10 Plus 16

“Then slowly, over time, everything changes. And you’re no longer this young thing, and you don’t believe in fairytales and ‘perfect’ isn’t in your vocabulary. And then suddenly, here is this man and he becomes so familiar to you that one day you find yourself looking at him thinking I could love this person for the rest of my life.”
Addison Montgomery, Grey’s Anatomy.

Happy 16th Anniversay. Happy 26th year of together. Somehow being with you just makes sense.

Yang Tersisa dari Edisi Ramadhan

Lebaran sudah lewat. Apalagi bulan puasanya. Saya sedang merapikan photo album di hape sewaktu menemukan foto-foto ini: Papap sedang buka puasa di pinggir jalan. Iya. Di pinggir jalan. Kalau jamaah bukberiyah punya tradisi bukber di resto berbeda dalam 30 hari puasa, maka tradisi Papap selalu setiap bulan puasa adalah buka puasa di atas motor di pinggir jalan, entah sendirian atau berdua saya.

Duluuuu sewaktu jadwal pulang kantor kami berdua saat bulan puasa hampir sama, Papap akan jemput saya ke kantor. Lalu kami berboncengan, naik motor, menyusuri jalan pulang sambil mengukur kira-kira saat adzan Maghrib kami akan berada di daerah mana. Ketika sudah memasuki detik-detik favorit umat yang berpuasa itu, Papap akan menghentikan motornya di tukang gorengan dan tukang minuman. Kalau pas dapat warung minum atau gorengan yang nyaman ya rejeki. Kalau sedang kurang beruntung, ya kudu ikhlas berbuka dengan teh botol dan kuaci hehehe…. Kami tidak pernah masuk ke resto menengah-besar untuk buka puasa karena itu artinya membuang waktu di jalan. Tapi Alhamdulillah rasanya seneng aja sih bisa buka puasa seperti itu. Gak perlu antri parkir dan rebutan bangku resto.
Continue reading

Better half

Papap punya kebiasaan menyebalkan setiap kali dia akan bepergian keluar kota yang membutuhkan packing. Dia selalu menunda packing sampai malam terakhir sebelum keberangkatan. Yang saya maksud dengan malam ya malam buta. Bukan sekali dua kali saya ngingetin dia untuk mulai packing terutama kalau si Papap akan pergi lebih jauh atau lebih lama. Of course 11 years of being married to him teaches me that he won’t listen. Couple do that to each other, you know.
Continue reading

Cincin Ke-Sebelas

Tahun itu tahun keempat saya dan Papap berpacaran. Di jari saya, ada empat buah cincin perak melingkar. Saya dan sobat saya sedang berada di perkebunan teh mengikuti acara outing klub kami. Si sobat menunjuk cincin-cincin di jari saya.
“What’s the story?”
“These?” Saya tersenyum lebar dengan bangga.
“I can tell you are an army-kinda girl. But those?! Rock star wannabe?”
“Sialan!” Saya tendang kakinya. Ini dari cowok gue! Satu cincin untuk satu tahun!”
Si sobat mesem-mesem. “Serius lo?”
Untungnya jaman itu belum ada bahasa alay yang membuat saya menjawab, “ciyuuus.”
“Gue enggak kebayang kalau elo pacaran sampai lebih dari tujuh tahun. Mau ditaro di mana cincin-cincin lo?”
Continue reading

Seandainya Romantisme Ada Ujian Nasionalnya…

Hari ini si Papap ulang tahun. Not his 25 yo, of course. Sudah sejak sebulan lalu saya ngubek-ngubek ide untuk hadiah ulang tahunnya. Tentu enggak pake nanya orangnya. Ngasih hadiah pake nanya orang yang bersangkutan namanya bukan hadiah. Itu namanya oleh-oleh. Jadilah saya memata-matai si Papap. Dia lagi butuh apa gituh. Baru beberapa hari memata-matai, jawabannya sudah terpampang di depan mata.

Papap butuh motor baru.
Overruled.

Saya pun mencari lagi ide hadiah untuk si Papap. Kemeja kantor? Itu sih bukan kado ultah. Lebih pantes oleh-oleh belanja. Gadget baru? Hapenya toh sudah berkali-kali hampir dilempar oleh pemiliknya. Aaaah, tapi kalau dia ganti hape, saya ganti juga dong. Ditraktir makan? Lah harusnya si Papap dong yang nraktir. Masa’ saya?
Akhirnya seminggu kurang dari hari H saya menyontek ide teman sekantor yang baru ulang tahun: kirim kue ulang tahun ke kantornya!

Ide ini kelihatannya cukup brilian. Awalnya. Efek kejutan cukup, hadiahnya juga enak dimakan. Sukur-sukur bisa dibawa pulang sisa kuenya hehehe… So, deal. Saya pesan kue ulang tahun untuk dikirim ke kantor si Papap hari ini. Gampang toh?
Continue reading

Sesuatu Banget

Hadiah dan Papap.

Setiap kali saya mendengar Papap berkata dia punya sesuatu untuk saya, perut saya malah mules. Papap punya definisi yang berbeda atas barang-barang yang bisa dijadikan hadiah. Seringkali, bukan rasa bahagia luar biasa yang saya rasakan saat menerima hadiahnya, malah rasa sakit perut luar biasa akibat pengen ketawa ngakak yang ditahan-tahan. Biar gimana juga, ketawa ngakak setelah menerima hadiah masih dianggap gak sopan ๐Ÿ™‚

Suatu hari di jaman saya masih muda kinyis-kinyis, saya mendapat tugas baru: menjadi mentor untuk guru-guru. Karena tugas ini saya harus masuk ke kelas guru lain, duduk manis memperhatikan dia mengajar tanpa boleh tertidur saat saya harus mencatat ini itu untuk bahan diskusi setelahnya. Masalahnya, kecepatan tangan saya mencatat sering kali kalah jauh dengan kecepatan guru berbcara. Akibatnya, seringkali saya ketinggalan omongan guru yang bisa saya kutip. Jadi pada hari-hari itu saya rajin berkeluh kesah ke si Papap mengenai tangan kanan saya yang mulai terkena penyakit encok.
“Pap, pijetin tangan kananku dong.”
“Kenapa emangnya?”
“Encok kebanyakan nulis.”
“Tangan kan gak bisa encok.”
Segitu biasanya respon Papap atas keluh kesah saya.

Continue reading