Nasib Selebriti

Kemarin itu saya baru pulang dari Bandung setelah menghadiri pesta nikahnya si Kang Meddy. Terus terang, ini pertama kalinya saya menginap di Bandung, demi Kang Meddy dan pembuktian kepada si Nenek bahwa saya benar sudah dateng ke kawinan anak didiknya.

Teman-teman saya biasanya suka menghina-hina saya soal Bandung karena kebutaan saya tentang kota ini. Kalau teman-teman saya melencer liburan kesana, saya tak pernah tertarik. Kalau teman-teman saya riuh belanja di lusinan FO sana, saya juga masih tak tertarik. Perjalanan saya ke kota itu hanya sekedar numpang lewat kalau mau ke Lembang.

Nah, wiken lalu saya menginap di salah satu hotel di tengah kota Bandung. Sampai sana sudah jam 2 siang lewat dengan membawa rasa capek dan perut keroncongan akibat kelamaan di mobil. Selesai check-in dan menaruh barang di kamar, Papap langsung mengajak makan. “Disebelah aja,” kata Papap. “Makan apa juga kalau capek dan laper begini pasti enak.”

Berbekal teori si Papap, kami jalan kaki ke resto Sunda yang berada tepat di sebelah hotel. Begitu masuk resto yang bergaya bambu-bambu, mata saya langsung kepentok dengan dua buah bingkai besar hampir 1 meter x 1 meter yang penuh berisi foto selebriti Indonesia. Enggak tau juga apa ada selebriti internasional kesitu. Antara gak sempat dan gak napsu untuk ngeliatin puluhan foto-foto selebriti itu, saya langsung masuk resto tanpa ngelirik dua kali ke foto-foto itu. Papap langsung pesan makanan standar di resto Sunda: ikan, sambel, sayur asem, mangga…

Enak?

Teori Papap tentang kalau laper makanan apapun jadi enak ternyata tidak terbukti. Atau kami memang belum segitu lapernya. Saya dan Papap setuju ada resto lain di pinggir pantai Anyer yang rasanya jauuuuuuuuuh lebih nikmat dibanding resto ini.
“Padahal resto ngetop. Harusnya enak banget, kan?” kata Papap.
“Tau darimana ini resto ngetop?”
“Lah itu foto-foto selebriti sampai dua lusin dipajang disitu!”
O-oh. Saya baru ngeh ternyata foto-foto para selebriti itu berfungsi sebagai testimoni tidak langsung atas kelezatan makanan di resto ini.

Malam hari dan besoknya, saya baru melihat bahwa banyak resto lainnya yang pasang strategi pemasaran dengan memasang foto para selebriti yang datang ke resto mereka. Tiap pindah resto, saya lihat muka dia lagi dia lagi dia lagi di resto yang berbeda-beda. Selebriti Indonesia ternyata doyan wisata kuliner.

Di resto terakhir di daerah Burangrang, saya kembali melihat foto-foto selebriti yang dipajang dengan latar belakang resto tersebut. Kali ini, saya punya waktu untuk melototin satu-satu siapa saja orang ngetop yang pernah datang kesitu… dan setelah foto yang terakhir saya pelototin, saya merasa kasihan…

Coba bayangin. Kalau saja saya seorang selebriti yang baru sampai Bandung setelah mengalami hari yang melelahkan mental dan fisik. Lalu saya lapar. Belum makan, hari sudah siang banget.
Eh, bo, di sebelah ada resto. Makan yuk! Saya pun cuma sempat dan cuma punya energi untuk menaruh barang di kamar. Setelah itu saya ingin memuaskan rasa lapaaaaaaar. Saya beranjak ke resto di sebelah hotel. Muka lecek? Ya iya, kaleee. 4 jam di jalan gitu loh! Muka laper? Perlu nanya? Apa perlu elu gue makan sekalian? Udah, gak usah rese! Kita jalan aja ke sebelah buruan!

Pergi lah saya yang selebriti bermuka lecek dan lapar ke resto sebelah. Baru sampai di pintu resto…
“Eeeeeeeeeeeh, mbak seleb! Apa kabar?”
Hah? Apa kabar? Kapan gue pernah kesini?
“Silahkan mau pesan apa?”
“Ennnggg… saya duduk dulu boleh?”
“Boleeeeeeh! Eh, tapi foto dulu ya? Ya? Ya?”
JEPRET!
“ADOH!”
“Makasih mbak seleb! Sekarang baru boleh duduk.”

Beberapa hari kemudian foto saya dengan muka lecek dan laper terpampang di resto itu. Dem!

Nah! Selebriti asli gak bakal ngelewatin hari sial model begitu. Selebriti asli pastinya bakal sadar -terpaksa atau tidak- untuk memoles dirinya sekinclong mungkin dengan senyum palsu seindah mungkin memakai baju sekeren mungkin saat pergi keluar dari kamar segimanapun capeknya, lapernya, betenya, dongkolnya, jeleknya diri mereka saat itu. Dan itu yang membuat saya merasa kasihan.

Yang lebih bikin kasihan lagi adalah semua orang yang ikut rombongan selebriti itu harus sama kinclong dan palsunya dengan si seleb. Kan konyol kalo emak selebritinya kinclong tapi anaknya dekil. Sudah begitu, dia harus rela jadi iklan tak berbayar resto tempat dia makan. Lah iya kalau makanannya enak. Kalau enggak?! Duh, rasa kasihan saya makin menjadi-jadi nih. Untung saya nolak jadi seleb….

Just sit there and watch

The one moment when I feel that I am me is when I just sit silently among the crowds and observe. It can be in a waiting room waiting for a customer service staff, in a hospital lounge when I have to wait for my turn, in a meeting which lacks importance, in class where I don’t feel like being there, in a family gathering where discussion I don’t feel like joining… it can be anywhere.

My junior high school friend -whom I not-so secretly admired- told me once how he liked to observe me when I was in my own world. We were in the Osis together and we spent many meetings together.

Continue reading

Yang penting niatnya atau hasilnya?

Lampu merah di perempatan Kranggan-Cibubur di dekat Plaza Cibubur belum lagi setahun dipasang. Hari ini saya diundang teman untuk ikut gerakan Dukung penon-aktifan Traffic Light Plaza Cibubur di FB. Ya jelas, langsung saya approve. Saya ngaku sebagai salah satu pengguna jalan Alternatif Cibubur yang menderita lahir batin akibat macet panjang yang disebabkan oleh lampu merah itu. Saya juga ngaku sebagai salah satu yang sering ngomel panjang terhadap orang pintar yang punya ide memasang lampu merah itu disitu dengan pengaturan seperti itu!

Continue reading