21 February

Hari ini saya turun gunung. After weeks of lazying around, postponing writing my blog, today I made it my mission to write a piece. And that’s all because of one girl, Fitri Mohan.

Today is her birthday. I have started to write her a special birthday blog post for her since 4-5 years ago. Why? Tons of reasons.
- She is far. I cannot send her a birthday gift. (and yes, the postal fee is expensive)
- She is special. I cannot find any appropriate gift that can show how special she is. (and yes, the postal fee is expensive)
- She is… Well, I have a thousand reasons why I always write a blog post for her birthday gift every year. And one of the reasons is because I love her.

Until this part, people usually think…
- We are related. We belong to the same family tree. We kinda look similar, eh?
- We are old friends. Elementary, Junior high, Senior high, university friend, perhaps?
- We are twins. Who knows?
- We have somehow met somewhere, probably in a hospital when we got sick at the same time?

The answers to those questions are no, no, nope.

We are not related, although we both are pretty by nature.
We are not friends from school. What school?
We are not twins… ehem…
We haven’t -let me repeat- have not ever met before in our life!

TRUST.
It was trust that brought me closer to her.
When we stayed till late at nights.
When we discussed things only friends shared.
When we wrote a story together in a blog we called ‘We can do more than drafts”.

But how can we have trust while we haven’t even met?
Yeah, right. Like you haven’t heard of virtual shop, virtual dating, virtual network before…

So, today, I’m going to say again what I’ve been saying for the past 5 years.
HAPPY BIRTHDAY, Nek!
Thank you for your friendship.
My best wishes always for you.

ps: I’m so sorry this year I couldn’t keep my promise to take you to every Pesta Blogger I attend.

 

Tags:   Scribbles

Cat Rambut

Dulu-dulunya saya gak pernah kepikiran untuk mengecat rambut. Alasannya simple: kulit item saya agak kurang compatible dengan warna pirang. Kasian nanti anak-anak yang doyan maen layangan disamain sama saya. Tapi pada suatu hari saya terpesona melihat rambut marunnya temen saya. Ketika diterpa sinar matahari, dia jadi kelihatan cakep. Padahal biasanya tanpa cat rambut itu kalau diterpa matahari dia kelihatan keringetan. Alhasil pada suatu sore yang galau *ehem* alih-alih pulang ke rumah, saya malah membelokkan mobil ke mall. Kok mall? Ya kan salonnya ada di dalam mall.

Dasar pengecut, begitu duduk di kursi pesakitan salon, saya mulai meriang ketakutan. Mau mundur gak jadi ngecat, kok malu. Mau jalan terus, perut mules. Akhirnya saya memutuskan untuk di-highlight saja rambut hitam saya. Bukan dicat semua.
Dasar sial, si hairstylist dengan manisnya bilang, “Gak bisa, cyin. Kalau rambut virgin gini kudu diwarnai semua dulu. Baru bisa di-highlight. Percuma, cyiiiin.”
Entah dia bohong atau enggak, saya yang sudah kepalang duduk akhirnya hanya bisa pasrah.

Dua jam kemudian, rambut saya berubah menjadi berwarna mahogani. Mirip-mirip lah sedikit seperti warna furniture. Tapi secara keseluruhan, I felt good. Saya pun senang senang senaaaaang. Saking senangnya, komentar orang-orang bahwa kulit item saya jauh lebih compatible dengan warna rambut hitam tidak saya hiraukan. Biasa. Kalau ada orang cakep dikit, banyak yang sirik. Apalagi kalo cakep banyak.

Nah, itu kejadian 2 tahunan lalu. Rambut saya sekarang sudah balik lagi menjadi hitam. Saya pun kepengen ngecat rambut lagi. Maka, saya membuat polling di kantor: warna apa yang bagus buat cat rambut saya?
Dengan heboh saya gerakkan masyarakat kantor untuk berpartisipasi menentukan warna rambut cewek kesayangan mereka ini *kesambit sendal*. Dan setelah polling dilakukan, atas pertanyaan ‘warna rambut apa yang paling cocok dengan saya’ jawabannya adalah… HITAM.

Tags:   Scribbles

Lost in Expressions

It was the last session before the lunch-break time. Senior High school time. My history teacher told us -30 something students- to make a 2-page summary about the life of a national hero. She told us we could find the references in our school library. She gave us 2 hours to finish the summary. My friends -all of them- saw it as a moment worth comparing to an independence day. They ran out of the class the moment they were allowed to. The class suddenly became empty. Except for my being.

(more…)

Tags: ,   Scribbles

Dibalas Tunai

Saya itu memang ditakdirkan gak boleh jahat sama orang (emang ada gitu orang yang takdirnya jahat sama orang lain?) :D Definisi jahat disini antara lain kesal, dongkol, ngomongin sampai tahap sedikit lagi nampolin. Walaupun orang itu yang rese, ngajak berantem duluan, bikin naik pitam, teteup reaksi saya gak boleh balas. Karena kalau saya balas bahkan ‘cuma’ dengan pisuh-pisuh saja, balasan saya dari yang di atas sangat tunai! Langsung!

