To Tokyo To Love

Impian, bagi Nina, adalah membangun kehidupan sempurna: membesarkan anak-anak, mengurus keluarga, melayani suami. Namun mimpi itu sirna sesaat sebelum pernikahan dengan datangnya kabar buruk.

Dengan hancur Nina pergi ke Tokyo dan berusaha menata serpihan hatinya. Hari-harinya diisi persahabatan dunia maya dengan Takung, lelaki yang tak pernah ditemuinya. Ada pula seorang lelaki misterius bersetelan jas hitam yang ia temui setiap hari di kereta.

Namun, saat Nina kembali mampu berjalan tegak, masa lalu menghadangnya. Kini ia harus memilih antara membangun kembali impian masa lalu atau merajut masa depan dengan segala ketidaksempurnaannya.

Diterbitkan pertama kali tahun 2008 oleh Gramedia Pustaka Utama
Diterbitkan dengan cover baru di tahun 2016

Pemesanan novel:

Got to Work It Out for Love

I’ve never (yup, I think never) written a novel review in my entire life -not because I can’t- because I don’t want to. I feel really bad to comment on the masterpiece(s) of fellow writers no matter how unimpressive their work is. Why? Simple. I knooooow the behind story. The long late hours spent to write a 200-something page novel. The screaming of lacking of ideas. The feeling of being suck at something you are passionate about. The fear of being a bad writer. I know. And that’s why I always keep my opinion about a novel, for myself. Until now. Until I read this recently famous novel and #1 New York Times Bestseller and I. Just. Need. To. Get. This. Out. Of. My. System.

Warning: a few spoilers and a lot of heartbreaking comments.

So, a friend literally forced me to read Me Before You novel because she was sooooo moved by it. At the same time, the movie was a big hit here. To be honest, I wasn’t so much into this novel. I was never interested enough in picking up the novel from the bookshelf at the bookstore and was not even close to watch the movie. I read the synopsis once and decided I’d rather buy Jenny Han‘s πŸ˜› . But my friend was really persistent to hear my comments for the novel. So, okay, I was at the airport on my way to I-don’t-even-remember-where-anymore and out of habit, I bought the book for those long hours of waiting and flight. I read a couple of pages but decided that I was more interested in sleeping than reading through. So weird of me.

When I continued reading the first chapters, I was like ‘Okay. Intriguing. Could be something’ but again I kept putting it down. The introduction about Louisa Clark was not that impressive after a few chapters. And then the next chapters made my eyebrows raised. I flipped back to earlier chapters trying to figure out how in the world a girl named Louisa Clark can become the girl who melt a rich man’s cold heart while her own sister herself calls her idiot? After that, throughout the next chapters I was hoping the answer to my question would be on the next page. I was wrong.

So, here is my disappointment with the novel.
I like the storyline -I think it is an interesting storyline! I do!
I like the male character, Will Treynor. He gives more than enough opportunities for the story to build up drama. I even love the male character. I think it is a brilliant choice by the writer to give this background, this story, this personality, to this male character.
I am interested in the background characters: the family, the sister, the boyfriend. They are all amazing for background.
I didn’t mind the slightly predictable ending because the story could (!) offer surprises here and there.
Aaaand, I would like to fall for the female character. The heroine. Louisa Clark. I was waiting to fall for her. But…nothing.
With that storyline, this male character, that background, Louisa Clark has just provided me with consistently annoying character from the beginning -the clueless girl who can’t even show me why she deserves to be loved. She is not maturing. She is not developing enough to turn the story around!

So, I ended up being so irritated with the novel and stopped reading when I reached page 337. I told my friend that and…she was upset πŸ˜€ . After that time, my friend started to nag me to watch the movie to see if I could change my mind. Yeah. Right. But she was so insistent and annoying and she checked on me several times if I had watched the movie. So, I did it just to stop her nagging while secretly hoped the movie was better.

But, it wasn’t! πŸ™ . It just looked nicer from all the nature and scenery in the movie.

So, what makes me change my habit of not commenting on a novel?
My annoyance that the story could be better IF THAT LOUISA CLARK COULD SHOW ME SHE DESERVES THE ROLE.

On another note, this novel is a learning tool for me. I got to reflect on how a character should mature throughout the novel. Or how a character should be developed. Or how a good story can be ruined by one not-convincing character. Or how -even in a fiction- you’ve got to work hard to deserve someone’s love.

Mencari Princess Anna dengan Jari

Saya percaya ada hubungan spesial yang tak terlukiskan dengan kata-kata antara ayah dan anak perempuannya. Seperti si Papap dan Aiko.

