Menjadi Yogi #3

Disclaimer: saya belum bukan lah seorang yogi (atau yogini). Bukan pula ahli dalam dunia per-yoga-an (lihat kalimat pertama). Tulisan di seri ‘Menjadi Yoga’ ini merupakan pengalaman saya sendiri untuk catatan sendiri.

CEDERA PERTAMA

Ikut Paskibra bisa membuat kita tahu apakah kita punya kelainan bentuk tulang.
Ketika saya kelas 1 SMP (atau #kidszamannow nyebutnya Kelas VII), bersama seluruh anak baru kelas 1, saya ikut seleksi wajib paskibra sekolah. Seleksi kok wajib 🙄 . Seleksinya gampang. Begitu nama dipanggil kakak kelas, saya harus peragakan langkah tegap maju jalan dari ujung kelas yang ini ke ujung kelas yang itu. Begitu saya selesai memeragakan langkah tegap maju jalan hasil didikan sekolah di komplek tentara selama 6 tahun, kakak kelas saya merubungi.
“Eh coba tangan kamu lurus ke depan!”
“Ih iya loh. Siku kamu kok bengkok?”

Saat itu lah setelah 11 tahun hidup baru saya sadar bahwa kedua lengan saya bila posisi lurus ke depan tulang sikunya bengkok seperti penderita kaki huruf X. Hebat kan paskibra?!
Continue reading

10 Plus 16

“Then slowly, over time, everything changes. And you’re no longer this young thing, and you don’t believe in fairytales and ‘perfect’ isn’t in your vocabulary. And then suddenly, here is this man and he becomes so familiar to you that one day you find yourself looking at him thinking I could love this person for the rest of my life.”
Addison Montgomery, Grey’s Anatomy.

Happy 16th Anniversay. Happy 26th year of together. Somehow being with you just makes sense.

Don’t Take Yourself Seriously

Astagaaaa….saya pernah lucu.

Kalimat kekagetan itu selalu yang terlintas di kepala saya setiap kali saya selesai membaca ulang isi blog-blog saya. Entah bagaimana kejadiannya, sekarang ini saya merasa diri saya terlalu serius. Cek aja postingan saya belakangan.

Mungkin karena saya semakin matang.
Atau mungkin karena saya semakin bijak. Apa ada bedanya matang dengan bijak?
Mungkin karena beban hidup semakin berat dengan bertambah tuanya dunia. Tadi saya cek di supermarket, harga beras 5kg sudah naik dari Rp.80an ribu menjadi Rp. 110an ribu.
Bisa jadi karena waktu saya untuk haha hihi semakin singkat. Lihat saja jidat saya yang kerutannya bertambah seiring dengan banyaknya meeting yang saya lewati hidup-hidup.
Atau bisa juga karena saya selalu menolak reuni? Mungkin kalau saya sampai datang reuni, teman-teman saya akan mandi bunga 7 rupa.
Apa mungkin karena bertambahnya umur? Yang ini jelas gak mungkin.
Continue reading

There is no such thing as ‘originality’

Film the Social Network rupanya sangat menginspirasi Papap. Seharian, yang diomongin Papap hanya film itu saja. Saya sendiri nontonnya gak sambil konsentrasi. Sambil nge-twit, sambil ngunyah pisang goreng, sambil buka fesbuk, sambil pipis, sambil…. I’m sure you got it already. Sebaliknya Papap berperan seperti reporter TV. Walau saya di dapur (ngunyah pisang goreng, bukan masak) atau di kamar (maen fb dan twitter), Papap bolak-balik nyeritain jalan cerita si film 🙂

Singkat cerita, jauuuuh setelah film selesai, kira-kira 4 jam kemudian, Papap menggumam-gumam. Katanya, “Si Mark akhirnya mau disuruh bayar orang-orang yang nuntut dia. Kok mau ya? Kan dia yang nemuin, dia juga yang membangun si Facebook itu… bla bla…”
Atas protes si Papap saya cuma komentar, “there’s no such thing as original idea nowadays.”

Continue reading

Tiga, Empat, Lima Bulan Ini

Tiga, empat, lima bulan ini adalah suatu perjuangan buat saya pribadi. Dimulai dari sakit kepala yang tidak kunjung berhenti, demam yang tidak berpenyebab, rasa ringkih yang tidak berkesudahan. Satu, dua, tiga dokter saya datangi. Semua tanpa hasil.

Lalu ada kecurigaan lain yang sudah berumur dua tahunan. Ketika Rezah pergi, saya tidak mendapatkan jawaban apa yang terjadi. Penyakit apa yang membuatnya hilang. Setelah dokter-dokter yang lain, saya berkunjung ke dokter kebidanan. Seminggu kemudian, rasa penasaran saya terjawab. Saya menderita toksoplasma, Rubella, CMV. Tambahkan tiga hal itu dengan tipus dan DBD.

