There is no such thing as ‘originality’

Film the Social Network rupanya sangat menginspirasi Papap. Seharian, yang diomongin Papap hanya film itu saja. Saya sendiri nontonnya gak sambil konsentrasi. Sambil nge-twit, sambil ngunyah pisang goreng, sambil buka fesbuk, sambil pipis, sambil…. I’m sure you got it already. Sebaliknya Papap berperan seperti reporter TV. Walau saya di dapur (ngunyah pisang goreng, bukan masak) atau di kamar (maen fb dan twitter), Papap bolak-balik nyeritain jalan cerita si film 🙂

Singkat cerita, jauuuuh setelah film selesai, kira-kira 4 jam kemudian, Papap menggumam-gumam. Katanya, “Si Mark akhirnya mau disuruh bayar orang-orang yang nuntut dia. Kok mau ya? Kan dia yang nemuin, dia juga yang membangun si Facebook itu… bla bla…”
Atas protes si Papap saya cuma komentar, “there’s no such thing as original idea nowadays.”

Continue reading

Happy Place

Malam buta begini, saya ingin merindukan suatu masa. Masa ketika yang ada hanya kebahagiaan, bahkan bila saat itu saya berurai air mata. Kenapa saya harus merindukan masa lalu itu? Karena orang bilang saat kita butuh merasa bahagia, kita bisa pergi ke Happy Place kita. Dan memang rasanya seperti ada energi baru. Cinta baru. Untuk hidup saya. Saya. Bukan kita.

Saya tak begitu peduli apakah kamu memercayai Happy Place atau tidak. Toh Happy Place saya bukan untuk kamu datangi juga. Apa yang ada di Happy Place saya pun mungkin tidak akan bisa membuat kamu bahagia. Saya hanya ingin bilang saat ini saya ingin pergi ke Happy Place saya. Jadi, biarkan saya pergi.

Tiga, Empat, Lima Bulan Ini

Tiga, empat, lima bulan ini adalah suatu perjuangan buat saya pribadi. Dimulai dari sakit kepala yang tidak kunjung berhenti, demam yang tidak berpenyebab, rasa ringkih yang tidak berkesudahan. Satu, dua, tiga dokter saya datangi. Semua tanpa hasil.

Lalu ada kecurigaan lain yang sudah berumur dua tahunan. Ketika Rezah pergi, saya tidak mendapatkan jawaban apa yang terjadi. Penyakit apa yang membuatnya hilang. Setelah dokter-dokter yang lain, saya berkunjung ke dokter kebidanan. Seminggu kemudian, rasa penasaran saya terjawab. Saya menderita toksoplasma, Rubella, CMV. Tambahkan tiga hal itu dengan tipus dan DBD.

Continue reading

How do you end a year?

How do you end a year? I mean really end it and feel like you have put it behind you?
Do you go out and party?

Do you stay home and pray?

Or you just don’t care because it always feels the same? The sun still shines tomorrow. Or the past still haunts you tomorrow.

I cannot, or haven’t been able to really say goodbye last year and welcome new year. What is it to good-bye and to welcome? Life will be like it is. On some months it will be improving, on some days it will be devastating. What’s new?

Resolutions? Being better? Sure. But do you need a new year to really say ‘I’ll be a better person next year, but since next year is still a week away I’ll take my time being whatever!’

Resolutions are thought because you just experience something terrible. It’s like an enlightenment. You did or experienced something bad, you had enough, and then you promised yourself you’d be a better person. New year is just not it. Not with all the trumpets and fireworks, of course.

So, friends, bitter as my post might feel, let me console you. If you cannot find one, two, a hundred New Year’s resolutions, don’t feel bad. It only shows you are human, you are normal, you are not fake, you are you. But, if you cannot find even one thing, ONE THING(!), to improve in your life every time you get up from your bed every morning… then you need to consider how to revolutionize your life!

Happy New You!

Dr House, I feel you…

I don’t know if you know Dr Gregory House from the TV series House MD. But if you know him, you might have mixed feelings toward him. Love him, admire him, totally hate him, and then you wonder what makes him be such a misanthrope.

