Menjadi Yogi #2

Disclaimer: Baca Menjadi Yogi #1 ๐Ÿ˜›

KENALAN DENGAN YOGA

Saya menyesal tidak mendokumentasikan (iya, foto) pose-pose yoga pertama saya (((mendokumentasikan))). Walaupun pasti hasil fotonya memalukan, sesi yoga pertama saya itu bersejarah. Dengan hasil semua pose salah, badan remuk, otot terbakar, dan rasa malu karena gagal pose melulu, saya masih kepingin ikut (ya, oke, saya sudah bayar membership juga sih). Padahal rekor saya di sesi pertama terdiri dari cuplikan-cuplikan kegagalan seperti ini:

  • Sentuh jari kaki! Boro-boro tangan bisa nyentuh jari kaki, hidung ke dengkul aja jauuuuuh bener!
  • Membungkuk lurus. Bungkuk, bisa. Lurus, enggak. Saya pikir lurus punggungnya ternyata begitu dilihat di cermin, punggung saya menonjol segitiga.
  • Tangan ke atas, lengan di belakang kuping. Be-la-kang kuping! Kuping! Itu di pipiiiiii!
  • Tidur telentang. Kaki lurus ke atas. Lurus itu subyektif, Mz ๐Ÿ˜ฅ
  • Duduk tengkurap. Pantat menyentuh lantai. Pantat saya malah nungging.

Jelas ya gambarannya? ๐Ÿ˜€
Continue reading

Menjadi Yogi #1

Disclaimer: saya belum bukan lah seorang yogi (atau yogini). Bukan pula ahli dalam dunia per-yoga-an (lihat kalimat pertama). Tulisan di seri ‘Menjadi Yoga’ ini merupakan pengalaman saya sendiri untuk catatan sendiri.

MENDADAK YOGA

Awal tahun lalu dokter syaraf saya yang baik dan kadang lucu memberi ultimatum kepada saya untuk menyerahkan diri melakukan MRI. Setelah sekitar setahun saya rutin bertemu dia sebulan sekali untuk mengadukan migren yang makin membandel, Dokter S mencurigai migrain hormonal saya telah disusupi oleh kondisi lain yang membuat saya mengalami episode migrain lebih dari satu kali sebulan dan/atau lebih lama dari biasanya. Si dokter pun mulai menginterogasi.
Dokter S: “Kemarinan makan apa? Dicatat enggak?”
Saya: “Biasa, Dok. Rendang Padang, bebek sambal ijo, iga tepung penyet…”
Dokter S: “……….kan. Saya jadi laper….”
Continue reading

Generasi yang Relevan

The road to the light is lonely.
Beberapa tahun belakangan ini setiap kali silaturahmi acara keluarga macam lebaran, saya menyadari betapa konyolnya saya karena masih sering terkaget-kaget mendapati para pakde, bude, om, dan tante seakan terlihat menua dengan drastis setiap kali bertemu.
“Ya eloooo munculnya sekali tiap beberapa purnama. Jelas aja pada keliatan makin tua!”
Begitu saya disemprot adik si Mami yang hampir seumur saya. Bisa jadi begitu karena saya memang termasuk yang jarang kumpul dengan berbagai alasan males. Kesalahan saya -saya pikir- adalah tanpa sengaja saya menghentikan waktu di saat saya berumur dua puluhan tahun sehingga yang saya ingat adalah wajah, tingkah laku, kebiasaan, sampai cara pandang para kerabat yang lebih tua di jaman saya baru lulus kuliah itu. I just froze them in that moment.
Continue reading

Capacity Building Penting. Buat Lo.

Beberapa bulan ini kantor saya punya program pelatihan Capacity Building untuk karyawannya yang jumlahnya enggak seberapa itu. Tujuan CB kantor saya ini standard lah seperti organisasi lain. Penyegaran. Pencerahan. Pengembangan kapasitas karyawan. Team building. Biar rame.

