Kebun Binatang Ala Papap

Kalau kalian pernah main ke instagram saya, kalian mungkin pernah baca drama binatang peliharaan di rumah saya yang bisa tiga babak sendiri. Cerita tentang binatang peliharaan ini kadang dimulai dari strategi Papap untuk beli pet baru tanpa bilang sampai hilangnya si binatang yang membuat kami harus membuat pet rescue party 🙄 .

Saat saya menikah dengan Papap, Papap membawa serta kura-kura peliharaan yang dulu sebesar genggaman anak kecil tapi sekarang sudah sebesar kepalanya si anak kecil. Delapan belas tahun dan belasan pet drama kemudian, kami sudah memelihara: 3 kura-kura, 2 kelinci, 1 burung Kakatua Jambul Kuning, 1 burung Nuri, 1 bayi burung Hantu yang tiba-tiba muncul di pekarangan, sejumlah ikan berbagai jenis yang dramanya berjilid ngalahin sinetron, 4-5 Iguana (lupa berapa banyak yang kabur sekarang tinggal 2), 2 hedgehog punya tetangga yang dititip tapi disuruh pelihara (dan kami kembalikan dengan susah payah), kucing kampung mulai dari nenek-kakeknya sampai cicit yang sebenarnya tidak dirawat tapi sering nginep, 1 kucing Angora yang tiba-tiba muncul di rumah dan enggak mau pulang, ular yang tiba-tiba nongol di teras belakang tanpa permisi tapi kami suruh pulang lagi 😀 . Kalau belalang, capung, keong, ulat dan kupu-kupu yang sering nemplok di tanaman saya dihitung, nambah itu daftarnya.


Continue reading

14 Years and 10 Years before that

“Women has this thing in her body called expectation.”
“So, expectation is bad?”
“It is for us, men. Because we’ll never reach their expectation.”
-taken from Chowder, the tv series

This year on the 14 of October, we have been in our 14 years of partnership -and another 10 years of relationship- and expectations often become the roots of all heartaches. Especially on my side. Chowder’s father couldn’t be more right telling Chowder about expectation. Women hold to it firmer than men do.
Continue reading

Papap dan Gadgets

Papap cerita tentang status teman kami di US.
“Si A baru dibeliin iPad sama suaminya.”
“Kok tau?”
“Ini dia tulis di fb.”
Saya baca status si A.
“Terus, suami saya kapan beliin iPad buat saya?”
“Mau?” tanya Papap serius yang malah bikin saya kaget. Serius dia mau beliin gitu?!
“Ya mau lah kalo dibeliin!”
“Boleh!”
“HAH?! Serius?!” Suka gak percaya aja kalo soal beginian sama Papap.
“Ya boleh!”
Saya baru mau bilang ‘tapi…?’
Papap langsung nambahin. “Tapi aku pake dulu ya 2 bulan!”
Sajadah pun langsung melayang ke mukanya.

Saya mikir dulu.
“Satu bulan aja deh?” tawar saya.
Papap terkekeh-kekeh…

Ngambek

Kalau Hikari lagi kumat moody-nya, dia akan mulai cari-cari lawan berantem. Tentu saja yang terprovokasi adalah -urutan pertama- si Papap. Kalau ada Eyang Kung, urutan kedua ya Eyang Kung. Lalu setelah itu Eyang Uti. Saya? Gaya nyari lawan Hikari tidak mempan untuk saya.

Hikari: Aku bosan! Aku mau pergi berpetualang saja.
Papap: Kemana?
Hikari: Ke hutan! Aku bosan!
Papap: Hutan mana?
Hikari: Ya, ke hutan! Kamu dengar tidak aku tadi bilang ke hutan? (nada tinggi)
Papap: Iya, Papap dengar! Papap kan tanya ke hutan mana?! (nada tinggi juga)
Saya: Penting ya, Be? (sambil ngeloyor)
Biasanya setelah itu ada adegan Papap ngomel dan Hikari mewek.

Walau sudah pake acara sahut-sahutan dengan si Papap, Hikari biasanya belum mau mengalah.
Hikari: Aku mau bawa bajuku. Semuanya! Aku mau bawa baju ditaruh di kain. Terus aku pasang kainnya di kayu. Aku mau ke hutan!
Papap: Nih, Papap kasih uang buat naik angkot ke hutan.
Hikari: mewek

Biasanya setelah itu, saya melotot ke Papap, lalu meraih tangan Hikari dan mengajaknya jalan keliling blok walaupun hari itu sudah larut malam sekalipun. Biasanya dia akan berjalan dengan manyun, ngomel, nendang-nendang batu, sampai lari kencang meninggalkan saya. Setelah manyunnya hilang, dia akan balik lagi mencari saya yang masih berjalan santai lalu… memeluk saya erat-erat. Pemandangan yang biasanya dibalas Papap dengan ledekan sirik… karena saya enggak pernah mau dipeluk Papap kalau lagi jalan-jalan di sekitar rumah…

Beda Hikari, beda Papap.
Kalau Papap sedang ngambek -yang datangnya seperti tahun kabisat: 4 tahun sekali- saya malah pasang tampang jengkel. Soalnya, Papap kalau ngambek itu belagak diam. Kalau ditanya, jawabnya sepotong-sepotong. Kalau disindir ngambek, enggak mau ngaku. Akhirnya, saya malah balik ngomel. “Ya sudah! Terserah kamu ajah!” adalah kalimat sakti saya. Setelah itu, biasanya Papap menyerah dengan mengeluarkan kalimat dua potong.

Kalau saya yang ngambek?
Pilih jawaban di bawah ini:
a) Diam seribu bahasa selama beberapa hari
b) Marah-marah
c) Nangis
d) Semua yang ada di atas. Serius lo?!
e) ……. (isi sendiri)