Continue reading

Pesta Blogger 2010

Tahun ini tahun keempat saya datang ke Pesta Blogger. Kebetulan, eh, sengaja saya selalu menyempatkan datang ke acara ini. Walaupun Jengjeng yang satu ini bilang bahwa kami sudah terlalu tua untuk ikutan acara beginian, saya teguh kukuh berlapis baja. Ada banyak alasan yang membuat saya memaksakan (ya, maksa karena biasanya saya jenis manusia malas keluar rumah) diri untuk datang. Salah banyak dari alasan itu adalah…

1. Mau bikin si Nenek nangis dengan ambil name tag dan mencoret-coret nama dia disitu.

2. Mau pose-pose bareng si Mbah satu ini.

3. Mau lihat si ini yang nama blognya itu tuh tampangnya seperti apa?

4. Mau ikut-ikutan berasa muda lagi… *hush!*

Yah. Itu tuh alasan saya. Gak ada yang penting ya? hehehe…

Alasan utama saya ingin selalu datang adalah untuk menjaga kewarasan mental saya. Loh kok? Iya. Lah tag line blog saya saja I blog for my sanity.

Setelah 5 hari 8 jam sehari saya dibombardir dengan -seringkali- ketidak warasan di kantor, saya merasa butuh untuk me-recharge baterai positif di diri saya. Bila blog adalah medianya, maka Pesta Blogger adalah klimaksnya. Kalau anda pikir saya butuh PB itu untuk bergaul, anda salah besar. Setiap kali saya datang ke acara Pesta Blogger itu (di pesta pertama saya datang sendiri), kerjaan saya cuma duduk di bangku paling belakang. Boro-boro bergaul. Kan saya ini pemalu… Tapi herannya, acara berdurasi 8 jam-an ini bisa membuat keseimbangan mental saya tetap seimbang.

Lalu apa bedanya pb2010 ini dengan pesta-pesta berikutnya? Hmmm… apa ya? Saya gak bisa banyak komentar soalnya saya datang detik-detik menjelang makan siang hehehe…

Tapi kalau boleh saya nulis catatan sedikit, saya mau bilang…

1. Saya paling suka tempat Pesta Blogger kedua, terutama untuk acara awalnya, karena bisa membuat semua hadirin fokus pada acara.

2. Saya paling suka logo Batik PB ketiga dan tas hadiah segede gajahnya.

3. Saya paling terharu di pb2009 alias PB ketiga. Ya iya lah, wong saya dapet hadiah! hehehe…

4. Saya nyatet kok sudah 2 pesta  diselenggarakan di gedung belum jadi ya? Ini di pesta ketiga dan keempat sekarang. Acara mini session-nya jadi gak nikmat karena berada di ruangan belum jadi.

5. Saya lihat pb2010 paling banyak meja bazaarnya ;p

6. Saya juga mbantin pb2010 paling banyak keterlibatan komunitas blogger lain. Komunitas blogfam tempat saya lahir juga nongol. Malah saya sempat ketemu Maknyak segala. Sayangnya komunitas saya sendiri gagal, eh, belum bisa narsis di pesta ini.

7. Saya paling norak di pesta pertama 🙂

Nasib Selebriti

Kemarin itu saya baru pulang dari Bandung setelah menghadiri pesta nikahnya si Kang Meddy. Terus terang, ini pertama kalinya saya menginap di Bandung, demi Kang Meddy dan pembuktian kepada si Nenek bahwa saya benar sudah dateng ke kawinan anak didiknya.

Teman-teman saya biasanya suka menghina-hina saya soal Bandung karena kebutaan saya tentang kota ini. Kalau teman-teman saya melencer liburan kesana, saya tak pernah tertarik. Kalau teman-teman saya riuh belanja di lusinan FO sana, saya juga masih tak tertarik. Perjalanan saya ke kota itu hanya sekedar numpang lewat kalau mau ke Lembang.

Nah, wiken lalu saya menginap di salah satu hotel di tengah kota Bandung. Sampai sana sudah jam 2 siang lewat dengan membawa rasa capek dan perut keroncongan akibat kelamaan di mobil. Selesai check-in dan menaruh barang di kamar, Papap langsung mengajak makan. “Disebelah aja,” kata Papap. “Makan apa juga kalau capek dan laper begini pasti enak.”

