Rubuhnya si Pohon Legendaris

Pohon Kantil Rubuh 3Hari ini drama saya bukan soal 212. Saat acara di Monas itu berlangsung saya sedang buka laptop bekerja giat…di rumah. Menjelang jam 12 siang, langit yang sedari pagi sudah mendung, mulai mengambil keputusan untuk melepas hujan. Tanpa malu-malu, tidak pakai preambule, hujan tiba-tiba mengajak angin besar dan hujan badai pun menerjang.

Kebetulan, rumah saya yang dikelilingi halaman mungil dipenuhi banyak pohon. Jangan, jangan bayangkan halaman rumah saya bertaman cantik hasil kerja keras tukang kebun. Yang bisa dibanggakan dari halaman rumah saya ya cuma banyak pohonnya. Posisi pohon atau kondisi pepohonan jangan ditanya. Pohon Kantil Rubuh 4Yang punya kebun belum sempat berkebun -alasan yang sudah saya kemukakan sejak seratus tahun lalu. Nah, bila hujan, dan besar, pepohonan di rumah saya seperti ikutan tantrum. Mungkin kedinginan. Batang Plumeria joget ke kanan kiri dan daun-daunnya bakal bikin tukang sapu mogok kerja besok pagi. Belum Pohon Mangga yang mati segan berbuah enggak mau juga ikut melambai histeris ke sana kemari. Pohon-pohon kecil lainnya macam Melati yang rimbunnya mirip rambut Hikari yang ogah dipangkas, atau pohon Batavia yang batang-batangnya enggak pernah mau diatur cuma bisa pasrah ditiup angin besar plus hujan lebat. Ketika hujan badai kemarin baru mulai mengacak-acak taman, tiba-tiba ada bunyi sesuatu ambruk keras banget yang diikuti dengan jeritan si Mbak, asisten rumah tangga saya.

Pohon Campaka alias Kantil milik tetangga sebelah rumah rubuh.

Saya pernah cerita soal Kantil ini di sini.
Pohon Kantil Rubuh 2Lah ya iya tho? Saya kan jadi repot enggak bisa keluar rumah dan harus panggil tukang untuk menggeser batang pohon itu! Tapi si Mbak lebih kuatir soal para bidadari Ketika pohon setinggi kira-kira 3 meteran itu tertiup angin kencang dan terguyur hujan deras, pohon itu kok ya milih ambruk ke kanan. Ke carport rumah saya. Persiiiiiis, di pintu pagar, di belakang mobil saya. Untungnya *halah untung* mobil saya sudah nangkring manis di dalam, padahal biasanya saya sering parkir di carport luar supaya nggak ribet keluar masuk mobil.

Melihat Pohon Kantil rubuh ke arah rumah kami, si Mbak jejeritan. Dia pikir rubuhnya si pohon pertanda buruk. yang bermukin di pohon tersebut akan kehilangan rumah mereka dan kemudian memilih untuk….pindah rumah ke halaman kami yang penuh pohon.
“Kita kan pohonnya banyak, Bu. Kalau mereka satu per satu pilih pohon-pohon itu? Hiiiii….”
Lumayan juga sebenarnya sih buat bahan minta wangsit…

Kebetulan siang itu, rumah tetangga saya kosong. Pohon KantilKami pun akhirnya menunggu si pemilik pohon aka pemilik rumah datang sebelum mengurus pohon yang rubuh. Lagipula hujan lebat masih heboh di luar sana. Sementara saya iseng foto-foto si pohon, si Mbak malah sibuk telpon teman-temannya untuk mencari tahu apakah kami perlu mengadakan semacam upacara untuk si pohon. 🙄

Sampai sore, si pemilik rumah tidak kunjung datang. Untungnya *untung lagi* mas-mas satpam baik hati yang sedang patroli mampir dan menawarkan membersihkan si pohon dengan diiringi rewelnya si Mbak.
“Maaas, hati-hati loh! Ini pohon Kantil!”
“Oh, Kantil ya, Mbak?” Datar gitu.
“Iya. Harus diapain ya?”
“Ditebang, Mbak. Ada golok?”
Cakep. 😀

Bunga KantilSementara itu, berbekal payung, saya dapat bunga Kantil dua genggam penuh.
“BUUUU, KOK BUNGANYA DIPETIKIN?” Si Mbak mulai panik. Dia curiga saya mau bawa ke rumah. Emang iya sih hehe…
Sejak kemarin siang, rumah saya pun harum semerbak bunga Kantil.