Aiko Papap PrincessSewaktu Hikari kecil, Papap jadi tempat Hikari meminta mainan. Tapi saya curiga si Papap mengabulkan permintaan Hikari membeli mainan seperti Lego, pedang-pedangan, puzzle dino, dsb. karena sebenarnya Papap juga ingin ikut main. Tapi sekarang, hanya bermodalkan suara kecilnya dan mata bintangnya, Aiko mampu meluluhkan hati Papap sehingga yang bisa keluar dari mulut Papap saat Aiko merengek minta apapun -apapun- hanya kata: IYA. Permintaan Aiko beragam, dari buku mewarnai bertema Princess yang dibeli setiap kali mereka belanja di mini market dekat rumah sampai kelinci abu-abu yang ditunjuk Aiko di pameran Flora Fauna. Semua permintaan Aiko pasti dikabulkan Papap tanpa memandang permintaan itu dalam rangka memperingati hari Senin atau memperingati wiken atau sekedar memperingati jalan-jalan iseng mereka berdua ke mini market.
Continue reading

Lukisan Tua, Angka 13, dan Jarik Tua

LukisanIni tulisan paling susah yang pernah saya tulis.

Susah karena saya ingin menggambarkan masa-masa gelap saya saat terkena Post Partum Depression (PPD) yang dimulai tahun 2011. Cerita di tulisan ini tentu fiksi. Namun emosinya nyata, walau hanya seujung kuku yang saya keluarkan.

Saya kirimkan draft tulisan ini ke beberapa teman. Hanya Nenek FM yang sanggup membacanya sampai akhir DAN memberikan input. Beberapa teman saya yang lain berhenti di seperempat cerita karena…it’s too dark, too emotionally consuming. I don’t blame them. It’s the same reason why I could only write a tiny bit of the emotion.
Continue reading

Menjadi Penulis


Setelah beberapa kali batal datang di acara Meet and Greet Gramedia, hari ini saya bisa nongol juga. Awalnya saya dapat email dari Siska, editor saya yang super kewren itu, mengenai acara Gramedia Festival dalam rangka 40 tahun GPU. Ada acara temu pengarang Metropop, katanya. Setelah lihat agenda yang super sibuk kosong, saya daftar juga. Untung masih diterima panitia :).

Continue reading

A Wish for Love

Kangen kan sama tulisan saya? hehehe
Novel keempat saya sudah beredar loh. Pelepas kangen. Sempat disindir-sindir di twitter karena kelamaan vakum. Maap yaaaa. Ini deh pelipur laranya. Keren banget lah! *ditimpuk massa*

Cerita sedikit ya. Novel ini aslinya berjudul In Your First Smile. Saya dapat ide cerita novel ini ketika sedang di Sanur, Bali. Terus terang ide cerita ini adalah gabungan apa yang saya alami, rasakan dan apa yang setidaknya dua orang teman saya alami dan rasakan. Walaupun semua novel saya selalu berisi setidaknya secuplik dua cuplik kejadian nyata yang entah saya lihat atau saya alami sendiri, novel ini terutama yang benar-benar berisi sesuatu yang nyata. Pernyataan saya bahwa cinta hanya datang kepada sedikit orang yang beruntung bukan sekedar kalimat poetic biasa. Pernyataan itu saya dapat sebagai benang merah dari perasaan orang-orang yang menjadi ide cerita novel ini.

Lalu, apakahah jalan ceritanya nyata? Hmmmm… ada yang nyata. Tapi saya enggak mau bilang yang mana πŸ™‚ Bisa tebak?


Love is a myth.

Cinta hanya datang kepada sedikit orang yang beruntung. Dan aku bukan salah satu yang beruntung itu.

But that’s fine. Aku tidak membutuhkan cinta. Menurutku, dua orang dewasa yang saling peduli dan menghormati sudah cukup untuk menjalin hubungan yang baik. Seperti aku dan Rio. Bertahun-tahun aku menjadi kekasih Rio tanpa pernah mencintainya dan itu sudah cukup. I can live with that. I really can… sampai seorang laki-laki lain membuat duniaku berhenti berputar dengan senyumnya dan mata bulan sabitnya.

Kini ada dua laki-laki mengharapkan cintaku. Siapa yang harus kupilih?
If I have to choose love, why does it hurt so much?

Terima kasih saya yang tidak terhingga untuk orang-orang dengan enough dosage of care, affection, and critics yang membuat motivasi saya menyelesaikan novel ini (yang butuh dua tahun!) membara selalu. Thank you, guys. I mean it!
Fitri Mohan, Kang Meddy, Santi D.