Antologi Cerpen – Sebuah Niat untuk Terus Menulis

Cerpen Majalah Femina
Niat. Yang penting niatnya.
Sebenarnya saya sudah lama berniat melanjutkan draft-draft cerpen yang terbengkalai. Ya niat doang. Belum pernah saya laksanakan dengan berbagai alasan. Salah satunya karena saya takut berkomitmen waktu untuk menulis (saja). Menulis itu butuh banyak faktor pendukung selain mood. Ada faktor ketenangan lingkungan yang sangat penting, faktor kenyamanan tempat menulis, faktor bebas gangguan, dsb dkk dll. Kalau saya sudah berkomitmen untuk menulis, artinya saya akan menjadi sangat selfish. Tidak mau diganggu selama jam-jam saya menulis. Tanpa adanya ruangan sendiri yang bebas gangguan, kondisi ini sulit kecuali saya menulis dari tengah malam sampai dini hari. Coba setiap hari gini, minggu kedua tipes langsung kan?
Continue reading

Jam 7 Pagi

Di dua puluh empat jam hidupku dalam sehari, matahari terbit di jam 7 pagi.

JAM 7 PAGI
Getaran ponsel membangunkan aku diikuti dengan bunyi ting ting ting yang terdengar bertubi-tubi menandakan pesan demi pesan berebutan masuk. Jam 7. Ah sialan. Tadi aku lupa mematikan suara notifikasi.
Aku tidak langsung membuka pesan yang masuk ke ponselku. Mataku masih menolak untuk membuka lebar, kepalaku masih lekat dengan bantal leher, dan nyawaku masih gentayangan di dunia mimpi. Ting ting ting! Penumpang perempuan di sebelah kananku mengubah posisi rebahannya tanpa basa-basi, memunggungiku. Punggung bangku bus yang dia duduki, eh, tiduri, direbahkan lebih dalam. Maaf ya. Aku berharap kekuatan alam semesta meneruskan permintaan maafku lewat telepati. Aku tidak perlu melihat siapa yang mengirim pesan. Aku sudah tahu.

Cerpen terbaru di antologi cerpen Empat Puluh Kilometer Pulang di Storial. Lengkapnya, lanjut ke cerita Jam 7 Pagi.

#fiction #writing #storytelling

Ide Mentok itu Real, Kawan

Sudah seminggu ini waktu saya terbuang sia-sia di depan laptop tanpa berhasil produktif sama sekali. Draft cerpen yang harusnya tayang minggu lalu (kemudian molor tengah minggu, terus molor lagi sampai akhir minggu) hanya bisa saya pelototin bolak balik. Saya cuma sanggup ngotak-ngatik teknisnya: pilihan kata, tanda baca, tanpa bisa maju ke hal yang lebih substansial: isi cerita dan endingnya, sisssss! Frustasi rasanya.
Continue reading

Wedding Ring – My Morning with You

β€œIs that…a wedding ring?”

Pertanyaannya, walau pelan, datang tiba-tiba. Dilontarkan di situasi yang tidak tepat. Di keheningan penumpang yang memenuhi bus pagi itu. Sebelumnya perhatianku sedang terpaku pada pemandangan pohon-pohon di luar jendela bus yang mulai berganti warna dari hijau ke coklat. Aku terkesiap, menoleh cepat dan mendapati dirinya menatapku lekat-lekat dari balik lensa kacamatanya. Bola matanya yang biru seperti langit musim dingin di luar sana menatapku lekat-lekat. Ah, sialan! Perempuan berambut merah sebahu yang duduk di bangku di depan kami memiringkan kepalanya sedikit. Aku tak bisa melihat wajahnya tapi aku yakin apapun jawabanku, perempuan di depanku akan tahu juga. Apa pertanyaannya tadi?

Lanjutannya ada di Storial ya πŸ˜€ .

#fiction #writing #storytelling

40 Kilometer Pulang

Sudah mulai musim hujan. Siap-siap banjir.
Kata supir bus tanpa ditujukan kepada siapa-siapa. Matanya masih terpaku ke ruas jalan di depannya. Pandangannya terhalang air hujan yang turun seperti jalinan air tebal-tebal. Dua buah wiper panjang melekat di kaca bus dan bergerak konstan ke kanan ke kiri tidak banyak menolong. Hanya suara besi diseret saja yang menandakan tongkat wiper itu bekerja.

