Lebaran Aman

Wiken ini adalah wiken terakhir setelah ambil cuti sejak hampir 3 minggu lalu. Senin besok sudah harus masuk lagi. Sebal kan? #Eh

Walau judulnya cuti panjang Lebaran, perasaan saya malah kepingin liburan abis cuti ini. I certainly need a vacation after this leave. Kenapa? Karena cuti Lebaran itu judulnya doang di rumah tapi kegiatannya ya jauh dari leha-leha. Dengan pulang kampungnya si Mbak Asisten Penolong Rumah Tangga dari Kehancuran dan Remah-remah Biskuit, ya saya harus menyingsingkan lengan baju untuk bangun pagi buta, nyuci baju, jemur, nyapu, ngepel, nyiapin makan pagi, nyiram tanaman, gosok baju….ya ya kalian pasti bakal bilang ‘biasa aja keleues 99% orang di dunia tiap hari juga begitu!’. πŸ˜†

Ya ngaku deh saya masuk yang 1%.

Puas? πŸ˜€
Continue reading

Menjadi Yogi #7

Disclaimer: saya belum bukan lah seorang yogi (atau yogini). Bukan pula ahli dalam dunia per-yoga-an (lihat kalimat pertama). Tulisan di seri β€˜Menjadi Yoga’ ini merupakan pengalaman saya sendiri untuk catatan sendiri.


Progress yoga saya berantakan. Balik lagi ke titik 0. Back to zero flexibility.
Saya menyalahkan bulan puasa yang membuat jadwal kelas yoga berubah dan tidak cocok dengan jadwal pulang kantor kecuali kalau saya bolos. Setelah bulan puasa, tiba lah libur Lebaran yang membuat kelas yoga tutup berminggu-minggu 2 mingguan. Kemudian saya juga menyalahkan badan lemas paska puasa seharian yang membuat saya tidak sanggup latihan sendiri di rumah.
Pokoknya semua faktor eksternal itu yang membuat kemunduran kemampuan yoga saya. Enggak ada lah satu pun yang salah saya πŸ˜€ .
Continue reading

Dress Your Age, Yourself!

Baru seminggu lalu, seseorang, perempuan, menyapa saya di satu acara setelah saya mengenalkan Hikari dan Aiko ke dia dan beberapa orang lain. Hubungan kami sebatas urusan kantor dan kalau bukan karena acara yang bersamaan, kami tidak akan bertemu. Kali itu, saya membawa anak-anak.
“Wah, Mbak De’ ini ternyata anaknya sudah besar ya!”
Awalnya saya pikir dia mengacu ke Hikari. “Iya yang pertama sudah SMA, tapi masih ada yang kecil ini.”
“Maksud saya, yang kecil pun sudah besar.”
“Nngg…iya. Sudah SD kelas 1.” Jidat saya mulai berkerut.
“Padahal gayanya masih kayak perawan loh!”
Hmm. Oke. Mata saya spontan mencari teman saya yang seumuran dan saya yakin masih perawan. Gaya dan kelakuan dia kayaknya 11-12 sama saya.

Saya bisa lihat si pemberi komentar itu serius dengan ucapannya. Serius takjub. Takjub melihat anak-anak saya UDAH SEGEDE ITU dan saya masih waras riang gembira. Dia bolak-balik menatap anak-anak dan saya. Girl? Please?

via GIPHY

Continue reading

Menjadi Yogi #3

Disclaimer: saya belum bukan lah seorang yogi (atau yogini). Bukan pula ahli dalam dunia per-yoga-an (lihat kalimat pertama). Tulisan di seri ‘Menjadi Yoga’ ini merupakan pengalaman saya sendiri untuk catatan sendiri.

CEDERA PERTAMA

Ikut Paskibra bisa membuat kita tahu apakah kita punya kelainan bentuk tulang.
Ketika saya kelas 1 SMP (atau #kidszamannow nyebutnya Kelas VII), bersama seluruh anak baru kelas 1, saya ikut seleksi wajib paskibra sekolah. Seleksi kok wajib πŸ™„ . Seleksinya gampang. Begitu nama dipanggil kakak kelas, saya harus peragakan langkah tegap maju jalan dari ujung kelas yang ini ke ujung kelas yang itu. Begitu saya selesai memeragakan langkah tegap maju jalan hasil didikan sekolah di komplek tentara selama 6 tahun, kakak kelas saya merubungi.
“Eh coba tangan kamu lurus ke depan!”
“Ih iya loh. Siku kamu kok bengkok?”