Ada yang mau beli buat pesugihan?

Bekerja, di mana saja

Padma-Campaqa roomSudah beberapa bulan ini hidup saya sebagi penglaju menjadi lebih bervariasi. Kalau biasanya saya hanya menjadi penglaju antara Cibubur, Bekasi coret ke Kuningan, Jakarta, beberapa bulan ini rute bertambah menjadi Cibubur ke Bandung. Kadang Cibubur ke Kuningan lalu ke Bandung.

IMG_6660Saya ke Bandung untuk kerja. Iya, kerja. Buka laptop, baca inbox email yang gerakannya mirip running text vertikal, balas email, ketik ini itu, terima sms, terima telpon, terima WA, terima office messenger, diskusi dengan bos…and my list goes on and on. Semua yang saya lakukan di kantor di Jakarta sana, ya saya lakukan di Bandung, plus tambahan kerja lainnya yang tidak perlu saya kerjakan di Jakarta. Di Bandung, saya harus jadi manusia koper, kalau istilahnya Pakdhe Mbilung. Tinggal di ruangan 3×4 meter. Makan-makanan hotel 3x sehari ditambah snack dan kopi 2x sehari yang tentu full gula, garam, dan kolesterol. Walau fitness center dan kolam renang terjangkau dalam hitungan langkah kaki dan pencetan lift, saya jarang bisa mengunjungi mereka saking kegiatan saya dimulai jam 8 pagi sampai jam 6 sore.
Continue reading

Ketika si Apel Rusak

Dari dulu saya suka tampilan mobil Eropa, terutama yang merknya 3 huruf itu. Kesannya slick aja. Keren. Jenis yang saya suka pun bukan hanya yang baru tapi juga yang lama-lama. Saya tidak terlalu peduli (dan mengerti, garis miring, pertebal, kasih garis bawah) tentang teknologinya, tentang seri mana lebih canggih, tentang bodi mobil yang lebih aerodinamis, dan sebagainya. Saya mah cetek aja. Suka mobil Eropa karena tampilannya.

Pertama kali Papap beli mobil (bekas) juga mobil Eropa. Ini lebih ke menyenangkan hati istri yang habis melahirkan sebenarnya. Padahal sebelumnya Papap selalu bilang ke saya kalau mobil-mobil Eropa itu onderdilnya mahal, perawatannya mahal, harganya mahal… Ya makanya tampilannya berkesan mahal 😆 . Papap selalu bilang, “nanti cuma mampu beli mobilnya tapi gak mampu ngerawatnya.”

Dan seperti itu lah hubungan saya dengan apel-apel gadget milik saya 😀 .
Continue reading

Ke mana Perginya Budi?

Aiko punya hobi baru. Hobi barunya adalah….pada saat jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam dan mata saya sedang kriyep-kriyep mengantuk luar biasa, dia akan mengguncang-guncangkan muka saya -yang berhadapan dengan muka dia di bantal- sambil bilang, “Mamaaaam, jangan tidul. Aiko mau mengoblol dulu!”

Yaelaaaah Nak. Malam buta ngajak ngobrol!
Continue reading

All is well. At least they will be eventually.

Been trying to keep my head above the water of mood swing. Out of the blue, I received a picture of a friend who is under chemotherapy regime for breast cancer. She is all with wide grin on her face. She is the road lamp novotelone who made the time to buy me a book about OCD (which I haven’t finished reading) when traveling abroad. She suffers from OCD and bipolar for years. Her picture as if tells me everything will be ok. I will be ok, eventually. I will just have to keep remembering that.

When a Mom has to Choose. 

IMG-20110822-00180Aiko refused to go to bed. She insisted in playing her thing on iPad though her eyes looked tired and it loooong passed her bed time. When I firmly took away the gadget and told her to go to bed, she cried. Sobbing, she said, “I want to be with you.”

I didn’t get it at first. She kept saying -while crying- she wanted to be with me. So, I said, “I am WITH you. Why are you saying that?”

And Aiko answered, “Mamam was busy cleaning the house. I am waiting for you to go to bed. I want to be with you.”

