Menjadi Yogi #3

Disclaimer: saya belum bukan lah seorang yogi (atau yogini). Bukan pula ahli dalam dunia per-yoga-an (lihat kalimat pertama). Tulisan di seri ‘Menjadi Yoga’ ini merupakan pengalaman saya sendiri untuk catatan sendiri.

CEDERA PERTAMA

Ikut Paskibra bisa membuat kita tahu apakah kita punya kelainan bentuk tulang.
Ketika saya kelas 1 SMP (atau #kidszamannow nyebutnya Kelas VII), bersama seluruh anak baru kelas 1, saya ikut seleksi wajib paskibra sekolah. Seleksi kok wajib 🙄 . Seleksinya gampang. Begitu nama dipanggil kakak kelas, saya harus peragakan langkah tegap maju jalan dari ujung kelas yang ini ke ujung kelas yang itu. Begitu saya selesai memeragakan langkah tegap maju jalan hasil didikan sekolah di komplek tentara selama 6 tahun, kakak kelas saya merubungi.
“Eh coba tangan kamu lurus ke depan!”
“Ih iya loh. Siku kamu kok bengkok?”

Saat itu lah setelah 11 tahun hidup baru saya sadar bahwa kedua lengan saya bila posisi lurus ke depan tulang sikunya bengkok seperti penderita kaki huruf X. Hebat kan paskibra?!
Continue reading

If Only We Know What We Want

I watched ‘A Little Chaos’ quite unpurposely. I was in my hotel room and couldn’t sleep even after a long day working out of town. I started to flipped on the TV channels and found Kate Winslet’s face on the screen. I’ve never heard about the movie before and I found out later the why 😛 . It was the kind of movie that entertains you without you need to think hard. It’s not the kind of movie that haunts you -because of how good it is- after you finish watching it. It’s an easy movie with nice cinematic view of castles and fashion in 17th century French. The reason the movie sticks in my head apart from Kate Winslet’s performance is one quote that resonates well with me.

The movie was about Andre Le Notre, who designed the Champs-Élysées in Paris. In this movie, Andre, who is assigned by King Louis XIV to design the gardens of Versailles hires Sabine, a talented landscape designer. Sabine, who comes from low class, has to face class barrier and eventually falls in love with Andre. Told ya, it is a very simple and easy movie 😀 .

It is in this one scene when Andre is concerned with the King’s request for the garden. The request is unrealistic yet Andre has to make it happen. When Andre appears very disturbed with it, Andre’s staff said to him…

No man, however grand, knows what he wants ’til you give it to him.

…..and I was like…. 🙄 .
Is he talking about me?

No, not the grand one. It’s the ‘knows what he wants til somebody gives it to him‘ thing.

This past one year I’ve been struggling to see clearly what I really want with my life. Is it career? Is it more family time? Is it writing full time? Is it continuing my study? Is it more volunteering time? Is it being a full time mom? Is it not all of them? Honestly, I don’t quite know. It’s like I want everything fully. I want to dedicate my time for everything and everything in full capacity.

Although I’m a superwoman with a bright red robe on my back, I know that even that woman only has 24 hours a day reduced by 4-5 hours everyday for commuting, 5-6 hours for sleeping, 1-2 hours for long shower, and God only knows how many hours I spend for making sure the house is intact, the kids are happy, the work is done well, and my small unimpressive garden stays green. Sadly, my usual 24-hour has made me lose perspective of what I really want.

I have been so restless for a year or more and the movie makes me wonder if I need someone to map things out for me. Sometimes, for fun, I think of reading Tarot, or flipping a coin, or going to a fortune teller…besides, that’s exactly what the quote means.

Or, perhaps, perhaps, this feeling of being restless is because I don’t write as much as I want to? For all I know, writing keeps me in perspective, yet it is the thing that I neglect most.

End of year 2016. Hope in the 2017 my troubled mind is less troubled. And I hope I’ll write again for real.

Setelah Man of Steel

20130626-231043.jpg
Beberapa hari lalu saya bertanya kepada teman saya yang apdet terus apa bedanya Superman yang sekarang dengan sebelumnya. Dia bilang -selain soal kedewasaan dalam pemakaian celana kancut- Superman sekarang lebih laki. Okay. Bila seorang laki-laki bilang laki-laki lain ‘lebih laki’, saya jadi penasaran. Maksud saya bukan kah seharusnya perempuan yang mendefinisikan kelaki-lakian seorang laki-laki? #ruwet

Continue reading

Blak-blakan

Saya selalu ketawa ngakak lihat iklan Joni Blak ini. Ngakaknya karena dua alasan: satu, iklan ini selain konyol punya pesan yang nyentil banget, dan dua, iklan ini bikin saya berkaca.

