I Love You Most Ardently


Three months into home quarantine and I found myself hooked (again, and again) on Pride and Prejudice, movie and book. This time, I have been re-watching the 2005 version of P&P every night and day for more than a week already 😳 . Well, everyone who’s known Mr Darcy would not think I’m insane, right? Mr Darcy has totally set the standard of women’s expectation of men for centuries. Quite an impossible standard, I must admit 😀 . For those of you who are familiar with Mr Darcy, I’m sure you know what I mean.
Continue reading

Perempuan Ngobrol tentang Menulis

Hari Minggu kemarin, saya diundang komunitas Trilogy of Female untuk ngobrol tentang menulis dan bagaimana menulis bisa memberdayakan perempuan, khususnya. Agak senewen juga saya jujurnya untuk mengiyakan karena saya merasa belum ada apa-apanya untuk bisa berbagi di forum seperti itu yang diikuti oleh banyak peserta. Untungnya ada pembicara satu lagi, Mbak Sherlinda, yang bisa mengisi mati gaya saya tiap harus nongol di forum.
Continue reading

Officially a Published Writer

Tepat 12 tahun dan 1 bulan yang lalu (oke ini saya udah ngitungnya pakai kalkulator), novel pertama saya Hair-Quake resmi diluncurkan di 13 April 2008. Setelah sebelumnya cuma jadi penulis blog, jurnal, diary, komen blog orang, laporan kantor, Alhamdulillah sudah bisa merambah ke profesi penulis novel. Sejak itu saya sudah menulis 4 novel Metropop dengan GPU, 3 novel antologi dengan Lingkar Pena, 1 buku cerita anak antologi dengan Blogfam, dan 2 cerpen di Majalah Femina. Belum seberapa memang.

Pertengahan tahun 2013, A Wish for Love, novel yang keempat diterbitkan. Sejak itu karir penulisan novel saya berhenti sampai 7 tahun kemudian di tahun 2020 ini dan saya hanya sanggup menelurkan 2 cerpen di Majalah Femina. Kenapa berhenti? Sibuk, Bambaaaang 😀 .
Continue reading

Cover Baru di Ebooks

Dua novel lawas saya, halah lawas, lamaaa, novel lama saya dikasih baju baru dan diterbitkan di Gramedia Digital.

Novel Fly Him to the Moon ini tidak seperti saudara-saudaranya yang lain semacam anak jarang disebut 😀 . Ini novel yang idenya benar-benar nggak ada yang saya ambil dari pengalaman saya. Ide cerita di sini benar-benar karangan saya sendiri. Yaiyalah masa karangan orang lain… Novel-novel saya yang lain pasti ada sedikit cipratan pengalaman saya sedikit atau banyak. Novel ini juga jarang disebut. Enggak seperti yang lain. Kenapa ya? Hmm…

Di novel FHTM ini juga, ada sumbangan puisi teman keren saya si Memed. Puisinya bikin baper abis deh.

Novel lain yang bisa dibaca ebooksnya ya si novel yang sudah 3x ganti baju. Paling banyak dandan yang ini dah. Novel ini juga yang personal banget buat saya, selain novel Hair-quake. Novel TTTL ini idenya saya dapat karena keseringan bengong di kereta JR Yamanote Line. Saat menulis cerita ini saya seperti trance membayangkan Tokyo dan keretanya, menghirup bau Tokyo dan sekitarnya, makan minum hidup berhari hari bersama tokoh-tokohnya di kepala saya. Kayak kesurupan.

Ohya kemarin itu di Ig ada yang komen bahwa To Tokyo To Love ini novel favorit dia sewaktu SMP. Antara senang dengan malu, saya bacanya. Saya menjejali anak SMP dengan cerita cinta cintaan model beginiiii hadeuuuuh….Hahaha…

Anyway, silahkan berkunjung ke https://ebooks.gramedia.com/books/author/mariskova untuk membaca versi digital novel-novel ini. Eh, jangan lupa setelah baca tulis komen dong.

A Wish for Love – Editors’ Choice Collection

Bulan ini Gramedia Editors mencetak ulang novel-novel yang menjadi pilihan editor.
Betapa senangnya hati ini novel saya yang A Wish for Love masuk menjadi pilihan editor!

Selain menjadi Editors’ Choice, AWFL diberi baju baru. Love it!

Ebook-nya juga bisa dicari di sini.

Sebenarnya draft sekuel novel ini ada di laptop yang sedang saya pakai ngeblog sekarang ini niiiih. Tapi draft itu sudah 3? 4? 4.5 tahun? teronggok di folder…Maaaaafff….

Lukisan Tua, Angka 13, dan Jarik Tua

LukisanIni tulisan paling susah yang pernah saya tulis.

Susah karena saya ingin menggambarkan masa-masa gelap saya saat terkena Post Partum Depression (PPD) yang dimulai tahun 2011. Cerita di tulisan ini tentu fiksi. Namun emosinya nyata, walau hanya seujung kuku yang saya keluarkan.

Saya kirimkan draft tulisan ini ke beberapa teman. Hanya Nenek FM yang sanggup membacanya sampai akhir DAN memberikan input. Beberapa teman saya yang lain berhenti di seperempat cerita karena…it’s too dark, too emotionally consuming. I don’t blame them. It’s the same reason why I could only write a tiny bit of the emotion.
Continue reading