Browsing "Scribbles"
May 7, 2012 - Scribbles    3 Comments

Somebody That I Used To Know

I am that kind of person who doesn’t have so many friends. I have never been somebody who is the center of attention. I don’t hang out that much. I don’t go out just for fun. I am not that kind of person who goes somewhere or does something because everybody does that. Not me.

When you meet me somewhere, you’ll see me as a reserved person. Don’t expect me to be chatty when we meet. Not me. I’m always too shy to start a conversation.

And probably that’s why I don’t have so many friends.

But when I do have friends, I cherish them.

Read more »

Apr 28, 2012 - Scribbles    2 Comments

Anak Magang

Saya kira 8 dari 10 anak magang sebenarnya menderita menjadi anak magang. Kalau bukan karena syarat kelulusan, mereka pasti mikir 100x untuk menyerahkan diri menjadi anak magang di perusahaan yang isinya orang-orang dewasa dengan hobi ngatur. Deskjob-nya anak magang biasanya nggak beda jauh dengan office boy dan tukang fotokopi. Saya pernah jadi anak magang, tapi saya beruntung. Soalnya saya magang di kantor si Mami dan nggak ada orang di dunia ini yang berani sama Mami saya hehehe….

Di kantor saya ini sering sekali menjadi tempat mahasiswa magang. Entah karena business nature kami yang lagi ngetren yaitu media, atau karena kami mudah memberikan akses untuk magang, atau karena para karyawan di tempat saya keren dan pintar. Mungkin yang terakhir. Selama dua bulan ini, kami punya anak magang laki-laki yang berasal dari salah satu universitas ngetop di Bogor.  Sejak awal, kami sudah diberi tahu oleh bagian SDM tentang kedatangan anak magang ini. Manajer SDM di tempat saya secara khusus memberi tahu saya bahwa si anak magang akan ditempatkan di tempat saya, bagian redaksi. Pertanyaan saya waktu itu hanya satu dan spesifik: laki atau perempuan?

Read more »

Apr 23, 2012 - Scribbles, Writings    2 Comments

Majalah bz! Blogfam edisi April

Sudah 3 edisi majalah bz! keluar di tahun 2012 ini. Di majalah ini saya bertugas bantuin Mbak Rini sebagai editor bahasa. Sok banget deh. Padahal tulisan sendiri masih acak-acakan :D

Di edisi April ini banyak yang lucu dan menarik. Menariknya karena di edisi ini ada liputan tentang Blook, blog-blog yang dijadikan buku. Blog saya belum beruntung untuk dijadikan buku (sapa yang maoooo! teriak orang di luar sana kekeks). Tapi mungkin para hadirin sekalian bisa membaca bz! dan mencoba membukukan blog-blog kaliyan?

Soal yang lucu, saya kan dapat keberuntungan mengedit wawancara antara Blogfam dengan Cik Kerani, blogger dan penulis buku My Stupid Boss. Okay, checked out the tittle and you thought you’d figured it out, right! Ish, belum! Ternyata Cik Kerani bukan cuma lucu, tapi juga inspiratif. Kalau para hadirin sekalian sedang galau karena bos yang menyebalkan (gak usang ngacung jari ya!), silahkan baca wawancara dengan Cik Kerani. Dijamin terinspirasi untuk lebih bersyukur :)

Di edisi ini, saya kebagian nulis Rubrik Bahasa dengan judul Bagaimana Mencampur Bahasa di Blog. Kaliyan bisa bertemu dengan kata ‘unmood’ bila baca rubrik ini hehe… Saya beruntung karena Om Jaf membuatkan ilustrasi rubrik ini dengan sangat lucu. Ya sana. Baca aja sendiri di sini.

 

Apr 8, 2012 - Scribbles    No Comments

Guru Kehidupan

Seorang teman tiba-tiba menyampaikan rasa terima kasihnya untuk postingan blog yang saya tulis tahun 2009.

2009? Wow!

Saya heran. Karena dilihat dari komentar yang masuk, hanya ada 4 orang yang ‘terlihat’ membaca. I really thought it was a selfish post.

Tapi terus terang, postingan itu sedianya memang untuk saya sendiri yang saat itu sedang babak belur setelah mendapat pelajaran dari Guru Kehidupan saya. Apabila sampai sekarang masih ada teman-teman di luar sana yang bisa mengambil manfaatnya juga, saya bersyukur. Then, we are not alone after all.

Silahkan baca Guru Kehidupan di tempat aslinya disana.

Apr 7, 2012 - Scribbles    3 Comments

Serius lo?

Jadi gini, gue dibilangin oleh beberapa orang kalau ngeblog itu jangan terlalu serius. Kata mereka, kalau terlalu serius dipikirin namanya bukan ngeblog, tapi bikin tesis. Katanya kan ngeblog itu mirip-mirip komentar sambil lewat. Sering nggak pentingnya daripada pentingnya. Terus gue mikir, iya juga sih.