Berbekal teori si Papap, kami jalan kaki ke resto Sunda yang berada tepat di sebelah hotel. Begitu masuk resto yang bergaya bambu-bambu, mata saya langsung kepentok dengan dua buah bingkai besar hampir 1 meter x 1 meter yang penuh berisi foto selebriti Indonesia. Enggak tau juga apa ada selebriti internasional kesitu. Antara gak sempat dan gak napsu untuk ngeliatin puluhan foto-foto selebriti itu, saya langsung masuk resto tanpa ngelirik dua kali ke foto-foto itu. Papap langsung pesan makanan standar di resto Sunda: ikan, sambel, sayur asem, mangga…

Enak?

Teori Papap tentang kalau laper makanan apapun jadi enak ternyata tidak terbukti. Atau kami memang belum segitu lapernya. Saya dan Papap setuju ada resto lain di pinggir pantai Anyer yang rasanya jauuuuuuuuuh lebih nikmat dibanding resto ini.
“Padahal resto ngetop. Harusnya enak banget, kan?” kata Papap.
“Tau darimana ini resto ngetop?”
“Lah itu foto-foto selebriti sampai dua lusin dipajang disitu!”
O-oh. Saya baru ngeh ternyata foto-foto para selebriti itu berfungsi sebagai testimoni tidak langsung atas kelezatan makanan di resto ini.

Malam hari dan besoknya, saya baru melihat bahwa banyak resto lainnya yang pasang strategi pemasaran dengan memasang foto para selebriti yang datang ke resto mereka. Tiap pindah resto, saya lihat muka dia lagi dia lagi dia lagi di resto yang berbeda-beda. Selebriti Indonesia ternyata doyan wisata kuliner.

Di resto terakhir di daerah Burangrang, saya kembali melihat foto-foto selebriti yang dipajang dengan latar belakang resto tersebut. Kali ini, saya punya waktu untuk melototin satu-satu siapa saja orang ngetop yang pernah datang kesitu… dan setelah foto yang terakhir saya pelototin, saya merasa kasihan…

Coba bayangin. Kalau saja saya seorang selebriti yang baru sampai Bandung setelah mengalami hari yang melelahkan mental dan fisik. Lalu saya lapar. Belum makan, hari sudah siang banget.
Eh, bo, di sebelah ada resto. Makan yuk! Saya pun cuma sempat dan cuma punya energi untuk menaruh barang di kamar. Setelah itu saya ingin memuaskan rasa lapaaaaaaar. Saya beranjak ke resto di sebelah hotel. Muka lecek? Ya iya, kaleee. 4 jam di jalan gitu loh! Muka laper? Perlu nanya? Apa perlu elu gue makan sekalian? Udah, gak usah rese! Kita jalan aja ke sebelah buruan!

Pergi lah saya yang selebriti bermuka lecek dan lapar ke resto sebelah. Baru sampai di pintu resto…
“Eeeeeeeeeeeh, mbak seleb! Apa kabar?”
Hah? Apa kabar? Kapan gue pernah kesini?
“Silahkan mau pesan apa?”
“Ennnggg… saya duduk dulu boleh?”
“Boleeeeeeh! Eh, tapi foto dulu ya? Ya? Ya?”
JEPRET!
“ADOH!”
“Makasih mbak seleb! Sekarang baru boleh duduk.”

Beberapa hari kemudian foto saya dengan muka lecek dan laper terpampang di resto itu. Dem!

Nah! Selebriti asli gak bakal ngelewatin hari sial model begitu. Selebriti asli pastinya bakal sadar -terpaksa atau tidak- untuk memoles dirinya sekinclong mungkin dengan senyum palsu seindah mungkin memakai baju sekeren mungkin saat pergi keluar dari kamar segimanapun capeknya, lapernya, betenya, dongkolnya, jeleknya diri mereka saat itu. Dan itu yang membuat saya merasa kasihan.

Yang lebih bikin kasihan lagi adalah semua orang yang ikut rombongan selebriti itu harus sama kinclong dan palsunya dengan si seleb. Kan konyol kalo emak selebritinya kinclong tapi anaknya dekil. Sudah begitu, dia harus rela jadi iklan tak berbayar resto tempat dia makan. Lah iya kalau makanannya enak. Kalau enggak?! Duh, rasa kasihan saya makin menjadi-jadi nih. Untung saya nolak jadi seleb….

Just sit there and watch

The one moment when I feel that I am me is when I just sit silently among the crowds and observe. It can be in a waiting room waiting for a customer service staff, in a hospital lounge when I have to wait for my turn, in a meeting which lacks importance, in class where I don’t feel like being there, in a family gathering where discussion I don’t feel like joining… it can be anywhere.

My junior high school friend -whom I not-so secretly admired- told me once how he liked to observe me when I was in my own world. We were in the Osis together and we spent many meetings together.

Continue reading