And she cried again. 

I thought her being accompanied by her dad and brother was enough while I did all those unavoidable house chores. It isn’t. 

She wouldn’t stop sobbing. So, i hugged her and seconds after that she fell asleep in my chest. 

Who says only working moms have to choose between work and time for the kids. I am on my annual leave, am staying home, and still have to choose between making the house looks decent or ‘being’ with the kids. 

Saatnya Menangis Di Bawah Hujan

Sudah lama sebenarnya saya ingin menulis tentang ini. Kira-kira sejak 3 tahun lalu. Tulisan ini menjadi semacam hutang saya terhadap beberapa teman dan juga kepada diri saya sendiri. Hutang untuk mungkin bisa membantu orang lain yang berada di perjalanan yang sama seperti saya. Ohya. Tulisan ini akan jadi panjang dan mungkin bersambung. You have been warned 🙂

Hampir tiga belas tahun yang lalu setelah saya melahirkan Hikari melalui proses panjang, menyakitkan, melelahkan, dan traumatis, saya sempat mengalami kondisi di mana saya menangis sama seringnya dengan Hikari menangis dan saya tidur sama jarangnya dengan Hikari tidur. Badan saya lemah karena proses kelahiran yang berat (and don’t dare get back to me saying all delivery is hard). And Hikari was not an easy baby. Ditambah sifat saya yang maunya serba perfect, serba rapi, serba sesuai aturan membuat kondisi tidak menjadi mudah. Di bulan-bulan pertama kelahirannya, Hikari terus terbangun di jam-jam luar biasa, jam 2, jam 3. Menangis tidak berhenti sampai dua jam kemudian. Kalau pun dia bisa tertidur karena dia ada di gendongan saya. Maka bermalam-malam, saya tidur duduk sambil menggendong dia dengan jarik. Saat-saat tengah malam itu, saat-saat saya melihat orang lain bisa tidur sementara saya harus menggendong Hikari, saya akan menangis tidak berhenti. I thought I was in my lowest point. Nine years later I found out it could be lower than lowest. Dengan Hikari, saya menjadi over protective sekaligus menjadi over sensitive. Dan saat itu saya tidak punya support system yang baik. Hanya ada saya dan Papap sebagai ortu baru, dan orang tua yang tidak berhenti bingung. Yang bisa membuat saya bangkit lagi karena dukungan si Papap yang tidak pernah berhenti. Orang-orang yang mendengar cerita saya bilang saya terkena baby blues. Tapi pada suatu kali di sebuah forum, seorang dokter kandungan laki-laki berkata baby blues hanyalah mitos. That is very comforting coming from someone who never gives birth 😀
Continue reading

Hidup itu Seperti Rute ke Kantor

Hidup itu seperti rute jalan yang saya ambil dari rumah untuk bisa sampai di tempat kerja, di Jakarta.

Tadi pagi saya bangun tidur dengan kaget gara-gara hape yang selalu saya taruh di bawah bantal -berfungsi sebagai alarm- bunyi kencang sekali. Suara nyaring Ken Hirai menyelepet saya sampai bangun. Rupanya si Papap menelpon dari Bandung.
“Mam, lagi di bis ya?”
Bis? Bis apa? Bi…s?
O MAI GAAAD SAYA KESIANGAN BANGUN!

Bukannya menjawab pertanyaan si Papap saya malah jejeritan di hape. Sudah pukul 6:30 pagi dan saya masih di tempat tidur.
Setelah telpon mati, saya tidak segera bangun. Mandi atau balik tidur lagi ya? 

Bukan. Ini bukan persoalan malas. Ini adalah logika berpikir logis. Jalur perjalanan dari rumah saya di perbatasan Bekasi-Bogor-Jakarta ke pusat Jakarta pada jam 5:30 sampai jam 9:00 adalah jalur neraka jahanam. Jam 6:30 saya baru bangun sementara jam 8 pagi sudah harus absen jari adalah suatu wishful thinking, kecuali saya punya Pintu Ajaibnya Doraemon. Bila saya paksakan berangkat jam 7 pun, baru 2.5-3 jam kemudian sampai di kantor. Lalu buat apa datang bila hanya untuk pulang 6 jam kemudian? Iya kan?
Continue reading