Youth is Wasted on the Young

Malam minggu ini kami habiskan dengan makan malam sampah-tapi-enak di salah satu gerai siap saji dekat rumah. Si Papap yang baru pulang dari Surabaya tidak berdaya dirayu Hikari dan -terutama- Aiko untuk jajan di resto ayam Pak Kolonel. Padahal aslinya si Papap paling males makan menu selain nasi putih ngepul, ikan goreng, lalapan, sambal terasi. Tapi semua rasa malas itu luluh dengan manjanya rayuan Aiko dan naggingnya Hikari yang mirip kaset rusak.
Continue reading

All is well. At least they will be eventually.

Been trying to keep my head above the water of mood swing. Out of the blue, I received a picture of a friend who is under chemotherapy regime for breast cancer. She is all with wide grin on her face. She is the road lamp novotelone who made the time to buy me a book about OCD (which I haven’t finished reading) when traveling abroad. She suffers from OCD and bipolar for years. Her picture as if tells me everything will be ok. I will be ok, eventually. I will just have to keep remembering that.

Saatnya Menangis Di Bawah Hujan

Sudah lama sebenarnya saya ingin menulis tentang ini. Kira-kira sejak 3 tahun lalu. Tulisan ini menjadi semacam hutang saya terhadap beberapa teman dan juga kepada diri saya sendiri. Hutang untuk mungkin bisa membantu orang lain yang berada di perjalanan yang sama seperti saya. Ohya. Tulisan ini akan jadi panjang dan mungkin bersambung. You have been warned 🙂

Hampir tiga belas tahun yang lalu setelah saya melahirkan Hikari melalui proses panjang, menyakitkan, melelahkan, dan traumatis, saya sempat mengalami kondisi di mana saya menangis sama seringnya dengan Hikari menangis dan saya tidur sama jarangnya dengan Hikari tidur. Badan saya lemah karena proses kelahiran yang berat (and don’t dare get back to me saying all delivery is hard). And Hikari was not an easy baby. Ditambah sifat saya yang maunya serba perfect, serba rapi, serba sesuai aturan membuat kondisi tidak menjadi mudah. Di bulan-bulan pertama kelahirannya, Hikari terus terbangun di jam-jam luar biasa, jam 2, jam 3. Menangis tidak berhenti sampai dua jam kemudian. Kalau pun dia bisa tertidur karena dia ada di gendongan saya. Maka bermalam-malam, saya tidur duduk sambil menggendong dia dengan jarik. Saat-saat tengah malam itu, saat-saat saya melihat orang lain bisa tidur sementara saya harus menggendong Hikari, saya akan menangis tidak berhenti. I thought I was in my lowest point. Nine years later I found out it could be lower than lowest. Dengan Hikari, saya menjadi over protective sekaligus menjadi over sensitive. Dan saat itu saya tidak punya support system yang baik. Hanya ada saya dan Papap sebagai ortu baru, dan orang tua yang tidak berhenti bingung. Yang bisa membuat saya bangkit lagi karena dukungan si Papap yang tidak pernah berhenti. Orang-orang yang mendengar cerita saya bilang saya terkena baby blues. Tapi pada suatu kali di sebuah forum, seorang dokter kandungan laki-laki berkata baby blues hanyalah mitos. That is very comforting coming from someone who never gives birth 😀
Continue reading

Why They Want to Be Elsa

IMG_5132.JPG
If you have young girls at home, or a niece, or a neighbor with young daughters, or even an office colleague who has a little girl, you will definitely know who Elsa is. If you don’t, you are one of few lucky people in the world. Seriously.

Sejak film Frozen yang melejitkan Queen Elsa of Arendelle diluncurkan, hampir seluruh anak-anak perempuan di dunia sontak demam Elsa: lagunya, bajunya, mahkotanya, sepatunya, sampai cara dia mengikat rambut. Dan lagunya itu loh…ya ampuuuuun tobat bisa merajai music player di rumah, di mobil, di hape, bahkan di kamar mandi. Diulang ulang ulang ulang ulang… Elsa the Queen of Arendelle has conquered the very heart of young girls in the world. Padahal, di film Frozen itu, pahlawannya justru bukan Elsa.
Continue reading

Bahagia Tidak Sederhana

Allergic to LifeMungkin saya sedang tidak mood. Atau sedang nyinyir tingkat dewa. Atau sedang merasa penuh dengan hidup. Atau mungkin sedang manja aja. Atau mungkin juga karena tengah malam ini saya tidak bisa tidur karena leher kiri saya salah urat padahal saya sudah kangen bantal dan kasur. Tapi sekarang ini kalau ada orang yang bilang di depan muka saya ‘Bahagia itu sederhana, man!’ rasanya saya pengin sepak. Tendang jauh-jauh ke kotamadya yang katanya gak ada di peta Indonesia itu.

Bahagia tidak pernah sederhana. Being happy is a conscious decision. Elo, elo, dan elo, harus punya kesadaran, komitmen, usaha untuk merasa bahagia. Elo, elo, dan elo, harus berusaha menyingkirkan semua pikiran dan emosi negatif, sedih, marah, kekecewaan, untuk bisa merasa bahagia. Sederhana? Cuma warung makan padang yang sederhana!

