What are you complaining about?

Just arrived at the office at 11 this afternoon. I drove my car all the way from the very Eeeeeeeeast of Jakarta coret to the central of Jakarta. Almost 30 kilometers and 50 minutes by the toll road. The sun was scorching hot, even when I turned on my AC to the maximum.

Not far from Kilometer 0 (zero) Cawang intersection heading to Wiyoto Wiyono toll road, cars were slowing down. On the right side, right in the median of the road, several road signs were laid because there were 2 workers wearing orange uniform and head mask were working on the plants. They were trimming the plants. In the middle of the scorching sun. In the middle of a busy and dangerous toll road.

Continue reading

The Office and the Devils (in it)

Somebody I know at the office once said this, “It’s not important for my subordinates to like me. What’s important is they do their work well.”

His words may sound witty for some people, while for some others they sound extraordinary arrogant. For me, though, his words are just plain stupid. Period. And let me tell you why…

Although it’s not the most important thing, liking you boss is very much important. The word like in this sense means be comfortable with. You don’t have to adore your boss and put him or her in your most-favorite-people list. You don’t have to like his/her sense of humor. You don’t even have to laugh at his/her jokes. But when you like your boss, you can work comfortably. As a result, you work better because motivation is running high. It’s that simple!

But, well, life isn’t fair for most common people. People not-so-smart as somebody I know at the office are not scarce. They require you to work well but forget to provide the ingredients necessary to work well. They require you to concentrate on your work but forget to stop being a pain in your body part. They are literally the devils in the office. Now the question is how do you avoid these devils?

1. Quit is perhaps the best idea. Don’t forget to take the whole office with you when you quit. A devil cannot work his charm when there is no one around him.

2. Stay, and make their life miserable. If the devils make you miserable at the office, it only means one thing: they deserve to be miserable too.

I personally would rather choose number 3 which reads:

3. Quit, but make their life miserable in the process.

Are you with me?

picture source: istockphoto.com

What’s in it for me?

Sepertinya saya salah memilih hari ini untuk berangkat ke kantor dengan naik angkutan umum. Pagi sudah agak siang -jam setengah sebelas- saat saya berada di pinggir jalan dan melambaikan tangan ke arah bis jurusan Cileungsi-Senen. Saya baru saja dicuekin oleh minibus ke arah UKI yang herannya jam segitu masih penuh. Kebetulan di belakang minibus itu, bis Cileungsi-Senen berjalan lambat mencari penumpang. Saya senang dengan bis arah Senen ini. Sudah berpendingin, jarang ada penumpang, dan tertib administratib tidak pernah ngetem di pinggir jalan. Jadi, begitu bis berhenti di depan saya, dengan semangat saya langsung mencangklong tas gede berat dan tas tangan berisi lunch box dan buku-buku saya lalu naik ke atas bis.

Continue reading

Wangsit dari Toilet

Sudah tiga jam saya muter-muter mencari ide. Buku-buku bertebaran di atas kasur, beberapa keping audio cd sudah bolak-balik pasang, kamus sudah penuh berisi tempelan kertas warna-warni, pensil dan penghapus juga sudah semakin tipis, tapi ide di kepala masih belum muncul juga. Padahal saya sudah menyisakan sedikit ruang di kepala saya dengan cara menghapus file-file berisi -misalnya- cara memperbaiki rantai kalung yang putus, cara menegur staf dengan lebih halus, cara marah kepada bos dengan lebih sopan, cara menyimpan gosip panas sehingga bisa saya gunakan di masa depan, dsb. Ruang kosong di kepala saya itu memang saya maksudkan untuk hal-hal yang lebih penting.

Continue reading

Kebaikan hari ini

Setiap malam -kalau tidak lupa atau keburu tidur- saya sering bertanya kepada Hikari: What good things have you done today?
Jawaban Hikari bisa bermacam-macam. Dari mulai membereskan pensilnya di kelas sampai membujuk adik TK untuk tidak menangis.

Tapi jujur aja, kalau Hikari balik bertanya kepada saya, belum tentu saya bisa menjawab…

Hari ini saya melihat kebaikan yang dilakukan seorang kakek di pinggir jalan di depan kantor Telkom Prumpung. Seorang kakek yang hendak berjalan ke arah halte mendapati seorang tuna netra yang akan menyeberang. Pada kondisi pagi itu, menyeberang jalan bagi orang dengan penglihatan normal pun akan jadi misi antara hidup mati. Apalagi bagi seorang tuna netra.

Si kakek tadi berjalan melewati laki-laki tuna netra. Baru beberapa langkah, kakek itu berbalik. Dia mendekati laki-laki itu. Sedetik kemudian, tangan si kakek menggenggam erat lengan laki-laki tuna netra dan menggandengnya sampai selamat ke ujung jalan yang satu lagi.

Kakek-kakek membantu seorang laki-laki tuna netra.
Kemana kah manusia lain yang lebih pantas membantu?
Kemana kah saya? Saya berada di dalam mobil. Yang saya bisa lakukan hanya memperhatikan mereka.

Kebaikan apa yang sudah saya lakukan hari ini?
*sigh*
Mungkin hanya dengan ikhlas memberi jalan kepada seorang pengemudi Avanza silver yang tiba-tiba menyalip tanpa lampu sen ke depan saya sehingga membuat saya harus berhenti mendadak. Saya tidak menyumpah-nyumpah hari ini.