Bangku empuk berbalut kulit sintetis warna hitam di belakang supir sebenarnya bisa diduduki tiga orang penumpang. Hanya aku yang duduk di sana. Orang-orang yang naik setelahku hanya melirik sebentar lalu berlalu. Tidak ada yang mau duduk di sebelahku. Aku tidak menyalahkan mereka. Aku pun tidak mau duduk di sebelahku. Payung di tanganku basah dan tetes-tetes air turun ke lantai bus. Jaket parka yang kupakai basah kuyup membuatnya berat, bau, dan dingin. Lalu ada tas ransel yang basah kutaruh di sebelahku. Celana panjang berbahan kain yang menjadi jalan air dari badanku ke kaki, merembes ke kaos kaki, menyusup ke pojokan dalam sepatu yang bila kupaksa berjalan akan berbunyi seperti spons penuh air. Aku duduk di ujung bangku, menyender ke jendela di sisi kanan. Mesin pendingin di atas kepala tidak bisa diatur suhunya. Hanya ada pilihan Mati dan Dingin. Udara dingin yang keluar dari mesin itu tidak punyai belas kasihan. Badanku menggigil. Tidak ada tempat untuk melarikan diri dari kejaran angin beku di dalam bus. Setidaknya udara dari mesin pendingin bisa menghilangkan embun dari kaca jendela. Aku bisa memandang keluar. Ke deretan mobil yang berjalan berdesakan di ruas jalan tol. Mobil-mobil pribadi berisi satu dua orang. Taksi-taksi dengan penumpang yang sepertinya lega telah terhindar dari tumpahan air dari langit. Membayangkan kehangatan mereka membuatku semakin menggigil. Berapa ongkos taksi dari Plaza Semanggi ke Bekasi? Mungkin 200 ribu rupiah di tengah hujan dan macet. Jumlah Rupiah yang tidak mampu aku keluarkan demi rasa hangat sejauh 40 kilometer.

Badanku menggigil lagi.
Continue reading

I Love You Most Ardently


Three months into home quarantine and I found myself hooked (again, and again) on Pride and Prejudice, movie and book. This time, I have been re-watching the 2005 version of P&P every night and day for more than a week already 😳 . Well, everyone who’s known Mr Darcy would not think I’m insane, right? Mr Darcy has totally set the standard of women’s expectation of men for centuries. Quite an impossible standard, I must admit πŸ˜€ . For those of you who are familiar with Mr Darcy, I’m sure you know what I mean.
Continue reading

Perempuan Ngobrol tentang Menulis

Hari Minggu kemarin, saya diundang komunitas Trilogy of Female untuk ngobrol tentang menulis dan bagaimana menulis bisa memberdayakan perempuan, khususnya. Agak senewen juga saya jujurnya untuk mengiyakan karena saya merasa belum ada apa-apanya untuk bisa berbagi di forum seperti itu yang diikuti oleh banyak peserta. Untungnya ada pembicara satu lagi, Mbak Sherlinda, yang bisa mengisi mati gaya saya tiap harus nongol di forum.
Continue reading

Officially a Published Writer

Tepat 12 tahun dan 1 bulan yang lalu (oke ini saya udah ngitungnya pakai kalkulator), novel pertama saya Hair-Quake resmi diluncurkan di 13 April 2008. Setelah sebelumnya cuma jadi penulis blog, jurnal, diary, komen blog orang, laporan kantor, Alhamdulillah sudah bisa merambah ke profesi penulis novel. Sejak itu saya sudah menulis 4 novel Metropop dengan GPU, 3 novel antologi dengan Lingkar Pena, 1 buku cerita anak antologi dengan Blogfam, dan 2 cerpen di Majalah Femina. Belum seberapa memang.

Pertengahan tahun 2013, A Wish for Love, novel yang keempat diterbitkan. Sejak itu karir penulisan novel saya berhenti sampai 7 tahun kemudian di tahun 2020 ini dan saya hanya sanggup menelurkan 2 cerpen di Majalah Femina. Kenapa berhenti? Sibuk, Bambaaaang πŸ˜€ .
Continue reading