Pertemuan pertama -yang bahkan bukan sesi pertama- sudah kacau karena kami tidak kunjung menyepakati jadwal sesi pertama. Lah bagaimana mau menyepakati jadwal kalau setiap tim di kantor punya jadwal beda-beda ? ๐Ÿ™ Sebagai anggota tim yang jadwalnya lebih sering tidak di kantor dibanding ada di kantor, jidat saya sudah berkerut duluan yang berhadiah disemprot HRD. Saya curiganya sih dengan muka saya yang kayak gini, saya dianggap tidak berusaha mendukung kesuksesan program adiluhung kantor kami. Ya sudah. Saya mengalah untuk mencari apps untuk mengkloning diri saya saja.
Continue reading

Merayakan Harinya Profesi Paling Penting Sedunia

Sejak pagi, Facebook saya penuh dengan 1 tema: Hari Guru.
Secara saya pernah jadi guru dan kebanyakan teman-teman saya masih guru, kemudian hampir semua orang yang ada di Friend list saya pernah punya guru, ucapan Selamat Hari Guru dan kata-kata mutiara mengenai mulianya seorang guru bertaburan tak berhenti di linimasa akun Facebook saya.

Komen-komen di Facebook hampir beragam. 99% mengelu-elukan profesi guru dan 99% berusaha memberi nama dan wajah pada sosok guru yang mereka elukan. 1% komen menanyakan kapan saya balik menjadi guru lagi… ๐Ÿ™‚
Continue reading

Mencari Princess Anna dengan Jari

Saya percaya ada hubungan spesial yang tak terlukiskan dengan kata-kata antara ayah dan anak perempuannya. Seperti si Papap dan Aiko.

Aiko Papap PrincessSewaktu Hikari kecil, Papap jadi tempat Hikari meminta mainan. Tapi saya curiga si Papap mengabulkan permintaan Hikari membeli mainan seperti Lego, pedang-pedangan, puzzle dino, dsb. karena sebenarnya Papap juga ingin ikut main. Tapi sekarang, hanya bermodalkan suara kecilnya dan mata bintangnya, Aiko mampu meluluhkan hati Papap sehingga yang bisa keluar dari mulut Papap saat Aiko merengek minta apapun -apapun- hanya kata: IYA. Permintaan Aiko beragam, dari buku mewarnai bertema Princess yang dibeli setiap kali mereka belanja di mini market dekat rumah sampai kelinci abu-abu yang ditunjuk Aiko di pameran Flora Fauna. Semua permintaan Aiko pasti dikabulkan Papap tanpa memandang permintaan itu dalam rangka memperingati hari Senin atau memperingati wiken atau sekedar memperingati jalan-jalan iseng mereka berdua ke mini market.
Continue reading

Hidup itu Seperti Rute ke Kantor

Hidup itu seperti rute jalan yang saya ambil dari rumah untuk bisa sampai di tempat kerja, di Jakarta.

Tadi pagi saya bangun tidur dengan kaget gara-gara hape yang selalu saya taruh di bawah bantal -berfungsi sebagai alarm- bunyi kencang sekali. Suara nyaring Ken Hirai menyelepet saya sampai bangun. Rupanya si Papap menelpon dari Bandung.
“Mam, lagi di bis ya?”
Bis? Bis apa? Bi…s?
O MAI GAAAD SAYA KESIANGAN BANGUN!

Bukannya menjawab pertanyaan si Papap saya malah jejeritan di hape. Sudah pukul 6:30 pagi dan saya masih di tempat tidur.
Setelah telpon mati, saya tidak segera bangun. Mandi atau balik tidur lagi ya? 

Bukan. Ini bukan persoalan malas. Ini adalah logika berpikir logis. Jalur perjalanan dari rumah saya di perbatasan Bekasi-Bogor-Jakarta ke pusat Jakarta pada jam 5:30 sampai jam 9:00 adalah jalur neraka jahanam. Jam 6:30 saya baru bangun sementara jam 8 pagi sudah harus absen jari adalah suatu wishful thinking, kecuali saya punya Pintu Ajaibnya Doraemon. Bila saya paksakan berangkat jam 7 pun, baru 2.5-3 jam kemudian sampai di kantor. Lalu buat apa datang bila hanya untuk pulang 6 jam kemudian? Iya kan?
Continue reading

Because We are Not the Duchess of Cambridge

IMG_5160.JPG

Every woman who has the experience of giving birth KNOW that no matter how brave, how difficult, how noble, how near-dying the process of giving birth is, looking pretty and gorgeous is not included in the whole process. You’d look anything, anything, but pretty! And everybody knows that. The doctor, the nurses, the relatives, THE father, they know it. In the birth delivery process, a woman’s mission is to deliver a baby in healthy shape. Some women manage to look pretty after a week or two, after a visit to the salon, but most women would have to endure looking like a wreck longer. But! But, the Duchess of Cambridge who just delivered her second child has set the standard so high for somebody who just delivered a baby less than 12 hours earlier. It was as if she was admitted to the hospital for a baby shopping!
Continue reading