House hates people. He doesn’t believe in happiness. And we are wondering what had happened in his life that made him how he is today. In one of the series, House tried to help a trapped young woman whose leg was severely hurt. The woman asked him if her leg needed to be amputated. House said no. He said his leg was hurt too but he refused to be amputated and now he still had his both legs intact. Cuddy, his boss, was angry at House’s advice to the woman. Refusing to cut her leg would risk her life. House, as usual, ignored Cuddy. Then Cuddy said this thing that made me want to write this post…

Continue reading

Pesta Blogger 2010

Tahun ini tahun keempat saya datang ke Pesta Blogger. Kebetulan, eh, sengaja saya selalu menyempatkan datang ke acara ini. Walaupun Jengjeng yang satu ini bilang bahwa kami sudah terlalu tua untuk ikutan acara beginian, saya teguh kukuh berlapis baja. Ada banyak alasan yang membuat saya memaksakan (ya, maksa karena biasanya saya jenis manusia malas keluar rumah) diri untuk datang. Salah banyak dari alasan itu adalah…

1. Mau bikin si Nenek nangis dengan ambil name tag dan mencoret-coret nama dia disitu.

2. Mau pose-pose bareng si Mbah satu ini.

3. Mau lihat si ini yang nama blognya itu tuh tampangnya seperti apa?

4. Mau ikut-ikutan berasa muda lagi… *hush!*

Yah. Itu tuh alasan saya. Gak ada yang penting ya? hehehe…

Alasan utama saya ingin selalu datang adalah untuk menjaga kewarasan mental saya. Loh kok? Iya. Lah tag line blog saya saja I blog for my sanity.

Setelah 5 hari 8 jam sehari saya dibombardir dengan -seringkali- ketidak warasan di kantor, saya merasa butuh untuk me-recharge baterai positif di diri saya. Bila blog adalah medianya, maka Pesta Blogger adalah klimaksnya. Kalau anda pikir saya butuh PB itu untuk bergaul, anda salah besar. Setiap kali saya datang ke acara Pesta Blogger itu (di pesta pertama saya datang sendiri), kerjaan saya cuma duduk di bangku paling belakang. Boro-boro bergaul. Kan saya ini pemalu… Tapi herannya, acara berdurasi 8 jam-an ini bisa membuat keseimbangan mental saya tetap seimbang.

Lalu apa bedanya pb2010 ini dengan pesta-pesta berikutnya? Hmmm… apa ya? Saya gak bisa banyak komentar soalnya saya datang detik-detik menjelang makan siang hehehe…

Tapi kalau boleh saya nulis catatan sedikit, saya mau bilang…

1. Saya paling suka tempat Pesta Blogger kedua, terutama untuk acara awalnya, karena bisa membuat semua hadirin fokus pada acara.

2. Saya paling suka logo Batik PB ketiga dan tas hadiah segede gajahnya.

3. Saya paling terharu di pb2009 alias PB ketiga. Ya iya lah, wong saya dapet hadiah! hehehe…

4. Saya nyatet kok sudah 2 pesta  diselenggarakan di gedung belum jadi ya? Ini di pesta ketiga dan keempat sekarang. Acara mini session-nya jadi gak nikmat karena berada di ruangan belum jadi.

5. Saya lihat pb2010 paling banyak meja bazaarnya ;p

6. Saya juga mbantin pb2010 paling banyak keterlibatan komunitas blogger lain. Komunitas blogfam tempat saya lahir juga nongol. Malah saya sempat ketemu Maknyak segala. Sayangnya komunitas saya sendiri gagal, eh, belum bisa narsis di pesta ini.

7. Saya paling norak di pesta pertama 🙂

Aksi dan Reaksi

Dulu sekali saat muncul berita Dewi Persik menampar seorang laki-laki karena melecehkan dirinya di muka umum, satu forum yang saya ikuti ramai. Maksud saya ramai adalah sebagian besar peserta forum ramai-ramai menghujat Dewi Persik. Bukan karena tamparannya tapi karena pakaian yang dikenakan. Para pemberi komentar sepakat, Dewi Persik patut mendapatkan pelecehan tersebut karena dia selalu berpakaian berani.

