Sesuai Umur

Sehari setelah pembantu saya datang dari kampung, saya dapat sms dari suaminya. Isinya:

Ass ibu nh istri aq dh berngkt blm nh by Rohman mba tum dh berngkt ibu,,,?

Sms itu saya terima hampir tengah malam di tengah-tengah prosesi menggendong bayi sampai tidur. Karena kapasitas kesabaran sudah menipis, saya kasih hape ke Papap supaya sms itu bisa diterjemahkan.

Sebelumnya, saat saya tergeletak sakit di rumah, saya juga pernah terima sms dari staf saya yang baru berusia 20 tahun. Di sms saya ke dia, saya minta dia kasih laporan singkat tentang acara pendaftaran siswa hari itu. Sms saya pun dia balas dengan isi yang bablas gak bisa saya ngerti. Yang paling bikin mata saya sepet adalah staf saya ini menaruh huruf ‘X’ di setiap akhir kata.

Pndftrnx lmyn kokx sksesx…

Belum selesai saya baca sms itu, saya langsung angkat telpon nelpon dia sambil menjerit, “Lo nulis apaaaaaan seeeeeh?!”

Continue reading

Bungkusnya, bukan isinya

Si Mami dan saya bukan lah pasangan standar ibu-anak perempuan yang biasa ditemukan di dunia. We are not best friends, although we are not enemies either. Saya dan si Mami bukan jenis pasangan ibu-anak perempuan yang biasa saling curhat. Saya bukan jenis anak perempuan yang ngintilin si Mami, atau nangis bombay ke Mami karena patah hati, atau manis manja ke si Mami saat sedang minta perhatian, atau merengek ke si Mami saat sakit, atau belanja baju berdua lalu saling memilihkan baju masing-masing, bahkan bukan juga jenis anak perempuan yang apabila diwawancara reporter akan bilang, “Oh, Ibu saya adalah pahlawan saya. Dia idola saya. Saya gak bisa tidur tanpa Ibu saya.”

Continue reading

Tanggung Jawab itu…

Sudah beberapa hari ini Hikari sakit batuk dan pilek. Agak berat sehingga dia harus istirahat di rumah karena dokter takut dia lama sembuh sekaligus takut dia menulari teman-temannya. Ketika saran dokter itu sampai di telinga Hikari, dia sontak protes. Tidak boleh ke sekolah? Tidak boleh main? Wajah Hikari langsung ditekuk seratus. Tapi saya dan Papa tetap acuh.

Setelah beberapa hari Hikari di rumah, teman-temannya sudah mulai gelisah. Seorang temannya yang biasa main dengan Hikari memaksa ingin main di rumah kami.

Pada ibunya, saya berkata jelas. “Hikari lagi batuk pilek parah. Mainnya nanti dulu ya. Nanti dia ikut ketularan. Kasihan kalau ketularan.”
Hikari buang muka yang tadinya sudah ditekuk, tapi dia tidak protes lagi.
Anak si ibu yang malah protes dengan ngedumel.
Si ibu tertawa enteng. “Aaaah, enggak pa-pa. Pilek batuk doang. Emang lagi musim kok. Gak apa-apa kok main aja.”

Waaaaat?!

Ngaku saja saya sebenarnya heran kenapa saya masih heran mendengar komentar si ibu. Sebenarnya ibu itu bukan pertama kali itu berkata begitu dan bukan pula orang pertama yang punya pandangan serupa.

Sewaktu beberapa bulan lalu Hikari terkena cacar, saya sempat konsultasi dengan gurunya di sekolah. Saya yakin benar Hikari tertular cacar dari sekolah. Waktu itu guru Hikari bilang di kelasnya -setidaknya- tidak ada anak yang cacar. Curiga? Tidak percaya? Ya, saya setengah tidak percaya, but, hey, positive thinking saya tahu ada 101 cara dan tempat Hikari bisa kena cacar selain di sekolah.

