Biarin aja lah

Saya sedang makan malam bareng beberapa teman asing di sebuah resto di Makassar ketika saya dengar seorang tersangka korupsi kelas wahid menang pra-peradilan di Jakarta. Saya cek twitter dan…yup…it’s there. Sontak semua keriaan saya di makan malam itu langsung menguap. Rupanya perubahan air muka saya terbaca jelas oleh teman-teman, entah bagaimana. “Everything OK, D?”
Continue reading

Semua Suka Sinetron

A post shared by dmariskova (@dmariskova) on


Jam makan siang di resto padang ngetop di dekat rumah ketika kami ditunjukkan tempat duduk sofa nyaman yang anehnya kosong sementara meja lain terisi. Begitu duduk, kami langsung celingukan karena tumben-tumbenan tidak ada pelayan yang biasanya segera menghampiri. Di sekitar kami, para pelayan yang semua laki-laki tampak bergerak dalam slow motion. Apakah jam makan siang masih berpengaruh pada para pelayan restoran? Haha…

Akhirnya piring demi piring disajikan di depan kami, tapi saya masih merasakan slow motionnya para pelayan dan sepertinya bukan karena pengaruh jam makan siang. Daging rendang, sambal cabai ijo, paru goreng, dan nasi panas mengepul lebih menarik minat saya untuk mengeksplorasi dibanding mencari tahu kenapa para uda-uda ini seakan berada di alam yang berbeda. Iya saya emang sering aneh gitu nyari tahu yang enggak penting-penting 😀 .
Continue reading

Got to Work It Out for Love

I’ve never (yup, I think never) written a novel review in my entire life -not because I can’t- because I don’t want to. I feel really bad to comment on the masterpiece(s) of fellow writers no matter how unimpressive their work is. Why? Simple. I knooooow the behind story. The long late hours spent to write a 200-something page novel. The screaming of lacking of ideas. The feeling of being suck at something you are passionate about. The fear of being a bad writer. I know. And that’s why I always keep my opinion about a novel, for myself. Until now. Until I read this recently famous novel and #1 New York Times Bestseller and I. Just. Need. To. Get. This. Out. Of. My. System.

Warning: a few spoilers and a lot of heartbreaking comments.

So, a friend literally forced me to read Me Before You novel because she was sooooo moved by it. At the same time, the movie was a big hit here. To be honest, I wasn’t so much into this novel. I was never interested enough in picking up the novel from the bookshelf at the bookstore and was not even close to watch the movie. I read the synopsis once and decided I’d rather buy Jenny Han‘s 😛 . But my friend was really persistent to hear my comments for the novel. So, okay, I was at the airport on my way to I-don’t-even-remember-where-anymore and out of habit, I bought the book for those long hours of waiting and flight. I read a couple of pages but decided that I was more interested in sleeping than reading through. So weird of me.

When I continued reading the first chapters, I was like ‘Okay. Intriguing. Could be something’ but again I kept putting it down. The introduction about Louisa Clark was not that impressive after a few chapters. And then the next chapters made my eyebrows raised. I flipped back to earlier chapters trying to figure out how in the world a girl named Louisa Clark can become the girl who melt a rich man’s cold heart while her own sister herself calls her idiot? After that, throughout the next chapters I was hoping the answer to my question would be on the next page. I was wrong.

So, here is my disappointment with the novel.
I like the storyline -I think it is an interesting storyline! I do!
I like the male character, Will Treynor. He gives more than enough opportunities for the story to build up drama. I even love the male character. I think it is a brilliant choice by the writer to give this background, this story, this personality, to this male character.
I am interested in the background characters: the family, the sister, the boyfriend. They are all amazing for background.
I didn’t mind the slightly predictable ending because the story could (!) offer surprises here and there.
Aaaand, I would like to fall for the female character. The heroine. Louisa Clark. I was waiting to fall for her. But…nothing.
With that storyline, this male character, that background, Louisa Clark has just provided me with consistently annoying character from the beginning -the clueless girl who can’t even show me why she deserves to be loved. She is not maturing. She is not developing enough to turn the story around!

So, I ended up being so irritated with the novel and stopped reading when I reached page 337. I told my friend that and…she was upset 😀 . After that time, my friend started to nag me to watch the movie to see if I could change my mind. Yeah. Right. But she was so insistent and annoying and she checked on me several times if I had watched the movie. So, I did it just to stop her nagging while secretly hoped the movie was better.