Setelah beberapa saat membaca komentar orang-orang, saya mulai gerah. Lalu saya menulis, kira-kira:

Pelecehan -apapun alasannya- tidak boleh dimaklumi! Perihal Dewi Persik mau pakai baju minim atau malah tidak pakai baju sama sekali bukan alasan seseorang untuk merasa berhak melecehkannya. Itu sama saja dengan berkata seorang perempuan patut diperkosa bila dia berpakaian minim atau berperilaku mengundang.

Anda tahu apa yang saya dapatkan setelah menulis itu? Saya dihujat!

Menurut sebagian besar peserta forum, tindakan Dewi Persik mengundang. Jadi ada aksi ada reaksi. Pakaian minim, ya pantas kalau laki-laki jadi tergoda untuk menggoda. Saya tidak sependapat. Saya lihat perempuan memakai rok-rok pendek sepaha di Jepang, tapi tingkat pemerkosaan disana jauh lebih rendah dibanding disini. Bagi saya aksi boleh ada, reaksi belum tentu perlu diperlihatkan. Orang lain boleh ngajak berantem, kan kita tidak perlu harus melayani dia berantem? Setiap individu punya pilihan untuk bereaksi atau tidak.

Pendek cerita, saya kalah suara di forum itu. Tidak masalah. Disitu saya belajar bahwa banyak orang kita yang masih melemparkan tanggung jawab karena telah bereaksi kepada orang lain.  Saat satu jari menunjuk ke orang lain, kita lupa ada empat jari yang menunjuk ke diri kita. Eh, tapi kenapa sih saya tiba-tiba ngomongin Dewi Persik?

Mekarsari 2010

Beberapa hari yang lalu saya dapat sms dari salah satu ibu dari temannya Hikari di sekolah. Anak ini termasuk salah satu teman baik Hikari. Si Boy -sebut saja- anak yang paling sering dijauhi teman-temannya. Dia termasuk anak yang lumayan pintar, tapi dia anak yang paling cengeng di kelas. Teman-teman Hikari memanggilnya Boy Bayi.

Saya pikir ibu si Boy dalam hati menyadari kemanjaan anaknya. Di usianya yang 8 tahun, si Boy masih sering merengek-ngamuk bila kemauannya tidak dituruti, masih sering menguntit teman-temannya kemana saja, masih sering mengabaikan tanggung jawab personal dan komunitas, atau masih sering menangis iri bila dia tidak diikutkan dalam satu kegiatan dimana teman-temannya ikut. Tapi, alih-alih memperbaiki cara dia mendidik Boy atau memperbaiki tingkah laku Boy, si ibu memilih untuk meminta lingkungan Boy memaklumi anaknya. Pada saya, dia minta Hikari untuk selalu main dan menjaga Boy (Bo, anak lu lebih gede dari anak gue!). Dia juga minta saya untuk mengajari Boy tanggung jawab (“Bereskan mainan setelah selesai main atau tidak boleh main disini lagi!” Lah, emaknya siapa?!). Dari kelas 1 sampai kelas 3, dia minta guru-guru si Boy untuk menegur anak-anak yang menolak main dengan Boy atau yang mengatai Boy dengan Boy Bayi, si Cengeng, atau lainnya.

Belakangan ini, keengganan teman-teman Boy untuk main bersamanya semakin jelas terlihat. Dan julukan-julukan pun makin sering dilemparkan. Sebagai latar belakang saja, anak-anak di sekolah Hikari tidak punya banyak kosakata hinaan. Mereka tidak tahu kalau nama binatang bisa dijadikan nama panggilan kesayangan. Walau begitu, dengan keterbatasan kosakata hinaan, mereka mampu membuat si Boy menangis tiap pulang sekolah dan si ibu mengancam untuk pindah sekolah.

