya. Dan cengiran saya semakin lebar. Saya memilih duduk di depan kantor Bapak tadi -pos satpam- sambil mengobrol dengannya. Coba bayangkan, untuk mengajar 1 hari saja, saya harus bersiap dari jam 4 pagi untuk sampai di sekolah sebelum jam 06:30. Bayangkan para guru yang sehari-hari harus mengajar! Setiap harinya mereka harus berangkat begitu azan Subuh selesai berkumandang! Langsung sebel sama Foke yang bikin aturan jam sekolah jam 06:30!

Sebelum jam 7 saya dan teman relawan dari Kelompok 7, Purbo, sudah siap di ruang kelas tempat murid kelas 3 dan kelas 4 duduk lesehan di karpet. Sesi pertama ini saya akan menjadi pembuka bagi Purbo, seorang programmer, untuk menjelaskan profesinya. Murid-murid duduk berdekatan dan berbisik-bisik ingin tahu melihat Purbo mengutak-atik laptopnya. Cengiran Purbo terlihat melebar. Laptopnya tidak bisa konek ke LCD projector 🙂 Untung lah beberapa menit kemudian Purbo sudah bisa memulai presentasinya dan kami memulainya dengan bercerita tentang Angry Birds!

Sesi berikutnya, saya pindah ke kelas 5 dan 6 yang duduk lesehan juga di satu ruangan kelas yang telah disulap menjadi ruang pertemuan. Saya bahagiaaaaa luar biasa karena profesi Penulis bukan hal yang asing buat mereka. Jadi kan saya gampang ngejelasinnya hehehe…. Yang membuat saya bahagia lagi adalah saat saya meminta anak-anak untuk menjelaskan apa manfaat profesi penulis bagi masyarakat, tangan-tangan kecil serentak mengacung ke atas. Tanpa saya dikte, anak-anak ini tahu apa fungsi Penulis di masyarakat.
“Supaya orang-orang bisa membaca.”
“Supaya pintar, Kak. Kan mendapat ilmu pengetahuan.”
“Supaya bisa tahu berita.”
Semua dapat hadiaaaaaaaaaaaaaaah!

Di sesi ketiga saya mendampingi seorang dokter bedah, Dokter Sumarsudi, yang bercerita tentang profesi dokternya. Kakek berusia 81 tahun ini mampu membuat anak-anak ternganga dengan peralatan prakteknya: contoh gigi dan gusi, stetoskop, bahkan trik sulap dan permennya 🙂

Di akhir seluruh sesi, kami meminta anak-anak untuk menuliskan cita-cita mereka di selembar kertas post-it lalu menempelkannya di depan kelas. Saat itu juga kami melihat ada top three jobs yang dipilih anak-anak: Dokter, Guru, dan Polisi!

9 orang relawan Kelompok 7 dan 2 orang fotografer langsung terduduk lemas di ruang kepala sekolah begitu seluruh sesi Kelas Inspirasi II selesai dan anak-anak sudah pulang. Ini yang ada di kepala kami:
1. Mengajar 6 jam saja persiapan dan perlengkapan kami luar biasa ribet dan banyak. Bagaimana dengan para guru yang harus mengajar 6 jam lebih SETIAP HARI! Mengajarnya sih ‘cuma’ beberapa jam. Perencanaan mengajarnya itu juga butuh waktu untuk dipikirkan dan dibuat. Semua itu harus dilakukan di tengah-tengah urusan hidup mereka sehari-hari.
2. Mengajar anak-anak SD yang satu kelasnya 30-40 anak selama 6 jam saja badan rasanya rontok. Apalagi para guru yang harus menjalaninya setiap hari! Suara saya yang sebenarnya sudah stelan guru aja, masih bisa hilang, cuy!
3. Di tengah-tengah menjelaskan ini itu, tiba-tiba ada teriakan, ada tangisan, ada rebutan ini itu, dan kami hanya harus menghadapi itu semua selama 6 jam saja! Bayangkan para guru -yang di rumahnya juga pasti punya masalah ini itu- harus berhadapan dengan anak-anak yang super aktif. Dari mana mereka bisa mencari cadangan kesabaran?

Ya, 6 jam pengalaman berbagi di Kelas Inspirasi ini membuka mata kami. Pendidikan adalah tanggung jawab kolosal. Apa masih berani kami menyalahkan guru-guru (saja) setelah merasakan sendiri beban mereka? Apa masih berani kami lepas tangan tidak memikirkan anak-anak ini yang masa depannya masih panjang dituliskan untuk mereka setelah melihat betapa mereka penuh semangat, penuh mimpi, penuh kecerdasan?

Sekolah yang kami datangi berbagi gedung dan lokasi dengan 2 sekolah dasar lainnya. SDN Gandaria Utara 07 bertempat di lantai 2(!) gedung itu. Dari 200 sekian siswa, 120-annya adalah anak buruh. Walaupun tidak mewah, sekolah itu bersih dan rapi. Di akhir hari, ada kalimat Pak Kepala Sekolah, Bapak Rahmadi, yang menancap di kepala saya.
“Bekerja itu soal hati. Tujuan menjadi guru selain mencari nafkah adalah melakukan ibadah. Dengan begitu semua jadi ringan.”

Ya. Bekerja memang soal hati. Kelas Inspirasi II ini pun soal hati. Lalu semua akan jadi ringan dan bermanfaat.


Photos: pribadi, Gary the photographer, Kelompok 7

6 thoughts on “Kelas Inspirasi II: Membebaskan Mimpi

  1. Selamat mbak, sudah menjadi bagian dari inspirasi anak-anak sekarang yang memang butuh lebih dari sekadar belajar di sekolah saja. Menunggu waktu agar 120 anak-anak buruh bisa menjadi lebih baik kehidupannya kelak

  2. halo dev thanks udah nenangin pas laptop ga bs konek ke proyektor 😛 , kalo ga bs mati kutu dah di depan anak-anak. Thanks udah dimention dan sangat beruntung bisa pairing ngajar bareng devina mariskova, berharap bisa buat buku bareng or pairing jg buat nulis sesuatu dari hati tentunya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.