But, it wasn’t! 🙁 . It just looked nicer from all the nature and scenery in the movie.

So, what makes me change my habit of not commenting on a novel?
My annoyance that the story could be better IF THAT LOUISA CLARK COULD SHOW ME SHE DESERVES THE ROLE.

On another note, this novel is a learning tool for me. I got to reflect on how a character should mature throughout the novel. Or how a character should be developed. Or how a good story can be ruined by one not-convincing character. Or how -even in a fiction- you’ve got to work hard to deserve someone’s love.

Rumus Matematika Sebuah Bangku Bis

Bus APTBBis APTB (bis penunjang daerah pinggiran dengan halte bis Transjakarta) jurusan Blok M-Cileungsi sore itu lumayan padat. Seperti biasa saya naik dari halte TJ Kuningan. Seperti biasa pula saya langsung bergeser ke ujung belakang sekadar mencari ruang sedikit lega sekalian memberi tempat bagi penumpang lain. Saya mendapatkan tempat berdiri di sebelah seorang perempuan yang kelihatannya lebih tua dari saya. Dia sudah lebih dulu naik entah dari mana. Paham bahwa penumpang bis berjarak jauh ini jarang ada yang turun cepat, saya girang juga begitu penumpang yang duduk di depan saya persis bersiap-siap turun beberapa kilometer setelah saya naik. Si Mbak pemilik bangku itu pun tersenyum pada saya seperti minta ruang untuk berdiri sekaligus mempersilahkan duduk. Saya balas tersenyum.
Begitu si Mbak meninggalkan bangkunya, sisi kanan saya tiba-tiba terasa disikut. Saya menoleh ke perempuan yang tadi berdiri di sebelah saya. Daaaaan dia melototin saya, sodara-sodara! Dia mendongak (karena dia pendek) dan melotot segede-gedenya matanya ke saya!
Continue reading

Bukan Tempat Reparasi

Beberapa hari ini saya terpikir untuk mulai memberlakukan tarif.
Bukan. Bukan tarif untuk manggung, joget, nyanyi, apalagi jadi jurkam partai. Tarif ini tarif konsultan anti galau profesional. Dengan banyaknya orang-orang yang curhat pada saya beberapa bulan ini sepertinya saya sudah bisa punya sertifikat konsultan anti galau profesional.
Continue reading

Sesuai Umur

Sehari setelah pembantu saya datang dari kampung, saya dapat sms dari suaminya. Isinya:

Ass ibu nh istri aq dh berngkt blm nh by Rohman mba tum dh berngkt ibu,,,?

Sms itu saya terima hampir tengah malam di tengah-tengah prosesi menggendong bayi sampai tidur. Karena kapasitas kesabaran sudah menipis, saya kasih hape ke Papap supaya sms itu bisa diterjemahkan.

Sebelumnya, saat saya tergeletak sakit di rumah, saya juga pernah terima sms dari staf saya yang baru berusia 20 tahun. Di sms saya ke dia, saya minta dia kasih laporan singkat tentang acara pendaftaran siswa hari itu. Sms saya pun dia balas dengan isi yang bablas gak bisa saya ngerti. Yang paling bikin mata saya sepet adalah staf saya ini menaruh huruf ‘X’ di setiap akhir kata.

Pndftrnx lmyn kokx sksesx…

Belum selesai saya baca sms itu, saya langsung angkat telpon nelpon dia sambil menjerit, “Lo nulis apaaaaaan seeeeeh?!”

Continue reading

Bungkusnya, bukan isinya

Si Mami dan saya bukan lah pasangan standar ibu-anak perempuan yang biasa ditemukan di dunia. We are not best friends, although we are not enemies either. Saya dan si Mami bukan jenis pasangan ibu-anak perempuan yang biasa saling curhat. Saya bukan jenis anak perempuan yang ngintilin si Mami, atau nangis bombay ke Mami karena patah hati, atau manis manja ke si Mami saat sedang minta perhatian, atau merengek ke si Mami saat sakit, atau belanja baju berdua lalu saling memilihkan baju masing-masing, bahkan bukan juga jenis anak perempuan yang apabila diwawancara reporter akan bilang, “Oh, Ibu saya adalah pahlawan saya. Dia idola saya. Saya gak bisa tidur tanpa Ibu saya.”