Si ibu lalu sms saya. Intinya dia minta saya bilang ke Hikari untuk menegur teman-temannya bila mereka mulai mengejek si Boy. Dia minta Hikari untuk menjaga Boy dari ulah bullying teman-temannya.

What?!

Sore itu begitu saya sampai di rumah saya langsung mengajak Hikari bicara. Apa yang terjadi di sekolah? Siapa yang mengganggu si Boy? Kenapa dia diganggu? Apa yang dilakukan kepada si Boy? Dan seterusnya dan seterusnya…

Kata Hikari: “Si A panggil Boy si Bayi soalnya waktu si Boy disuruh tunggu giliran main, dia nangis. Si B bilang si Boy begini. Si C bilang si Boy begitu…”
“Kamu ikut mengejek?”
“Enggak sih.” Hikari menunduk. “Tapi aku ikut tertawa.”
“Menurut Hikari ikut menertawakan Boy itu baik?”
Hikari menggeleng. “Tidak.”
Sedetik kemudian Hikari menatapkan matanya bulat-bulat pada saya. “Tapi Boy memang tidak menyenangkan sih. Dia nangis waktu disuruh tunggu giliran main, jadi si A marah. Terus dia malah mendorong C sewaktu C bilang itu giliran C. Jadi teman-teman bilang si Boy Bayi.”

Saya paham sekali logika Hikari. “Nak,” kata saya, “lain kali, kalau si Boy membuat kesal kalian lagi, bilang ke Boy: Kalau kamu tidak mau giliran, aku tidak mau main dengan kamu.”
“Kalau si Boy tetap tidak mau giliran?”
“Tinggal pergi.”
“Kenapa?”
“Si Boy sudah berlaku tidak baik. Kalau Hikari membalas dengan mengejek dia itu artinya Hikari menjadi tidak baik juga.”

Hikari terdiam. Dia mungkin tidak mengerti sepenuhnya apa maksud saya tapi saya sudah bertekad untuk membuat Hikari melihat bahwa setiap diri punya pilihan. Melihat aksi mungkin tidak bisa terhindarkan. Tapi bereaksi adalah satu pilihan untuk dilakukan atau justru tidak dilakukan.

Kepada si Ibu, saya menjawab, “Hikari sudah diberi tahu supaya tidak ikut mengejek Boy. Si Boy sudah diberi tahu supaya mengubah tingkah lakunya supaya kooperatif waktu bermain dengan yang lain?”

Sms saya tidak dibalas.

Nasib Selebriti

Kemarin itu saya baru pulang dari Bandung setelah menghadiri pesta nikahnya si Kang Meddy. Terus terang, ini pertama kalinya saya menginap di Bandung, demi Kang Meddy dan pembuktian kepada si Nenek bahwa saya benar sudah dateng ke kawinan anak didiknya.

Teman-teman saya biasanya suka menghina-hina saya soal Bandung karena kebutaan saya tentang kota ini. Kalau teman-teman saya melencer liburan kesana, saya tak pernah tertarik. Kalau teman-teman saya riuh belanja di lusinan FO sana, saya juga masih tak tertarik. Perjalanan saya ke kota itu hanya sekedar numpang lewat kalau mau ke Lembang.

Nah, wiken lalu saya menginap di salah satu hotel di tengah kota Bandung. Sampai sana sudah jam 2 siang lewat dengan membawa rasa capek dan perut keroncongan akibat kelamaan di mobil. Selesai check-in dan menaruh barang di kamar, Papap langsung mengajak makan. “Disebelah aja,” kata Papap. “Makan apa juga kalau capek dan laper begini pasti enak.”

Berbekal teori si Papap, kami jalan kaki ke resto Sunda yang berada tepat di sebelah hotel. Begitu masuk resto yang bergaya bambu-bambu, mata saya langsung kepentok dengan dua buah bingkai besar hampir 1 meter x 1 meter yang penuh berisi foto selebriti Indonesia. Enggak tau juga apa ada selebriti internasional kesitu. Antara gak sempat dan gak napsu untuk ngeliatin puluhan foto-foto selebriti itu, saya langsung masuk resto tanpa ngelirik dua kali ke foto-foto itu. Papap langsung pesan makanan standar di resto Sunda: ikan, sambel, sayur asem, mangga…

Enak?

