Wedding Ring – My Morning with You

“Is that…a wedding ring?”

Pertanyaannya, walau pelan, datang tiba-tiba. Dilontarkan di situasi yang tidak tepat. Di keheningan penumpang yang memenuhi bus pagi itu. Sebelumnya perhatianku sedang terpaku pada pemandangan pohon-pohon di luar jendela bus yang mulai berganti warna dari hijau ke coklat. Aku terkesiap, menoleh cepat dan mendapati dirinya menatapku lekat-lekat dari balik lensa kacamatanya. Bola matanya yang biru seperti langit musim dingin di luar sana menatapku lekat-lekat. Ah, sialan! Perempuan berambut merah sebahu yang duduk di bangku di depan kami memiringkan kepalanya sedikit. Aku tak bisa melihat wajahnya tapi aku yakin apapun jawabanku, perempuan di depanku akan tahu juga. Apa pertanyaannya tadi?

Lanjutannya ada di Storial ya 😀 .

#fiction #writing #storytelling

40 Kilometer Pulang

Sudah mulai musim hujan. Siap-siap banjir.
Kata supir bus tanpa ditujukan kepada siapa-siapa. Matanya masih terpaku ke ruas jalan di depannya. Pandangannya terhalang air hujan yang turun seperti jalinan air tebal-tebal. Dua buah wiper panjang melekat di kaca bus dan bergerak konstan ke kanan ke kiri tidak banyak menolong. Hanya suara besi diseret saja yang menandakan tongkat wiper itu bekerja.

Bangku empuk berbalut kulit sintetis warna hitam di belakang supir sebenarnya bisa diduduki tiga orang penumpang. Hanya aku yang duduk di sana. Orang-orang yang naik setelahku hanya melirik sebentar lalu berlalu. Tidak ada yang mau duduk di sebelahku. Aku tidak menyalahkan mereka. Aku pun tidak mau duduk di sebelahku. Payung di tanganku basah dan tetes-tetes air turun ke lantai bus. Jaket parka yang kupakai basah kuyup membuatnya berat, bau, dan dingin. Lalu ada tas ransel yang basah kutaruh di sebelahku. Celana panjang berbahan kain yang menjadi jalan air dari badanku ke kaki, merembes ke kaos kaki, menyusup ke pojokan dalam sepatu yang bila kupaksa berjalan akan berbunyi seperti spons penuh air. Aku duduk di ujung bangku, menyender ke jendela di sisi kanan. Mesin pendingin di atas kepala tidak bisa diatur suhunya. Hanya ada pilihan Mati dan Dingin. Udara dingin yang keluar dari mesin itu tidak punyai belas kasihan. Badanku menggigil. Tidak ada tempat untuk melarikan diri dari kejaran angin beku di dalam bus. Setidaknya udara dari mesin pendingin bisa menghilangkan embun dari kaca jendela. Aku bisa memandang keluar. Ke deretan mobil yang berjalan berdesakan di ruas jalan tol. Mobil-mobil pribadi berisi satu dua orang. Taksi-taksi dengan penumpang yang sepertinya lega telah terhindar dari tumpahan air dari langit. Membayangkan kehangatan mereka membuatku semakin menggigil. Berapa ongkos taksi dari Plaza Semanggi ke Bekasi? Mungkin 200 ribu rupiah di tengah hujan dan macet. Jumlah Rupiah yang tidak mampu aku keluarkan demi rasa hangat sejauh 40 kilometer.

Badanku menggigil lagi.
Continue reading

To Tokyo To Love

Impian, bagi Nina, adalah membangun kehidupan sempurna: membesarkan anak-anak, mengurus keluarga, melayani suami. Namun mimpi itu sirna sesaat sebelum pernikahan dengan datangnya kabar buruk.

Dengan hancur Nina pergi ke Tokyo dan berusaha menata serpihan hatinya. Hari-harinya diisi persahabatan dunia maya dengan Takung, lelaki yang tak pernah ditemuinya. Ada pula seorang lelaki misterius bersetelan jas hitam yang ia temui setiap hari di kereta.

Namun, saat Nina kembali mampu berjalan tegak, masa lalu menghadangnya. Kini ia harus memilih antara membangun kembali impian masa lalu atau merajut masa depan dengan segala ketidaksempurnaannya.

Diterbitkan pertama kali tahun 2008 oleh Gramedia Pustaka Utama
Diterbitkan dengan cover baru di tahun 2016

Pemesanan novel:
Gramedia
Amazon