“Tapi gue kemarin pas lagi bokek terus nemu duit di kantong yang udah lamaaaaaaaaaaaaa banget keselip, gue bahagia banget! Sederhana kan?”
Itu namanya seneng. Bukan bahagia.
“Tapiiiii kemarin itu pas gue lagi sakit, terus anak gue yang baru tiga tahun bilang ‘Mah, cepat sembuh ya. Aku sayang Mamah’ terus gue rasanya bahagiaaaaaaa banget.”
Ya, bahagia lo kan hasil dari mendidik anak lo jadi penuh empati dan kasih sayang. Emang sederhana gitu mendidik anak?
“Tapi, tapi…”

Bahagia tidak pernah sederhana. You’ve got to work on it. Elo perlu usaha.
Can you reach it? Pursue it? Seperti kata Obama, “Yes, we can.”
Still. To be happy is never a simple process.

#edisinyinyirtingkatdewa

Saya. Kangen. Menulis

Blog ini sudah berdebu.
Dan mungkin mengecewakan banyak pengunjung yang hanya disuguhi cerita-cerita lama.
Salam-salam pun tak terbalaskan.
Semua karena alasan…tidak ada waktu menulis.

Ah. Waktu.
Alasan yang klasik. Dan biasanya basi.

Sejak dulu, sejak SD, saya menulis karena menulis membebaskan (perasaan) saya.
Dari rasa terlalu penuh. Penuh bahagia atau penuh sedih. Penuh kesal. Penuh.
Menulis membuat saya menemukan perspektif. Yang paling mendasar, menulis membuat saya jujur pada perasaan saya yang tidak sanggup saya hadapi sendiri.
Ibu saya, si Mami, pernah sampai menangis membaca tulisan saya di diary sewaktu saya SD. Menangis karena saya jujur menuliskan perasaan kecewa saya saat itu. Si Mami bilang saya harusnya bicara kalau merasa kecewa. Yang si Mami tidak tahu di luar sana saya tidak sanggup memperlihatkan rasa kecewa. Seakan-akan saya membiarkan diri saya kalah. Itu waktu saya SD. Bayangin tuanya saya.

Sampai beberapa waktu lalu menulis masih tetap membebaskan.
Sampai suatu saat perasaan-perasaan saya terlalu sakit, terlalu gelap, terlalu menyedihkan untuk dituliskan.
Dan kebebasan itu menjadi suatu yang mengerikan.
Saya takut saya tidak bisa mengendalikannya.

Saat ini saya tahu. Bukan (ketidak adaan) waktu yang membuat saya tidak menulis.
Tapi kekuatan sekaligus kepedihan kegelapan keresahan sebuah tulisan yang membuat saya menahan diri.
Saya membiarkan diri saya tidak bebas. And it is so painful.

Sekarang saya kangen menulis.

Sebelum Kau Tidur, Nak

Minggu-minggu yang menguras tenaga dan emosi. Dimulai dari pengasuh baby Aiko yang pulang kampung lalu tidak balik hingga urusan proyek-proyek yang terbengkalai karena tenaga yang terkuras, hari ini adalah puncaknya: Si Papap sakit.

Saking capek dan kurang tidur, pagi tadi justru Hikari yang membangunkan saya. “Ma! Mama,” panggil Hikari menggoyang-goyangkan badan saya sementara ia masih dengan piyama dan gulingnya. “Ma! Sekolah!”
Jam di dinding sudah jam 7. Dia masuk jam 07:30. Saya terduduk kaget. Tambah kaget lagi ketika melihat si Papap masih tidur di sebelah. Biasanya jam segini Papap sudah setengah jalan ke kantor. Saya pegang badan Papap dan segera menghela napas panjang. Papap demam! Sekarang siapa yang harus mengantar Hikari sekolah sementara harus ada yang menunggui baby Aiko yang masih tidur? Lalu Papap yang demam bagaimana?

Saya percaya saat Tuhan menciptakan keajaiban, salah satunya adalah dengan menciptakan otak Ibu. Entah bagaimana saya bisa mengurus Hikari sekolah, memegang baby Aiko, dan mengurus si Papap yang sakit.
Bala bantuan datang di sore hari saat si Mami datang untuk menunggui anak-anak. Segera saya bawa si Papap ke UGD. Maagnya sudah akut, kata dokter. Bapak terlalu keras bekerja, kata dokter lagi. Tanpa sadar saya mengelus perut saya sendiri…

Sambil menunggui Papap di UGD, saya cari waktu telpon ke rumah. Memberi instruksi ini itu termasuk mengingatkan Hikari untuk mematikan TV dan mengerjakan latihan Matematikanya. Tiga setengah jam kemudian saya kembali ke rumah dengan rasa capek luar biasa. Tapi tempat tidur harus menunggu karena 2 anak kelebihan energi ini… masih kelebihan energi.

Lima menit sebelum Hikari tidur saya menanyakan latihan Matematikanya. Hikari memperlihatkan hasil yang hanya menjawab 15 dari 50 soal. Saya marah besar karena dia ternyata menonton TV saat harus mengerjakan tugasnya. Hikari pergi tidur dengan sisa ceramah dari saya. Dia tidak minta cium saya sebelum tidur tadi.

Setengah jam setelah saya bisa membaringkan badan lelah ini, saya menatap wajah Hikari yang tertidur pulas. Saya menyesal luar biasa. Menyesal karena suara terakhir yang dia dengar sebelum dia tertidur adalah suara marah ibunya. Wish I could wake him up and say sorry and I love him. Penyesalan selalu datang terlambat. I wish morning would come fast so I could tell him I love him no matter what.

Posted with WordPress for BlackBerry.