Not Everything Should be Meaningful

Seven months living in global pandemic. More like living in a fish bowl, actually. See things and hear things from the perspective of a glass bowl. Unable to go anywhere (well, in my case, I choose not to). Haven’t been outside the 5-kilometer perimeter from home. Haven’t been to the office. My spirit changes from yes-we-can-do-this to glad-we-have-time-to-relax-at-home-a-bit to shit-when-will-this-be-over and finally the question of are-we-there-yet on repeat.

As someone who constantly feels like I need a meaningful outcome in my day-to-day life, the pandemic has robbed me that. Yes, I still have a job and yes, I still have to supervise my kids’ studying from home, but I can’t help questioning ‘what’s the use?
Continue reading

Hashtag Di Rumah Aja

Minggu ini minggu ke dua ratus empat puluh saya menjalani karantina rumah karena Covid-19. Kidding. Ini minggu kelima saya dan ribuan orang di negara ini terpaksa menjalani karantina rumah. Di dunia? Mungkin sudah bulan ke-lima mereka menjalani karantina sejak virus ini resmi disebut pandemik. I can’t believe I have lived long enough (or short enough) to experience a world wide pandemic like now.
Continue reading

Tahun Sunyi

Tahun 2020 dan berapa banyak resolusi tahun baru yang tidak pernah terjadi.

Saya sudah tidak pernah lagi membuat resolusi demi kesehatan jiwa, tapi, saya membuat semacam retrospeksi terhadap tahun yang sudah dilalui. Rasanya berbeda dengan melihat resolusi yang tidak kejadian. Rasanya lebih seperti pencapaian karena berhasil keluar dari tahun itu hidup-hidup.

Dua tahun ke belakang, year 2018 is about losing things. 2018 terasa seperti sebuah pelajaran untuk merelakan hal-hal belum menjadi amanat saya untuk saya pegang, sedalam apa pun rasa peduli saya. 2018 terasa sangat menyakitkan dan menyedihkan. Tapi, di 2018 juga saya tahu bahwa saya tidak perlu menjadi adiktif dengan rasa sakit itu dan saya bisa keluar dari situ.
Continue reading

Dunning-Kruger Effect dan Nasihat Umar

Sumpah, saya malas ngobrolin politik, terutama suasana politik di negara ini menjelang Pilpres dan Pileg 17 April besok. Obrolan politik sekarang ini sudah tidak ada harga dirinya lagi. Dan, terutama, harapan politik orang-orang, termasuk saya, bahkan sudah tidak lagi bisa mengikuti nasehat Pak Nelson Mandela. We are driven by fears.

Tidak perlu lah saya ceritakan di blog ini apa yang terjadi sekarang. Cukup google dengan kata kunci Pilpres 2019, semua akan terpampang jelas. Dari berita receh sampai berita penuh analisa. Di sosmed, tidak ada tempat untuk menarik napas. Twitter, Facebook, bahkan sampai Instagram dan apalagi Whatsapp group isinya hanya itu. Mungkin hanya Pinterest yang bisa jadi tempat pelepas lelah ๐Ÿ™ .
Continue reading

Lebaran Aman

Wiken ini adalah wiken terakhir setelah ambil cuti sejak hampir 3 minggu lalu. Senin besok sudah harus masuk lagi. Sebal kan? #Eh

Walau judulnya cuti panjang Lebaran, perasaan saya malah kepingin liburan abis cuti ini. I certainly need a vacation after this leave. Kenapa? Karena cuti Lebaran itu judulnya doang di rumah tapi kegiatannya ya jauh dari leha-leha. Dengan pulang kampungnya si Mbak Asisten Penolong Rumah Tangga dari Kehancuran dan Remah-remah Biskuit, ya saya harus menyingsingkan lengan baju untuk bangun pagi buta, nyuci baju, jemur, nyapu, ngepel, nyiapin makan pagi, nyiram tanaman, gosok baju….ya ya kalian pasti bakal bilang ‘biasa aja keleues 99% orang di dunia tiap hari juga begitu!’. ๐Ÿ˜†

Ya ngaku deh saya masuk yang 1%.

Puas? ๐Ÿ˜€
Continue reading

Menjadi Yogi #7

Disclaimer: saya belum bukan lah seorang yogi (atau yogini). Bukan pula ahli dalam dunia per-yoga-an (lihat kalimat pertama). Tulisan di seri โ€˜Menjadi Yogaโ€™ ini merupakan pengalaman saya sendiri untuk catatan sendiri.


Progress yoga saya berantakan. Balik lagi ke titik 0. Back to zero flexibility.
Saya menyalahkan bulan puasa yang membuat jadwal kelas yoga berubah dan tidak cocok dengan jadwal pulang kantor kecuali kalau saya bolos. Setelah bulan puasa, tiba lah libur Lebaran yang membuat kelas yoga tutup berminggu-minggu 2 mingguan. Kemudian saya juga menyalahkan badan lemas paska puasa seharian yang membuat saya tidak sanggup latihan sendiri di rumah.
Pokoknya semua faktor eksternal itu yang membuat kemunduran kemampuan yoga saya. Enggak ada lah satu pun yang salah saya ๐Ÿ˜€ .
Continue reading

Dress Your Age, Yourself!

Baru seminggu lalu, seseorang, perempuan, menyapa saya di satu acara setelah saya mengenalkan Hikari dan Aiko ke dia dan beberapa orang lain. Hubungan kami sebatas urusan kantor dan kalau bukan karena acara yang bersamaan, kami tidak akan bertemu. Kali itu, saya membawa anak-anak.
“Wah, Mbak De’ ini ternyata anaknya sudah besar ya!”
Awalnya saya pikir dia mengacu ke Hikari. “Iya yang pertama sudah SMA, tapi masih ada yang kecil ini.”
“Maksud saya, yang kecil pun sudah besar.”
“Nngg…iya. Sudah SD kelas 1.” Jidat saya mulai berkerut.
“Padahal gayanya masih kayak perawan loh!”
Hmm. Oke. Mata saya spontan mencari teman saya yang seumuran dan saya yakin masih perawan. Gaya dan kelakuan dia kayaknya 11-12 sama saya.

Saya bisa lihat si pemberi komentar itu serius dengan ucapannya. Serius takjub. Takjub melihat anak-anak saya UDAH SEGEDE ITU dan saya masih waras riang gembira. Dia bolak-balik menatap anak-anak dan saya. Girl? Please?

via GIPHY

Continue reading