Dulu waktu awal-awal gue ngeblog gue nulisnya nggak pake mikir serius-serius. Demi perdamaian dunia, misalnya. Atau demi kesejahteraan umat. Atau demi tercapainya apbn 2013. Atau demi…kian… Dengan nulis nggak pake mikir itu gue malah produktif. Bisa ngapdet blog sehari sampai dua kali. Padahal isinya… ya nggak penting gitu: gue tadi ngapain, makan apa, ketemu siapa, ngomel sama siapa, nyuruh-nyuruh siapa… gitu lah. Tapi banyak yang bisa gue tulis soal yang nggak penting itu.

Sekarang ini gue pikir gue sudah harusnya dewasa. Katanya kan kalau sudah dewasa isi pikirannya pun lebih bertanggung jawab. Demi kecerdasan makhluk sekitar, gitu. Begitu gue mau serius, nulis yang agak pake mikir sedikit, blank! Atau yang paling parah, begitu gue berhasil nulis yang serius dan penting dari sekadar ngasih tau seharian gue ngapain aja, gak ada yang mau baca.

Jadi sebenarnya, yang bermasalah itu gue atau…?

Mar 24, 2012 - Scribbles    2 Comments

The Rubber Band Theory of Friendship

These couple of weeks, I have been doing some analysis about friendship. Having observed some people, I think this job of friendship-analysis might find its market. Who knows I could sell my theory of friendship to a motivational speaker?

What I’ve found is friendship is like a rubber band. New, it is still tight and can hold multiple items together in just one tie.

Used frequently, it becomes loose and you have to tie some items several times. Like humors in a circle of friends; you no longer know the differences between a joke and a sarcastic comment.

Left without being taken care of, the rubber band becomes dry and easily broken off.

When it is no longer good, you throw it away and find a substitute. Rubber bands are easy to find and come with many colors. Get a new one and you hardly remember you have an old one.

Read more »

Mar 22, 2012 - Scribbles    2 Comments

Posisi Menentukan Prestasi

Ada orang baru  di unit saya yang lama. Yang saya maksud lama itu kira-kira 4 tahun lalu, saat ruangan saya masih di lantai 4 sebuah gedung berlantai 6. Iya, sudah dua minggu ini ada orang baru di unit saya yang lama. Ada 4 cubicle dari 8 cubicle di tempat itu yang dia bisa pilih untuk dia tempati.  Salah satu cubicle yang seharusnya kosong adalah bekas cubicle saya.

Seharusnya? Loh kok seharusnya?

Setahun setelah saya diberi cubicle itu, saya diberi tugas baru yang membuat saya mendapatkan ruangan baru di lantai 2. Ruangan baru saya lebih besar. Kalau cubicle saya di lantai 4 itu mau saya turunkan ke ruangan di lantai 2 pun masih sisa setengah ruang kosong. Tapi toh saya tidak juga mengosongkan cubicle di lantai 4 itu. Alasannya? Selain malas ngangkutin barang printilan yang ternyata banyak, cubicle di lantai 4 itu punya pemandangan yang luar biasa: ke arah jalan raya di depan kantor. Sungguh oase di tengah tumpukan kertas yang menggunung.

Sewaktu 4 tahun lalu saya disuruh memilih cubicle, ada beberapa cubicle yang kosong yang bisa saya pilih. Saya pilih justru yang di paling ujuuuuuuuuung koridor, di pojokan, dan di sebelah jendela besar berhiaskan pemandangan lalu lintas. Read more »

Mar 10, 2012 - Scribbles    3 Comments

Tentang Galau…

Seringkali saya merasa terlalu tua untuk merasa galau. Bukan kah galau itu milik anak belasan tahun berkostum Cherrybelle dan Sm*sh? Tapi ternyata galau itu memang gak pandang bulu, eh, umur. Saya yang sudah dewasa ini pun bisa terserang galau.

Galaunya orang dewasa dengan galaunya ABG tentu berbeda. Saya iri dengan galaunya ABG. Mereka galau karena hal-hal yang romantis: pacar gak jadi datang, pacar telat datang melulu, pacar diambil orang, atau yang paling dahsyat yaitu malam minggu gak punya pacar. See! Walau galau, mereka tetap romantis. Macam sinetron-sinetron Korea gitu lah. Ditinggal pacar pun terasa romantis.

Read more »

Mar 8, 2012 - Scribbles    1 Comment

If I Knew…

If I knew I would die tomorrow, what would I do today?

1. I’d get down on my praying mat for hours asking God to forgive my mistakes, my children’s mistakes, my husband’s mistakes, my parents’ mistakes, my brothers’ mistakes and all my loved ones’.

2. I’d write a long letter for each of my children telling them how much I loved them. The letter would be long enough for them to read it on their birthday every year.

3. I’d circle the last date on the calender and write “I love You and Forgive Me”.

…………….

After all is said and done, life is all about forgiveness and love.