Continue reading

Tanggung Jawab itu…

Sudah beberapa hari ini Hikari sakit batuk dan pilek. Agak berat sehingga dia harus istirahat di rumah karena dokter takut dia lama sembuh sekaligus takut dia menulari teman-temannya. Ketika saran dokter itu sampai di telinga Hikari, dia sontak protes. Tidak boleh ke sekolah? Tidak boleh main? Wajah Hikari langsung ditekuk seratus. Tapi saya dan Papa tetap acuh.

Setelah beberapa hari Hikari di rumah, teman-temannya sudah mulai gelisah. Seorang temannya yang biasa main dengan Hikari memaksa ingin main di rumah kami.

Pada ibunya, saya berkata jelas. “Hikari lagi batuk pilek parah. Mainnya nanti dulu ya. Nanti dia ikut ketularan. Kasihan kalau ketularan.”
Hikari buang muka yang tadinya sudah ditekuk, tapi dia tidak protes lagi.
Anak si ibu yang malah protes dengan ngedumel.
Si ibu tertawa enteng. “Aaaah, enggak pa-pa. Pilek batuk doang. Emang lagi musim kok. Gak apa-apa kok main aja.”

Waaaaat?!

Ngaku saja saya sebenarnya heran kenapa saya masih heran mendengar komentar si ibu. Sebenarnya ibu itu bukan pertama kali itu berkata begitu dan bukan pula orang pertama yang punya pandangan serupa.

Sewaktu beberapa bulan lalu Hikari terkena cacar, saya sempat konsultasi dengan gurunya di sekolah. Saya yakin benar Hikari tertular cacar dari sekolah. Waktu itu guru Hikari bilang di kelasnya -setidaknya- tidak ada anak yang cacar. Curiga? Tidak percaya? Ya, saya setengah tidak percaya, but, hey, positive thinking saya tahu ada 101 cara dan tempat Hikari bisa kena cacar selain di sekolah.

Karena cacar itu, Hikari hampir sebulan tidak sekolah. Dokternya mewanti-wanti supaya Hikari masuk sekolah ketika lukanya sudah mengering! Dokternya tidak ingin Hikari jadi penular cacar di sekolah, dan saya setuju.

Sewaktu saya mengantar Hikari ke sekolah setelah lama absen itu saya bertemu dengan ortu siswa lain. Si ibu menanyakan kenapa Hikari tidak sekolah.
“Oh cacar? Anak saya kena juga tuh. Si ini si itu si dia juga kena,” katanya enteng.
“Kapan?” Saya kaget setengah mati. Bukankah si guru bilang murid kelasnya tidak ada yang kena cacar.
“Ya kira-kira sebelum Hikari lah. Lagi musim.”
Kepala saya berputar-putar. Abis ini ada yang bakalan kena semprot saya nih!
“Anak saya itu gak betah banget kan. Jadi pas panasnya turun dan dia sudah bisa lari-lari, dia minta sekolah lagi.”
“Terus?” “Ya udah, saya masukin sekolah lagi. Daripada di rumah nyebelin banget.”
“Emang udah hilang bekasnya?”
“Ya belum. Yang penting demamnya sudah hilang.”
Jantung saya berhenti. “Gurunya tau?”
“Saya sih cuma bilang dia demam.”
“Tapi kan kalau lukanya baru kering itu masih nularin.” Saya protes.
“Enggak ah kayaknya. Mamanya si itu juga gitu. Si itu gak mau lama-lama di rumah jadi begitu demamnya turun ya masuk sekolah.”

Adegan di rumah saat saya nyumpah-nyumpah sebaiknya tidak saya ceritakan demi perdamaian dunia.
Damn! When will they realize that being responsible is not only for you and your family but most importantly for the people around you?!

Orang-orang yang punya pendapat di atas itu adalah orang-orang yang sama yang tahu kalau membuang ludah sembarangan itu jorok, batuk itu harus ditutupi mulutnya, flu Singapur itu menular, imunisasi itu harus dilakukan di umur sekian dan sekian, dan sebagainya.
Mereka juga orang yang sama yang mengendarai mobil bagus, berhape BB, langganan koneksi internet, liburan ke Bali atau malah Singapur tiap tahun.
Pendidikan dan strata sosial ternyata tidak menjamin tingkat tanggung jawab seseorang. Dan kenapa gitu saya sewot banget soal ini? Coba bayangkan kalau yang tertular penyakit itu adalah anak anda yang sudah setengah mati anda jaga kebersihan dan keamanannya. Coba bayangkan kalau penyakit itu bukan cuma sekadar batuk pilek…