Karena cacar itu, Hikari hampir sebulan tidak sekolah. Dokternya mewanti-wanti supaya Hikari masuk sekolah ketika lukanya sudah mengering! Dokternya tidak ingin Hikari jadi penular cacar di sekolah, dan saya setuju.

Sewaktu saya mengantar Hikari ke sekolah setelah lama absen itu saya bertemu dengan ortu siswa lain. Si ibu menanyakan kenapa Hikari tidak sekolah.
“Oh cacar? Anak saya kena juga tuh. Si ini si itu si dia juga kena,” katanya enteng.
“Kapan?” Saya kaget setengah mati. Bukankah si guru bilang murid kelasnya tidak ada yang kena cacar.
“Ya kira-kira sebelum Hikari lah. Lagi musim.”
Kepala saya berputar-putar. Abis ini ada yang bakalan kena semprot saya nih!
“Anak saya itu gak betah banget kan. Jadi pas panasnya turun dan dia sudah bisa lari-lari, dia minta sekolah lagi.”
“Terus?” “Ya udah, saya masukin sekolah lagi. Daripada di rumah nyebelin banget.”
“Emang udah hilang bekasnya?”
“Ya belum. Yang penting demamnya sudah hilang.”
Jantung saya berhenti. “Gurunya tau?”
“Saya sih cuma bilang dia demam.”
“Tapi kan kalau lukanya baru kering itu masih nularin.” Saya protes.
“Enggak ah kayaknya. Mamanya si itu juga gitu. Si itu gak mau lama-lama di rumah jadi begitu demamnya turun ya masuk sekolah.”

Adegan di rumah saat saya nyumpah-nyumpah sebaiknya tidak saya ceritakan demi perdamaian dunia.
Damn! When will they realize that being responsible is not only for you and your family but most importantly for the people around you?!

Orang-orang yang punya pendapat di atas itu adalah orang-orang yang sama yang tahu kalau membuang ludah sembarangan itu jorok, batuk itu harus ditutupi mulutnya, flu Singapur itu menular, imunisasi itu harus dilakukan di umur sekian dan sekian, dan sebagainya.
Mereka juga orang yang sama yang mengendarai mobil bagus, berhape BB, langganan koneksi internet, liburan ke Bali atau malah Singapur tiap tahun.
Pendidikan dan strata sosial ternyata tidak menjamin tingkat tanggung jawab seseorang. Dan kenapa gitu saya sewot banget soal ini? Coba bayangkan kalau yang tertular penyakit itu adalah anak anda yang sudah setengah mati anda jaga kebersihan dan keamanannya. Coba bayangkan kalau penyakit itu bukan cuma sekadar batuk pilek…

It’s none of your business

Sebagai pengunjung setia rumah sakit, saya selalu gerah setiap kali duduk di depan para suster penerima kartu antrian pasien. Para suster ini biasanya duduk di sebuah meja di dekat ruangan masing-masing dokter. Sebelum pasien diperbolehkan masuk, pasien harus menyerahkan kertas antrian sekaligus dicatat statusnya: berat, tensi, dan penyakitnya. Semua itu dilakukan di depan puluhan pasang mata pasien lainnya.

Continue reading

The Philosophy of Oleh-Oleh

Have you ever been sent by your office to work out of town or even abroad, and when you returned to the office after that assignment the first words coming from the first person who met you was, “what did you bring me?”

Oleh-olehnya manaaaaaaa?

I just arrived at the office this morning after 12 days away and the first greeting I heard was exactly, “what did you get for me.”

I was about to say, “nothing,” but then I managed to stop opening my mouth, take a deep breath, smile, and… say nothing. Some minutes later, a different person approached me with the same question…

People stopped asking me that question after 4 PM passed. That’s the time when working hours are over, of course. To tell you the truth, but don’t tell my colleagues, I was about to do something when the third person came and asked me. But, today is my first day at the office again and some wise men say you should be nice and sweet to people on your first day at work. So, I said nothing and let the rest of the office population live and in one piece.

My mom, who is so wise and thoughtful, always says it’s in the blood. Our Indonesian blood. Anyway, my mom says bringing souvenirs from wherever you are from shows how caring you are as a person. I can counter my mom’s theory but again some wise men say you are cursed if you dare arguing with your own mother.

