Mudik Lebaran dan Pencarian Identitas

mudik/muยทdik/ v 1 (berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman)

Seumur-umur yang saya ingat, saya belum pernah mudik Lebaran. Tenang. Walaupun saya tidak pernah mudik Lebaran, masa kecil saya masih baik-baik saja kok ๐Ÿ˜€ .

Dulunya saya pikir orang tua saya tidak pernah mengajak saya dan dua adik saya mudik karena di kampung sudah tidak ada lagi kakek nenek yang harus disungkemi *dilempar kamus KBBI*. Kakek Nenek saya dari Si Kumendan sudah meninggal sejak Kumendan masih kecil banget. Ditambah lagi dengan Eyang dari si Mami sudah ratusan tahun lama boyongan ke Jakarta. Bahkan si Mami aja lahir di Jakarta. Rejeki saya, kemudian saya menikah dengan orang asli Jakarta. Nah, kampung mana lagi yang harus saya mudiki?! *dilempar dua kamus KBBI*

Sebagai orang yang lahir besar di Jakarta, keluarga inti ada di Jakarta, menikah dengan orang Betawi, tiap musim mudik tiba, saya setia saja jadi penonton liputan lebaran di TV sambil mencari jawaban perenungan saya tiap tahun. Sebenarnya saya punya kampung enggak sih?
Continue reading

Nyasar Berfaedah di Sydney

Teman sekolah saya dulu pernah komentar. “Biar si De dikasih penggaris, pasti gambar garisnya bakal mencong juga!”
Nah. Hubungan saya dengan GPS itu sebelas dua belas dengan hubungan saya dengan penggaris. Level kacaunya tingkat dewa.

Sebulan lalu saya tiba di Sydney di kondisi musim panas yang dingin ๐Ÿ™„ . Sejak pertama datang, saya sudah diajarin bernavigasi di kota itu dengan metode yang harusnya fun dan gampang diingat: pergi belanja ke supermarket terdekat. Harusnya sih gampang ya karena tata kota Sydney teratur blok per blok. Kalau kita jalan lurus ikuti jalan ya sampainya di ujung jalan sebelah sonoan. Coba jalan di Jakarta. Udah baik-baik jalan lurus, sampainya bisa di pinggir kali ๐Ÿ˜€ . Kenyataannya, saat disuruh pulang belanja sendiri saya nyasar dengan sukses padahal cuma jalan jarak beberapa blok, lurus aja enggak pakai belok, dan masih pakai google map.
Continue reading