Saat itu lah setelah 11 tahun hidup baru saya sadar bahwa kedua lengan saya bila posisi lurus ke depan tulang sikunya bengkok seperti penderita kaki huruf X. Hebat kan paskibra?!
Continue reading

Capacity Building Penting. Buat Lo.

Beberapa bulan ini kantor saya punya program pelatihan Capacity Building untuk karyawannya yang jumlahnya enggak seberapa itu. Tujuan CB kantor saya ini standard lah seperti organisasi lain. Penyegaran. Pencerahan. Pengembangan kapasitas karyawan. Team building. Biar rame.

Pertemuan pertama -yang bahkan bukan sesi pertama- sudah kacau karena kami tidak kunjung menyepakati jadwal sesi pertama. Lah bagaimana mau menyepakati jadwal kalau setiap tim di kantor punya jadwal beda-beda ? πŸ™ Sebagai anggota tim yang jadwalnya lebih sering tidak di kantor dibanding ada di kantor, jidat saya sudah berkerut duluan yang berhadiah disemprot HRD. Saya curiganya sih dengan muka saya yang kayak gini, saya dianggap tidak berusaha mendukung kesuksesan program adiluhung kantor kami. Ya sudah. Saya mengalah untuk mencari apps untuk mengkloning diri saya saja.
Continue reading

Gemukan ya?

Dulu-dulu saya tidak pernah menyangka pada suatu hari di hidup saya akan datang momen-momen di mana orang yang bertemu saya akan berkata…
“Gemukan ya?” sambil senyum manis pasang muka lugu.
Atau, “Wuiiih gemuk lo ya sekarang!” dengan suara kencang di tengah-tengah supermarket yang lagu pengiringnya tiba-tiba mati.
Atau, “Ya Tuhaaan, kamu gemuknya sekaraaang!” Seakan-akan kiamat sudah dekat karena ukuran baju saya bertambah beberapa nomor dan karena itu Tuhan harus dikabari.
Atau, “Pangling deeeeh sekarang udah makmur ya!”
“Dompet makmur, maksudnya?”
“Bukan. Badanmu makmur.”
Continue reading

Rubuhnya si Pohon Legendaris

Pohon Kantil Rubuh 3Hari ini drama saya bukan soal 212. Saat acara di Monas itu berlangsung saya sedang buka laptop bekerja giat…di rumah. Menjelang jam 12 siang, langit yang sedari pagi sudah mendung, mulai mengambil keputusan untuk melepas hujan. Tanpa malu-malu, tidak pakai preambule, hujan tiba-tiba mengajak angin besar dan hujan badai pun menerjang.

Kebetulan, rumah saya yang dikelilingi halaman mungil dipenuhi banyak pohon. Jangan, jangan bayangkan halaman rumah saya bertaman cantik hasil kerja keras tukang kebun. Yang bisa dibanggakan dari halaman rumah saya ya cuma banyak pohonnya. Posisi pohon atau kondisi pepohonan jangan ditanya. Pohon Kantil Rubuh 4Yang punya kebun belum sempat berkebun -alasan yang sudah saya kemukakan sejak seratus tahun lalu. Nah, bila hujan, dan besar, pepohonan di rumah saya seperti ikutan tantrum. Mungkin kedinginan. Batang Plumeria joget ke kanan kiri dan daun-daunnya bakal bikin tukang sapu mogok kerja besok pagi. Belum Pohon Mangga yang mati segan berbuah enggak mau juga ikut melambai histeris ke sana kemari. Pohon-pohon kecil lainnya macam Melati yang rimbunnya mirip rambut Hikari yang ogah dipangkas, atau pohon Batavia yang batang-batangnya enggak pernah mau diatur cuma bisa pasrah ditiup angin besar plus hujan lebat. Ketika hujan badai kemarin baru mulai mengacak-acak taman, tiba-tiba ada bunyi sesuatu ambruk keras banget yang diikuti dengan jeritan si Mbak, asisten rumah tangga saya.