Mar 5, 2012 - Scribbles    1 Comment

Kantor Pos

Hari masih pagi sewaktu saya lewat di depan kantor pos di sebuah komplek tentara. Kantor pos di pojokan jalan itu kecil dihiasi cat kusam dan taman kering kerontang. Bendera yang terpasang di tiang di depan kantor pos pun sepertinya sudah lama tidak mencium air bersih dan sabun. Sejak saya kecil -dan sering datang kesitu- sampai sekarang, pelayanan kantor pos itu standar saja. Pegawainya baik hati tapi jangan tanya apa kantor itu punya jasa EMS dan sejenisnya. Jadi maklum lah kalau kantor itu lebih banyak kosongnya daripada ramainya.

Kecuali di awal bulan.

Hari ini masih hari kelima di awal bulan. Hari Senin. Saya harus melambatkan mobil karena keramaian di depan kantor pos. Satu demi satu orang-orang sepuh berjalan tertatih-tatih menuju kantor pos. Banyak juga yang sudah berkerumun di depan pintu. Beberapa turun dari angkot kawasan berwarna biru, beberapa turun dari boncengan motor. Jarang ada yang turun dari mobil. Mereka semua punya tujuan satu: mengantri uang pensiun.

Read more »

Feb 21, 2012 - Scribbles    2 Comments

21 February

Hari ini saya turun gunung. After weeks of lazying around, postponing writing my blog, today I made it my mission to write a piece. And that’s all because of one girl, Fitri Mohan.

Today is her birthday. I have started to write her a special birthday blog post for her since 4-5 years ago. Why? Tons of reasons.
- She is far. I cannot send her a birthday gift. (and yes, the postal fee is expensive)
- She is special. I cannot find any appropriate gift that can show how special she is. (and yes, the postal fee is expensive)
- She is… Well, I have a thousand reasons why I always write a blog post for her birthday gift every year. And one of the reasons is because I love her.

Until this part, people usually think…
- We are related. We belong to the same family tree. We kinda look similar, eh?
- We are old friends. Elementary, Junior high, Senior high, university friend, perhaps?
- We are twins. Who knows?
- We have somehow met somewhere, probably in a hospital when we got sick at the same time?

The answers to those questions are no, no, nope.

We are not related, although we both are pretty by nature.
We are not friends from school. What school?
We are not twins… ehem…
We haven’t -let me repeat- have not ever met before in our life!

TRUST.
It was trust that brought me closer to her.
When we stayed till late at nights.
When we discussed things only friends shared.
When we wrote a story together in a blog we called ‘We can do more than drafts”.

But how can we have trust while we haven’t even met?
Yeah, right. Like you haven’t heard of virtual shop, virtual dating, virtual network before…

So, today, I’m going to say again what I’ve been saying for the past 5 years.
HAPPY BIRTHDAY, Nek!
Thank you for your friendship.
My best wishes always for you.

ps: I’m so sorry this year I couldn’t keep my promise to take you to every Pesta Blogger I attend.

 

Jan 24, 2012 - Scribbles    No Comments

Cat Rambut

Dulu-dulunya saya gak pernah kepikiran untuk mengecat rambut. Alasannya simple: kulit item saya agak kurang compatible dengan warna pirang. Kasian nanti anak-anak yang doyan maen layangan disamain sama saya. Tapi pada suatu hari saya terpesona melihat rambut marunnya temen saya. Ketika diterpa sinar matahari, dia jadi kelihatan cakep. Padahal biasanya tanpa cat rambut itu kalau diterpa matahari dia kelihatan keringetan. Alhasil pada suatu sore yang galau *ehem* alih-alih pulang ke rumah, saya malah membelokkan mobil ke mall. Kok mall? Ya kan salonnya ada di dalam mall.

Dasar pengecut, begitu duduk di kursi pesakitan salon, saya mulai meriang ketakutan. Mau mundur gak jadi ngecat, kok malu. Mau jalan terus, perut mules. Akhirnya saya memutuskan untuk di-highlight saja rambut hitam saya. Bukan dicat semua.
Dasar sial, si hairstylist dengan manisnya bilang, “Gak bisa, cyin. Kalau rambut virgin gini kudu diwarnai semua dulu. Baru bisa di-highlight. Percuma, cyiiiin.”
Entah dia bohong atau enggak, saya yang sudah kepalang duduk akhirnya hanya bisa pasrah.

Dua jam kemudian, rambut saya berubah menjadi berwarna mahogani. Mirip-mirip lah sedikit seperti warna furniture. Tapi secara keseluruhan, I felt good. Saya pun senang senang senaaaaang. Saking senangnya, komentar orang-orang bahwa kulit item saya jauh lebih compatible dengan warna rambut hitam tidak saya hiraukan. Biasa. Kalau ada orang cakep dikit, banyak yang sirik. Apalagi kalo cakep banyak.

Nah, itu kejadian 2 tahunan lalu. Rambut saya sekarang sudah balik lagi menjadi hitam. Saya pun kepengen ngecat rambut lagi. Maka, saya membuat polling di kantor: warna apa yang bagus buat cat rambut saya?
Dengan heboh saya gerakkan masyarakat kantor untuk berpartisipasi menentukan warna rambut cewek kesayangan mereka ini *kesambit sendal*. Dan setelah polling dilakukan, atas pertanyaan ‘warna rambut apa yang paling cocok dengan saya’ jawabannya adalah… HITAM.

Pages:1234567»