According to my mom, bringing souvenirs for your friends, colleagues, relatives, neighbors, your children’s teachers, your children’s friends’ parents mean…

1. You are a caring person because you always remember them even when you are away from them and busy with your assignment and you should have focused on your work but not them.

2. You are a thoughtful person because you make time to choose what souvenir for which person and which person hates which person so you shouldn’t give that person similar souvenir as this person.

3. You are a generous person because you are willing to spend your out-of-town-working allowance to buy souvenirs for your friends, colleagues, relatives, neighbors, your children’s teachers, your children’s friends’ parents, etc.

4. You are a fair person because you make sure everyone who knows you get a souvenir.

5. You are loved because people are willing to knock at your office door and ask for their share of souvenir. If you are hated, they will not do that.

6. You are also a loving person because you value people over money. You are okay with spending cash for the smiles on the face of your friends, colleagues, relatives, neighbors, your children’s teachers, your children’s friends’ parents, etc.

7. You are friendly because you have a lot of friends (a lot of underlined, bold, italicized) asking for their share of souvenir.

8. You are likable because you like to give away souvenirs and people like a person who likes to give away souvenirs.

9. You are popular. Giving away souvenirs to the world’s population surely makes you popular. If you are not still, there is something wrong with the souvenirs you bought. Sorry.

10. …………………………………. (go ahead and have your own philosophy here!).

You are how your boss is

Kemarin teman saya ketiban sial. Dimaki-maki seorang bos. Saya bilang sial karena bukan hanya teman saya itu dimaki-maki untuk sesuatu yang bukan salahnya, juga karena si bos itu bukan bos dia sendiri dan tidak pula bekerja di satu perusahaan yang sama dengan teman saya itu. Selesai dimaki-maki oleh bos itu, anak buah benerannya si bos -lewat telpon- berkata, “Sabar ya, Pak.”

Sehabis dimaki-maki dan telpon ditutup, teman saya itu ngomel nggak ada dua di depan saya. Kalimat pamungkasnya adalah, “Dep, kalo elo ntar jadi bos, jangan kayak gitu ya!”

Saya belum bisa mengaku saya seorang bos di kantor, walaupun saya mempunyai beberapa staf. Tapi saya punya banyak bos yang bisa atau malah yang tak sudi saya contoh.

Sebut saja Bos V. Bos V ini expatriat yang sudah keliling dunia dan berpengalaman handal di berbagai perusahaan dengan budaya berbeda. Walau jabatannya Presdir, Bos V ini mau turun tangan mengutak-atik komputer saya yang ngadat saat para staf di bagian IT tiba-tiba menghilang ketika diperlukan. Dia juga mau menjadi mentor para anak buahnya dengan sabar. Saking baiknya si Bos V, dia rela memberi tumpangan anak buahnya saat pulang kantor. Hanya beberapa tahun Bos V di perusahaan multinationally joint venture itu, kontraknya tidak diperpanjang. Menurut gosip yang bisa dipercaya, pemegang saham yang mayoritas orang negeri dan saling bersaudara itu tidak suka kalau Bos V lebih ngetop dari mereka.

Lalu ada Bos W. Bos W ini sudah kaya dari sebelum dia lahir. Seumur hidup sampai setengah bayanya, dia belum pernah disuruh mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri. Kebiasaannya dia yang paling terkenal di kantor adalah menjerit kepada anak buahnya. Jeritannya, “Aaaaaa, tas saya mana?!” atau “Beeeeee, ambilin laundry saya!” atau “Ceeeeeeeeeeee, bawain dompet dan majalah saya ke kantin ya!” atau “Deeeeeeeee, bayarin tagihan kartu kredit saya di bank!” Terakhir saya dengar Bos W ini mau naik pangkat jadi Direktur.