Pohon Campaka alias Kantil milik tetangga sebelah rumah rubuh.

Saya pernah cerita soal Kantil ini di sini.
Pohon Kantil Rubuh 2Lah ya iya tho? Saya kan jadi repot enggak bisa keluar rumah dan harus panggil tukang untuk menggeser batang pohon itu! Tapi si Mbak lebih kuatir soal para bidadari Ketika pohon setinggi kira-kira 3 meteran itu tertiup angin kencang dan terguyur hujan deras, pohon itu kok ya milih ambruk ke kanan. Ke carport rumah saya. Persiiiiiis, di pintu pagar, di belakang mobil saya. Untungnya *halah untung* mobil saya sudah nangkring manis di dalam, padahal biasanya saya sering parkir di carport luar supaya nggak ribet keluar masuk mobil.

Melihat Pohon Kantil rubuh ke arah rumah kami, si Mbak jejeritan. Dia pikir rubuhnya si pohon pertanda buruk. yang bermukin di pohon tersebut akan kehilangan rumah mereka dan kemudian memilih untuk….pindah rumah ke halaman kami yang penuh pohon.
“Kita kan pohonnya banyak, Bu. Kalau mereka satu per satu pilih pohon-pohon itu? Hiiiii….”
Lumayan juga sebenarnya sih buat bahan minta wangsit…

Kebetulan siang itu, rumah tetangga saya kosong. Pohon KantilKami pun akhirnya menunggu si pemilik pohon aka pemilik rumah datang sebelum mengurus pohon yang rubuh. Lagipula hujan lebat masih heboh di luar sana. Sementara saya iseng foto-foto si pohon, si Mbak malah sibuk telpon teman-temannya untuk mencari tahu apakah kami perlu mengadakan semacam upacara untuk si pohon. πŸ™„

Sampai sore, si pemilik rumah tidak kunjung datang. Untungnya *untung lagi* mas-mas satpam baik hati yang sedang patroli mampir dan menawarkan membersihkan si pohon dengan diiringi rewelnya si Mbak.
“Maaas, hati-hati loh! Ini pohon Kantil!”
“Oh, Kantil ya, Mbak?” Datar gitu.
“Iya. Harus diapain ya?”
“Ditebang, Mbak. Ada golok?”
Cakep. πŸ˜€

Bunga KantilSementara itu, berbekal payung, saya dapat bunga Kantil dua genggam penuh.
“BUUUU, KOK BUNGANYA DIPETIKIN?” Si Mbak mulai panik. Dia curiga saya mau bawa ke rumah. Emang iya sih hehe…
Sejak kemarin siang, rumah saya pun harum semerbak bunga Kantil.

Ada yang mau beli buat pesugihan?

Bekerja, di mana saja

Padma-Campaqa roomSudah beberapa bulan ini hidup saya sebagi penglaju menjadi lebih bervariasi. Kalau biasanya saya hanya menjadi penglaju antara Cibubur, Bekasi coret ke Kuningan, Jakarta, beberapa bulan ini rute bertambah menjadi Cibubur ke Bandung. Kadang Cibubur ke Kuningan lalu ke Bandung.

IMG_6660Saya ke Bandung untuk kerja. Iya, kerja. Buka laptop, baca inbox email yang gerakannya mirip running text vertikal, balas email, ketik ini itu, terima sms, terima telpon, terima WA, terima office messenger, diskusi dengan bos…and my list goes on and on. Semua yang saya lakukan di kantor di Jakarta sana, ya saya lakukan di Bandung, plus tambahan kerja lainnya yang tidak perlu saya kerjakan di Jakarta. Di Bandung, saya harus jadi manusia koper, kalau istilahnya Pakdhe Mbilung. Tinggal di ruangan 3×4 meter. Makan-makanan hotel 3x sehari ditambah snack dan kopi 2x sehari yang tentu full gula, garam, dan kolesterol. Walau fitness center dan kolam renang terjangkau dalam hitungan langkah kaki dan pencetan lift, saya jarang bisa mengunjungi mereka saking kegiatan saya dimulai jam 8 pagi sampai jam 6 sore.
Continue reading