
Jam 5 pagi di hari Rabu tanggal 20 Februari yang dingin sebuah taksi berwarna putih sudah parkir manis di depan rumah saya. Satu setengah jam sebelumnya di luar kebiasaan saya sudah bangun dan mandi, walapun baru tidur empat jam sebelumnya. Baru saja saya pasang sepatu di teras, hujan deras tiba-tiba turun seakan ingin menyapa.
Continue reading
Englightenment
Kelas Inspirasi II: Membayar Kembali
Tahun lalu seorang teman di kantor bertanya pada saya.
“Elo gak ikutan Kelas Inspirasi? Kok?”
Saya menggeleng lalu hanya memperhatikan teman ini bersibuk-sibuk mempersiapkan dirinya untuk kelas yang akan ia ajar di sebuah SD di daerah Jakarta Timur.
Saya lupa kenapa tahun lalu saya tidak mendaftar tapi saya ingat perasaan sedih karena hanya bisa mendengarkan teman saya ini bercerita ramai tentang briefingnya, observasinya, mengajarnya.

Akhir tahun lalu, teman yang sama mengingatkan saya. Dia bahkan mengirimkan link Kelas Inspirasi II untuk saya. Dan saya ingat di malam-malam buta, di tengah tenggat tulisan, dan kehebohan dunia yang tidak penting, saya menulis esai pendek kenapa saya ingin menjadi bagian dari Kelas Inspirasi II. Email saya diterima di KI II di akhir bulan Januari dari panitia KI II membuat saya lupa akan migren yang sudah beberapa hari memporak-porandakan dunia saya.
Bagaimana Seorang Guru Ingin Diingat?
Dua tahun lalu, di akhir bulan September, saya mendapatkan kabar sedih. Wali kelas Hikari di Kelas 1 meninggal dunia. Ibu Siti, nama wali kelas Hikari itu, masih sangat muda. Kesehatannya memang tidak terlalu baik tetapi tetap saja kabar itu mengejutkan kami, orang tua dari murid-murid yang pernah diajarnya.
Ibu Siti mengajar Hikari dan 8 murid lainnya di kelas 1 itu. Kelas itu kelas 1 yang cukup menantang bila dibandingkan dengan kelas 1 lain yang menjadi paralelnya. Memang hanya ada 9 anak di kelas itu tapi semuanya mempunyai keunikan masing-masing. Saat 9 pasang orang tua dari 9 muridnya bertemu di rapat PTA pertama kali, kami memberi Ibu Siti daftar panjang tentang betapa uniknya anak-anak kami. Ibu Siti tersenyum menenangkan dan berjanji pada kami bila diijinkan Tuhan dia akan melakukan yang terbaik untuk anak-anak kami.
Guru Kehidupan
Seorang teman tiba-tiba menyampaikan rasa terima kasihnya untuk postingan blog yang saya tulis tahun 2009.
2009? Wow!
Saya heran. Karena dilihat dari komentar yang masuk, hanya ada 4 orang yang ‘terlihat’ membaca. I really thought it was a selfish post.
Tapi terus terang, postingan itu sedianya memang untuk saya sendiri yang saat itu sedang babak belur setelah mendapat pelajaran dari Guru Kehidupan saya. Apabila sampai sekarang masih ada teman-teman di luar sana yang bisa mengambil manfaatnya juga, saya bersyukur. Then, we are not alone after all.
Silahkan baca Guru Kehidupan di tempat aslinya disana.