Teori Papap tentang kalau laper makanan apapun jadi enak ternyata tidak terbukti. Atau kami memang belum segitu lapernya. Saya dan Papap setuju ada resto lain di pinggir pantai Anyer yang rasanya jauuuuuuuuuh lebih nikmat dibanding resto ini.
“Padahal resto ngetop. Harusnya enak banget, kan?” kata Papap.
“Tau darimana ini resto ngetop?”
“Lah itu foto-foto selebriti sampai dua lusin dipajang disitu!”
O-oh. Saya baru ngeh ternyata foto-foto para selebriti itu berfungsi sebagai testimoni tidak langsung atas kelezatan makanan di resto ini.

Malam hari dan besoknya, saya baru melihat bahwa banyak resto lainnya yang pasang strategi pemasaran dengan memasang foto para selebriti yang datang ke resto mereka. Tiap pindah resto, saya lihat muka dia lagi dia lagi dia lagi di resto yang berbeda-beda. Selebriti Indonesia ternyata doyan wisata kuliner.

Di resto terakhir di daerah Burangrang, saya kembali melihat foto-foto selebriti yang dipajang dengan latar belakang resto tersebut. Kali ini, saya punya waktu untuk melototin satu-satu siapa saja orang ngetop yang pernah datang kesitu… dan setelah foto yang terakhir saya pelototin, saya merasa kasihan…

Coba bayangin. Kalau saja saya seorang selebriti yang baru sampai Bandung setelah mengalami hari yang melelahkan mental dan fisik. Lalu saya lapar. Belum makan, hari sudah siang banget.
Eh, bo, di sebelah ada resto. Makan yuk! Saya pun cuma sempat dan cuma punya energi untuk menaruh barang di kamar. Setelah itu saya ingin memuaskan rasa lapaaaaaaar. Saya beranjak ke resto di sebelah hotel. Muka lecek? Ya iya, kaleee. 4 jam di jalan gitu loh! Muka laper? Perlu nanya? Apa perlu elu gue makan sekalian? Udah, gak usah rese! Kita jalan aja ke sebelah buruan!

Pergi lah saya yang selebriti bermuka lecek dan lapar ke resto sebelah. Baru sampai di pintu resto…
“Eeeeeeeeeeeh, mbak seleb! Apa kabar?”
Hah? Apa kabar? Kapan gue pernah kesini?
“Silahkan mau pesan apa?”
“Ennnggg… saya duduk dulu boleh?”
“Boleeeeeeh! Eh, tapi foto dulu ya? Ya? Ya?”
JEPRET!
“ADOH!”
“Makasih mbak seleb! Sekarang baru boleh duduk.”

Beberapa hari kemudian foto saya dengan muka lecek dan laper terpampang di resto itu. Dem!

Nah! Selebriti asli gak bakal ngelewatin hari sial model begitu. Selebriti asli pastinya bakal sadar -terpaksa atau tidak- untuk memoles dirinya sekinclong mungkin dengan senyum palsu seindah mungkin memakai baju sekeren mungkin saat pergi keluar dari kamar segimanapun capeknya, lapernya, betenya, dongkolnya, jeleknya diri mereka saat itu. Dan itu yang membuat saya merasa kasihan.

Yang lebih bikin kasihan lagi adalah semua orang yang ikut rombongan selebriti itu harus sama kinclong dan palsunya dengan si seleb. Kan konyol kalo emak selebritinya kinclong tapi anaknya dekil. Sudah begitu, dia harus rela jadi iklan tak berbayar resto tempat dia makan. Lah iya kalau makanannya enak. Kalau enggak?! Duh, rasa kasihan saya makin menjadi-jadi nih. Untung saya nolak jadi seleb….