Kemudian ada Bos X. Bos X ini terkenal berhati mulia sejagat raya. Orangnya lurus, halus, ramah, dan pekerja keras. Saking halusnya, Bos X tidak pernah memarahi anak buahnya. Kalau ada anak buahnya yang harus ditegur, dia akan menegurnya dengan sangat halus yang terkadang malah tidak mujarab sama sekali. Bos X mengundurkan diri dari kantor karena tiba-tiba posisinya dipindahkan ke tempat lain. Ke departemen baru yang dibuat manajemen hanya sebagai tempelan dengan job description yang nggak jelas. Walau ada begitu banyak orang -terutama anak buahnya- yang meratapi kepergian dirinya, tidak ada satu orang penting pun yang mau menyelamatkan dirinya. Bos X ternyata tidak punya teman di atas sana. It’s apparently very lonely up there.

Setelah itu ada Bos Y. Bos Y ini mengaku mempunyai visi jauh ke depan. Karena itu dia tidak sudi disuruh mengerjakan hal-hal kecil perintilan yang kata dia tidak penting. Tapi kayaknya hampir semua pekerjaan dia bilang tidak penting. Bos Y selalu bergaya pejabat teras. Tas kantornya minta dibawain. Pintu minta dibukain. Kopi, teh, air putih, makan siang, minta diambilin. Pekerjaan… minta dikerjain orang lain. Bos Y ini hebat sekali gaya cuap-cuapnya. Tanpa mengerjakan pekerjaannya, dia bisa naik pangkat terus.

Berikutnya, ada Bos Z. Katanya, Bos Z ini pintar dan perfectionist. Saking pintar dan perfectionistnya, dia memberikan standar tinggi pada pekerjaan yang harus dilakukan anak buahnya. Jelas, anak buahnya tidak pernah sanggup mencapai standar itu, menurut kaca mata Bos Z. Ujung-ujungnya, anak buahnya semua dianggap tidak becus bekerja dan tidak keras berusaha. Not necessarily in that order sih. Lalu setelah mengatakan bahwa anak buahnya tidak becus dan tidak keras berusaha, dia akan memaksa semua orang untuk mengikuti semua maunya sampai ke titik komanya. Tidak ada protes, tidak ada pertanyaan, tidak ada komentar, apalagi input. Bila ada orang yang berani-beraninya mempunyai ide berbeda, Bos Z tidak akan ragu untuk mengeluarkan aji pamungkasnya: tantrum. Dengar-dengar, Bos Z ini bakal dapat jabatan paling penting di perusahaan.

Katanya sih semua bos itu manusia. Yang sering dilupakan mungkin adalah fakta bahwa anak buah juga manusia. Seorang bos tidak waras seperti yang dihadapi teman saya di atas (gimana bisa dibilang waras? sama karyawan orang lain aja dia bisa maki-maki nggak jelas) pasti akan menghasilkan anak buah yang juga tidak waras. Seorang bos yang ditaktor akan menghasilkan anak buah bernyali kecil. Seorang bos yang melempem akan menghasilkan anak buah yang kurang ajar. Seorang bos yang sering tantrum akan menghasilkan anah buah yang Yes Man melulu.

Pesan moral saya kali ini adalah: sebelum seorang bos –anda, mungkin?– berteriak-teriak betapa tidak becus anak buahnya, coba lah untuk mengaca dulu. Siapa tahu anak buahnya itu hanya sekedar mengikuti tingkah laku si bos.

Pesan moral saya untuk teman saya: I won’t be that kind of boss with you as my friend.

The Devil next to You

Do I agree if life sucks?

For some things happen in life, I say, “Yes, life indeed sucks.”

For most things in life, I will say No. And that is because I believe life indeed offers us, or me, so many great lessons to learn and be grateful about. And for that, I used to forgive people who gave me difficult times. I yelled, got mad, swore, grabbed his (not yet her) collar and threatened to hit his face, wrote about them in my blog, wrote about them in my novels, but seconds later I forgave them.

I used to. USED TO.

It’s been some time that I cannot let go my feelings of… dislike, distaste, disgust, mixed with antipathy, toward one person. And I hate to have those feelings. I hate to hate.