Jadi ceritanya ada pemuda kampung bernama Joni. Sejak kecil dia sudah di ‘ramal’ kan akan menjadi orang yang blak-blakan. Yang paling lucu adalah adegan sewaktu Joni kecil diberitahu kakek-kakek soal blak-blakan dia:
Kakek: Joni, kamu nanti akan menjadi orang yang blak-blakan.
Joni: Pak, ada upil!

Bener aja, gedenya, jadilah si Joni itu orang yang blak-blakan ke semua orang kampung.
Ada adegan di musholla dimana ada satu bapak yang badannya ditutupi sarang laba-laba saking lamanya berdoa minta kaya. Si Joni dengan blak-blakannya bilang, “Jangan cuma berdoa doang, Pak. Usaha juga.”

Singkat cerita, akhirnya dia dimusuhi satu kampung sampai harus kabur untuk menghilang. Loh kok, orang yang benar malah harus kabur dan menghilang? Endonesah banget gak seeeh?

Iklan lucu ini kena banget pesannya. Nyentil. Jadi orang blak-blakan itu seringkali nganter nyawa. Jarang ada yang suka walau pesannya benar 100%. Kenapa saya teringat diri sendiri? Soalnya, seringkali mulut saya blak-blakan lebih cepat dari otak saya. Mirip si Joni. Mudah-mudahan saya gak perlu sampai harus kabur dari orang sekampung karena saya sudah sering harus kabur dari orang tua sendiri….

“Emaaak, ampuuuun!”

Joni Blak Blak

Kalau sayang, panggil aku…

Tante saya yang paling bungsu itu cuma bisa meringis lebar. Suara ha-ha-ha yang keluar dari mulutnya bukan suara tawa senang. Kontras dengan suara tawa terbahak-bahak orang-orang di ruang keluarga Eyang saya. Satu-satunya orang yang tidak tertawa -bahkan tidak mampu membuat garis tertawa di wajah- adalah saya. Oh, ada satu orang lagi yang tidak tertawa: sepupu kecil saya bernama Faiz yang baru berusia 3 tahun. Faiz sedang mengeluarkan suara kesal-marah-hampir menangis karena digoda oleh om-om dan tante-tante nya yang berjumlah lusinan. Beberapa menit setelahnya, suara tangis Faiz menggema ke seluruh ruangan. Dia berlari ke pelukan sang mama yang cuma bisa menggendongnya pergi.

Continue reading

There is no such thing as ‘originality’

Film the Social Network rupanya sangat menginspirasi Papap. Seharian, yang diomongin Papap hanya film itu saja. Saya sendiri nontonnya gak sambil konsentrasi. Sambil nge-twit, sambil ngunyah pisang goreng, sambil buka fesbuk, sambil pipis, sambil…. I’m sure you got it already. Sebaliknya Papap berperan seperti reporter TV. Walau saya di dapur (ngunyah pisang goreng, bukan masak) atau di kamar (maen fb dan twitter), Papap bolak-balik nyeritain jalan cerita si film 🙂

Singkat cerita, jauuuuh setelah film selesai, kira-kira 4 jam kemudian, Papap menggumam-gumam. Katanya, “Si Mark akhirnya mau disuruh bayar orang-orang yang nuntut dia. Kok mau ya? Kan dia yang nemuin, dia juga yang membangun si Facebook itu… bla bla…”
Atas protes si Papap saya cuma komentar, “there’s no such thing as original idea nowadays.”

Continue reading

What are you complaining about?

Just arrived at the office at 11 this afternoon. I drove my car all the way from the very Eeeeeeeeast of Jakarta coret to the central of Jakarta. Almost 30 kilometers and 50 minutes by the toll road. The sun was scorching hot, even when I turned on my AC to the maximum.

Not far from Kilometer 0 (zero) Cawang intersection heading to Wiyoto Wiyono toll road, cars were slowing down. On the right side, right in the median of the road, several road signs were laid because there were 2 workers wearing orange uniform and head mask were working on the plants. They were trimming the plants. In the middle of the scorching sun. In the middle of a busy and dangerous toll road.

Continue reading