(more…)

Tags:   Scribbles

New Year’s Resolution. Or not.

Wijaya Kusuma

Jamannya saya dan teman-teman masih rajin ngeblog, saya juga rajin bikin resolusi tahun baru. Dari resolusi ecek-ecek macam ‘pengen bisa masak’ sampai resolusi kelas langit ‘pengen sehat terus’. Sayangnya resolusi saya seringkali cuma kejadian di blog, gak di kehidupan nyata =)

Sekarang ini bikin resolusi tahun baru masih nge-tren. Tapi bukan lagi di blog melainkan di social media lain seperti twitter, facebook, facebook, facebook, dan google+. Saya gak bikin resolusi tahun baru di twitter karena kalau saya benar-benar niat mau beresolusi tahun baru-an 140 sih gak cukup. Saya juga gak bikin resolusi di facebook. Alasannya sangat masuk akal: bisa dihina abis oleh orang satu kantor apabila saya gagal memenuhi resolusi saya. Padahal, resolusi saya kan banyak gagalnya. Di google+? Apalagi! Wong saya buka google+ kalau inget doang.

Jadi, saya balik lagi ngeblog tentang resolusi tahun baru sebagai seorang #bloggerteladan :)

Oke, sekarang saya harus tulis resolusi saya. Sebelumnya saya wanti-wanti dulu ya. Resolusi saya gak akan bombastis ataupun life-inspiring ataupun monumentally-englightening seperti para #bloggerteladan lain. Resolusi saya santai kok:

  • Pengen bisa berangkat ke kantor lebih pagi supaya bisa masuk lebih pagi. Belum tentu on time sih, tapi yaaaa sekitar 30 menit lebih pagi dari jam 10-11 lah.
  • Pengen bisa rutin pergi ke gym. Yang tadinya cuma kalau gak malas, ya sekarang seminggu sekali.
  • Pengen bisa mengurangi minum teh botol. Dari  4-5 botol sehari menjadi 4 botol.
  • Pengen bisa menyelesaikan draft novel di bulan Januari. Eh, ya Februari deh. Yaaaa sial-sial Maret deh.
  • Pengen bisa berhitung dengan lebih cepat. Yang tadinya butuh 15 menit untuk penambahan, jadi sepuluh menit saja.
  • Pengen bisa ngeblog sehari sekali.

Dan seterusnya dan seterusnya…. sampai saya menyadari sesuatu… Ini resolusi kok sama dengan resolusi tahun lalu?!

Tags:   Scribbles

Di bawah Pohon Tanjung

Setiap kali musim panas berganti musim hujan, saya selalu terkenang hari-hari di masa muda dulu saat saya masih cakep dan sering naik angkot ke sekolah. Yang mengingatkan saya akan hari-hari indah itu adalah wanginya bunga-bunga Tanjung yang mekar persis di penghujung musim panas.

Daerah Halim, tempat rumah saya dulu berada, ditanami oleh pohon-pohon Tanjung. Pohon-pohon Tanjung itu ditanam berjejer rapat di pinggir jalan-jalan. Setiap kali pohon-pohon itu mulai berbunga, wanginya akan menyebar kemana-mana. Parfum keluaran Paris Hilton aja sih lewat. Bunga Tanjung pun mudah gugur saat tertiup angin. Saya selalu menyempatkan diri berlama-lama berdiri di bawahnya sekadar ingin menikmati harumnya. Syukur-syukur bisa ikut wangi. (more…)

Tags:   Scribbles

Sesuatu Banget

Hadiah dan Papap.

Setiap kali saya mendengar Papap berkata dia punya sesuatu untuk saya, perut saya malah mules. Papap punya definisi yang berbeda atas barang-barang yang bisa dijadikan hadiah. Seringkali, bukan rasa bahagia luar biasa yang saya rasakan saat menerima hadiahnya, malah rasa sakit perut luar biasa akibat pengen ketawa ngakak yang ditahan-tahan. Biar gimana juga, ketawa ngakak setelah menerima hadiah masih dianggap gak sopan :)

Suatu hari di jaman saya masih muda kinyis-kinyis, saya mendapat tugas baru: menjadi mentor untuk guru-guru. Karena tugas ini saya harus masuk ke kelas guru lain, duduk manis memperhatikan dia mengajar tanpa boleh tertidur saat saya harus mencatat ini itu untuk bahan diskusi setelahnya. Masalahnya, kecepatan tangan saya mencatat sering kali kalah jauh dengan kecepatan guru berbcara. Akibatnya, seringkali saya ketinggalan omongan guru yang bisa saya kutip. Jadi pada hari-hari itu saya rajin berkeluh kesah ke si Papap mengenai tangan kanan saya yang mulai terkena penyakit encok.
“Pap, pijetin tangan kananku dong.”
“Kenapa emangnya?”
“Encok kebanyakan nulis.”
“Tangan kan gak bisa encok.”
Segitu biasanya respon Papap atas keluh kesah saya.

(more…)

Tags:   Scribbles

Sesuai Umur

Sehari setelah pembantu saya datang dari kampung, saya dapat sms dari suaminya. Isinya:

Ass ibu nh istri aq dh berngkt blm nh by Rohman mba tum dh berngkt ibu,,,?

Sms itu saya terima hampir tengah malam di tengah-tengah prosesi menggendong bayi sampai tidur. Karena kapasitas kesabaran sudah menipis, saya kasih hape ke Papap supaya sms itu bisa diterjemahkan.

Sebelumnya, saat saya tergeletak sakit di rumah, saya juga pernah terima sms dari staf saya yang baru berusia 20 tahun. Di sms saya ke dia, saya minta dia kasih laporan singkat tentang acara pendaftaran siswa hari itu. Sms saya pun dia balas dengan isi yang bablas gak bisa saya ngerti. Yang paling bikin mata saya sepet adalah staf saya ini menaruh huruf ‘X’ di setiap akhir kata.

Pndftrnx lmyn kokx sksesx…

Belum selesai saya baca sms itu, saya langsung angkat telpon nelpon dia sambil menjerit, “Lo nulis apaaaaaan seeeeeh?!”

(more…)

Tags:   Scribbles

Tepuk Pramuka

Kalau ada hal yang tidak berubah di negeri ini selama 50 tahun salah satunya adalah seragam Pramuka yang coklat muda coklat tua itu. Mau dipakein dasi merah putih, dikasih topi anyaman, digantungin tali dan pisau di pinggang, teteeeep gak bisa bikin saya dan kulit hitam saya jadi lebih cakep. Dari dulu saya heran kenapa seragam pramuka kita gak berwarna biru seperti laut karena toh nenek moyang kita orang pelaut. Atau hijau seperti pohon karena Indonesia negara agraris. Tapi terlepas dari warna seragam Pramuka yang gak iFriendly (baca: friendly dengan I), saya harus mengakui bahwa tahun-tahun saya ikut kegiatan Pramuka adalah periode yang menyenangkan buat saya.

Jaman saya sekolah dulu -yang tentunya dimulai dari TK- kegiatan Pramuka di sekolah hukumnya wajib kudu. Bukan cuma wajib tapi juga kudu ada karena Pramuka adalah sejatinya propagandanya orde baru untuk membuat para pemuda-pemudi bangsa ini loyal kepada negara (baca: rejim). Jadi, tidak ada freewill. Yang ada setiap hari Sabtu, semua anak -mau anggota atau bukan- harus jadi anggota dan harus pakai seragam Pramuka ke sekolah. Baru saat saya SMA dan mulai melek warna, keanggotaan Pramuka menjadi sukarela.

(more…)

Tags:   Scribbles

Cobaan

Bulan puasa identik dengan bulan cobaan.
Kalau dipikir-pikir, setiap Ramadhan mendatangkan cobaan yang berbeda-beda buat saya.
Ada saat di satu bulan Ramadhan cobaan buat saya adalah pengen nyekek orang. Ada juga 29 hari puasa, cobaannya itu bener-bener cuma lapar dan haus. Padahal, saya jenis orang yang jarang merasa lapar dengan konsekuensi badan saya saingan dengan tiang bendera. Tapi, mungkin juga cobaan lapar dan haus itu terjadi karena saya disumpahin temen-temen yang dongkol dengan berat badan kelakuan saya yang sering makan banyak di depan mereka tapi berat gak naik-naik.

(more…)

  Scribbles

Tes Kepribadian

Pernah dengar teori yang mengatakan kalau kita ingin mengetahui kepribadian seseorang, kita harusnya melihatnya saat menyetir? Bukannya saya tak percaya teori ini, tapi agak susah juga menerapkan teori ini pada orang-orang yang tak bisa menyetir. Sebaliknya saya mempunyai teori yang agak berbeda. Saya malah percaya bahwa kepribadian seseorang bisa terlihat dari caranya duduk di kursi penumpang di sebelah pengemudi. Teori ini saya dapatkan setelah bertahun-tahun menjadi supir orang tua saya.

(more…)

Tags:   Scribbles

You are what you think. Really?

Walau belum pernah mencoba, saya punya insting saya gak cocok ikutan yoga. Alasannya sederhana: salah satu instruksi di yoga adalah kosongkan pikiranmu.

Sumpah deh saya bisa mengosongkan apapun kecuali pikiran. Kalau kepala saya dipasangi kabel yang tersambung ke toa, anda pasti pusing dengar seliweran isi kepala saya karena bunyinya akan mirip dengan radio mobil yang frekuensinya diacak alien. Seperti di film-film.

(more…)

Tags: ,   Scribbles